
Part 19
Kami sudah pulang dari rumah sakit tapi sebelum itu dokter Naya memberiku beberapa resep vitamin agar mengurangi mual serta pusing yang sering melanda belakangan ini.
"Mama bahagia nak, terima kasih sudah beri cucu mama bukan cuma satu".
"Iya ma" aku hanya bisa menjawab hanya iya-iya saja karena terlalu gembira.
"Pak nanti mampir ke toko buah sama supermarket dulu ya pak" ucap mama pada supir taksi menyuruh berhenti di tempat yang mama pinta.
"Baik buk" pak sopir memberhentikan taksinya setelah menemukan toko buah terdekat.
"Ayo turun nak" ajak mama Mila padaku yang aku tanggapi dengan anggukan patuh.
"Iya ma, mau beli buah apa ma" tanyaku pada mama yang sedang memilah memilih jeruk yang manis serta asam untuk aku nantinya.
"Kalau mama pas hamil masmu Faiz lebih sering makan buah alpukat, apel, pisang sama kurma nak" jelas mama memilih buah tersebut tak lupa menambahkan jeruk yang telah di pilihnya dalam total belanjaan.
"Ada lagi yang kamu mau buahnya" tanya mama menawarkan yang lainnya.
"Tambah lagi boleh ma" mama hanya mengangguk lalu aku memilih strawberry.
"Mang mau ini 2 cup" tunjuku pada strawberry merah yang begitu menggugah seleraku sampai-sampai air liurku hampir menetes.
"Sudah ma" ucapku.
"Mang langsung dihitung ya" mamang penjual buah langsung menghitung semua belanjaan kami, aku mengeluarkan dompet untuk membayar tapi mama bilang jangan biar mama saja karena untuk merayakan cucunya yang ada di rahimku.
"250.000 buk totalnya".
"Kembaliannya tolong berikan kepada anak itu supaya bisa di bawah pulang ya mang, sekalian ini untuk mamang" mama memberikan uang lebih kepada mamang penjual buah itu.
"Dek nanti kesana ya ambil buah udah tante bayar, ini untuk jajan kamu".
"Terimakasih tante".
"Kamu jualan apa" aku juga menghampiri anak kecil yang mama tawarkan buah juga uang untuk jajan.
"Ada kue pukis sama lupis kak" ucapnya girang.
"Buat sendiri dek atau punya orang".
"Nenek yang buat kak, kakak mau coba aja" dia menyodorkan tampah berisi berbagai kue basah kepadaku.
"Mama beli semua ya Rana pengen makannya" pintaku pada mama yang melihat interaksi kami.
"Semua berapa dek, nama kamu siapa".
"Kata nenek 5000 dapat 4 kak, bebas mau apa aja".
"Yaudah kakak hitungkan ya" aku lalu menghitung sisa kue basah anak ini yang bernama Hasbi.
"Ini dek kembaliannya untuk kamu sama nenek, uangnya disimpan baik-baik ya takut hilang. Sama jangan lupa ambil buahnya" aku menyodorkan beberapa lembar uang pink bergambar presiden pertama negara tercinta kita ini.
"Terimakasih kakak cantik sama tante cantik" girangnya saat semua jualan kuenya habis dan dia bisa pulang cepat menemui neneknya yang sedang berjualan juga.
"Kakak sama tante pulang dulu ya assalamualaikum".
"Wa'alaikumussalam" aku dan mama kembali ke dalam taksi.
"Jadi ke supermarket nya buk'' tanya pak supir
"Jadi pak cari yang terdekat dari alamat rumah saya aja pak".
"Di depan jalan sana ada supermarket besar mau mampir ke sana buk".
"Iya pak".
__ADS_1
"Sudah sampai di supermarket nya buk'' ucap pak supir memberhentikan taksinya.
"Bapak mau beli apa biar saya yang bayar" tanya mama ramah pada supir taksi kami.
"Tidak usah buk" sungkannya
"Bilang aja gak papa pak, saya ada sedikit rezeki karena anak saya ini lagi hamil. Itung-itung sedekah untuk bapaknya sekeluarga".
"Saya kopi saja buk".
"Itu saja pak yang lainnya ada" yang dijawab hanya gelengan lalu kamu masuk.
"Ma kita mau beli apa, kalau bahan-bahan masakan serta yang lainnya kemarin Rana sama mas baru beli jadi masih lengkap".
"Mau beli susu hamilnya kamu sama sayur-sayuran" mama mengambil dua troli lalu mendorongnya menuju stand sayur dan sembako.
"Dek pilihkan berasnya ya, mama mau belikan untuk supir taksi. Mama sekalian mau cari susu kamu di sini aja jangan kemana-mana" mama meninggalkan aku yang sedang memilih beras untuk pak sopir taksi.
"Mbaknya perlu bantuan" datang mas-mas berseragam putih menghampiri aku yang kesusahan mengambil beras di susunan paling atas tanda yang paling bagus. Rana ada ada saja kamu padahal ada yang di bawah kenapa harus yang di atas.
Kalau aku beli belanjaan atau apapun pasti ambil yang di atas atau yang paling belakang karena itu barang baru dan lama kadaluarsanya. Tapi kembali lagi tidak semua toko atau supermarket menaruh barang baru di belakang ya.
"Mau ambil beras yang di atas mas" cicitku pelan sambil menunduk menghindari tatapan matanya yang menyoroti aku.
"Saya bantu mbak bisa geser sedikit" jawabnya ramah, aku langsung menggeser posisi sedikit lebih jauh darinya.
"Mau berapa mbak" tanyanya setelah menurunkan beras berkemasan dengan berat 5kg.
"Dua saja mas".
"Terima kasih" ucap ku padanya yang telah membantuku mengambilkan beras.
"Iya sama-sama mbak, mbaknya macam gak asing wajahnya".
"Maaf mas permisi" aku berlalu dari hadapannya karena bagaimanapun kami tak saling mengenal juga dia bukan mahram saya.
"Mbaknya Namira Rayna alumni dari SMA Huda Kencana ya".
Deg
Deg
"Engga mas, permisi" tak aku pedulikan lagi dia yang menebak-nebak aku orang yang dia kenal atau bukan.
"Mama sudah selesai" tanyaku setelah mencari keberadaannya mama dan aku menemukannya di stand minyak serta dekat dengan susu hamil.
"Belum dek, tinggal minyak aja sama susu yang belum dibeli" mama fokus terus memilih minyak tanpa melihat wajahku yang pucat pasi saat di tegur pria asing yang tidak aku kenal.
"Kamu pilih susu hamilnya nak sekalian beli untuk beberapa bulan kedepan" suruh mama yang aku jawab dengan nada pelan.
"Pilih yang mana ya, coklat saja deh biar cepat. Ya Allah Rana takut siapa sih tadi yang panggil nama Rana buat takut saja".
Aku memilih susu yang lebih sedikit mahal secara asal-asalan tak ku pedulikan merk apa yang penting segera pulang karena kepalaku sedikit pusing lagi.
"Rana sudah pilihnya ma" laporku pada mama yang sudah juga memilih minyak kelapa dan minyak zaitun.
"Ayo kita bayar, papa juga sebentar lagi pulang. Mama suruh jemput di rumah kalian biar sekalian makan malam di sana".
Mama membawa kedua troli tadi tanpa mau menerima bantuanku, saat aku tanya jangan katanya kamu lagi hamil ibu hamil tidak boleh mengangkat atau membawa barang yang berat-berat.
Setelah selesai transaksinya kami meminta tolong pada pegawai untuk mengangkut barang-barang ke dalam taksi.
"Pak lanjut jalan lagi".
Mobil taksi sedikit melajukan kecepatannya karena mama ingin segera memasak makanan kesukaan papa mertua juga makanan sehat untuk ku juga.
"Pak tolong bawakan barang-barangnya".
__ADS_1
"Baik buk" pak supir taksi membawa barang yang kami beli tadi lalu menaruhnya di luar pintu.
"Berapa semuanya pak".
"Ongkosnya 300.000 aja buk" mama memberikan ongkos lebih untuk pak supir.
"Tunggu dulu pak" ucap mama menghentikan pak supir yang akan kembali melanjutkan orderannya.
"Iya bu ada apa" tanya pak sopir bingung.
"Bapak bawa ini untuk keluarga bapak, sekalian kami berbagi".
"I-ini se-semua buk" ucap pak supir tak menyangka.
"Iya, salam untuk istri bapak dan keluarga semua".
"Terimakasih ibu" bapak supir begitu terharu mendapatkan rezeki yang bertubi-tubi dari orang baik yang dikirimkan Allah untuk membantu keluarganya yang sedang butuh bantuan.
"Saya permisi buk" dia berlalu sembari mengambil sembako yang diberikan mama dan langsung pergi meninggalkan halaman rumah kami.
'ya Allah terimakasih telah mendengarkan doa-doa hamba selama ini, dan juga semoga ibu tadi serta keluarganya diberikan kebahagiaan dan umur panjang amin' batin pak supir.
"Assalamualaikum ma" papa mertua datang dari pintu tak lupa mengucapkan salam sembari mencium kening mama mesra.
"Papa mandi dulu nanti mama carikan baju Faiz yang muat untuk papa, lalu nanti segera turun biar makan malam" mama menyuruh papa segera mandi.
"Papa itu berat badannya malah tambah naik, mama gak tau kenapa bisa naik drastis gitu" ucap mama yang kebingungan mencari baju untuk digunakan papa Hendro. Karena mas Faiz itu tidak besar juga tidak kecil makannya mama susah mencari yang pas.
"Gak papa ma yang penting papa sehat" timpalku yang juga membantu mama mencari baju untuk papa.
"Nih, alhamdulilah ada baju kokoh yang pas untuk papa".
"Ayo nak biar cepat makan malam mama juga sudah lapar apalagi kamu ini yang bertiga dengan cucu mama" mama mengelus perutku yang mana aku dengan susah payah menahan geli yang teramat sangat.
"Ayo ma".
Ngomong-ngomong mas Faiz juga sudah pulang dari tadi dan sekarang lagi berada di ruang kerjanya mengurus pekerjaannya yang belum selesai.
"ma soal kehamilannya Rana jangan di bilang dengan mas Faiz dulu ya. Rana mau kasih kejutan saat hari bertambah umurnya Rana".
"Iya gampang, kita makan-makan sekalian buat nasi tumpeng untuk ngerayain kehamilan kamu nak. Jangan lupa undang tetangga dekat sama ibu dan bapakmu".
"Iya ma".
__ADS_1
Semua anggota keluarga sudah berkumpul dan duduk di meja makan juga dengan bi Suti yang hampir tidak mau katanya gak sopan pembantu duduk bersama majikan, tapi aku memaksa supaya tidak papa lagian kami semua tidak keberatan kok.