
Part 6
Skip selesai dari dapur kami pun lanjut membersihkan diri lalu shalat magrib berjamaah bersama ayah dan ibu.
"Nina, ayo makan malam. Laper gue na" ajakku pada Nina yang asik rebahan sambil tersenyum membaca novel dari salah satu aplikasi gratis di handphonenya.
"Sabar ela, bentar lagi nanggung Rana, gue mau lihat ending ceritanya si Alicia balikan nggak sama Duke jeffery". jawabnya cuek dan masih meneruskan bacaannya.
"Cerita apa sih Nina, gue bingung siapa itu Duke Jeffery? lagian kalau gue jadi Alicia lebih baik pilih lelaki lain lah daripada balik lagi sama suaminya yang udah nyakitin hati istrinya lebih parahnya lagi malahan lebih percaya sama omongannya nenek sihir itu".
"Elo bilang nggak tau Duke Jeffery tapi elo tau jalan ceritanya, jadi mananya yang bener ini Rana? pusing gue lama lama".
"Namanya drama rumah tangga Nin pasti ujungnya kalau enggak perselingkuhan, ketidakcocokan, kdrt, sama maut yang memisahkan, betulkan?" tanyaku yang di angguki olehnya.
"Iya ya, ini bukan drama rumah tangga Rana, ini nih drama fantasi judulnya Second Life of Duchsess Alicia. Seru loh Rana sama kocak aku bacanya, dulu Duke Jeffery benci banget sama Alicia eh sekarang malah bucin setengah mati padahalkan lihat Alicia aja dulunya mual sekarang lengketnya kayak upil sama idung gak bisa di pisahkan" umpamanya itu gak ada yang lain apa masak upil sama hidung ih jorok banget aku dengernya malah ngebayangin pula aku hi. Alamak jadi gak selera makan nanti aku hu sabar orang sabar di sayang mas Faiz.
Plak
Mas Faiz punya mbak Cahya ingat itu Rana.
"Umpamanya yang lain gak ada Nina lagian masih banyak lagi kayak lebah sama madu, lalu pulpen sama tintanya malah yang jorok di sebut hi amit-amit Nina kalau gu eh maksudnya aku makan udah gak selera gara gara lo yang jorok amat" ucapku sambil menahan diri agar tidak muntah bukannya munafik ya kan jorok saat kita akan makan malah cerita kayak gituan belum lagi kalau terbayangkan coba.
"Lo lama banget na, gue laper banget ni, gue duluan ya" ucapku mengalihkan obrolain lain lalu meninggalkan Nina sendirian biar saja dia disini nanti kalau lapar ataupun kesepian pasti dia nyusul ke bawah kok.
Kan dia juga ikut turun. Nina takut sendirian loh ngomong-ngomong, dulu dia pernah di datangi hantu yang entah apa maunya datangi dia sejak saat itu Nina trauma sendiri. Itu juga alasannya menginap di sini.
"Iya sudah siap ini, tungguin gue elah" katanya setelah menyimpan handphonenya di dekat kasur dan langsung menarik tanganku untuk turun, ini yang ngajak siapa yang ditarik siapa dasar Nina Arundati kalau enggak sahabat aku, udah aku buang ke Antartika biar di makan beruang kutub.
"Mbak Rana saya gak salah kok di bawak bawak" ucap beruang kutub sedih rip beruang kutub bercanda elah gitu aja ngambek gak putih lagi entar.
"Mana bisa saya gak putih lagi mbak orang dari dulu saya udah putih walaupun gak pakai skincare dan lainnya".
"Iya sih, kamu itu nggak boleh nyindir orang yang pakai skincare lagian kulit orang itu beda beda gak semua pakai skincare kok contohnya saya" ucapku bangga padanya yang di sambut gelak tawanya. Apa candaan yang ku lontarkan sangat lucu sampai-sampai semua gigi beruang kutub ini terlihat
"Hihihi kalau saya manusia pasti akan jatuh cinta sama mbak Rana ini" jawabnya lalu pergi menghilang.
"Maaf ya aku suka ngayal begini kalau lagi gabut jadi harap dimaklumi".
__ADS_1
****
Selesai makan malam kami mengobrol bersama ayah ibu tentang gaun yang akan dipakai untuk acara resepsi dan akad yang akan berlangsung kurang dari lima hari lagi.
"Nak, mbakmu ada hubungi kamu?" tanya ayah memecah keheningan setelah kami terdiam beberapa menit.
"Nggak ada yah, mbak gak ada hubungi adek. Kemarin adek telepon tapi selalu gak diangkat yah, mungkin mbak Cahya banyak tugas kuliah, kan mbak bilang tiga hari sebelum resepsi mbak pulang yah" kataku meyakinkan ayah agar berpikir positif dan tidak terlalu kepikiran tentang mbakku yang pastinya baik baik saja di sana.
"Yaudah nak, kamu gak selesaikan tugas kuliah hmm".
"Nggak yah, adek kan libur kuliahnya" jawabku mengingatkan ayah mungkin ayah lupa karena memikirkan pernikahan mbakku yang tak lama lagi.
"Oh iya ayah lupa kalau adek libur".
"Hehehe, ayah sudah tua pikun" ucapku spontan sambil mengejek ayah tua.
"Kamu ini nak" kata ayah menjewer telingaku dengan gemas.
"Hehehe".
Setelahnya kami pun tertawa bersama, pemandangan yang romantis dan harmonis bukan? candaan ayah dan anak yang begitu dekat karena cinta pertama setiap perempuan adalah ayahnya, andai saja aku mendapatkan jodoh yang seperti ayahku pasti aku akan sangat bahagia ya Rabb.
"Adek, bahasanya itu jangan kayak gitu, yang sopan walaupun dia teman kamu" tegur ayah padaku karena menggunakan bahasa yang kurang sopan dalam berbicara.
"Maaf yah, adek salah".
"Jangan ulangi lagi di depan atau di belakang ayah dan seterusnya".
"Iya yah" sesalku sedangkan Nina hanya tersenyum mengejek ke arahku.
"Yaudah ayok ah Nin, gu eh maksudnya aku ngantuk ni" ajakku menutup mulutku hampir saja aku salah ngomong lagi.
"Yok, om, ibu Nina pamit tidur dulu ya. Assalamualaikum". Begitulah lah nina kalau di depan ayahku dia gak berani manggil ayah pasti selalu om, katanya ayahku galak dan gak enakan dia padahalkan dia bukan orang asing lagian ayah nggak keberatan kalau Nina panggil ayah tapi anaknya gak mau jadi jangan di paksa.
"Wa'alaikumsalam" jawab ayah dan ibu bersama.
Sampai kamarku Nina langsung menghempaskan tubuhnya di kasurku dan aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Kami pun tertidur cepat karena hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk kami berdua dan aku khususnya paling melelahkan untuk hatiku yang kecil serta rapuh ini.
__ADS_1
****
Pagi menyapaku sebelum ayam berkokok aku pun sudah terbangun dari tidur dan langsung melihat jam berapa sekarang, jam menunjukan pukul 3 pagi. Aku membangunkan Nina untuk shalat tahajud bersama. Setelah selesai shalat tahajud aku dan Nina melanjutkan dengan mandi sebelum shalat subuh dimulai, selesai mandi dan ber beres tempat tidur adzan subuh pun terdengar kami langsung menyelesaikan aktivitas kami melaksanakan kewajiban shalat subuh bersama, di lanjut membaca Al-Qur'an aku dan Nina saling menyambung ayat Al-qur'an serta saling menyimak hafalan kami.
"Nina jadikan nanti malam" tanyaku mengingatkan perkara traktiran makan seafood sepuasnya yang dia janjikan kemarin bukannya mengungkit tapi janji adalah hutang dan hutang harus di bayarkan jadi harus ditagih oke.
"Kemana Rana?" aduh ni anak pura pura lupa atau memang lupa beneran sih.
"Gak jadi males ngomong sama kau Nina" ucapku ngambek lalu segera turun menemui ibu.
"Ya ela gitu aja ngambek, jadi nanti malam perginya jangan ngambek dong entar jadi jelek loh" guraunya yang tak aku gubris sama sekali.
****
"Assalamualaikum bu" kataku dan Nina berbarengan.
"Wa'alaikumsalam, bantu ibu yuk buat sarapan untuk ayah dan makan pagi kita nanti. Mbak akan pulang hari ini tadi dia telpon ibu selesai shalat subuh".
"Iya, yaudah ayok Nina".
Selesai menyiapkan sarapan terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam mungkin itu mbak Cahya yang sudah pulang, aku langsung berjalan untuk membukanya dan menjawab salamnya.
"Mbak, kok mbak basah kuyup kek gini sih?" tanyaku bingung melihat penampilannya yang basah semua padahal kan di luar nggak ujan.
"Iya dek, di bandara tadi hujan, mbak kelamaan cari taksinya makanya jadi basah kuyup begini" jawab mbakku seraya menjelaskan apa yang terjadi dengannya.
"Ya allah mbak".
"Masuk mbak, setelah itu ganti baju biar mbak gak sakit. Rana buatkan teh hangat biar mbak gak kedinginan" kataku sambil menyuruh mbak Cahya segera masuk dan mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering, karena memang mbak Cahya lemah jika terkena air hujan sedikit saja pasti akan sakit beda halnya dengan aku yang kebal malahan kalau hujan aku asik mandi hujan dulu baru kalau sudah kedinginan masuk.
"Makasih dek" ucap mbakku tersenyum tulus dan mengelus kepalaku lembut sebelum masuk kedalam kamarnya.
"Selesai ganti pakaian langsung kebawah mbak, Rana udah laper. Ada Nina juga di bawah" suruhku pada dirinya.
"Iya, mbak juga udah laper dek".
Mbak Cahya langsung menaiki tangga untuk mengganti pakaiannya yang basah semua karena hujan tadi.
__ADS_1
Setelah kedatangan mbak Cahya dimeja makan kami pun menyantap makanan dengan khidmat tanpa ada obrolan yang terjadi hanya terdengar suara denting sendok yang saling bergesekan, setelah selesai tak lupa pula kami bereskan meja makan bersama pembantu bernama bik Asih, lumayan membantu dia kan karena memang bik Asih pembantu kami sejak aku masih dikandungan ibu dan sekarang sudah mulai tua jadi tak bisa banyak melakukan pekerjaan rumah. Dia dulu berhenti kerja karena anaknya sedang sakit di kampung lalu kembali kerja lagi saat anaknya sudah meninggal, ya anaknya tidak tertolong dan suaminya bik Asih sudah lama meninggal saat Dinda anaknya masih kecil. Kasihan bik Asih sendirian sekarang tapi sudah nggak terlalu larut karena kami menganggapnya sebagai keluarga dan sekarang dia tinggal serta ikut kami sampai akhir hayatnya.
"Cahya ikut ayah dan ibu sebentar nak" suruh ayah kepada mbak Cahya yang akan masuk ke dalam kamar.