
Part 13
Mas Faiz menutup pintu setelah menerima kotak makanan dan berjalan ke arah dapur untuk menatanya di piring dengan rapi, dengan telaten dia memindahkan satu persatu menu makanan yang di pesannya tadi kedalam piring dan tak lupa juga dia membuatkan susu untuk kami minum berdua di setiap pagi hari.
Lalu dia berjalan kembali ke kamar untuk memanggilku sarapan bersamanya, aku pun ikut ke meja makan dan sangat antusias sekali mengambil nasi beserta lauknya untuk segera kulahap sampai sampai aku lupa mengambilkan makanan untuk suamiku itu, ah biarlah pagi ini aku sangat lapar jadi biarlah dia mengambil makanan untuknya sendiri, toh dia juga sudah tahu aku lapar karena ulahnya kemarin malam yang tiada henti melakukannya, he gara gara itu tenagaku benar benar sudah habis tak tersisa jadi efeknya pagi hari ini aku makan seperti orang belum makan satu minggu deh.
"Dek pelan pelan makannya nanti tersedak loh" mas Faiz mengingatkan aku agar makan tidak terburu buru. Tapi tidak aku hiraukan sama sekali hingga…
"Uhuk uhuk" aku terbatuk batuk karena tersedak makanan yang baru ku makan.
"Itu kan, mas bilang juga apa jangan buru-buru makannya" omelnya tak ayal tetap menuangkan air putih di dalam gelas dan memberikannya kepadaku. Dia mengusap lembut punggungku agar segera sembuh.
"Makasih mas" jawabku setelah tidak terbatuk batuk lagi.
"Yasudah ayo di lanjut makannya".
"Iya mas".
"Tumben kamu makan segitu banyaknya dek, gak biasanya kamu makan segitu banyak".
"Laper mas, Rana laper kali ini. Ini juga ulahnya mas tau" sindir ku padanya
"Maaf dek, gara gara mas kamu jadi kelaparan kek gini".
"Gak papa mas Rana paham kok, yaudah ayo di lanjut lagi makannya" ujarku menenangkannya yang masih bersalah soal kemarin.
"Iya dek" jawabnya dengan wajah sedihnya karena merasa bersalah.
"Gak usah sedih gitu mas, senyum gih jangan kek gitu" ucapku sambil menarik kedua pipinya agar membentuk sebuah senyuman.
"iya dek, ni mas senyum" jawabnya sambil tersenyum sangat manis hingga menunjukan lesung pipi kanan dan kirinya.
"Yaudah lanjut makan yuk" ajaknya kami pun makan setelah selesai makan kami merapikan meja makan dan mencuci piringnya bersama, hi khas pengantin baru eakk.
__ADS_1
Biasa pengantin baru, dimana mana pasti selalu nempel mulu.
"Assalamualaikum nak" terdengar dari arah pintu ada yang mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam tunggu sebentar".
"Mas aja dek yang buka pintunya".
"Iya mas".
"Kamu ke kamar dek ambil hijabmu, ibu bilang akan kemari setelah mas hubungi kemarin saat kita sampai, katanya ada yang ingin disampaikan dengan kita, mungkin itu ibu" suruh mas Faiz lalu aku mengangguk tanda mengerti.
"Iya mas, yasudah Rana izin ke kamar dulu ambil hijab" izinku kepadanya setelah dia menganggukkan kepala tanda memberi izin aku pun menuju kamar mengambil hijab di lemari dan memilih yang simple lalu kembali ke ruang tamu menghampirinya kulihat mama mas Faiz duduk di samping mas Faiz.
"Assalamualaikum ma" ucapku sambil mencium tangan mama mertuaku.
"Wa'alaikumsalam nak, sini duduk dekat mama. Faiz kamu geser nak biar mantu mama disini" mas Faiz dengan ogah-ogahan bergeser dari tempat duduknya menuju sofa single, oh ya ngomong ngomong kami belum belanja bahan masakan dapur dan selebihnya jadi tolong dimaklumi jika tidak menyediakan minum untuk mama Mila.
"Mama baik nak".
"Mama mau tanya kalian jawab jujur ya, jangan ada yang kalian tutup tutupi apapun itu" mama menatap serius kami berdua seakan akan kami berdua akan berbohong kepadanya.
"Iya ma" jawabku dan mas Faiz serentak sambil saling melirik satu sama lain, berbicara dalam pikiran masing-masing kira kira apa yang mau mama tanyakan pada kami.
"Bagaimana tentang pernikahan kalian apa kalian sudah terima".
"Sudah ma, Faiz mencoba membuka lembaran baru kembali berdua dengan Rana ma dan melupakan Cahya yang telah berkhianat itu" jawab mas Faiz dan kulihat wajahnya memerah dan kedua tangannya mengepal kuat pertanda dia sedang menahan emosinya.
"Iya mama mendukung kamu membuka lembaran baru bersama Rana dari pada kamu masih mengingat Cahya itu Iz, bukannya mama menjelekan mbak kamu Rana tapi apa yang dibuat oleh mbakmu itu menyakiti hati mama dan yang lainnya".
"Rana wanita yang baik berbanding terbalik dengan Cahya kakaknya, mereka dari satu rahim tapi beda sikap. Buktinya saja ketika fitting baju pengantin bukannya Cahya yang nemenin kamu mala Rana yang nemenin kamu, dari situ mama sudah yakin ada yang tidak beres dari Cahya tapi mama memikirkan kamu nak yang mencintai Cahya dari dulu, makannya mama berusaha berpikiran positif saja kepadanya" jelas mama Mila mengungkapkan argumen antara aku dan mbak Cahya.
"Maaf ma, andai Faiz ikuti apa yang mama bilang untuk melamar seseorang yang mama impikan menjadi menantu mama maka mama gak akan malu seperti ini, Faiz terlalu terbutakan dengan perasaan Faiz yang tak terbalas ini, tapi sekarang Faiz menyadari bahwa pilihan mama itu benar".
__ADS_1
"Apa yang mama bilang benar kan Iz, coba kamu ikuti apa yang mama bilang kemarin pasti kamu bahagia walaupun belum cinta, tapi cinta itu kan datang dari kebersamaan siapa tahu kamu bisa mencintai dia Iz seiring jalannya waktu" mama Mila merangkul pundak anak lelaki satu-satunya itu.
"Iya ma bener".
Ya allah berarti hamba hanyalah sebagai pengganti saja tanpa dicintai mas Faiz dan mamanya, mama mertua berarti menginginkan wanita lain untuk dijadikan menantunya bukan hamba.
Hamba sadar ya rabb, bahwa hamba sebagai pengganti agar keluarganya tidak malu untuk membatalkan pernikahan ini, apakah ada yang mau denganku setelah mas Faiz menceraikanku, aku tidak lagi perawan, keperawananku sudah kuberikan untuknya ya Rabb hamba ikhlas jika dia menceraikan hamba yang penting dia selalu bahagia walaupun tidak bersama hamba.
"Ran".
"Rana" mama memanggilku terus menerus tapi aku tidak mendengar panggilannya, di karenakan sedang memikirkan bagaimana nasib aku jika nanti diceraikan oleh mas Faiz.
"I-iya ma, ada apa".
"Kamu mengapa melamun nak, ada yang kamu pikirkan ya. Bilang sama mama apa yang mengganggu pikiranmu" tanya mama mertua padaku sambil membawaku dalam pelukannya yang sama nyamannya seperti memeluk ibu sendiri.
"Iya dek, ada apa kok melamun".
"Siapa wanita yang mama inginkan jadi menantu mama" ucapku spontan upss aku langsung menutup mulutku karena aku tidak sengaja mengucapkan kata itu, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku oh tuhan kurutuki kesalahanku sendiri.
"Oh, itu yang tadi kamu pikirkan sampai sampai kamu melamun seperti itu" mama dan mas Faiz tertawa kecil mendengarkan perkataan ku itu. Kok mereka tertawa sih padahal kan aku tidak sedang melucu.
"Kamu mau tau ya dek siapa wanita yang diinginkan mama menjadi menantunya itu" ucap mas Faiz setelah berhenti tertawa.
"Enggak kok mas".
"Bener ini, bukannya tadi kamu bertanya ya dek" jawab mas Faiz sambil menggodaku dan tentu saja wajahku memerah karena malu kejadian tadi diingat lagi.
"Bener itu Ran, wanita yang ingin mama jadikan menantu dari dulu itulah kamu" celetuk mama mertua dan blush wajahku yang memerah karena ulah mas Faiz tadi malah tambah semakin merah saat mendengar ucapan mama Mila, ya Rabbi aku ingin menghilang saja sekarang, aku benar benar malu.
"Bener dek mama dari dulu menyukai kamu".
"Ha_
__ADS_1