
Part 18
Pagi harinya
"Mau mandi dulu baru shalat tahajud" gumamku lalu buru-buru melepaskan pelukan yang aku lakukan semalam.
Byur
Byur
Aku langsung mengambil sarung dan baju kokoh, setelah itu membangunkan Rana agar segera bangun menyusul.
"Rana bangun sayang, udah jam 03.00 pagi, ayuk nanti telat tahajudnya" ku guncang pelan tubuhnya sambil sengaja mencubit hidungnya.
"Rana" panggilku lagi
"iya, ini sudah bangun" sautnya sambil bangun dari tempat tidur.
"cepat bangun lalu langsung mandi, usahakan bangun sendiri jangan ketergantungan melulu" sindirku biar dia mandiri dari hal kecil, sebenarnya aku tak tega seperti itu tapi kembali lagi ini rencana buat kejutan jadi mau tak mau aku paksain diriku tega.
"iya mas" dia langsung bangkit dengan mata yang sudah terbuka lebar tidak seperti sebelumnya.
"Sudah ayo" kami shalat berjamaah hingga adzan subuh berkumandang aku pamit untuk ke masjid.
"Pulang dari masjid saya mau sarapan, segera masak jangan lambat jadi orang" aku berlalu meninggalkan dia yang termenung mendengar ucapan pedasku, ya Allah semoga aku nggak keterlaluan.
"Segera ke dapur deh, mas Faiz nanti marah-marah. Rana bingung salah Rana apa padahalkan soal kemarin sudah minta maaf tapi sikap mas masih kayak gitu" aku buru-buru melipat mukenah dan sajadah lalu menaruhnya tak lupa memasang jilbab instan agar tidak repot.
"Mau masak apa ya, enaknya buat soto, perkedel, sama sambal kali ya" ujarku pada diri sendiri.
"Tapi lihat bahan-bahannya dulu deh mudah-mudahan cukup nggak harus ke pasar lagi" ucapku sambil membuka kulkas dan alhamdulilah semuanya cukup.
"Semangat Rana" ujarku memberi semangat pada diri sendiri, biasanya aku masak di bantu mas Faiz tapi dia mulai beda dari kemarin.
Hoek
Hoek
Ya Allah kok mual banget perutnya malah ini lebih parah dari sebelumnya, kepalaku juga pusing. Jangan panik Rana insyaallah Rana kuat.
"Assalamualaikum".
"Kamu ngapain aja sampai-sampai makanan belum siap?" tanya mas Faiz yang baru datang dari masjid sambil marah-marah.
"Jawab jangan diem aja kamu" ulangannya lagi saat tak ada respon dariku.
"Rana" bentaknya kuat lalu menarikku ke hadapannya dia.
"ma-maaf mas ta-tadi Rana mual mual makanya belum se-selesai" jawabku sambil menangis sesenggukan karena dibentak olehnya.
"mual mualnya tadi kan?".
"Iya" jawabku pelan nyaris tak terdengar.
"Lalu sekarang kenapa belum selesai juga" mas Faiz mencengkeram tanganku sedikit erat yang membuatku meringis tertahan.
"Aku gak mau tau, kalau belum siap 10 menit lagi habis kamu" dia berlalu pergi masuk ke dalam kamar kami mungkin saja mau mengerjakan pekerjaan kantornya, atau saja ada masalah besar di kantor makanya mas Faiz begini. Rana doakan semoga kantor mas Faiz baik-baik saja dan semoga sifat lembut mas Faiz dulu sebelum menikah dengan kamu kembali aamiin.
"Assalamualaikum nak ini mama Mila".
"Mama, Rana kangen sama mama. Masuk dulu yuk Rana hari ini lagi buat soto ayam sama perkedel, oh iya ma ini siapa?" tanyaku pada ibu-ibu di samping mama.
"Mama sampai lupa, perkenalkan ini bi Suti pembantu yang mama pilihkan. Satu lagi dia adik dari bi Ijum" mama menjelaskan sambil tersenyum ramah pada bi Suti.
"Saya bi Suti non adik bi Ijum" sapanya ramah sambil sedikit membungkuk, aku langsung melarang dia membungkuk karena tidak sopan dan pastinya bi Suti lebih tua dari aku.
"Bi Suti jangan panggil Rana nona panggil nama saja" ucapku mengakrabkan diri, kurang enak kalau aku dipanggil nona karena bagaimanapun aku tidak cocok dengan sebutan itu.
__ADS_1
"Tapi api non".
"Bi Suti bener kata Rana, bibi boleh panggil nama saja biar lebih akrab" pungkas mama sembari masuk dan menunjukan kamar untuk di tinggali olehnya setelah itu dia pamit istirahat dahulu karena perjalanan jauh dari kampung halamannya.
"Bibi kalau lapar ambil saja ya jangan sungkan, bibi sudah kami anggap seperti keluarga" ungkapku sebelum pergi meninggalkannya, aku lihat wajahnya sedikit berkaca-kaca mungkin terharu akan perlakuanku.
Satu lagi bi Suti itu mantan TKW Arab yang sering disiksa majikannya dulu dan juga tidak diberikan gaji, alhamdulilah nya dia bisa dibebaskan oleh pemerintah kita.
Luka-luka memar hampir membiru banyak terdapat di sekujur tubuhnya bahkan lebih parahnya lagi organ vitalnya juga lecet akibat ulah majikannya yang memperkosa dia secara..... Aku tak sanggup menjelaskannya pokoknya kalian pasti ngerti kalau korban pemerkosaan itu gimana.
"Gimana nak sudah ada tanda-tanda belum" tanya mama sambil mengambil soto menaruhnya ke dalam mangkuk tak lupa menaruh perkedel serta sambal juga dengan kuah sotonya.
"Rana gak tau ma, tapi akhir-akhir Minggu ini Rana sering mual-mual".
"Beneran nak" ucapnya sumringah sambil memelukku menghiraukan sotonya yang belum dimakan.
"Iya ma, tapi Rana takut mungkin saja efek lambung Rana yang kumat" kataku dengan nada sedih yang kentara.
"Di coba dulu kalau belum di coba kamu kan belum tau. Testpack ada kan nanti setelah mama selesai makan kita cek bareng-bareng" jawabnya lalu makan dengan lahap tak menghiraukan aku yang menyuruhnya untuk pelan-pelan.
Soal mas Faiz yang mulai berubah aku tidak bilang dengan mama karena urusan rumah tangga kami hanya akan menjadi urusan kami tidak kami sebarkan kepada siapapun termasuk keluargaku dan keluarganya mas Faiz.
"Tunggu dulu ma, mama kan baru selesai makan masa mau jalan saja lagian makanannya belum turun" cegah ku pada mama yang akan beranjak pergi.
"Kamu ih mama ingin cepat-cepat mengecek kondisi kamu" cemberutnya sama seperti tingkah mas Faiz saat sedang kesal kemauannya tidak aku turuti tapi itu dulu.
Mungkin saja mas Faiz bosan dengan Rana yang belum hamil juga sampai sekarang.
"Yaudah ayok kita cek" putusku yang membuat mama kembali girang mendengarnya.
Kami berjalan bersama sambil mengobrol banyak hal dari hal random mengarah ke pembicaraan asmara mas Faiz, baru kutahu ternyata mas Faiz memiliki beberapa mantan pacar yang sama sekali tidak dia beritahu.
"Buang air kecil kamu nak lalu tampung kedalam wadah ini" mama Mila menyodorkan wadah kecil bening seperti mangkuk tapi bukan mangkuk.
"Iya ma".
Aku sudah menampung air itu kedalam wadah lalu membuka bungkus testpack mengeluarkan isinya yang seperti stik panjang terus mengarahkannya masuk kedalam wadah itu.
"Semoga kali ini positif ya Allah" batinku sambil meringis kalau sempat gagal lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah" girangku sambil keluar menunjukan hasilnya kepada mama yang menunggu sambil berdoa harap-harap cemas.
"Gimana nak" tanyanya saat aku keluar dari toilet.
"Belum ma maaf" aku pura-pura mengatakan belum pada mama padahal hasilnya positif.
"Yaudah gak papa lain kali kita cek ya, kamu tetap semangat nak sama jaga kesehatan " jawabnya lesu mungkin dalam pikirannya gagal dapat cucu lagi.
"Ma Rana punya sesuatu untuk mama" panggilku saat mama ingin segera kembali ke ruang tamu.
"Apa nak, mau beri apa".
"Ini lihat" aku memperlihatkan test pack yang bergaris dua tanda positif ya aku hamil alhamdulilah.
"I-ini be-beneran nak" gagapnya sambil menangis deras sangking terharunya karena selama ini mama menantikan cucu yang sangat diinginkan.
"Iya ma" aku juga menangis tak lama kami berpelukan serta bersiap untuk memeriksakan kondisi janin ini berapa usianya.
"Sudah selesai" tanya mama
"Kita pergi sekarang jangan lupa nak minta izin sama Faiz".
"Sudah minta izin Rana ma".
Kami berangkat menggunakan taksi karena tadi mama ke rumah diantar papa yang sedang istirahat jam makan siang, sesampainya kami di rumah sakit kami disambut dokter Naya sang dokter yang dipilihkan mama saat pertama kami program hamil.
"Tante apa kabar, kamu juga dek Rana kabarnya gimana" sapanya ramah ya kebetulan juga Naya ini anak
"Kami semuanya baik nak Naya, tante mau periksa kondisi Rana, tadi sudah testpack dan hasilnya positif juga Rana minggu terakhir ini sering mual-mual" jelas mama Mila yang diangguki, lalu dokter Naya memintaku berbaring di brankar.
"Alhamdulillah Rana benar-benar sedang hamil tante" senyumnya dengan wajah cantik nan glowing parah.
"Kita langsung USG tante biar bisa tahu berapa umur kandungannya dek Rana, dek tanggal berapa terakhir datang bulan?" tanyanya lalu kujawab tanggal sekian.
"Kondisi janinnya sangat sehat umur kandungannya sudah 4 Minggu dan satu lagi ini sangat menggembirakan" ucapnya sambil bersorak kegirangan.
"Apa itu nak" tanya mama juga penasaran mewakili pertanyaanku, dalam hatiku kira-kira apa yang membuat dokter Naya kegirangan.
"Dek Rana lagi hamil kembar tante" ucapnya yang langsung mama sujud syukur tak lupa aku juga bersyukur atas apa yang Allah berikan pada keluarga kami.
"Alhamdulillah".
__ADS_1