Wanita Yang Dulu Kau Cerai Sekarang Kau Pinta Kembali

Wanita Yang Dulu Kau Cerai Sekarang Kau Pinta Kembali
Part 7 Sebentar lagi akad kok malah pergi


__ADS_3

Part 7


Skip


Resepsi adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang telah tiba dan termasuk hari patah hatinya hatiku ini, hari ini tepat hari akad mas Faiz dan mbak Cahya, andai aku yang dijadikan pengantin wanitanya betapa bahagianya aku, tapi itu semua hanya andai dan andai saja.


Aku dan Nina bersiap siap untuk di rias, sebenarnya aku tidak mau tetapi ibu memaksa katanya biar semakin cantik, padahal aku tidak terlalu suka untuk dirias bagiku itu membosankan karena wajah dan alis mataku sudah seperti memakai make-up, aku memiliki wajah putih dan alis mata seperti menggunakan pensil alis. Selesai dirias aku berjalan menuju kamar mbak Cahya untuk melihatnya sudah selesai di rias atau belum, sakit rasanya melihat mbakku sudah sangat cantik menggunakan kebaya putih dan riasan yang tidak terlalu tebal membuat wajahnya berkali-kali lipat cantik.


"Mbak masyaallah, mbak benar benar cantik. Mbak seperti bidadari yang turun dari langit" ucapku sambil memutar-mutar badan mbak Cahya kekiri dan kekanan.


"Ah kamu dek bisa aja, kamu juga cantik loh, mbak pangling juga lihat kamu".


"Ye Rana mbak kalo gak di paksa memakai riasan mana mau dia" aku hanya memutar bola mataku malas ketika Nina berkata jujur kepada mbak Cahya.


Akad pun akan segera di mulai, mbak Cahya meminta izin untuk pergi ke bawah karena ada temannya dari aussie yang datang mengunjungi pernikahannya. Aku hanya sendiri di kamar mbak Cahya, Nina sudah turun duluan karena sudah lapar katanya jadi dia izin turun duluan.


"Mbak biar aku saja yang jemput mereka untuk masuk kedalam, sebentar lagi akad akan dimulai mbak" cegahku supaya dia tetap di sini saja.


"Gak usah dek, hanya 10 menit saja gak lebih dek setelah itu mbak kembali kok, gak enak lah kalau mbak gak nyambut mereka karena mbak yang mengundang mereka jauh jauh dari aussie".


"Tapi mbak kalau ibu bertanya mbak Cahya ada di mana gimana Rana jawabnya".


"Jawab saja mbak ke belakang sebentar, sudah la dek mereka dah nunggu itu kasian".


"Tapi_


Mbak Cahya segera melangkah dari pintu rahasia kamarnya menuju belakang rumah, pintu itu tersambung dengan halaman belakang rumah. Tetapi lebih dari sepuluh menit mbak Cahya sama sekali belum kembali dari belakang rumah aku khawatir takut akan terjadi apa apa, aku memanggil ibu dan memberitahu tentang mbak Cahya.


"Dek, kemana mbak mu".


"Tadi mbak Cahya izin bu katanya ada temannya dari aussie datang dan sedang menunggu di halaman belakang rumah. Tapi sampai 10 menit mbak belum kembali ibu, mbak minta izin cuma sepuluh menit saja katanya gak lebih" jawabku sambil menunjukan kekhawatiran dan cemas pastinya.


"Ayo dek coba kita cek di belakang rumah, mungkin mbak mu sedang ngobrol sama temannya dan lupa waktu kalau acara pernikahannya akan segera dimulai" kata ibuku mencoba menenangkan aku.


"Ayo bu Nina kita cari" kataku mengajak mereka menuju pintu rahasia agar tamu tidak ada yang tahu tentang kehilangan mbak cahya.


Kami sudah dari tadi mencari cari mbak Cahya di belakang rumah, tetapi mbak Cahya sama sekali tidak ditemukan. Aku bingung mbak Cahya di mana akad 10 menit lagi akan di mulai dan mbak Cahya menghilang bagai di telan bumi.


"Bu mbak Cahya di mana, akadnya akan dimulai sepuluh menit lagi" ucapku sambil menangis.


"Nak ibu pun gak tau mbakmu di mana, kita bilang sama ayah dan keluarganya Faiz tentang mbakmu ini".


"Tapi buk kalau mereka gak menerima pembatalan pernikahannya bagaimana".

__ADS_1


"Ibu pun gak tahu harus bagaimana bicara sama mereka".


"Ini semua karena Rana mengijinkan mbak Cahya pergi ke belakang menemui temannya" kataku sambil menangis tersedu sedu atas kesalahanku.


"Nak ini bukan salahmu jangan menyalahkan dirimu sendiri, Cahya sudah merencanakan dia kabur dari semalam, ibu mengetahui saat dia membawa kopernya ke tempat temannya, katanya di dalamnya isinya oleh oleh dari aussie. Ibu juga tidak yakin oleh oleh sebanyak itu tapi dia meyakinkan ibu nak".


"Ini semua karena ibu, coba saja ibu bilang masalah ini dengan ayah pasti tidak akan seperti ini".


Tak lama ayah datang ke belakang karena aku menyuruh Nina yang memanggilnya untuk datang ke sini.


"Ada apa dek, kenapa kalian menangis".


"Jawab kok diam saja" sentaknya bingung melihat kami yang sama-sama diam membisu.


"Ibu, jelaskan apa yang terjadi. Ayah tidak tahu kenapa kalian menangis".


"Yah, mbak cahya kabur dari rumah" jawab ibu setelah lama kami diam.


"APA".


"Bagaimana mungkin dia kabur, bukannya dia ada di dalam kamar sedang di rias".


Aku pun menceritakan kejadian mbak cahya meminta izin untuk menemui temannya itu, setelah itu ibu pun juga menceritakan kejadian tadi malam tentang mbak Cahya.


"Ya allah bagaimana ini, bagaimana memberi tahu keluarga mereka".


"Maafin adek yah, coba saja adek gak mengijinkan mbak Cahya keluar kamar pasti gak akan terjadi seperti ini" kataku sambil menangis tersedu sedu.


"Gak dek ini bukan salah kamu, ini salah ayah telah memaksa mbakmu untuk menerima lamaran itu" ucap ayah sambil menangis, aku tidak pernah melihat ayah menangis selama ini pasti dia sangat kecewa sekali.


"Dek, bagaimanapun kita harus memberi tahu keluarga mereka tentang Cahya yang kabur menghilang".


Ayah mengumpulkan keluarga mas Faiz di kamar mbak Cahya, ayah menjelaskan kalau mbak Cahya kabur dari pernikahan ini bersama temannya.


"Bagaimana ini Danu, akad akan segera dimulai pengantinnya malah hilang" kata om Hendro.


"Maaf Hend, saya juga baru tahu persoalan ini. Cahya kabur dari belakang rumah. Kita batalkan saja pernikahannya".


"Gak bisa gitu Dan, kerabatku sudah hadir semua di sini".


"Tapi Cahya gak ada Hend, lalu mau diapakan lagi" jawab ayah bingung bagaimana mau dilanjut kalau calon pengantinnya tidak ada alias kabur.


"Ada satu cara supaya akadnya tidak dibatalkan" ucap om Hendro sambil melirik aku.

__ADS_1


"Apa itu Hend".


"Rana menja_


"Gak, kamu boleh salahkan aku tapi tida_


"Hanya itu Danu caranya, Rana yang menjadi pengantin dari Faiz dan menjadi menantu kami pengganti Cahya yang hilang".


"Tapi Rana masih sangat mudah untuk menikah Hend".


"Itu tidak masalah Dan, yang penting dia mau menjadi pengantin pengganti mbaknya".


Ayah pun menanyakan soal aku menjadi pengantin pengganti mbakku, ya tuhan ini membuatku bahagia tetapi mengapa harus pengganti dan bagaimana dengan pernikahan ini kedepannya.


"Bagaimana dek, apa kamu mau".


"Yah, adek_


"Iya om, Faiz mau menikah dengan dek Rana" mas Faiz memotong ucapanku mencoba memberi isyarat padaku agar menerima pernikahan ini.


"Tapi mas Fai_


"Rias dek Rana, Faiz lanjutkan akadnya segera" mas Faiz mulai turun kembali menemui bapak penghulu yang dari tadi menunggu kedatangannya.


Akupun dirias oleh MUA untuk menjadi pengantinnya yang kabur, selesai aku pun ditemani Nina dan ibuku.


"Bu, Rana gak bisa bu. Bagaimana nasib pernikahan ini kedepannya".


"Nak jalani dulu pernikahan ini ibu berdoa semoga kamu bahagia dan semoga memang Faiz jodohnya kamu nak".


"Nina, aku bingung".


"Bener itu Rana, jangan bingung dengerin ibumu dan berdoa sama Allah semoga pernikahan ini bahagia".


Mas Faiz menjabat tangan ayahku untuk melaksanakan ijab qabul.


"Bismillahirrahmanirrahim".


"Saya nikahkan engkau ananda Raka Sultan Faizal bin Hendro Sultan dengan putriku Namira Rayna Kusuma binti Danu Sastro Kusuma dengan mas kawin uang senilai lima puluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai".


"Saya terima nikah dan kawinnya Namira Rayna Kusuma binti Danu Sastro Kusuma dengan mas kawin uang senilai lima puluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap mas Faiz lantang dengan satu tarikan nafas dan tak terjadi kesalahan sedikit pun saat menyebut namaku barusan.


"Bagaimana para saksi".

__ADS_1


"SAH".


"SAH".


__ADS_2