
Part 10
Mobil kami menjauh dari halaman rumah ayah dan ibu sedangkan aku menatap belakang melihat rumah yang aku tinggali dahulu sudah tak terlihat lagi sekarang, sebuah tangan meraih bahuku dan menyadarkan aku memandangi belakang lalu aku memeluknya sambil menangis sesenggukan.
"Dek, jangan sedih hapus air matamu" ucapnya sambil menghapus air mataku yang jatuh.
Aku masih saja menangis walaupun air mataku berulang kali dihapus olehnya.
"Kita akan sering mengunjungi ayah dan ibu ketika hari libur atau ketika mas gak kerja" katanya menenangkan aku agar tidak menangis terus menerus.
"Mas janji" jawabku serak sambil mengulurkan jari kelingking ku seperti anak kecil. Biarlah toh aku masih kecil di hadapan ayah dan ibu dan yang mengenal aku seperti mas Faiz ini.
"Kamu ini gak pernah berubah" katanya sambil terkekeh dan tak ayal dia mengulurkan jari kelingking nya serta mengusap kepalaku.
Cukup lama kami mengendarai mobil sekitar 2 jam kira kira dan tak terasa kami sudah sampai di rumah baru yang akan kami tinggali bersama, rumah sederhana tidak besar dan tidak kecil, rumah ini jika dilihat dari luar maka sederhana tetapi jika masuk ke dalam maka seperti rumah mewah. Rumah ini hanya satu tingkat halamannya cukup luas memiliki tiga kamar, satu kamar utama dan dua kamar tamu, ruang tamu yang cukup besar, dapur yang alat alatnya sudah lengkap sepertinya rumah ini memang sudah disiapkan oleh mas Faiz untuk menyambut kedatangan mbak Cahya. Miris memang hanya sebagai pengganti tapi ya sudahlah, serta halaman belakang yang indah dan ditumbuhi oleh berbagai macam bunga itulah yang dia katakan sebelum kami menginjakan kaki masuk ke dalam rumah kami. Benar benar rumah impian yang ingin aku tinggali bersama dengan suamiku kelak yang mencintai aku pastinya, bukan yang seperti ini.
"Dek ayo sudah sampai" dia keluar dari mobil dan membawa koper serta tas di tangannya untuk di bawah ke dalam.
"Kok malah bengong, ayo masuk dek. Cuacanya lumayan panas loh ini" katanya seraya mengingatkan aku untuk segera masuk.
"Iya" jawabku singkat sambil membawa kardus berisi buku buku kuliah.
"Tinggal aja itu dek nanti mas yang bawa, lagian itu pasti berat".
"Nggak usah mas biar Rana saja yang bawa, sekalian biar gak usah bolak balik" tolakku cepat dia ini kalau tidak di tolak langsung akan kekeh dengan ucapannya itu makannya aku inisiatif ngomong cepat.
Kami pun masuk kedalam rumah yang akan kami tinggali, satu kata untuk menggambarkan rumah ini yaitu sederhana tapi indah.
"Emm, mas".
"Iya dek, ada apa".
"Toiletnya di mana ya, aku udah gak tahan" tanyaku pada mas Faiz sambil menahan panggilan alam yang tak tertahankan lagi saat di mobil tadi untung saja aku tidak pipis di mobil kan.
"Di dalam kamar utama di sebelah kanan dek" katanya menjelaskan.
"Berarti masih jauh dong" keluhku sambil menahan, aku sudah tak kuat lagi untuk menahannya, tahan Rana tahan masak nahan pipis saja kamu gak bisa.
"Ada lagi gak mas".
__ADS_1
"Ada dek, di sebelah kamar tamu itu sebelah sana" dia menunjukan kamar tamu yang tidak terlalu jauh dari arah pintu masuk.
Aku pun langsung berlari menuju toilet kamar tamu karena sudah tak tahan untuk menunaikan keinginanku untuk buang air kecil. Setelah selesai aku keluar dari kamar tamu dan mencari keberadaan mas Faiz, aku melangkahkan kaki ke arah kamar utama. Sebelum masuk aku ketuk pintunya dahulu siapa tahu mas Faiz sedang mandi atau mengganti pakaian. Walaupun sudah menikah aku masih canggung karena tau sendiri kan mas Faiz menikahi aku tanpa rasa sedikitpun.
"Masuk dek, kenapa malah ketuk pintu segala sih" omelnya sambil membuka pintu, dan kulihat dia sudah mengganti pakaiannya mungkin dia tadi mandi atau hanya sekedar ganti baju saja.
"Gak papa, takut mas sedang ganti baju".
"Eemm mas, mas kok udah ganti baju memang ada pakaian ganti ya? bukannya mas gak bawah koper tadi kan" tanyaku bingung dia kok bisa ganti baju padahal kan tadi jelas jelas dari rumahku dia gak bawa apa apa, ini kok bisa ganti apa aku gak lihat dia membawanya.
Dia tertawa kecil mendengar pertanyaan ku.
"Mas sudah siapkan baju sebelum mas tinggal di sini" jelasnya sambil masih tertawa kecil.
"Ooh, mas sudah mempersiapkan segalanya ya".
"Maafkan aku jika aku tidak mengijinkan mbak Cahya pergi, mas pasti bisa bahagia dengannya" kataku merasa semua ini salahku dan aku memang patut untuk disalahkan dalam hal ini.
"Gak usah menyalahkan diri sendiri dek, mungkin mas saja yang akan bahagia tapi tidak dengan Cahya dek. Mas bersyukur dengan cara ini Allah menyadarkan mas agar tidak memaksakan suatu apapun yang tidak baik untuk mas, karena jika itu baik maka Allah lancarkan pernikahan yang mas idamkan ini".
"Yaudah ayo masuk, sebentar lagi ashar dek. Kamu segera ganti baju sana" suruhnya
"Mas apa kita akan satu kamar, bukan maksudku menolak satu kamar tapi apa mas yakin sama pernikahan ini. Mas keluar dulu sana Rana mau ganti baju dulu" usirku padanya tapi sebelum itu dia mengucapkan hal yang sangat meyakinkan aku.
"Rana masih bimbang mas tapi akan Rana usahakan mencintai mas dan mempertahankan semuanya".
"Apa kamu keberatan dek kita satu kamar? bilang aja kalau keberatan mas gak akan maksa kamu satu kamar sama mas".
"Enggak aku gak keberatan mas, aku akan belajar jadi istri yang sesungguhnya yang melayani semua kebutuhan mas dari lahir maupun batin" kataku mantap semoga saja ya Allah aku tidak akan menyesali keputusan dan takdir yang engkau berikan padaku.
"Dek jangan di paksain, dengan cara satu kamar dan mengurus dapur serta kebutuhan untuk ke kantor saja mas sudah senang, tidak untuk yang satu itu".
"Mas sudah bilang bukan, mas gak akan memaksakan kamu melayani mas di atas ranjang".
"Mas aku insyaallah sudah siap jika mas ingin mengambil hak mas kepadaku, bimbing aku mas agar menjadi istri yang baik untukmu".
"Terimakasih dek, kamu sudah mau menerima mas seutuhnya. Ya Sudah segera ganti pakaian sepuluh menit lagi adzan ashar akan berkumandang" titahnya seraya melihat jam di tangannya.
"Mas keluar dulu, mas akan shalat di masjid dekat komplek ini sekalian mengakrabkan diri dengan tetangga sekitar" sebelum pergi aku mencium tangannya dan di balas kecupan dahi olehnya.
__ADS_1
"Iya mas".
"Assalamualaikum".
"Wa'alaikumsalam".
Aku mengantarkan mas Faiz sampai depan pintu, setelah dia berlalu aku menutup pintu dan segera mengganti pakaian dan langsung melaksanakan kewajibanku juga yaitu salat lima waktu.
Setelah selesai aku melangkahkan kakiku menuju dapur untuk memasak makan sore di rangkap makan malam karena tadi tidak sempat untuk berbelanja karena sibuk mengendara. Aku membuka kulkas dan yang ada hanya beberapa butir telur, sosis serta beras yang tidak banyak, aku memutuskan memasak nasi goreng karena bahannya tidak memadai untuk memasak yang lain mungkin dia lupa mengisi kulkas pikirku
Aku menaruh nasi goreng yang sudah selesai di atas wadah makanan lalu membuat es teh dingin sepertinya segar karena cuaca yang cukup panas hari ini.
Tak lama mas Faiz pulang dari masjid, aku menjawab salamnya lalu mencium tangannya takzim lalu membawakan sarungnya, aku menyuruhnya duluan ke meja makan karena aku akan menaruh sarung yang dia pakai tadi dalam kamar kami.
"Mas maaf Rana cuma bisa masakan ini karena bahannya cuma ada sosis, telur dan beras saja".
"Iya dek gapapa, memang engga mas isi biar bisa milih apa yang kamu mau nanti" ungkapnya lalu mulai memakan nasi goreng yang tersedia, aku juga menyendok makananku juga sampai tak tersisa.
"Masakan kamu enak" pujinya sambil menaruh pelan sendok yang digunakan tadi.
"Makasih mas, Rana kira mas gak suka makanan yang Rana buat" jawabku malu malu setelah dipuji
"Kata siapa mas gak suka, malahan mas kurang ini, lihat isi piring mas habis tak tersisa sedikitpun" aku melirik piringnya dan benar isi piringnya tidak ada sisa bahkan sebutir nasi juga tidak ada.
"Ada lagi ngga" tanyanya memastikan
"Nggak ada mas, besok deh kalau bahannya sudah lengkap akan Rana buatkan lagi nasi gorengnya".
"Oke, jangan lupa ya" ucapnya lalu membawa piring kami menuju dapur dan mencucinya, aku sudah melarang supaya biar aku saja yang mencucinya tapi dia bilang kalau dia mau membantu.
Katanya terimakasih sudah membantunya mengerjakan pekerjaan rumah yang harusnya tugas lelaki tapi karena kita menganut budaya timur maka itu menjadi tugasnya perempuan padahalkan tugas perempuan sebenarnya ialah mengandung, melahirkan, serta menyusui, dan merawat anak kita sampai besar tidak ada lagi.
"Besok mas cari pembantu, kamu gak usah ngapa-ngapain dek. Secepatnya mas usahakan dapat yang pas untuk kita".
"Gak usah mas, Rana aja lagian kita cuma berdua kok. Rana juga gak lagi hamil dari pada Rana suntuk gak ngapa-ngapain lebih baik biar Rana saja yang mengerjakan pekerjaan rumah" tolakku, kalau ada pembantu aku jadi gak ngapa-ngapain dong masak harus diem doang hi bisa gabut aku.
"Engga boleh pokoknya harus ada pembantu! kamu kan kuliah dek" titahnya tanpa mau di bantah.
"Kan kuliah dari pagi sampai siang aja mas itupun kalau dosennya masuk".
__ADS_1
"Mas putuskan kamu duduk di rumah saja kalau engga ada jam kuliah, gak usah ngerjain pekerjaan rumah. Ke salon atau ke tempat yang kamu mau kek biar tugas rumah pembantu kita yang ngerjain" putusnya
"Iya" sudahlah capek aku kalau harus beradu argumen padahal baru hari pertama kami menikah sudah seperti ini saja, belum lagi di hari berikutnya.