
Part 20
Hari ini adalah hari yang penting serta spesial untuk istriku Rana karena tepat hari ini usianya bertambah. Aku sudah menyiapkan kado spesial untuk dia yaitu satu set perhiasan dari mulai kalung, gelang, cincin, dan satu gamis baru edisi spesial hanya ada dua di Indonesia. Harga yang aku keluarkan untuk membayarnya bukan main-main loh, satu set perhiasan totalnya bisa seharga beli satu mobil Pajero. Dan untuk gamis bisa beli satu unit Honda Vario. Fantastis bukan? Untuk orang tersayang harga segitu tidak ada artinya yang terpenting orang yang kita sayangi bahagia kita sudah senang sekali rasanya, oke balik lagi ke persiapan ulang tahun Rana.
"Ma udah siapkan semuanya" tanyaku pada mama yang masih sibuk memasak membantu para tetangga terdekat yang kami undang.
Acaranya tak terlalu besar yang terpenting itu kata mama ada yang ingin disampaikan pada hari ini juga. Aku saja tidak tahu apa yang mau disampaikan jadi jangan tanya dengan ku ya masalah apa itu, serta acara marahan dan sandiwara aku selama ini akan aku akhiri. Uh senangnya kalau tidur gak perlu peluk secara sembunyi-sembunyi lagi. Satu lagi bisa manja-manja dengan Rana seperti hari sebelumnya.
"Kamu jemput dulu Rana Iz di tempat Nina sahabatnya, mama suruh Rana ke sana biar jadi surprise. Bilang sama nak Nina gak usah bawa apa-apa" Mama mengucapkan itu karena apa Nina teman atau sahabatnya Rana itu kalau ada acara apa-apa pasti bawa kado jadi Mama memperingati dulu daripada Nina bawa kado kan.
"Oke Faiz pergi jemput Rana dulu ma, assalamualaikum" aku mengecup pipinya sambil memamerkan pada papaku yang berwajah masam karena pipi istrinya di kecup anaknya sendiri. Sambil menjulurkan lidah aku memamerkan kecupan yang aku lakukan.
Papa tipe orang yang cemburuan sekali pantang kalau mama dekat dengan orang lain mau pria ataupun wanita dan satu lagi anaknya juga dia cemburuin garis bawahi tebal-tebal. Padahalkan Faiz anaknya tapi entah kenapa papa tetap tidak berubah, sudahlah kita tinggalkan soal papa ayo kita jemput Rana dan sahabatnya itu.
Aku sudah dekat dengan rumah yang ditempati Nina, tinggal masuk pagar yang dijaga satpam kompleks lalu memberikan kartu nama Nina dan orangtuanya aku bisa langsung masuk. Pengamanannya sangat ketat membuatku bosan jika ramai yang berkunjung belum lagi acara antriannya hu melelahkan, makanya aku cari rumah tidak mau yang perumahan kompleks begini.
"Assalamualaikum dek saya sudah di depan".
"Sebentar mas" 5 menit kemudian Nina dan Rana keluar dengan gamis yang tidak pernah aku lihat mungkin itu baru pikirku.
"Maaf lama mas, nungguin Nina beres-beres dulu" jelasnya sambil menunduk tidak mau melihat wajahku.
Apa wajah yang tampak olehnya wajah marah ya sampai-sampai dia takut melihat wajahku.
"Jangan marah sama Rana kak, ini kesalahan Nina yang lama bersiapnya" bela Nina lalu menarik pergelangan tangan sahabatnya itu.
"Cepat orang di rumah sudah pada kumpul semua" sautku dingin pada mereka berdua yang mengambil posisi duduk di belakang.
Hu tahan Iz bentar lagi insyaallah kamu sudah bisa manja-manja sama Rana.
Skip depan rumah
"Lanjut masuk dulu sana, saya sambut ibu sama ayah kamu. Mama tunggu kamu di dalam" suruhku padanya yang langsung masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Tadi Rana sempat mau ikut aku nyambut ayah dan ibunya tapi aku larang karena bagaimanapun ini acaranya jadi dia yang paling dibutuhkan.
Semua tamu akhirnya datang, aku juga ikut masuk kedalam karena acaranya segera di mulai.
"Assalamualaikum nak Faiz kamu apa kabarnya" ayah mertuaku datang sambil menepuk bahuku lalu aku menyuruhnya agar masuk karena acara sebentar lagi akan dimulai.
"Ibu sama ayah masuk dulu. Faiz menyambut tetangga dahulu, Rana ada di dalam lagi sama mama".
"Mau ayah temenin nyambut tamu nak" tawar ayah tapi aku menggelengkan kepala.
"Ayah baru datang pasti capek, duduk dahulu ayah biar Faiz saja yang menyambut tamunya".
"Ayo yah ibu mau ketemu Rana kangen dia ini".
Akhirnya semua tamu dari tetangga dan teman dekatku datang juga termasuk Shireen yang datang dengan Rian sang dokter, mereka bergandengan tangan dengan Kia dalam gendongan Rian.
"Hay bro udah deket aja ni" ujarku melihat senyum malu-malu Shireen dan wajah kegirangan Kia yang minta digendong olehku.
"Enak aja orang gue bulan madunya di rumah elo pulak minta di Venesia".
"Sekali-kali nyenengin gue kenapa, gak asik loh jadi kawan" kata Rian sambil cemberut dan berwajah masam tanda merajuk.
"Udah tua masih sering pundungan aja lo" ledek ku padanya yang malah membuat tingkah dia semakin menjadi.
"Ayo sayang kita masuk, gak usah nungguin orang gak waras ini".
"Enak aja omongan elo, gue masih waras kali" sahutku tidak terima dibilang nggak waras dengan dokter gila Rian.
Aku masuk setelah memastikan tamu tidak ada yang belum datang. Acara demi acara telah terlaksana sama tiba-tiba mama menyampaikan hal yang begitu menyakitkan buatku
"Terimakasih semuanya karena telah di sempatkan hadir dalam acara kecil ini, kami sekeluarga mengadakan acara ini karena yang pertama menantu saya bertambah usianya dan kedua menantu saya sedang hamil anak kembar".
Deg
__ADS_1
Deg
Rana sedang hamil?
Tapi sejak kapan?
Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?
Apa aku tidak penting mengetahui hal itu, aku kan suaminya?
"Kami meminta doa atas kehamilannya Rana, semoga dilancarkan persalinannya serta bisa menjadi anak yang saleh dan saleha" kali ini ayah Danu yang berbicara, kami pun memanjatkan doa bersama setelah selesai barulah pemotongan tumpeng dan para tamu dipersilahkan untuk menikmati sajian yang telah terhidang.
"Rana ikut mas sebentar" ajakku pada Rana yang sedang bercanda gurau dengan mama dan ibunya.
"Iya mas" cicitnya pelan lalu meminta izin pada kedua ibunya itu.
Kami melangkahkan kaki menuju taman belakang agak ke pinggir tepatnya di bawah pohon mangga yang aku tanam 7 tahun lalu.
Dulu di lahan ini belum ada rumah hanya pekarangan kosong yang tidak ada tanaman satu pun, terus aku inisiatif untuk tanam pohon mangga karena memang mangga buah kesukaanku. Di bangun rumah pun saat aku ingin hidup mandiri makanya aku minta izin papa dan mama buat rumah di sini sekalian juga untuk ditinggali calon istri kelak.
"Jawab pertanyaan mas".
"Kamu sedang hamil kembar, iya" tanyaku padanya
"I-iya mas".
"Kenapa nggak ada yang bilang pada mas, dari kamu atau dari mulut semuanya" sentaku dingin dengan tangan terkepal erat.
"Bukan Rana ngga mau bilang mas tapi_
Drtt
Drtt
__ADS_1