Wanita Yang Dulu Kau Cerai Sekarang Kau Pinta Kembali

Wanita Yang Dulu Kau Cerai Sekarang Kau Pinta Kembali
Part 5


__ADS_3

Part 5


Skip Rumah


"Assalamualaikum yah bu" kataku seraya mengetuk pintu dan tak lupa mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam nak, kamu sudah pulang" seraya menjawab salamku dan pastinya memeluk diriku.


"Nak Faiz, nak Nina masuk dulu, jangan di luar terus" ucap ibu ramah menyuruh mas Faiz dan Nina untuk masuk. Ya Nina tidak jadi di antar pulang karena dianya ingin menginap kangen suasana rumahku dan alasannya juga karena kedua orangtuanya sedang ada di luar kota untuk mengunjungi neneknya yang sedang sakit, ngomong ngomong Nina ini anak tunggal, bukannya dia tidak mau ikut tetapi karena dia sedang kuliah maka dari itu dia tidak ikut.


"Iya bu" jawab Nina memang ibu menyuruh nana memanggil ibu juga karena permintaan ibu tentunya, pun sama denganku memanggil mamanya Nina juga sama.


"Gak usah bu, Faiz langsung pulang saja. Bunda udah nyariin soalnya ada kerabat yang sudah menginap untuk acara resepsi Minggu depan, maaf buk mungkin lain kali saat Faiz udah nikah sama Cahya nantinya".


"Yaudah iz kamu hati hati pulangnya" ucap ibu lembut


"Iya bu, assalamualaikum" jawab mas faiz seraya mengucapkan salam lalu masuk kedalam mobilnya melajukan mobilnya melewati pagar depan.


Kami pun masuk kerumah, aku pamit kepada ibuku untuk mengajak Nina masuk ke kamarku. Kami akan melepas rindu yang lama terpendam, hahaha macam sepasang kekasih kami dibilang orang lain, karena di setiap ada Nina pasti ada Rana begitulah kata orang. Padahal kami sama sama perempuan masak belok astagfirullah jangan Rana, inget ucapan adalah doa.


"Eh Ran, bukannya cowok yang tadi itu cowok yang ada di wallpaper handphone lo ya" katanya, iya dulu aku pernah foto mas Faiz diam diam untuk aku jadikan wallpaper handphone tapi sekarang enggak lagi kok karena aku sudah tau dosa.


"Iya Na, dia cowok yang tadi".


"Kek mana ceritanya bisa sama mbak lo Ran, bukannya yang suka itu lo ya".


"Ran, jelasin ke gue sekarang?".


"Jangan ada yang ditutup tutupi?".


"Cepet, sedetail detailnya" katanya membordir aku dengan pertanyaan yang unfaedah itu.


Aku pun menceritakan semuanya pada sahabatku bahwa mbak Cahya sama mas Faiz dijodohkan oleh orang tua kami dari kecil. Nina menenangkan aku agar bersabar atas semua yang terjadi.


"Sabar ya Ran, mungkin dia bukan jodoh yang tuhan takdirkan untuk lo" ucapnya seraya menguatkan aku.


"Iya Na, makasih ya".


"Sans Ran, bestfriend harus saling menguatkan ya enggak" candanya


Kami pun saling bercerita tentang kami kecil dahulu. Ya dari kecil kami saling bersahabat, sekitar 11 tahunan la kira-kira lalu kami terpisah saat kuliah di kampus berbeda tapi masih satu kota kok. Nina mengambil jurusan ekonomi di kampus Xxxx sedangkan aku mengambil jurusan bisnis di kampus Xxxx, walaupun kami terpisah kampus komunikasi selalu berjalan kok makanya masih bersahabat baik.


"Rana, acara nikahannya kapan. Lo gak ngasih tau gue soal itu" rajuknya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Udah bibir itu jangan di gituin jelek tau lo kayak bebek yang kelaparan" balasku seraya tertawa lucu.

__ADS_1


"Hey lo, jangan ngatain, enak aja gue kayak bebek seorang Nina Arundati anaknya bapak Gunawan Steel pemilik saham batubara terbesar se negara kita ini elo bilang kayak gitu, ampun deh katarak kayaknya mata elo. Udah cepet jawab yang gue tanyain tadi" aduh anak ini kumat tingkat kepedeannya


"Sombong amat Nina" ucapku judes


"Cepet Rana".


"Cepat elah, gak sabar nih" katanya dengan teriak di telinga gue.


"Berisik tau bisa bisa gue budek Nina" jawabku tak kalah kuat di telinganya sambil mengusap telinga yang berdengung karena teriakan maut dia, mati ini besok harus ke THT biar di cek siapa tau aku budeg sebab dia. "seminggu lagi Nina acaranya".


"Eh buset cepet banget, lo sih gak bilang bilang gue. Coba lo bil_


"Lo mau apa coba, cepet ngomong" kataku memotong ucapannya yang belum selesai biar jengkel dia habisnya jailnya itu ngelebihi aku.


"Makannya kalo orang belum siap ngomong jangan dipotong, Namira Rayna Kusuma" sentaknya jengkel kali ini dengan senyum miring.


"Hehehe" kataku cengengesan


"Gue ya mau beli baju buat nikahan mbak Cahya la, baju couple yok dah lama kita gak pakai kayak gini lagi. Terakhir SMA kan kita coupelan ya kan, itu pun gue harus maksain elo pakai kalau nggak habis deh sampai berdebu dalam lemari lo".


"Iya bener, seratus untuk Nina, cayang la cayang, lagian elo beli baju yang warnanya terang banget kek jamet gue makenya.


"Itu ngetrend tau".


"Ih jijik gue Ran, jangan gitu deh gak cocok sama lo. Cukup gue aja yang lebay bin kawannya".


"Ngaku lo lebay ya Nin, gue kira lo kagak ngaku" balasku


"Udah jangan yang itu lo jawab, jawab lo mau gak kita coupelan Ran" katanya membujuk


"Gue gak akan dateng deh kayaknya?".


"Kek mana ceritanya nikahan mbak Cahya lo gak dateng Ran, jangan gila deh, gue tau lo cinta sama lelaki itu tapi pikirin kalau lo nggak datang bagaimana perasaan mbak Cahya tau kalau adeknya sendiri nggak hadir di acara paling berarti dalam hidup dia" jelasnya


"Gue takut gak kuat Nin, kek mana kalo gue nangis pas akad mbak gue. Itu yang bikin gue gak kuat Nina" kataku menjelaskan, mungkin sih orang bakal ngira kalau aku nangis karena mbak Cahya nikah otomatis kami akan berpisah karena dia akan ikut suaminya, tapi enggak itu masalahnya kalau suaminya orang lain ma aku sedih ini lelakinya orang yang aku sukai gimana caranya aku baik baik saja saat lelaki itu mengucapkan akad dengan nama mbakku sendiri runyam pokoknya.


"Lo dateng Ran, gue yakin lo kuat. Ada gue Ran, kalo lo udah gak kuat kita selesai akad cabut kemana gitu asal lo gak sedih lagi kek gini" terangnya


"Kek mana, mau gak kita couple" tanyanya sekali lagi


"Oke la, lo memang sahabat terbaik gue Nina" kataku seraya berpelukan ke Nina. Ngomong ngomong Nina ini lebih tua satu tahun dariku jadi secara gak langsung gue menganggap dia kakak kedua setelah mbak Cahya.


"Eh Ran, gue nginep di sini ya. Udah lama gue gak nginep di rumah ibu lo, sama kangen masakannya lagian nyokap, bokap gue jarang ada di rumah asik pergi terus ngurus bisnisnya" keluhnya


"Oke, kuliah lo kek mana Nin. Mau berapa lama lo nginepnya?".

__ADS_1


"Kuliah gue libur covid Ran, di sana sudah diisolasi semuanya. Makanya gue pulang, seminggu la gue di sini boleh kan" ujarnya ih ngeri banget sampai satu kampus kena covid semuanya. Ini baru awal covid jadi gak papa kalau mau ngadain pesta.


"Boleh, sebulan pun gak papa. Udah izin mama lo belum, ntar dia nyariin" tanyaku padanya lalu dia mengambil handphone dalam saku gamisnya.


"Ntar, gue ngomong dulu sama mama gue" dia menghindar sedikit tak lama suara dari seberang pun menjawab panggilannya.


Selesai Nina menelpon mamanya, dia langsung joget joget gak jelas di kasur aku. Aduh abis obat kayaknya atau lagi dapat jackpot bahagia banget ni anak.


"Lo, kenapa Nina?. Abis obat lo ya? biar gue yang beliin kalo abis udah tau mau nginap obatnya bukan dibawa" tanyaku sambil geleng geleng kepala.


"Enak aja lo, mama gue bilang oke kalau mau nginep".


"Terus lo seneng kenapa Nin".


"Mama gue transfer duit banyak Ran, buat jajan gue sekalian sama beli kado buat mbak Cahya, mama gak bisa hadir makanya nitip ke gue untuk dibelikan" katanya seraya menunjukan handphonenya memperlihatkan bukti transfer atas nama pengirim mamanya Nina.


"Eh buset Nin, mama lo suruh elo pindahan ya Nin. Segitu banyaknya buat apa" tanyaku heran, gila aja mamanya transfer sampai 500 juta untuk apa coba, tapi dia beruntung sih walaupun sering di tinggal keluar kota atau negeri transferan tetap jalan, tapi kadang dia sedih karena tinggal sama para pembantunya itu, ya walaupun ada yang nemenin tapi gak lengkap kalau orang tuanya belum kumpul, bisa dihitung jari mereka kumpul bareng malah kadang kadang bisa 1 tahun sekali baru kumpul keluarga.


"Sembarangan aja lo Ran ngomongnya, ini tuh buat beli gaun sama makeup nya tau. Plus salon cuy, sisanya masuk kantong gue la, ayo makan seafood gue traktir elo sepuasnya biar gue yang bayar".


"Gak segitu juga kali, berapa la untuk beli kek gitu. Gas malam besok kita keluar awas aja kalau lo ingkar ya" ucapku girang sambil bertepuk tangan yes makan gratis dalam hatiku.


"Suruh mama gue dandan yang cantik Ran, biar gue yang paling cantik" candanya seraya mengibaskan rambutnya manja bukan cantik yang ada aku malah mual melihat ke narsisnya. Oh iya dia udah lepas hijab saat masuk kamar katanya gak tahan panas banget.


"Kek mana pun lo dandan Nina tetap yang dipandang cantik mempelainya la" kataku sambil memutar bola mataku malas.


"Ih si elo Ran, sekali kali kek buat sanjung gue".


"Hoek" kataku menirukan orang muntah.


"Rana gak as_


"Nak, turun dulu bantuin ibu masak" ucap ibu sambil mengetuk pintu kamarku dan otomatis menghentikan pembicaraan kami.


"Iya bu, maaf keasikan ngobrol sama Nina jadi lupa bantuin, Rana segera turun" sahutku cepat.


"Iya nak, ibu turun dulu cepet ya ibu mau masak banyak untuk menyambut nak Nina datang" idih ngapain ibu malah nyambut Nina segala makin betah dia entar.


"Nina, lo ikut gak gue mau bantu ibu gue di dapur" tanyaku pada Nina yang asik main game dalam handphonenya, pasti kutebak anak itu lagi main game wormax iya tentang ular, biasa inget pas bocil saat main ular tangga makanya dia download tu game.


"Ya ikut la, ngapain gue disini. Eh btw makin betah gue tinggal di rumah lo, ibu lo pasti buatin masakan yang enak dan banyak" ujarnya sambil melemparkan handphone diatas kasur semoga saja jatuh biar beli baru itu anak.


"Yok" kataku mengajaknya turun.


Tak lama kami turun dan menuju dapur untuk membantu ibu memasak makan malam, menu hari ini pepes jamur, rendang jengkol kesukaan Nina, telur barendo, capcay, sup ayam, lalu sambel. Tenang makanannya habis kok tentu saja di makan oleh Nina kadang aku berpikir itu anak makanya banyak buanget tape kok gak bisa besar atau gendut ya gak kayak aku makan makanan yang dijaga saja masih sering naik turun berat badan. Selesai masak kami pamit untuk membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2