
Part 8
"Sah"
"Sah".
aku pun di tuntun untuk turun kebawah dan duduk di samping mas Faiz, ya sebelumnya aku sedang ada dikamar menunggu Ijab Qabul selesai, banyak orang yang mengatakan bahwa
Mengapa Pengantin wanitanya kok beda?
Yang menikahkan kakaknya kok jadi adiknya?
Tapi di undangan nama kakaknya kok adiknya yang turun?
Loh kok gak sesuai? dan masih banyak lagi yang diucapkan saut sautan oleh tetangga dan kerabat yang mengenal kami sedangkan yang tidak mengenal hanya diam saja dan memujiku sangat cantik menggunakan kebaya ibuku dahulu.
Resepsi di gelar di hotel xxx banyak tamu yang datang karena kami memang mengundang semua orang dari kerabat jauh maupun para tetangga serta rekan kerja mas Faiz, tamu undangan yang telah menghadiri pesta dipersilahkan masuk dan menyantap makanan atau bahkan menikmati hiburan yang tersedia. Serta kami yang masih sibuk menyalami para tamu dan yang ingin mengambil foto bersama-sama para rekan kerja mas Faiz.
Skip Malam
Malam ini malam pertama ku dengan mas Faiz, harusnya ini malam pertama mas Faiz dan mbak Cahya tetapi jadi malam pertama kami karena mbak Cahya kabur dari pernikahannya dan gak tau entah pergi kemana mbakku itu.
Jangan membayangkan tidur sambil berpelukan atau saling memadu kasih, itu hanya untuk pasangan yang saling mencintai sedangkan aku hanya pengantin pengganti mbakku. Aku tidur diatas kasur hotel yang kami sewa sebelumnya, setelah membersihkan diri dan mengganti pakaianku kulihat mas Faiz sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, tak lama pintu kamar mandi pun terbuka menampilkan sosok mas Faiz yang sudah tampil fresh menggunakan pakaian yang lebih santai. Dia mendudukkan dirinya diatas kasur.
"Dek, mas mau bilang sesuatu sama kamu".
"Ngomong aja mas" aku pun bangkit dari tiduran dan langsung terduduk di ujung kasur.
"Mas berterimakasih sama kamu karena sudah mau menikah dengan mas walaupun hanya sekedar pengantin pengganti" deg sakitnya kala mas Faiz mengingatkan posisiku yang sebenarnya.
"Iya mas, itu juga karena kesalahan aku juga karena mengijinkan mbak Cahya keluar dari rumah".
"Jangan menyalahkan dirimu dek atas semua ini, mungkin jika mas gak memaksakan kehendak mas agar Cahya menerima lamaran ini pasti gak akan terjadi seperti ini".
__ADS_1
"Iya mas, mas juga jangan menyalahkan diri sendiri juga" balasku sambil menatap wajahnya yang tampan rupawan sangat menyentuh serta menggetarkan titik terdalam hatiku ini.
"Dek" mas Faiz memanggil dan menatap mataku serius.
"Iya mas" jawabku gugup ditatap seperti itu.
"Mas mau ngomong serius sama kamu tentang pernika\_
"Iya mas, Rana siap kalau mau mas talak di malam ini" jawabku cepat karena aku sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh mas Faiz, pasti dia mau menceraikan aku di malam pertama kami.
"Kamu ngomong apa dek, ngawur kamu" katanya sambil menoyor kepalaku ke belakang menggunakan jari telunjuknya. Tenang tidak sakit kok, sudah biasa aku di giniin dengannya jadi tidak masalah.
"Mas bukan mau ngomong itu".
"Makannya kalau orang belum selesai ngomong jangan di potong".
"Mas menerima pernikahan ini dan akan memantapkan hati mas untuk menerimanya, mas berharap kamu juga bisa begitu dek walaupun mas tau pasti sulit untukmu menerimanya" mas Faiz berkata kepadaku sedangkan aku hanya mendengarkan apa yang barusan diucapkan kepadaku, aku tidak ingin menyelah ucapannya sebelum dia selesai berbicara lagi takutnya aku salah lagi nantinya.
"Dek, bagaimana dengan kamu dek".
"Mas hanya akan menikah satu kali seumur hidup dek, mas harap kamu mau menjadi istri mas sesungguhnya bukan hanya karena terpaksa".
"Mas serahkan semua denganmu dek".
"Mas, mas yakin gak terpaksa menerima Rana. Rana takut mas hanya pura pura menerima pernikahan ini untuk membahagiakan orang tua kita" ucapku sedih.
"Insyaallah mas yakin, mungkin kamu jodoh yang Allah berikan untuk mas dengan jalan seperti ini" ucapnya.
__ADS_1
"Tapi mas gak akan memaksakan kehendak mas dek, percaya sama mas"
"Rana takut, Rana hanya mas jadikan pelampiasan mas saja karena mbak Cahya kabur, Rana takut setelah Rana mempercayai mas, mas khianatin Rana lagi dan jika mbak Cahya kembali lagi mas akan tinggalkan Rana setelahnya" ucapku sambil menangis tersedu sedu membayangkan nasibku nanti ya entah atau tidak akan terjadi padaku.
"Gak dek mas gak akan berbuat seperti itu, dan jika Cahya datang lagi mas gak akan pernah mau dengannya lagi" kata mas Faiz menenangkan aku supaya tidak menangis lagi dan membawaku dalam dekapannya.
"Dek maukan membina rumah tangga bersama mas" ucapnya lagi sambil tersenyum manis sekali ya Allah.
"Insyaallah Rana akan menerima mas menjadi suami Rana sesungguhnya tanpa terpaksa, tapi izinkan Rana untuk tak memberikan kehormatan Rana sekarang mas. Hanya itu yang Rana minta untuk sekarang, Rana belum siap jika mas memintanya malam ini" ucapku memberi syarat kepada suamiku, aku belum yakin memberikan kehormatanku untuk suamiku ampuni hamba ya Allah hamba mohon jangan laknat hamba.
"Baiklah dek mas terima seperti kata mas, mas gak akan memaksamu untuk menyerahkannya sekarang. Mas janji gak akan mengambilnya sebelum kamu yang mengizinkannya" jawabnya lugas mengucapkan janjinya padaku dan tentunya sambil tersenyum manis sekali lagi.
"Rana pegang ucapan mas".
"Iya dek, tapi mas mohon bersikaplah seperti suami istri sesungguhnya di hadapan orang tua kita dan seterusnya tidak di depan mereka saja, kita bahagiakan mereka jangan buat mereka sedih" dia meminta diriku untuk menuruti ucapanya.
"Iya mas".
"Makasih dek, sekarang kamu tidur ini sudah larut malam".
Aku menatap ranjang yang dihiasi oleh bunga mawar berbentuk hati khas untuk orang yang baru menikah dan pastinya mereka bahagia beda sekali dengan aku yang hanya sebagai pengantin pengganti. Miris rasanya melihat itu tapi mau bagaimana lagi jika tuhan menakdirkan aku menjalankan semua ini aku harus kuat.
"Dek" mas Faiz melambai lambaikan tangannya di depan wajahku.
"Astaghfirullah".
"Kok malah ngelamun, tenang dek kamu tidur di atas kasur biar mas tidur di sofa. Mas janji gak bakal macem macem" katanya meyakinkan aku.
__ADS_1
Aku merebahkan kembali tubuhku ke atas ranjang dan tak ku hiraukan dia yang berbicara padaku, aku ingin mengistirahatkan tubuhku karena acara tadi yang menguras tenaga karena terlalu lama berdiri. Aku memikirkan bagaimana hidupku dan kisah cinta ini akankah indah atau hanya air mata yang kudapatkan dari ini. Andai saja mas Faiz membalas rasa cintaku juga, aku akan senang bisa menikah dengannya, tapi rasa cinta yang kuharapkan itu tak akan atau takkan mungkin terjadi, sudahlah sirna dan terkikis begitu cepat bagai deru ombak yang menyapu pasir di pantai dan tak berbekas.