Warna

Warna
Chapter 14. Keluarga Kusuma


__ADS_3

Pagi ini Dikta merasa kaku, pasalnya para tuan Kusuma sedang berkumpul untuk menemui Aza. Gadis itu juga belum bisa rileks setiap kali berbicara dengan salah satu dari mereka. Aza memang tidak di rawat, karena kemauan gadis itu sendiri.


"Seandainya aku masih kuliah, aku ingin membalas senior yang membuat permainan bodoh seperti itu." Ucap Gavin.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Davin seraya mengangkat tangannya hendak mengelus kepala Aza, Dikta menoleh saat cengkraman tangan Aza semakin kuat dia rasakan. Aza tetap terlihat datar, tapi Dikta bisa merasakan betapa dinginnya tangan Aza.


"Maaf tuan, sepertinya Aza kurang nyaman." Sela Dikta pada Davin, Davin yang hampir menyentuh rambut Aza pun. Menarik tangannya, sebisa mungkin terlihat biasa saja untuk menutupi kekecewaan nya.


"Kenapa kau memanggilku tuan?" Tanya Davin kesal.


"Maaf?" Heran Dikta.


"Panggil aku sebagai mana mestinya sebagai kakak iparmu." Pinta Davin.


"Baik kak." Balas Dikta, Hendri mendekati Dikta. Dan meminta nya untuk bicara berdua dengan pria itu. Tapi Aza sama sekali enggan melepas kan genggaman nya, tatapan gadis itu dapat Dikta lihat dengan jelas. Disaat seperti ini Aza terlihat layaknya wanita yang butuh perlindungan, jauh dari kesan yang selalu Aza tampilkan. Gadis multitalenta dan mandiri.


"Aku tidak akan pergi jauh, dan mereka semua tidak akan menyakiti mu. Percaya pada ku Aza." Bisik Dikta.


"Mas..." Dikta tersenyum simpul saat Aza terkesan manja dan takut seperti ini, membuat nya teringat pada adiknya saat ia mengantar nya dihari pertama masuk sekolah dasar.


"Aza kan hebat, Aza pasti bisa." Bisik Dikta lagi, tanpa menunggu persetujuan Dikta beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar unit bersama Hendri.


Rasanya Aza ingin menangis sekencang-kencangnya, bagaimana bisa Dikta meninggalkan nya pada orang-orang yang memberi kan trauma terbesar dalam hidupnya. Tanpa sadar air mata Aza turun dalam diam, yang sontak membuat Davin yang duduk disebelahnya menggantikan posisi Dikta memfokuskan atensinya pada Aza. Begitupun Gavin dan Vino.


"Kau merasa sakit?" Tanya Davin seraya menyentuh pundak gadis itu, namun Aza mengelak. Tubuhnya bergetar, dadanya naik turun merasa sesak.


"Pergi..." Lirihnya pelan.


"Aza... Hei... What happen?" Tanya Davin.


"Apa kau merasa pusing lagi?" Tanya Davin, Vino yang melihat itupun berlari dan berlutut dihadapan Aza. Meraih tangan gadis itu dan menggenggam nya erat.


"Maaf... Maaf kan kakak, Aza. Ada banyak kesalahan yang mungkin kakak sendiri tidak bisa memaafkan nya. Walaupun begitu, mohon maafkan kakak. Kakak ingin bersama Aza... Kakak sayang Aza, melebihi siapapun." Lirih Vino, Aza berkali-kali meronta menarik tangan nya.


"Kakak juga," kali ini Gavin ikut berlutut dihadapan Aza. Pria itu bahkan tidak sanggup berbicara karena isak tangisnya, tangisan menyesal dan kerinduan pada sang adik. Menyesal akan perlakuan nya dulu sampai membuat Aza seperti ini, seandainya Aza dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, pasti Aza adalah gadis manis dan ceria saat ini. Ia sangat merindukan ekspresi Aza saat masih kecil, meski berkali-kali disakiti gadis itu tetap tersenyum ceria menunggu nya pulang dari sekolah.


"Berhenti...." Lirih Aza lemah, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran nya. Davin yang berada disampingnya pun panik saat Aza pingsan dan jatuh dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aza...!" Panik semuanya, begitupun tiga orang lainnya yang baru datang.


***


"Aku belum siap." Lirih Aza, saat ini hanya ada Dikta dan dirinya didalam kamar mereka. Sesuai dengan arahan Jacob, meminumkan gadis itu obat penenang saat kepanikan gadis itu muncul.


"Iya, aku mengerti." Dikta dapat merasakan tubuh Aza masih gemetar dalam pelukan nya.


"Maaf kan aku ya, tadi aku meninggalkan mu." Ucap Dikta, Aza mengangguk. Hati Dikta menghangat, entah karena apa.


"Aku harus ke depan dulu ya, Ayah dan kakak-kakak mu masih di luar." Jelas Dikta, tapi Aza menggeleng.


"Jangan tinggalkan aku." Cicit Aza.


"Sebentar saja. Setelah itu aku akan segera kembali." Meski berat, Aza mengangguk.


Dikta keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang santai, tempat keluarga Aza berkumpul. Dikta bisa mendengar keluh kesah mereka yang mengkhawatirkan Aza tidak akan bisa menerima keluarga nya selamanya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Hendri khawatir saat melihat kemunculan menantunya.


"Tapi untuk saat ini saya minta kalian menghilang dulu dari pandangan Aza, Aza sudah berusaha dan bersedia. Tapi traumanya belum bisa." Dikta diam sejenak.


"Kita pikirkan cara untuk menyembuhkan trauma Aza." Dikta berhembus berat, tidak tahu apa rencana kedepannya.


***


Malam ini untuk pertama kalinya Dikta tidur bersama Aza setelah hampir sebulan tinggal bersama sebagai pasangan suami istri. Tidak pernah Dikta bayangkan hubungan Aza dan dirinya bisa sampai pada tahap ini dengan cepat.


Meskipun harus ada penyebab mengapa Aza mengijinkan tidur bersama nya..


"Saparah apa yang mereka lakukan padamu?" Tanya Dikta, semenjak bertemu keluarga nya, Aza sangat lengket padanya. Tidak mau lepas barang sedikitpun.


"Tidak tahu." Balas Aza sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya.


"Seburuk apapun yang mereka lakukan, itu ada dimasa lalu. Mereka yang saat ini hanya ingin sekedar memberikan rasa aman padamu, bahkan mereka rela menahan kerinduan demi menjaga perasaan mu." Jelas Dikta, Aza hanya diam.


"I know, aku juga berusaha mas. Mungkin butuh beberapa waktu agar aku terbiasa dengan mereka, dan perlahan. Tadi itu terlalu memaksa bagi ku," jelas Aza, Dikta menghangat saat mendengar panggilan Aza untuknya. Pasalnya gadis itu jarang memanggilnya, ia tidak pernah mendengar kata yang ia ingin kan semenjak ia memintanya.

__ADS_1


Ah... Tidak.. Dikta menggeleng, Aza sudah memanggil nya 'mas' saat gadis itu meminta nya tidak pergi.


"Kamu gak jijik kan sama aku?" Tanya Aza, teringat betapa buruknya kondisi nya saat kehilangan kesadaran nya.


"Kenapa jijik, hmm?" Aza hanya diam, "Semenjak aku melafalkan Kalimat qobul dihadapan penghulu dan keluarga mu, aku harus siap menerima baik buruk nya kamu. Justru yang aku khawatir kan itu kamu." Ucap Dikta.


"Aku?" Heran Aza.


"Ya." Balas Dikta sambil mengangguk.


"Kamu itu baru lulus SMA, masih terlalu muda. Ditambah lagi interaksi kamu dengan orang-orang terutama kepada keluarga kamu cukup buruk. Aku sempat skeptis, akan seperti apa kita nanti. Aku takut kamu gak nyaman, atau aku berbuat salah. Karena diawal kamu terkesan tempramen, dan sulit didekati." Jelas Dikta.


"Tapi ternyata aku salah, semua dugaan ku tentang kamu itu salah. Meski irit bicara, pada dasarnya kamu itu tetap cerewet seperti kebanyakan cewek. Hanya saja kamu sulit untuk menyampaikan apa yang kamu pikirkan, benar begitu?" Tanpa sadar Aza mengangguk.


"Maka dari itu, aku berusaha keras untuk memahami mu. Semakin aku paham, semakin aku kagum dengan kamu yang seperti sekarang ini." Ucap Dikta, Aza hanya diam, tangannya menggenggam lengan Dikta yang mengukung nya.


"Kamu hebat, luar biasa malah. Aku bangga, kamu bisa hidup dengan baik ini setelah melalui semua waktu yang sulit seperti itu. Bahkan kamu bisa hidup selayaknya orang-orang yang lebih beruntung dari kamu. Mereka menikmati masa kecil mereka, mereka dapat kasih sayang, mereka di beri hak untuk belajar, hak untuk diperlakukan selayaknya manusia." Ucap Dikta terdengar sedikit serak, membayangkan masa kecil Aza yang menderita. Meskipun samar, Dikta masih bisa merasakan bekas luka-luka yang sudah dihilangkan dari kulit Aza.


Meski Hendri sudah menceritakan semuanya, nyatanya ada banyak yang terlewat dari pria itu. Beberapa kali bertukar kabar menanyakan Aza pada Jacob sedikit banyak memberi tahu nya bagaimana Aza 5 tahun yang lalu.


4 tahun kebelakang adalah tahun-tahun berat bagi Aza, trauma nya belum bisa disembuhkan. Hingga Aza sempat mencoba bunuh diri karena tidak kuat dengan kenyataan bahwa dirinya adalah anak kandung dari Hendri.


Gadis itu selalu berharap ia bukanlah seorang Kusuma, agar rasa sakitnya dapat terobati setelah bertemu ayah kandungnya. Aza sempat kehilangan kewarasan nya selama beberapa bulan, dan selama itu juga ia berkali-kali menyakiti dirinya sendiri bahkan pernah sampai kritis.


Dikta tahu bagi Aza memaafkan keluarga Kusuma sangat berat baginya, Dikta sendiri mungkin tidak akan sanggup, sayangnya hal itu harus Aza lakukan demi kesembuhan Aza sendiri.


"Sekarang aku disini, aku akan disamping mu semampuku. Kita lewati bersama ya, kamu sudah berjalan sejauh ini sendirian, dan kamu mampu. Aku yakin kamu juga bisa melewati masa ini, semangat Aza." Ucap Dikta lembut.


Tanpa Dikta sadari, Aza sudah mati-matian menahan tangisnya. Bukan sekali dua kali Jacob dan Amanda bicara demikian padanya, tapi rasanya sangat berbeda jika Dikta yang bicara. Rasanya,...


Damai


Hangat


Pulang


.....................

__ADS_1


__ADS_2