
Malam-nya, Aza tidak bisa tidur. Memutuskan untuk mencari udara dengan berkeliling di kediaman Kusuma yang sangat luas itu. Ia berhenti di Gazebo yang letaknya berada di samping kolam.
"Kau merasa senang?" Suara halus khas wanita menyapanya, Aza menatap heran pada gadis yang ia kenal sebagai saudara tiri itu. Aza memang lebih tua 2 bulan dari gadis itu, meski begitu mereka sebaya.
"Senang yang bagaimana?" Balas Aza dengan bertanya balik, Kirana tersenyum tipis atau menyeringai.
"Suatu hari nanti kamu akan mengingat nya. Nikmati waktumu, aku akan membantumu semaksimal mungkin agar kau dapat memulihkan ingatan mu." Kirana ikutĀ bergabung duduk di samping Aza.
"Kamu sangat cantik, tapi sayang walaupun samar, bekas luka mu masih cukup mengganggu." Ucap Kirana sambil menyentuh lengan Aza yang kain lengannya tersingkap.
"Tidak masalah, aku bersyukur tangan ku masih bisa berfungsi." Balas Aza santai yang membuat Kirana perlahan melepaskan tangannya.
"Kau mungkin akan mulai masuk kuliah setelah beberapa kali menjalani terapi ya?" Tanya Kirana.
"Sepertinya begitu." Balas Aza, dengan seringai.
"Aku akan menunggu mu di kampus." Ucap Kirana.
"Ya, terimakasih." Terlihat Kirana menaikkan kardigan yang sedikit turun.
"Kau cantik." Ucap Aza sambil menatap nya intens, membuat gadis itu terdiam kaku.
"Bersikap lah seperti biasanya pada ku, aku tahu hubungan kita pasti tidak mungkin berjalan lancar sebagai saudara tiri. Jangan membuang energimu untuk berpura-pura baik pada ku. Meski aku lupa ingatan, tapi perasaan ku tidak." Ucap Aza, dan gadis bermata coklat itu memasang wajah dingin nya saat melihat respon Kirana yang tertawa geli.
"Ha ha, baiklah. Aku tidak sabar menunggu ingatan mu kembali, untuk permulaan... Sebaiknya aku memberi tahu mu sedikit tentang masa lalu." Kirana menunjuk kolam yang berada di samping gazebo, kemudian berjalan kearah sana. Dan tanpa curiga, Aza mengiringi Kirana.
"Di dasar kolam ini, seharusnya napas mu berhenti. Sayangnya, mau berapa kalipun kau tenggelam didasarnya... Kau masih diizinkan bernapas oleh tuhan." Ucap Kirana.
Aza menatap bingung Kirana, namun kini atensinya beralih pada suasana tempat yang tidak asing baginya. Terlepas mungkin ia mungkin sering berada disini, ingatan ini ada bahkan setelah ia kehilangan ingatannya.
Mimpinya...
Benar, dalam mimpinya ia ditenggelamkan di kolam ini. Atensinya beralih ke pinggiran kolam yang disampingnya ada pot bonsai. Benar, disana tempat kedua kakaknya menyiksa dan memakinya. Tapi itu semua hanya mimpi kan? Tidak mungkin kenyataan nya begitu kan? Melihat perhatian yang diberikan keluarganya, tidak mungkin.
Terus berjalan dalam lamunan membuat nya tercebur ke dalam kolam, dan sialnya langsung tercebur ke bagian kedalaman 3 meter. Aza berusaha terus mensugesti diri bahwa ia bisa berenang, namun nyatanya ia malah semakin tertarik ke dasar air.
__ADS_1
"Bodoh!! Siapa yang menyuruhmu mati!!"
"Tidak semudah itu gadis kecil!!"
"Ha ha ha, terus lah berenang sampai napasmu di hembusan terakhir!!"
"Argh!!!!" Teriak Aza saat kepalanya bisa muncul dipermukaan, sedang kan Kirana tidak bisa kabur karena rumah ini penuh CCTV. Hingga ia pun juga ikut masuk ke kolam untuk menyelamatkan Aza, ini bukan rencananya. Ia tidak bisa mengacaukan rencana yang sudah disusun dengan kesalahan pahaman orang-orang rumah.
Sayangnya tubuhnya terlalu kecil untuk menarik Aza yang mulai kehilangan kesadaran, beberapa kali ia pun ikut terminum air. Ditambah kemampuan berenang nya yang pas-pasan.
Hingga ia memunculkan kepalanya ke permukaan, dan berteriak.
"TOLONG!!!" Teriaknya berkali-kali, dilihatnya Aza sudah tidak muncul lagi. Ia semakin panik, hingga berteriak lebih kencang. Dan mencoba berenang lagi meraih Aza, namun sayangnya tetap tidak bisa.
Byur!!!
Byur!!
Terdengar beberapa orang memasuki air, mereka adalah Davin, Vino, dan Gavin. Kirana pun yang sudah lemas dan takut disalahkan memilih menenggelamkan diri dengan tetap memegang lengan Aza yang sudah tidak sadarkan diri, toh dirinya juga akan diselamatkan.
Pada dini hari ini, keluarga Kusuma tidak bisa beristirahat. Kirana beruntung bisa langsung sadar, walau sebenarnya ia tidak pingsan. Tapi Aza butuh percobaan beberapa kali melakukan CPR, beruntung gadis itu bisa tersadar di percobaan ke tiga.
"Ha..h hah...h...." Napasnya terdengar berat, setelah tersadar pun tubuhnya lemas. Davin pun langsung membawa Aza ke kamarnya yang diiringi Vino. Sedangkan Gavin mengantar Kirana ke-kamar nya.
"Tolong ganti pakaiannya, dan bangunkan nyonya Vienn!" Titah Gavin pada pelayan, setelah itu dengan cepat meninggalkan kamar Kirana menuju kamar Aza. Sebelum itu ia mengganti pakaiannya secara kilat ke kamarnya.
Sesampainya di sana, ke dua kakaknya terdiam di depan kamar.
"Kenapa kalian di luar?" Tanya Gavin,
"Naina sedang mengganti pakaiannya." Balas Davin,
"Lalu kenapa kalian tidak mengganti pakaian kalian? Kalian ingin menjaga Aza dalam keadaan seperti itu?" Tanya Gavin, karena ada Davin bahasa harus kaku. Karena Davin tidak terlalu paham dan suka dengan bahasa pasar.
Seperginya kakak beradik itu, Hendri datang dengan wajah panik. Bahkan pria itu masih membiarkan beberapa kancing piyama nya terlepas. Kamar Hendri dan Vienna memang letaknya cukup jauh dari kolam renang, sehingga tidak mungkin baginya mendengar teriakan Kirana tadi.
__ADS_1
"Aza yah,..." Gavin langsung memeluk ayahnya, karena terbiasa diperlakukan sebagai anak bungsu membuat nya terkesan manja.
Naina keluar dari kamar, dan langsung saja Hendri dan Gavin masuk ke dalam kamar Aza. Selang 5 menit Anton datang bersama istri dan iparnya.
"Bagaimana keadaan mu sayang?" Tanya Hendri, saat melihat Aza yang berselimut tebal.
"Pusing yah, badan Aza juga dingin." Balas Aza, Hendri menyentuh kening gadis itu.
Panas
Aza terkena demam.
"Kakak buatin sub hangat ya," usul Lena, Devi pun mengangguk mendukung. Tanpa menunggu jawaban ke duanya sudah berlalu pergi ke dapur.
"Kirana bagaimana?" Tanya Aza.
"Dia sudah dikamar nya," balas Gavin.
"Bagaimana kalian bisa... Tidak... Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kolam seperti itu?" Tanya Anton.
"Kakak, ayah... Jangan marah. Aza baik-baik saja, Aza berjalan sambil melamun saat berbicara dengan Kirana. Hingga Aza terpeleset, Kirana juga sudah berusaha menyelamatkan Aza. Hanya saja tidak bisa karena besar tubuh kami, ia juga tidak bisa menahan saat Aza panik dan beberapa kali malah menariknya ke dasar." Jelas Aza.
Mendengar itu Gavin mendesah lega, Kirana tidak bersalah. Tadi ia langsung pergi begitu saja tanpa menanyakan keadaan gadis itu. Nanti ia harus meminta maaf pada adik sambungnya itu.
Davin dan Vino datang bersama dokter pribadi yang memang tinggal disisi lain kediaman Kusuma.
"Bagaimana keadaan nya dok?" Tanya Hendri.
"Nona sepertinya terkena demam, untuk berjaga kalau terjadinya infeksi paru-paru bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk saat ini saya hanya bisa memberikan obat, kalau besok demamnya membaik berarti tidak perlu pemeriksaan." Jelas dokter Haedy.
Setelah memakan sup, dan meminum obatnya, Aza disuruh untuk tidur. Sebenarnya tanpa disuruh pun kepala nya memang pening, dan ingin segera tidur. Meski sebal dan kesal, Aza tidak bisa menolak saat Ayah dan kakak kembarnya ingin tidur menemaninya.
Sebenarnya ranjangnya muat-muat saja, cukup luas malah. Hanya saja Aza merasa aneh, kekhawatiran ayah dan kakaknya terasa berlebihan. Meski begitu dilain sisi ia bersyukur, dan kembali menyangkal bayangan-bayangan tidak jelas yang berkeliaran di pikiran nya.
"Mereka sangat menyayangi ku, tidak mungkin mereka berlaku buruk pada ku." Batin Aza.
__ADS_1