Warna

Warna
Chapter 25. I'm Up A Stump


__ADS_3

Menjelajahi taman Meguro yang semakin sesak saat malam hari, karena pemandangan yang ditampilkan juga sangat memanjakan mata. Aza duduk di samping sang ayah yang tengah rehat sejenak dari perjalanan nya.


"Aza boleh duluan kok, sama kak Vino." Ucap Gavin, saat melihat sang adik atensinya tertuju pada keramaian yang tampak dari kejauhan tempat mereka beristirahat. Seperti sedang ada pameran atau atraksi yang menarik disana.


"Boleh yah?" Tanya Aza yang disetujui Hendri.


"Tapi kamu harus memastikan untuk selalu bersama kakak nanti." Pesan Hendri yang di angguki Aza antusias.


Aza pun pergi bersama Vino menuju pusat keramaian itu, ternyata bukan sesuatu yang istimewa. Namun menarik untuk Aza, pasalnya ditengah pusat keramaian itu terdapat kedai Kue Melon. Salah satu kue yang sangat ingin Aza coba setelah Dorayaki.


"Wah!!! Kayanya enak banget ya kak?! Pengunjung nya sangat ramai." Seru Aza.


"Aza mau?" Tanya Vino, yang tentu saja di angguki oleh Aza.


Kemudian Vino mengajak Aza untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari pusat keramaian. Meminta sang adik untuk menunggu nya disana, agar tidak kelelahan. Karena antrean yang masih panjang.


"Kakak pergi ya, jangan kemana-mana. Tunggu kakak." Titahnya yang langsung diamini oleh Aza.


Mengantri hampir tiga puluh menit, Vino kembali dengan dua bungkus kue melon yang diidamkan sang adik. Jantung nya berdegup saat tidak mendapatkan sang adik di tempat terakhir kali ia meninggalkan nya.


"Kak," Vino beralih cepat, mendapati Gavin dan Hendri berdiri sudah berdiri di belakangnya.


"Dimana Aza?" Tanya Hendri panik saat netranya tidak menangkap sosok gadis semata wayang nya itu.


"A-ayah..." Vino kelu, "Maaf." Balas Vino lemah. Kemudian telepon Hendri berdering.


"Ikuti dia terus," balas Hendri serius, dengan raut khawatir. Vino dan Gavin menatap air muka sang ayah yang layu, sambil menggeleng kepalanya.


***


Gadis itu terdiam menatap lampu-lampu kota yang dilaluinya, termenung tanpa ekspresi dibalik kaca bening kereta.


Saat kereta berhenti di stasiun yang ia tidak tahu, ia turun keluar. Berlari tak tentu arah, tatapan nya nyalang. Hingga atensi nya tertuju pada menara tinggi yang bangunan nya nampak dari tempatnya berdiri. Berlari kencang untuk pergi ke tempat tinggi itu.


Wush....


Angin malam menghempaskan rambut, meski awal musim semi udara masih terasa sangat dingin. Namun Aza tidak menghiraukan itu, karena isi kepalanya tengah berkecamuk. Gadis itu menangis dengan kedua tangan menopang kepalanya dan bertumpu pada pagar pembatas ketinggian.


Beberapa hari yang lalu, ingatan nya sedikit kembali. Hanya sebagian kecil saja, dan karena itu ia memutuskan untuk berdamai. Ingatan nya hanya sekedar ingatan, tidak dengan emosi yang dia rasakan di dalam nya.


Marah karena keadaan nya yang harus kehilangan ingatan, hingga tidak bisa mengantar perjalanan terakhir orang-orang tersayang nya. Dan orang yang baru-baru ini memberikan perasaan baru untuk nya juga tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Sesak rasanya dalam dada, saat sadar semuanya terasa fatamorgana. Terasa nyata tapi hanya semu belaka. Lelah, tujuan nya bertahan sudah tidak ada. Kepada siapa lagi Aza harus berbahagia, kepada siapa lagi Aza harus bersandar saat kecemasan melanda, dan kepada siapa lagi Aza belajar untuk menerima keadaan.


"Tolong tinggalkan saya sendiri." Ucap Aza datar mengudara. Sosok yang bersembunyi di kegelapan itu pun muncul.


"Nona," Aza hanya mengangkat sebelah tangannya dan mengibaskan nya sebagai isyarat.

__ADS_1


"Saya hanya butuh waktu," ucap Aza lirih.


Seluruh ingatan nya tiba-tiba kembali begitu saja di momen dimana seharusnya ia merasa bahagia. Setelah kepergian Vino tadi, pandangan terasa berkunang-kunang, serta kepalanya mendadak pening. Ingatan nya memaksa kembali, hingga ia terdiam dalam tangisnya saat mengingat semua nya.


Dan disinilah ia saat ini, mencoba merenungi dan meresapi perasaannya. Rasa sedihnya, dukanya, serta sakitnya kehilangan dan kekecewaan. Memukul-mukul dada nya yang terasa sesak, menjambak rambut kepala saat kepala nya terasa berdenyut tatkala ingatan yang semula berwarna sepia negatif berubah menjadi berwarna dan jelas.


"Arghhh!!!" Teriaknya.


"Kamu menangis lagi sayang?" Suara seseorang menginterupsi nya, suara lembut nan halus milik wanita yang memberinya cinta.


"Kakak!!! Kak Amanda!!" Teriaknya, mencari ke segala arah. Namun nihil. Aza tersenyum kecut, ia pasti berhalusinasi.


Terdiam menatap kerlap-kerlip lampu kota, karena lelah menangis.


"Berdamai?" Gumam nya bermonolog.


"Kemarin seperti mudah saja untuk mengatakan akan berdamai dan menikmati apa yang ada saat ini. Nyatanya, cukup berat." Berbicara kepada dirinya sendiri.


"Kalau aku berdamai dan memaafkan mereka, apa aku akan bahagia?" Mengenang lagi semua petuah dan harapan terakhir dua orang tercinta nya, Amanda dan Jacob. Aza tahu dan menyadari, ego nya selama ini justru menyakiti dirinya sendiri. Namun itu memang tujuan nya, semakin ia menyiksa dirinya disaat bersamaan ia merasa puas keluarga yang menyiksanya juga merasakan perasaan bersalah.


Tapi, benar kata Jacob. Sampai kapan ia akan terus terjebak dalam perasaan dendam nya? Kapan ia bisa menikmati hidupnya dengan bahagia?


"Om Jacob, kak Amanda... Aku minta maaf, dan terimakasih." Aza tersenyum lirih dengan air mata yang menganak sungai.


Setelah puas menangis dan menenangkan hatinya, Aza memutuskan untuk turun dan kembali ke hotel. Namun, saat menuruni anak tangga ia bertemu dengan ayahnya dan kakak-kakak nya.


"Jangan pergi tiba-tiba lagi ya dek, kita bukan lagi di Indonesia." Ucap Vino, yang disoraki yang lain setuju. Namun, tak ada tanggapan yang Aza berikan. Tubuhnya pun terdiam kaku tidak membalas pelukan orang-orang.


"Tolong lepaskan saya," Ucap nya pelan.


Yang tentu saja langsung membuat jantung orang-orang berdegup kencang karena terkejut.


"Nak.."


"Aza...'


"Semuanya terlalu tiba-tiba, ingatan saya sudah kembali. Beberapa hari yang lalu saya merasa mampu untuk berdamai dengan menerima kalian disini." Aza menunjuk dadanya.


"Nyatanya, semua terasa sulit." Lanjutnya.


Mendengar itu, Hendri langsung bersimpuh di hadapan putrinya itu seraya menggenggam tangan mungil milik Aza. Air matanya tidak dapat lagi dibendung, menahan perasaan takut kehilangan putri nya yang baru bisa dijangkau baru-baru ini.


"Apapun itu akan ayah lakukan demi kamu nak, jangan tinggalkan ayah nak ..." Mohon Hendri.


"Tuan, semuanya memang terasa sulit. Tapi saya akan mencoba, a-ayah." Lidah nya kaku, padahal beberapa bulan ini ia sudah lancar menyandang istilah itu pada Hendri.


"Mohon bantuannya." Aza juga terduduk menghadap sang ayah.

__ADS_1


"Jangan peluk saya, saya merasa tidak nyaman." Ucapnya saat kakak-kakaknya hendak merangkul nya.


"Sebagai langkah awal, kami berterimakasih dek. Karena sudah berusaha menerima kami. Kami minta maaf, sudah memberikan kenangan yang buruk untuk di ingat hingga menimbulkan trauma berkepanjangan." Ucap Davin.


"Maaf kan kakak ya, ah tidak... Ampuni kakak..." Lanjutnya.


"Setelah ini kami akan berusaha memberikan kenangan indah untuk kau ingat." Tambahnya.


***


Gavin terdiam menatap dinding di hadapan nya, dinding itu adalah pembatas antara kamarnya dan Aza. Hari ini rasanya seperti rollercoaster, pagi tadi ia bercengkrama bagai tanpa sekat dengan Aza. Tapi malam ini, bahkan dinding tebal yang membatasi kamar mereka kalah telak.


"Kakak akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan mu. Cukup diam lah di tempat ternyaman mu, kakak akan datang." Monolog nya.


Dibalik dinding itu, Aza sendiri lebih banyak melamun. Bingung. Harus bersikap bagaimana, yang jelas ia merasa kehilangan. Tentu saja, tapi saat ini sudah lewat hampir setengah tahun lebih. Orang-orang atau keluarga Amanda dan Jacob mungkin sudah mulai bisa menerima, tapi baginya ini semua terasa baru kemarin.


Tangan nya bergetar, dadanya naik turun secara tiba-tiba. Keringat dingin bercucuran, meski suhu ruangan terasa normal. Gangguan kecemasan nya datang menghampiri, dan ia harus melalui semuanya sendiri. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan kesendirian itu, hanya saja kali ini... Ia rindu keramaian. Rindu pelukan hangat, dukungan mental orang-orang untuknya.


Mual menghampiri, dengan cepat ia berlari ke wastafel. Membasuh wajahnya kasar, kemudian menatap bias dirinya di cermin. Wajahnya yang kuyu dan terlihat pucat, matanya yang semakin sipit dan bengkak karena menangis. Menatap dingin dirinya sendiri, dengan air mata yang membasahi wajahnya bercampur dengan air yang baru saja ia usapkan pada.


Berjalan dengan tergesa menuju bath tub, dan menyalakan shower. Membiarkan tubuhnya basah dengan air dingin itu. Dadanya masih terasa seperti diremat-remat.


Diluar kamar, Devi berdiri dengan ragu bersama Davin. Tadinya ia berinisiatif ingin menemani Aza.


"Dia tidak akan masalah jika itu aku, aku tidak terlibat dengan kalian di masa lalu." Ucap Devi meyakinkan Davin.


"Doakan aku untuk bisa mengambil hatinya." Ucap Devi, lalu mengecup pipi suaminya itu.


"Baiklah, selamat malam." Ucap Davin kemudian mengecup keningnya wanita nya.


Devi pun mengetuk pintu kamar, namun setelah berkali-kali melakukan nya tetap tidak ada respon.


"Mungkin dia sudah tidur," Davin mencoba menghentikan istri nya.


"Tidak mungkin, setelah kejadian hari ini siapa diantara kita tertidur disaat seperti ini? Bahkan ayah juga belum tertidur kan?" Devi berkilah, perasaan nya jadi tak enak.


"Justru aku khawatir Aza akan melakukan hal-hal yang aneh," ucapannya terhenti saat sayup-sayup terdengar teriakan dari dalam kamar Aza.


"Dengar itu! Adik mu tidak sedang baik-baik saja!! Cepat lakukan sesuatu." Davin begitu mendengar suara teriakan Aza tadi, langsung berusaha mendobrak pintu kamar.


Gavin yang kamarnya bersebelahan pun, keluar dengan tergesa dari kamarnya.


"Aza!!! Buka pintu nya!!!" Teriak Davin sambil terus mendorong pintu dengan tenaga penuh.


Gavin pun ikut membantu tanpa bertanya situasi apa yang tengah terjadi. Setelah berusaha berkali-kali, pintu akhirnya terbuka sampai rusak.


"AZA!!!!" Teriak mereka bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2