
Hampir sebulan lebih dari hari yang seharusnya Hendri datang menemuinya, hari ini adalah jadwal sesi ke-dua nya melakukan terapi. Mengenai hubungan nya dengan ke empat kakak nya, sudah ada kemajuan positif. Tapi tetap harus ke empat pria itu yang mengambil inisiatif duluan.
Seperti menghabiskan waktu berdua dengan salah satu kakaknya bergantian, agar Aza semakin mengenal sisi positif kakak-kakaknya.
Aza tidak setegang dulu lagi saat bersama mereka, hanya saja Aza seperti tak mungkin kembali ceria lagi. Karakter nya yang terluka sudah membuat nya seperti itu, dingin dan cuek atau malas peduli.
"Kali ini kakak tidak usah membelikan aku es krim, karena bukan usia ku lagi mengonsumsi makanan anak-anak." Pinta Aza pada Anton.
"Lalu kau ingin kemana?" Tanya Anton.
"Entahlah, semalam aku membaca cerita yang menggambarkan pantai. Aku sedikit tertarik." Balas Aza tsundere.
"Boleh juga, kita juga sudah lama tidak berlibur." Sambut Davin, begitupun si kembar.
"Baiklah kita akan mengatur jadwalnya nanti, tapi hari ini bagaimana kalau ke taman bermain?" Tanya Anton lagi.
"Ayolah, stop memperlakukan aku seperti anak-anak!" Kesal Aza, meski ia juga penasaran, tapi ia tidak suka. Dulu es krim, sekarang taman bermain. Memangnya dia anak-anak.
"Aku hanya ingin pulang dan istirahat!" Baru kali ini ke empat kakaknya melihat adiknya bersikap layaknya seorang adik yang banyak maunya. Bukan nya kesal, ke empatnya malah senang bukan kepalang.
"Oh, baiklah. Kita ke taman bermain saja kak!" Sambut Davin, sambil mengusap poni Aza yang mulai panjang menghalangi matanya.
"Terserah kalian." Balas Aza malas.
Suasana mobil selalu riuh berkat si kembar dan kakak ke dua. Ke tiga nya selalu ada bahan untuk di ributkan. Bahkan sesekali Anton juga ikut bergabung dalam pembicaraan. Tidak ada yang menyadari, Aza tersenyum tipi ditengah kehangatan mereka bercengkrama. Senyum yang sangat tipis hingga hanya Aza sendiri yang bisa merasakan nya, dan hanya terjadi sepersekian detik.
"Hati-hati!! Imbangi langkah adik kalian!" Teriak Davin saat Vino dan Gavin berlari sambil menuntun Aza di kedua sisi. Tentu saja, Aza sedikit kewalahan. Meski jarak tinggi mereka tidak terlalu jauh. Yah, tinggi si kembar bermain kisaran 170++, sedangkan Aza 165++.
Pertama-tama mereka bermain bom-bom car, meski tetap mengedepankan gengsi, disini Aza terlihat ambisius dan menikmati permainan. Kemudian mereka bermain panahan, disini Aza sukses membuat kakak-kakaknya terperangah dengan kemampuan memanahnya. Selanjutnya mereka bermain mesin capit, disini para kakak bertaruh, siapa yang bisa mendapatkan lebih banyak boneka, ia bisa bermain dengan Aza sampai waktu hari ini selesai.
"Ini terlalu mudah untuk ku." Pongah Gavin, saat ini poin nya memimpin.
"Tentu saja, kau selalu bermain ini untuk memenangkan hati gadis-gadis yang akan kau pacari." Sinis Vino, dia berada di urutan kedua dengan selisih satu poin.
"Jadi mesin... Jadi mesin..." Ucap Gavin, mengikuti suara kartun kesukaannya.
Ditengah persaingan sengit itu, Aza pelan-pelan memundurkan diri dan menghilang. Meninggalkan ke empat pria yang tengah bersaing sengit itu.
__ADS_1
Tertarik dengan roda besar yang membawa sarang burung berputar diatas ketinggian itu, Aza masuk ke dalam salah satunya.
Tes...
Satu dua tiga, air mata mulai mengalir. Entah untuk apa ia menangis, Aza pun tidak tahu. Ia hanya bingung, bingung dengan keadaan yang berputar 360° ini. Perasaan nya sudah mulai terlena dengan kehangatan dan kasih sayang yang sangat ia dambakan semasa kecil.
Pikirannya abstrak, tidak memberikan petunjuk apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan perasaan mengganjal ini. Yang bisa lakukan hanya menangis dan menikmati waktu yang terus berjalan.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Na?" Tanya Aza bermonolog pada dirinya masa kecil.
"Aku tidak suka menjadi cengeng seperti ini!" Lirihnya.
Di tengah tangisnya, sarangnya berhenti tepat di pemberhentian. Seseorang tiba-tiba masuk kedalam sarang miliknya. Aza yang menutup wajahnya semakin bersembunyi karena malu. Namun orang itu menarik Aza ke dalam pelukannya.
"A-ayah?!" Hendri menatap Aza penuh rindu dan luka, bagaimana bisa putrinya masih menangis seperti ini.
"Apa bersama kami tidak bisa membuat mu bahagia? Apa kami sudah kehilangan kesempatan untuk membahagiakan permata kami ini?" Tanya Hendri bertubi, tapi Aza malah menyentuh wajah sang Ayah yang terlihat lebih tirus dari terakhir bertemu.
"Semuanya terlalu indah sampai aku tidak sanggup menerima nya." Balas Aza, masih dengan tatapan lurus menatap wajah layu Hendri yang terlihat menua dari terakhir bertemu.
"Beri saya waktu." Pinta Aza akhirnya.
"Satu tahun, setelah itu saya akan bersama kalian." Balas Aza mantap.
"Baiklah,... Ayah akan mengurus cuti kuliah mu.... Dan... Kemana kau akan pergi?" Tanya Hendri.
"Mengenal tuhan ku." Balas Aza, kemudian keadaan kembali hening.
15 menit...
Bianglala terus berputar, tapi mereka tidak turun. Sama-sama masih terlarut dalam pikiran masing-masing.
"Ayah," Hendri menatap wajah putrinya yang tatapan berlari kesana kemari, berusaha menghindari tatapan Hendri.
"Ada apa sayang?" Tanya Hendri.
"Apa ayah baik-baik saja?" Tanya Aza, sesekali menggigit bibir nya setelah mengatakan apa yang ingin ia tanyakan.
__ADS_1
"Sure baby, I'm ok." Balas Hendri santai.
"But you didn't appear like that. And where had you been for almost 2 months?" Tanya Aza bertubi-tubi.
Hendri tersenyum hangat menatap putri nya itu, senang melihat putrinya sudah mau menghawatirkan nya. Mendekap putrinya dalam pelukan, seolah Aza adalah gadis kecil berusia dibawah lima tahun.
"Kalau waktu bisa di ulang, ayah ingin selalu memelukmu dan menggendong mu kemanapun ayah akan pergi." Aza yang mendengar itu hanya bisa terdiam, lalu menenggelamkan kepalanya dalam dekapan hangat sang ayah yang baru kali ini bisa ia rasakan.
"Hug me, as you can..." Lirih Aza suaranya sayu, matanya yang membengkak membuatnya kelelahan dan mengantuk.
Hingga akhirnya Aza tertidur dalam pangkuan sang ayah, hal yang tidak pernah Aza atau Hendri rasakan selama ini. Jantung Hendri berdegup kencang. Memberi isyarat pada asisten nya, agar menghentikan bianglala. Davin datang mengambil alih Aza, karena meskipun ingin kondisi Hendri belum memungkinkan.
"She looks so calm." Ucap Davin.
"Bagaimana bisa kalian mengabaikan perasaan nya? Bisa-bisanya dia menangis seorang diri." Suasana terasa dingin saat mendengar Hendri marah, selain itu ke empatnya juga merasa tidak becus.
"Hmmmm...." Gumam Aza merasa tidurnya terganggu.
Melihat itu Vino mencoba beralasan.
"Ayah, bisa kita lanjutkan di rumah? Adik ku butuh tempat tidur yang nyaman." Ucap Vino.
Meski masih ingin melanjutkan kekesalannya, Hendri pun segera melangkah menuju mobilnya, diikuti Davin yang membawa Aza dan asisten nya. Ke-tiga bersaudara membawa mobil yang mereka naiki sebelumnya.
"Bagaimana perkembangan nya?" Tanya Hendri pada Davin, Davin hanya tersenyum mendengar basa-basi klise ayahnya.
"Baik." Balas Davin singkat.
"Ia mulai mau menunjukkan emosinya pada kami. Aku yakin ayah sudah tahu itu." Tambahnya, karena pasti ayahnya sudah tahu semuanya. Seperti tadi saat mereka kurang awas pada Aza, orang yang menemukan Aza pertama kali adalah sang Ayah. Padahal orang tua itu baru saja datang dari bandara.
"Yeah, rasanya hanya berbeda jika bertanya langsung." Balas sang ayah.
"Apa yang tadi kalian bicarakan selama di dalam mainan itu?" Tanya Davin penasaran, karena hanya bisa melihat sekilas interaksi adiknya dengan sang ayah dari bawah.
"Dia hanya terkejut dan bingung. Dia bilang butuh waktu untuk memikirkan semuanya." Jelas Hendri.
"Ayah izinkan?" Tanya Davin.
__ADS_1
"Tentu saja, Aza juga butuh menenangkan diri. Dia pasti bosan bersama kalian yang selalu mengerubungi nya seperti semut." Ejek Hendri.
"Ayah juga sama." Balas Davin pelan.