
"Dari hasil pemeriksaan medis, Aza tidak ada penyakit fisik selain memar-memar yang dimiliki. Namun, nona Aza memang benar mengalami amnesia Disosiatif." Dokter itu menjeda, melihat ekspresi Hendri dan Dikta.
"Sebelum nya saya akan menjelaskan apa itu amnesia Disosiatif. Ada banyak jenis gangguan Disosiatif, seperti kepribadian ganda, amnesia Disosiatif, Fugue Disosiatif atau seseorang yang benar-benar melupakan jati dirinya. Penderita tidak mampu mengingat kembali informasi personal yang sudah-sudah, dan menjadi bingung akan identitas nya, atau mengasumsikan identitas baru untuk dirinya." Dokter yang bernama Raden Wijaya itu pun kembali membaca ekspresi wajah keduanya.
"Setelah dapat berkomunikasi sedikit dengan nona Aza tadi, kami mendiagnosis bahwa nona menderita amnesia Disosiatif yang tersistematis. Dimana nona kehilangan memori untuk kategori informasi yang spesifik, semua ingatan tentang keluarga, orang penting, hal-hal traumatis masa kecil. Dalam kasus amnesia sistematis ini, nona akan meluapkan tiap-tiap peristiwa atau kejadian yang telah dilaluinya." Raden tersenyum simpul.
"Mengetahui kisah Aza, sepertinya ini adalah kabar gembira untuk anda tuan Hendri." Hendri tertegun.
"Mungkin ini kesempatan yang diberikan tuhan atas konflik tak berkesudahan diantara kalian." Raden dulunya adalah teman akrab Hendri semasa muda. Sama-sama terlahir dari keluarga yang luar biasa, membuat mereka saling melupakan karena kesibukan masing-masing.
Kalau keluarga Kusuma berkembang pesat pada bidang kayu, properti, batu bara, dan perhotelan, keluarga Wijaya maju pada bidang kesehatan dan politik.
"Sebagai formalitas, saya hanya akan menyarankan agar keluarga menjaga Aza dari hal-hal yang membuat traumatis nya kembali. Dan memberikan pengawasan ahli agar menjaga Aza dari ingatan masa lalunya. Dengan kata lain, kalian bisa lebih dekat dengan Aza. Tapi kalian harus benar-benar menjaga ingatan Aza agar tidak kembali." Ucap Raden.
***
Dikta merenung dibalik kaca pintu ruangan Aza, Aza sudah tidak memerlukan nya. Dan semuanya berakhir begitu saja. Ia tersenyum lembut saat Aza dapat dengan tenang menerima setiap perhatian yang di berikan oleh kakak-kakaknya.
Aza sudah tidak memerlukan tangan seseorang lagi saat ketakutan atau merasa cemas berhadapan dengan keluarga nya.
"Sebuah senyuman yang sudah sangat lama kami nantikan." Suara bariton terdengar tepat dibelakangnya. Dikta hanya diam.
"Sepertinya tugas mu sudah selesai," tambahnya, tubuh Dikta membeku.
"Aza sudah baik-baik saja saat bersama kami, sekarang dengan sangat menyesal saya meminta agar kau pergi. Kami ingin menggantikan waktu-waktu yang hilang bersama nya." Dikta mengeras kan rahangnya saat mendengar nya.
"Saya juga akan tetap mendukung perekonomian keluarga mu dan kau. Kamu bisa fokus kuliah, dan melanjutkan usaha yang ingin kau rintis." Dikta terdiam.
***
Dikta mengemasi barang-barang nya, terduduk di sofa bantal yang biasa Aza pakai. Memikirkan hal-hal yang terjadi selama 2 bulan ini, pernikahan nya yang baru sebulan lebih, berakhir tanpa kata perpisahan.
Tapi sesuai janjinya pada Aza, ia tidak akan pergi kalau bukan Aza yang memintanya. Ia memilih pergi saat ini untuk memantaskan diri, agar pantas berada di samping putri keluarga Kusuma itu. Ada banyak alasan baginya untuk menyukai Aza, meski Aza adalah gadis mandiri dan serba bisa. Ketika gadis itu merasa takut dan membutuhkan dukungan, disana Dikta merasa berguna sebagai seorang suami. Gadis itu juga sangat menghargai masakannya, ia ingin gadis itu yang selalu mencicipi masakan nya.
__ADS_1
Meski kecewa atas keegoisan Hendri, ia juga tidak bisa marah. Ia mungkin juga tidak akan rela putrinya diambil begitu saja saat ia sudah menjadi ayah nanti. Apalagi momen ini sudah sangat dinantikan selama bertahun-tahun oleh Kusuma.
Alasan terbesar nya ingin segera kembali menjemput Aza adalah, saat ini Aza berbeda dengan keluarga nya. Ia harus membantu Aza mempertahankan tuhan yang selama ini sudah menyayangi nya dan yang ia kenal sedari kecil.
"Waiting for me, and i hope you're always happy." Gumamnya sambil menatap gedung-gedung tinggi yang menjadi landscape apartemen yang ia tinggali sebulan lebih itu.
Ditempat lain gadis bermata coklat yang dipikirkan oleh Dikta terbangun dari tidurnya, dadanya bergemuruh. Mimpi menyeramkan baru saja menghampiri nya.
"Kenapa dek? Hmm?" Tanya Vino setelah memberikan segelas air, Aza hanya menggeleng.
"Mimpi buruk kak." Balas Aza seadanya.
"Mimpi apa?" Kali ini Gavin, karena memang mereka berdua yang menjaga Aza saat ini. Mereka merengek pada Ayahnya, agar diberi cuti.
"Kakak jangan tersinggung ya, dimimpi itu kalian menyiksa Aza, Mencambuk, menenggelamkan Aza ke kolam renang. Tapi itukan gak mungkin, kan kalian semua sayang Aza." Kedua nya tertegun, sepertinya mimpi buruk ini adalah ingatan yang ingin keluar. Mereka harus segera melaporkan nya pada Hendri, ayahnya.
"Tentu saja, kami semua sangat sayang Aza kami. Permata kami." Vino memeluk Aza, dan mengusap kepala gadis itu.
***
"Seharusnya hanya aku putri yang tinggal di istana Kusuma ini, kenapa harus ada gadis itu!!" Vienna yang melihat itupun hanya memijit pangkal hidungnya pusing.
"Dari pada membuang energi seperti itu, lebih baik kau diam!" Ujar Vienna.
"Kita harus memikirkan cara terbaik untuk memusnahkan tikus itu." Tambahnya.
"Aku hanya ingin semua orang menyayangi ku ma, apa itu sangat sulit? Aku ingin selalu mendapatkan kasih sayang Ayah yang tidak pernah aku dapat dari Papa, aku ingin semua kasih sayang kakak-kakak hanya untuk ku!! Hanya untuk ku!!!" Teriak Kirana.
"Maka dari itu kau harus tenang, kita pikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu nanti. Untuk saat ini bersikap baiklah, orang-orang akan selalu memperhatikan gadis itu saat ini. Kita tidak bisa sembarang menyakiti nya." Vienna beranjak mendekati Kirana, memeluk putrinya itu.
"Sabar sayang, semuanya akan mama lakukan demi putri kebanggaan mama ini." Ujar Vienna sambil mengelus kepala putrinya.
"Kita harus bersiap, gadis sialan itu akan sampai hari ini. Kita harus menyiapkan makan malam untuknya." Tambahnya.
__ADS_1
Memang sudah berlalu empat hari sejak Aza dirawat, dan hari ini Aza sudah diizinkan pulang. Dengan kondisinya, ia akan terus melakukan perawatan terapis bersama psikiater.
"Sayang, bagaimana keadaan mu?" Tanya Vienna pada Aza yang baru saja sampai. Aza mengernyit, siapa wanita dihadapannya. Dia bahkan tidak pernah datang ke rumah sakit menjenguk nya, seperti Devi dan Lena kakak iparnya.
"Ah, kau pasti juga melupakan ku. Aku Mama Vienn, ibu sambung mu." Ah, Aza tidak terkejut akan fakta itu. Pantas saja Vienna tidak pernah menjenguk nya, pikir Aza.
"Ah, aku baik Ma." Aza tersenyum lembut.
Beruntung nya meski ia hilang ingatan tapi intuisi dan kemampuannya tidak hilang, ia hanya sedang lupa saja. Ia harus segera memulihkan ingatan nya, maka dari itu ia harus semangat menjalani terapis. Ia ingin segera mengingat semua kenangan yang ia lalui bersama keluarga nya, dan orang-orang penting dalam hidupnya. Sahabat, atau pacar mungkin, ia pasti memilikinya kan?
"Memangnya kalian harus ikut ke kamar seperti ini?" Tanya Aza pada Vino dan Gavin, keduanya mengangguk berbarengan. Aza mendengus, lelah dengan kelakuan kakak-kakak nya.
"Kak, kok baju-baju aku masih baru semua?" Tanya Aza bingung, apa dirinya adalah seorang yang hobi belanja? Pakaian nya adalah model terbaru dari merek kenamaan.
"Eh... Itu kan kamu memang hobi belanja." Balas Vino gagap, membuat Aza menyipitkan matanya.
"Untuk apa aku membeli pakaian-pakaian seperti ini? Ini tidak berguna, dasar aku!" Gerutunya.
Saat makan malam tiba, semua orang sudah berkumpul menunggu Aza. Dan saat Aza datang semua orang terpaku, Aza mengenakan dress selutut dengan lengan panjang berwarna indicolete.
"Maaf terlambat," ucap Aza setelah menempati tempat duduk yang disediakan untuk nya di samping Hendri.
"Tidak apa sayang, ayo kita mulai makannya." Semua orang mulai menyantap makan malamnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Hendri pada Aza saat melihat Aza hanya terdiam tidak menyantap makanan nya.
"Apakah tidak ada menu lain? Aku tidak ingin makan daging, aku ingin sayuran." Ucap Aza, Hendri tertegun. Dan menatap menu di meja makan, menu yang terhidang di atas meja adalah makanan yang tidak boleh Aza makan dalam keyakinannya.
"Apa dia mulai mengingat identitas nya?" Tanya Hendri pada dirinya sendiri.
"Ah iya baiklah, Darko tolong siapkan menu khusus untuk Aza." Ucap Hendri,
"Terimakasih ayah." Hendri tersenyum, mengusap kepala putrinya. Namun dibalik itu hatinya resah, memikirkan ingatan Aza.
__ADS_1