
"Kami menyayangi mu Aza, kami tahu kami tak pantas di maafkan. Hiduplah dengan bahagia, itu sudah cukup bagi kami." Suara pria yang dulunya sangat aku dambakan kasih sayang nya, masih tersimpan jelas di pikiranku.
Aku sudah terjaga sejak 30 menit sebelum pria itu pergi untuk makan malam. Kalau ditanya bagaimana perasaan ku, aku jelas masih marah dengan mereka, aku masih benci mereka, dan aku sangat kecewa pada mereka.
Marah karena fakta bahwasanya aku adalah bagian dari mereka, selama 13 tahun ah... tidak, aku menyadari kalau mereka memperlakukan ku buruk karena aku berbeda adalah sejak umur 4 tahun. Sebelum itu aku mungkin sudah melalui banyak penyiksaan sehingga memaksa ku dewasa diumur saat itu.
Kekuatan besar ku saat itu adalah sosok ayah kandung yang aku yakin akan menyayangi ku, dan setidaknya tidak akan memukul ku hanya karena aku tidak sengaja menendang sepatu milik tuan Hendri. Tidak akan menatap ku dengan tajam karena menganggap aku adalah biang masalah renggang nya hubungan tuan Hendri dan Ibu.
Benci karena mereka menyiksa ku, memarahi ku, menghina ku tanpa mencari tahu kebenaran nya terlebih dahulu. Kalau saja mereka bisa berpikir dengan kepala dingin dan menyelidiki lebih cepat tentang siapa aku, aku tidak akan melalui masa yang buruk. Dan lagi, mereka membenci ku karena kesalahan yang bahkan aku sendiri tidak tahu.
Kalau memang benar aku adalah anak haram, kenapa mereka tidak memperlakukan ku lebih manusiawi. Dan aku juga benci pada diriku sendiri karena bisa memahami semua keadaan itu di usia belia. Jika di beri pilihan aku ingin menjadi idiot saja, agar pikiran ku selalu positif seperti anak kecil. Aku benci menjadi lebih dewasa padahal belum waktunya untuk itu.
Dan aku kecewa pada mereka yang membuatku tidak berdaya, sekuat apapun aku memberontak, pada akhirnya aku tetap membutuhkan mereka. Mengepalkan tangan ku, menggenggam erat selimut yang menutupi tubuh ku. Hingga seseorang datang membuka pintu ruangan tempat ku dirawat.
Pria itu terkejut saat menatapku, aku hanya diam. Aku hanya bisa berisik dalam pikiranku, tapi tubuhku hanya diam membatu. Pria itu segera memencet bel untuk memanggil tenaga medis.
Aku ingin bicara, tapi tenggorokan ku tercekat. Sehingga hanya bisa mengatakan bahwa aku haus, setelah aku meminum segelas air dokter pun datang bersama rekannya.
Tiba-tiba saja tubuhku merasa gemetar, ini reaksi yang sama saat aku mengalami insiden tawuran beberapa waktu lalu. Tanpa sadar aku mencengkeram lengan pria yang berada disamping ku, Dikta. Aku tahu bahwa pria ini terkejut, aku pun sama.
Tapi sentuhan dan komunikasi dengan lembut adalah hal yang sering om Jacob atau kak Amanda lakukan ketika tiba-tiba aku panik. Sudah 2 tahun aku tidak merasakan kepanikan lagi, karena keluarga Kusuma juga mematuhi larangan untuk menjauhiku. Sampai aku terjebak dalam insiden tawuran, trauma ku muncul lagi.
Ketika om Jacob mengatakan bahwa aku harus bisa berdamai, aku juga memikirkan nya. Selalu. Tapi sangat sulit. Aku juga berusaha selama ini. Berusaha memaafkan, berusaha merelakan, dan menerima bahwa inilah takdir yang diberikan tuhan.
Dan saat om Jacob berkata seolah-olah ia dan kak Amanda tidak bisa seterusnya disamping ku. Ya... Memang benar, mereka juga punya kehidupan pribadi. Apalagi mereka adalah relawan yang sangat sibuk. Dan saat melihat wajah panik Dikta kemarin aku menyadari satu hal, bahwa aku butuh dia.
Aku ingin membuat om Jacob dan kak Amanda merasa tenang karena sudah ada orang yang menjaga ku. Aku juga ingin sedikit membalas dendam pada Dikta, karena pria itu sudah memanfaatkan ku untuk kepentingan pribadi nya.
__ADS_1
Ya, aku tahu. Ia juga terpaksa masuk dalam lingkaran antara aku dan keluarga Kusuma. Tapi aku juga yakin, ia menikmati nya. Licik. Aku akan memberi nya pelajaran.
Aku menangkap mu...
"Bisa kau lepaskan?" Tanyanya, aku hanya menggeleng. Sampai aku melihat bayang-bayang seseorang yang berdiri depan pintu.
"Ada orang..." Ucap ku sambil menunjuk pintu, aku mengendur kan pelukan ku pada lengan pria itu.
"Itu pasti ayah mu, kamu ingin bertemu?" Tanya nya padaku, aku tersenyum dalam hati, tentu saja aku ingin. Karena saatnya untuk menjalankan rencana.
"Kau disini..." Ucapku pelan, aku benci saat pikiran dan tubuhku tidak bersahabat. Pikiran ku tidak ingin menunjukkan sisi lemahku, tapi tubuhku melakukan nya dengan alami.
Begitu pria tua itu muncul aku langsung mencari-cari lengan Dikta, ketakutan ku belum bisa teratasi hingga aku mencengkeram lengan pria di sampingku. Sampai pria tua itu membuka pembicaraan, aku belum bisa mengatasi ketakutan ku. Sampai pada saat Dikta membisikkan ku kalimat yang pernah aku sampaikan dengan nada mengejek. Itu cukup membuat ku kesal dan merasa tertantang.
Itu membuat ketakutan ku cukup teralihkan, hingga aku bisa bersikap normal. Mengumpulkan cukup keberanian aku memanggil pria tua itu.
"Iya nak..." Balasnya. Nak? Masih pantaskah kata itu ia sebut untuk ku?
"Aku akan menikah dengan pria ini." Aku mengeratkan genggaman pada jemari Dikta, menunggu reaksi pria itu yang terlihat santai. Begitupun tuan Hendri yang hanya tertegun dengan mengerjapkan mata. Hingga,
"APA!" Ucap keduanya bersama-an.
Ya, aku sudah menduganya mereka akan bereaksi seperti ini. Ini adalah pikiran tergila yang pernah aku lakukan. Meski sudah mengenal Dikta, sejatinya aku sangat belum mengenalnya.
Namun aku yakin, ia bisa aku manfaatkan agar om Jacob dan kak Amanda bisa tenang serta keluarga ku tidak mengusik ku lagi. Rencana yang sempurna. Dan cara terbaik untuk membodohi musuh adalah dengan mendekati nya.
"Apa-apaan, kamu jangan bercanda!" Dikta melepaskan genggaman tangan ku, menghempasnya kasar.
__ADS_1
"Kamu tidak sedang bercanda kan nak?" Tanya Hendri, aku menggeleng. Kemudian tersenyum tipis, bagi mereka mungkin itu terlihat seperti smirk.
"Saya hanya tidak ingin membuat kalian khawatir, Dikta juga sudah 2 kali menyelamatkan saya. Karena itu saya menyadari saya butuh seseorang disamping saya." Balas ku.
"Kami bisa memberi mu pengawal nak," balas tuan Hendri pelan.
"Aku tahu selama ini kalian selalu melakukan itu, bahkan Dikta adalah salah satu dari orang yang kalian suruh." Balas ku sambil menatap Dikta.
"Tapi hanya Dikta yang mampu membuat ku bisa menerima kehadirannya." Dikta pun balas menatap mata iris coklat yang tengah menatap nya.
"Karena..." Ini adalah kebohongan terakhir... "Aku mencintai nya." Aku mengepalkan tangan ku erat, ketakutan ku muncul lagi. Dikta menatap ku tidak percaya, tentu saja.
"Tapi kalian berbeda nak." Sangkal tuan Hendri.
"Ya... Dari lahir aku memang selalu berbeda kan? Aku tidak pernah diajarkan untuk mengenal tuhan yang kalian yakini itu." Pria tua itu kembali terdiam, karena sedari kecil aku dirawat oleh mendiang Yang Oko. Beliau seorang muslim.
Mengenang jasa Yang Oko pada hidupku membuat kepala ku pening ingin menangis. Berkat Yang Oko yang diam-diam mengajari ku ilmu-ilmu dasar, membuatku bisa melalui pengurusan identitas dengan cepat. Meski semasa SMP aku hanya mengambil paket karena mengejar ketertinggalan pelajaran.
Dan dia mengenalkan ku pada tuhannya, yang sejujurnya aku tidak menganggap nya penting saat itu.
"Ayah tidak akan menghalangi kebahagiaan ku seperti yang dilakukan nyonya Gayatri kan?" Aku sengaja memakai amunisi terakhir, 'ayah'. Konyol sekali, perutku langsung mual saat mengatakan nya.
Tapi aku yakin pria tua yg tua itu akan langsung menyetujui permintaan ku. Ku lihat ada setitik bening berkilau di pelupuk matanya, well... Sebesar itu kah dampak dari kata 'ayah'.
"Baiklah nak, jika itu murni keinginan mu." Tatapan nya beralih pada Dikta, "Ayah akan menerima nya." Ucap tuan Hendri.
"Ini murni keinginan ku tuan." Ku lihat air wajah pria tua itu seketika berubah saat aku tidak memanggil sesuai dengan yang ia inginkan.
__ADS_1
"Sekarang anda boleh keluar, aku ingin istirahat." Ucapku, aku tidak peduli lagi berapa kali Dikta menatap ku aneh.
"Baiklah nak, beristirahat lah. Dan lekas sembuh." Ucap pria itu lalu menghilang dibalik pintu.