Warna

Warna
Chapter 29. Buat Anak


__ADS_3

"Kak Gavin!!! What are doing! Sure, I don't like this!!! My clothes get wet!!" Teriak Aza saat Gavin dengan sengaja mengibas air dengan kencang hingga terkena Aza yang baru saja datang mendekat.


"Ayo bergabunglah bersama kami!! Buat apa ke laut tapi tidak berenang?!" Ucap Gavin sambil berteriak karena suara ombak.


Gavin dan Vino berjalan setengah berlari mendekati Aza yang malah berjalan mundur ketakutan.


"Tidak!!! Ombaknya terlalu besar!! Aku tidak suka laut!" Ucap Aza lalu berbalik badan dan berusaha kabur, namun dicegah oleh Vino dan Gavin yang meraih ke dua tangan nya. Dengan enteng Vino menggotong tubuh Aza.


"Kak Vino!!! Come on? What do you want?!! Turun kan aku!!! Aku tidak bisa berenang!!" 


Vino dan Gavin hanya tertawa terbahak-bahak karena reaksi berlebihan Aza yang terkesan menggemaskan bagi mereka. Hal baru lagi, yang bisa mereka lihat dari Aza. Apalagi mereka hanya bermain di bibiran pantai saja, belum sampai snorkeling atau diving.


"Kamu tidak percaya kami!! Kami bisa menjaga mu, tenang saja adik ku sayang." Aza terus berteriak sampai Vino menurunkan nya di atas pasir yang terkena sapuan ombak kecil.


"How? Is it bad?" Tanya Gavin, menunggu reaksi Aza yang hanya terdiam sambil menatap kakinya yang sesekali terendam air ombak yang berbusa.


"It's a wonderful feeling that i haven't felt." Aza mengeratkan genggaman ke-dua tangannya pada Vino dan Gavin yang menuntun nya berjalan lebih jauh lagi.


"Ombaknya datang!!" Teriak Aza antusias, melepaskan tangannya dari genggaman Vino dan Gavin. Berlari mendekati garis putih yang semakin mendekati nya.


"Arghh!!!! Ha ha ha...." Tawa nya girang.


Vino dan Gavin pun mulai kelabakan mengawasi sang adik yang dengan lincah berlari kesana kemari. Sementara di kejauhan para orang dewasa mengamati dengan perasaan bahagia.


"Bagaimana keadaan cucu ku?" Tanya Hendri pada Lena.


"Dia cukup nakal dan membuat ibunya repot." Balas Lena. Usia kandungan nya sudah memasuki bulan ke lima. Anton yang mendengar itu pun mengecup pelipis istri nya lagi.


Dilain sisi Devi hanya bisa tersenyum simpul, ia harus bersabar. Semuanya akan segera berakhir.


Tanpa membuat yang lainnya sadar, Devi keluar dari kehangatan bercengkrama Kusuma. Berlari ke bibiran pantai yang cukup jauh dari penglihatan lain nya. Menangis sejadi-jadinya yang ia bisa.


"Kau... Kenapa lagi? Apa aku salah lagi?" Tanya Davin yang ternyata juga mengikuti nya.


"Iya... Hubungan kita yang sedari awal salah Dav!" Lirih Devi frustasi.

__ADS_1


"Tiga bulan lagi hubungan kontrak kita selesai, finansial keluarga ku juga sudah membaik, dan kesalahpahaman orang-orang bahwa kamu itu Homo juga sudah lama hilang. Jadi..." Devi berhenti sebentar, menautkan tatapan nya pada kedua mata hitam Davin.


"Bisa kita selesai sampai disini saja?" Tanya Devi.


"Tidak." Balas Davin datar.


"Apa aku melakukan kesalahan? Aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untukmu, semua kebutuhan kamu, juga selalu aku usahakan meski kita berdua sama-sama sibuk." Jelas Devi.


Tapi kesalahan memang bermulai dari awal hubungan mereka, meski mereka bersikap mesra dan mencintai, hubungan mereka ada untuk sementara saja. Semuanya berawal dari keterdesakan masing-masing pihak. Devi dengan kesulitan ekonomi keluarganya, dan Davin dengan citra baiknya.


Devi yang seorang perawat, dan Davin seorang pengusaha, memang pertemuan mereka patut dipertanyakan. Kapan mereka bisa saling mengenal dekat sampai ke jenjang pernikahan.


"Pertanyaan kapan punya anak bagi wanita yang sudah menikah, rasanya seperti pedang tajam yang menusuk hati. Walau aku sadar, kalau pernikahan kita ini sebenarnya tidak ada. Tetap saja aku tidak ingin merasakan perasaan yang seharusnya tidak aku rasakan." Jelas Devi.


"Aku lelah. Kita sampai disini saja ya, aku mohon! Sekarang kak Lena sudah hamil, dan aku sudah tidak berarti lagi di keluarga ini." Lirihnya.


Davin mengerjap, jantung nya juga berdebar. Memahami perasaan Devi, memahami kesalahan nya yang tidak peka terhadap perasaan perempuan. Dan walau ia juga yang paling peka diantara keluarganya, ternyata ia juga sama saja seperti yang lain.


"Jawaban ku tetap tidak. Apa kau mencintaiku? Sampai ingin pergi secepat itu karena tidak kuat menahan perasaan mu lagi?" Devi mengepalkan tangannya kuat, kesal dengan tingkat kepercayaan diri suaminya yang sialnya benar.


"Hei!!! Davin Ilarino Kusuma!!!! Lancang sekali mulutmu!!" Kesal Devi, menarik kerah pria itu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Davin. Meraih kedua sisi wajah pria itu, menyerang pria itu tanpa aba-aba.


"Mmmmhh..." Lenguh Davin saat Devi menjelajahi lehernya, saat ini Devi berda dalam gendongannya bak anak koala.


"Aku ingin mencari pria lain yang lebih hebat dalam memuaskan ku." Bisiknya setelah menyelesaikan aksi nakal nya.


"Maka dari itu ayo kita bercerai. Aku tidak bisa hidup sendirian seumur hidup meski aku sudah berdua. Selain itu kau bebas mencari pria manapun sesuai dengan kriteria mu, tanpa harus memikirkan aku." Tambahnya setelah turun dari gendongan Davin.


Davin terdiam, setelah menyadari satu hal. Selama tiga tahun hubungan mereka berjalan. Permainan terjauh mereka hanya sampai pelukan dan cium kening dan bibir itu pun jarang. Bukannya tidak tertarik, lebih tepatnya Davin menunggu Devi yang siap. Karena tahu hubungan awal mereka yang bersifat sementara.


"Baiklah ayo!" Jawabnya setelah Devi memanggil nya berkali-kali. Menggenggam pergelangan tangan Devi.


"Hei kita mau kemana?!!!" Teriak Devi, saat Davin malah menariknya.


"Buat anak." Balas Davin datar dan ringan. Beruntung mereka berada di pulau pribadi, sehingga tidak ada pengunjung lain yang mendengar mereka.

__ADS_1


Walau begitu, ada otak-otak polos yang tercemar disana.


"Buat anak?" Tanya Aza pada dirinya sendiri, wajahnya bersemu merah. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Melihat wajah bersemu Aza, kedua kakaknya kelabakan.


"Mereka tadi bertengkar ya?" Tanya Aza. Karena sedari awal ia ingin melihat, Gavin menutup matanya sementara Vino menutup telinganya. Dan mereka bersembunyi di balik batu pantai.


"Mereka lucu." Lanjut Aza.


"Kau masih terlalu kecil, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." Ucap Vino.


"Tapi aku sudah menikah." Ucap Aza sambil menunjukkan cincin pernikahan nya.


"Dan aku juga sudah pernah hkkskmmmmm" kini Vino menutup mulut adiknya itu.


"Apa yang sudah Dikta ajarkan padamu?" Masih dengan mulut tertutup, Aza mencoba menjawab pertanyaan Gavin.


"Nmmnsnmm kak Vino, lepas dong!" Ucap Aza kesal.


Mengalihkan perhatian Aza, Gavin menggotong tubuh Aza dan berlari ke bibir pantai yang landai kemudian menceburkan adiknya kesana.


"Kak Gavin!!!" Teriak Aza saat bajunya basah semua dan ada banyak pasir pantai masuk ke dalam nya.


***


Besok adalah waktu perpisahan Aza dan keluarga nya, dan malam ini adalah makan malam terakhirnya.


"Kakak gimana buat anaknya?" Bisik Aza pada Devi, tahu kalau pembicaraan seperti itu cukup canggung kalau dibicarakan bersama. Kebetulan sekali Devi duduk disampingnya, Aza bisa membuat nya sebagai candaan kakak adik yang bisa mengakrabkan dengan Devi.


Devi pun hanya tersenyum manis dengan wajah memerah, sambil bertanya siapa saja yang mengetahuinya.


"Cuma 3 bontot bersaudara kok kak." Balas Vino yang duduk disamping Aza.


Wajah Devi semakin memerah, karena Vino yang menjawab pertanyaan yang cukup menggelikan ini.


"Aza makan yang banyak, malam ini terakhir kita bisa bersama. Nikmati makanan nya ya." Ucap Devi sambil mengambilkan nasi dan lauk ke piring Aza.

__ADS_1


Mereka bersenda gurau, menikmati waktu yang mengalir dengan seksama. Malam terakhir mereka bersama si bungsu.


__ADS_2