
Tidak satupun yang tidak terkejut atas pernyataan Aza, tentu saja tidak percaya. Aza tahu itu, beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kursi putar yang Gavin gunakan untuk bermain game di waktu luang.
"Sayangnya tidak ada nak, ingatan mu akan kembali kapan saja. Terlebih lagi kalau kau melihat hal-hal yang bersinggungan dengan trauma yang kamu miliki." Aza menghela napas, ia tidak bisa membayangkan seburuk apa trauma yang sampai berlangsung begitu lama.
Apa benar keluarga nya sejahat itu pada nya? Walau pun ia tidak mengingat nya, reaksi tubuh dan intuisi nya mengatakan demikian saat sedang berdekatan dengan ayah dan saudara-saudaranya. Perasaan aneh, asing, jijik bersatu dalam pikiran nya. Hanya saja ia tidak mengerti, 19 tahun hidup, apa hidupnya hanya untuk menyiksa diri untuk menjadi pendendam?
Perlakuan bagaimana yang sudah keluarga nya lakukan, hingga ia mengalami PTSD sampai gangguan Dimensia seperti ini? Ah... Aza mengingat mimpi itu, mimpi ia tenggelam di kolam rumahnya sendiri. Mimpi terburuk yang ia ingat selama kehilangan ingatannya. Kalau dalam mimpi saja seburuk itu, bagaimana pada kenyataannya? Ada banyak pertanyaan dalam pikiran nya, logikanya ingin realistis untuk menerima keadaan yang ada dan merelakan masa lalu. Tapi hatinya terasa berat.
"Apa kalian sudah berusaha mengejar ku?" Sayangnya pertanyaan itu hanya mengudara dalam pikiran nya lagi, kepalanya sungguh terasa pening. Tubuhnya juga terasa ditarik dengan paksa ke dasar tanah, hingga ia terduduk di lantai karena kakinya gemetar tidak kuat menahan beban nya.
Sayup-sayup terdengar suara ayah dan kakak-kakak nya memanggil namanya khawatir. Tapi semua itu Aza hiraukan, dalam bayangan kenangan yang berwarna sepia negatif itu bertebaran di kepala. Suara-suara asing yang terasa familiar berkeliaran.
"Ss..sakit." rintih Aza sebelum kehilangan kesadaran nya.
"Cepat panggil dokter!" Teriak Hendri, sambil memeluk tubuh putrinya.
"Ayah, jangan panik.... Ayo bawa Aza ke kasur dulu." Davin mengambil alih Aza, tahu kondisi ayahnya yang sedang panik sampai tangannya tremor.
Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Aza, dokter bilang Aza hanya kelelahan dan banyak pikiran. Dokter hanya menyarankan Aza mengonsumsi obat yang biasa ia minum.
Dan satu jam kemudian Aza terbangun, tidak ada yang aneh dari perilaku Aza. Hanya saja,
"Ayah, apa bisa kita pindah rumah dimana hanya ada ayah, kakak-kakak dan kakak ipar didalamnya?" Hendri yang khawatir Aza akan membencinya pun menuruti begitu saja tanpa banyak tanya, karena ia juga tahu jika istri dan anak sambungnya itu perlu di waspadai.
"Baik nak, apapun demi putri rumah ini." Ucap Hendri sambil mengecup punggung tangan mungil Aza berkali-kali.
Saat ini ke lima tuan Kusuma itu duduk memenuhi sisi ranjang tempat Aza tidur, Aza juga masih di kamar Gavin. Karena dokter bilang Aza tidak perlu dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu bahwa hari itu sesuatu telah terjadi.
***
"Kita mau kemana sih kak?" Tanya Aza pada Vino yang menuntun langkahnya, matanya ditutup kain hitam. Hingga ia tidak bisa melihat cahaya barang setitik pun.
"Sabar ya, sebentar lagi sampai. Hati-hati, di depan ada tangga..." Tuntun Vino, seteleh keluar dari mobil.
"Terlalu sulit, nanti aku jatuh gimana?" Tanya Aza, Vino hanya tertawa menanggapi nya. Aza mengangkat kedua tangan nya keatas.
"Gendong aja..." Rengeknya manja.
"Duh... Udah besar kok masih mau gendong." Balas Vino, namun begitu ia sangat senang dengan sikap manja adiknya. Setelah hampir sebelas tahun ia melihat kemanjaan adiknya lagi.
Saat Aza berusia 8 tahun gadis itu tidak menampilkan raut ceria nan polosnya lagi, namun raut ketakutan setiap melihatnya. Dan justru semakin membuat nya semakin bersemangat membuat Aza menangis, kala itu. Dia benar-benar kakak yang buruk.
"Kamu kurang makan ya?" Ledek Vino lagi sambil memperhatikan langkah kakinya.
"Kenapa kamu kurus sekali, rasanya aku hanya membawa satu karung beras." Ucap Vino.
"Apa-apaan?!!! Berarti aku berat? Satu karung beras itu berat kakak....!!! Kakak bodoh." Kesal Aza sambil menjewer kuping kiri Vino.
"Aduh-duh... Maksud kakak karung beras ukuran kecil Aza." Ucap Vino sambil menarik tangan Aza dari kupingnya yang terasa panas.
"Tadi kamu barusan bilang kakak bodoh, begitu?" Tanya Vino, yang langsung Aza jawab.
"Kakak bodoh, berat badan itu hal yang sensitif buat wanita." Balas Aza.
__ADS_1
"Kamu belum jadi wanita, kamu itu masih anak-anak. Nih buktinya, masih minta gendong." Ucap Vino.
"Tidak juga, bukti nya adegan drama juga banyak wanita dewasa yang minta gendong. Kakak saja yang tidak bisa paham batasan wanita." Ucap Aza sinis, mood nya jadi jelek.
"Kakak itu sedikit menyebalkan." Lanjutnya Aza. "No...! Cukup menyebalkan." Tambahnya, Vino sendiri hanya terkekeh. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya akan menghadapi Aza yang biasa menatap nya datar dan penuh kebencian itu bisa bersikap manja padanya seperti ini. Hatinya menghangat dan teremat sakit bersamaan, takut Aza tidak bisa seperti ini lagi dimasa depan.
"Kita sampai your highness," ucap Vino geli, karena adiknya itu justru mengeratkan pegangannya.
"Tolong pelan-pelan, kaki ku belum menyentuh tanah." Ucap Aza sedikit panik.
Hap
Gavin menangkap kedua sisi ketiak Aza, agar gadis itu bisa turun dengan nyaman.
"Kakak sudah menangkap mu," ucap Gavin.
"Loh,... Eh... Kak Gavin disini juga?" Tanya Aza.
"Iya sayang," Gavin merapihkan dress yang Aza kenakan yang terlihat sedikit kusut. Kemudian melepas ikatan kain yang menutup kepala Aza sejak mobil Vino berhenti di sekitar lokasi yang dituju.
Bias cahaya memaksa masuk kedalam retina nya, membuat nya harus mengerjap beberapa kali untuk menormalkan cahaya yang masuk.
"HAPPY BIRTHDAY AZA!!!" Teriak semuanya, disana hanya orang-orang yang bisa akrab dengan Aza saja yang datang. Hendri memang mengatur demikian, karena kenyamanan Aza adalah prioritas nya.
Baginya kehadiran tawa Aza di tengah keluarga nya saat ini seperti bom waktu, meski gadis itu berkata memilih bahagia bersama keluarga nya, nyatanya tidak ada yang tahu bagaimana nanti jikalau Aza sudah mengingat jati dirinya, dan samua luka yang gadis itu miliki.
Hendri tidak mau membayangkan masa depan buruk itu, yang terpenting saat ini ia harus menyelipkan warna baru dalam hidup putrinya. Terlepas apakah warna yang ia berikan akan berarti atau tidak bagi putrinya, karena baginya putrinya adalah warna hidupnya.
__ADS_1
Ia merasa sangat tidak pantas di masa tua nya nanti, ah tidak saat inipun ia sudah tua. Hanya saja hari tua yang ia maksud adalah hari dimana ia hanya bisa duduk terbaring diatas pembaringan atau kursi roda mungkin. Tapi ia harap, hari itu masih sangat jauh untuk menghampirinya. Ia hanya berkhayal Aza akan menemaninya di hari-hari terakhir nya, hanya itu saja.
Tapi sebelum itu, ia harus memastikan putri malang yang ia sakiti dengan tangannya sendiri itu sudah mendapatkan kebahagiaan nya. Masa ini, anggap saja ia sedang meminjam Aza dari Aza sendiri. Karena jika Aza sudah sadar, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti tidak ada cerita baik antara keluarga nya dan gadis itu, menurutnya. Ia berharap tuhan berkehendak lain.