Warna

Warna
Chapter 15. Becoming Your Lighthouse


__ADS_3

Tubuh bergetar Aza memberitahu Dikta jika gadis itu tengah menangis, sisi yang pertama kali Dikta lihat selama mengenal Aza. Biasanya meski menangis, gadis itu tetap berteriak marah sambil memukul orang atau membanting barang. Ternyata saat menangis seolah tak berdaya seperti ini, Aza terlihat sangat menyayat hati.


Dikta mensejajarkan wajah mereka, wajah pucat gadis itu terlihat memerah, terutama dibagian mata dan hidung. Matanya pun sedikit membengkak.


"Aku lelah... Bisa tidak, aku pergi ketempat dimana hanya ada aku disana? Hanya ada kedamaian, ketenangan,... Aku juga ingin merasakan nya ...." Dengan nafas tersengal Aza berucap.


"Aku juga sudah berusaha merelakan, menerima, melupakan semua yang menyakitkan. Tapi tidak bisaaa...." Suaranya parau bercampur isak tangisnya.


"Rasanya lebih baik aku tidak terlahir, jika hanya untuk disalahkan atas kesalahan yang aku sendiri tidak tahu..." Isak nya semakin menjadi, Dikta hanya bisa menepuk pundak gadis itu pelan. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua emosinya, yang mungkin hanya ia bisa pendam sendiri selama ini.


"Mereka memukul, memaki, melempar ku seperti binatang... Setelah kebenaran terungkap, mereka meminta ku untuk baik-baik saja. Bahkan aku tidak bisa berinteraksi dengan baik dengan masyarakat, anak-anak seusia ku. Aku tidak berani membela diri saat siswa-siswa lain merundung ku karena membenci aku yang pendiam..... " Nafasnya terdengar berat, dadanya pasti sesak. Disana Dikta terkejut, tidak ada yang menceritakan hal ini sebelumnya. Baik Jacob ataupun Hendri, berarti gadis ini tetap mendapat tekanan dari lingkungannya tanpa diketahui oleh siapapun.


Dikta memeluknya, berusaha mengurangi rasa takut dan kesedihan gadis itu.


"Setiap hari merasa takut, bahkan untuk mengakhiri hidup pun aku tidak kuat. Aku hanya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah memperjuangkan aku sampai seperti ini, tapi hidup pun aku tidak tahu tujuan. Hari-hari ku terlalu monokrom, sampai aku lupa kalau abu-abu itu juga warna." Lirihnya pelan, suaranya sudah melemah, mungkin karena lelah.


"Ssst... Udah capek?" Tanya Dikta, Aza hanya mengangguk dengan tatapan lemah. Masih ada air mata yang menggantung di pelupuk mata nya. Dikta mengusap kedua mata itu dengan ibu jarinya.


"Kita lanjut besok ya. Kamu udah capek, udah malam juga. Besok kita cari solusinya." Aza mengangguk, kemudian merapatkan tubuhnya pada Dikta. Yang tentu saja membuat pria itu ketar-ketir. Namun begitu, ia tetap menyambut dengan memeluk Aza dan mengelus punggung gadis itu.


"Tidur yang nyenyak ya..." Bisik Dikta, karena memang merasa pusing dan kelelahan Aza dapat tertidur dengan cepat.


Dikta memanggil Aza pelan untuk memastikan gadis itu sudah tertidur. Sekarang sudah dini hari, ia tidak sempat memasak karena Aza sama sekali tidak mengijinkan nya pergi. Memesan makanan online adalah pilihan terakhir nya, beruntung Esa sahabat nya memiliki kedai makan.


Hingga ia tidak perlu khawatir keamanan nya, karena ia bisa mempercayai sahabatnya. Dengan begitu Aza bisa makan dan meminum obatnya.


***


Pagi hari nya Dikta merasa sangat ngantuk, semalam ia berbicara dengan Jacob melalui telepon video. Membicarakan tindakan apa yang seharusnya dilakukan.


Jacob menyarankan untuk melakukan Hipnoterapi, hanya saja Jacob menyampaikan jika Aza itu selalu gagal dalam proses induksi hipnosis. Dan karena saat itu Aza yang cukup keras kepala sehingga enggan melakukan metode tersebut.


Saat itu amarah gadis itu masih meluap-luap terhadap keluarganya. Bahkan Aza memang sengaja melakukan nya agar keluarga nya tidak bisa mendekati nya dan hidup dalam rasa bersalah. Agar saat melihatnya keluarga Kusuma teringat akan dosa-dosa yang sudah dilakukan pada gadis itu.


Tapi saat ini, Dikta harap Aza sudah bersedia. Kalau tidak pun, ia akan berusaha memberikan ketenangan lain pada Aza.


"Mas," suara lembut Aza terdengar sayup di setengah kesadarannya.


"Kamu tidak ke kampus?" Tanya Aza lagi.

__ADS_1


"Eerghh..." Erang Dikta, kepalanya pening. Baru bisa tertidur.


"Kamu udah baikan?" Tanya Dikta balik.


"Kamu sakit?" Malah Aza kembali bertanya, Dikta hanya menggeleng.


"Lebih baik lanjutkan tidurmu, untuk memulihkan tenaga." Kata Aza kemudian berbalik keluar kamar.


Dikta meletakkan lengannya ke atas keningnya, Aza benar ia butuh tidur. Mengambil ponsel nya, dan menghubungi Tedjo. Memintanya mengurus perizinan nya di kelas pertama yang ada di jam 9 pagi. Ia berencana mengikuti kelas selanjutnya saja, pada jam 2 siang.


Setelah 30 menit berlalu, terdengar langkah kecil mendekat. Aza datang dengan membawa sarapan, segelas air dan semangkuk garlic soup buatannya sendiri. Jarang masak bukan berarti tidak bisa kan? Itupun ia berusaha dengan beberapa kali melihat ponsel nya untuk panduan.


Sebelum mengantarkan pada Dikta ia juga sudah memastikan jika masakan nya cukup sempurna bagi seseorang yang jarang menyentuh dapur. Dizaman ini sangat memalukan jika tidak bisa memasak, ada banyak aplikasi yang menyediakan panduan dan resep masak.


Ditatapnya Dikta yang terlelap, Aza bisa melihat garis lelah pada wajah pemuda itu. Bertambah satu orang lagi yang harus terlibat dalam permasalahan hidupnya. Dulu nya ia hanya ingin memberi pria itu pelajaran, namun melihat betapa seriusnya pria itu menjalani perannya sebagai seorang suami membuat Aza berpikir lain.


Seharusnya dari awal mereka tidak pernah bertemu, apa yang bisa Dikta harapkan dari dirinya. Kulit tubuhnya tidak sebagus gadis lain, bahkan tingkahnya sangat menyebalkan. Atau malah seharusnya ia tidak pernah ada? Kenapa orang-orang selalu mendapat kan masalah saat menolongnya? Kenapa orang-orang membencinya dengan alasan yang konyol?


"Maaf..." Lirih Aza pelan. Kemudian meletakkan makanan di atas nakas. Kemudian meletakkan sticky note yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Ia ingin pergi ke suatu tempat hari ini, menenangkan pikiran nya.


***


Nadira Gumala


Kata orang-orang, dia adalah ibunya. Wanita yang paling dicintai tuan-tuan Kusuma. Bahkan Hendri masih sudi menampung Nadira meski sedang hamil anak yang ia kira hasil dari perselingkuhan.


Namun sayangnya kelahiran nya tidak untuk dicintai. Kelahiran nya untuk disalahkan atas kematian Nadira, ibunya. Kelahiran nya untuk dibenci karena anak hasil perselingkuhan. Semakin dipikirkan, Aza merasa semakin benci dengan pikiran Dangkal Kusuma. Semudah itu mereka percaya pada fakta yang kebenarannya belum dibuktikan secara resmi. Semua bukti yang terjadi dimasa lalu hanya berdasarkan 'katanya' atas perintah Gayatri-neneknya.


Aza menoleh saat merasakan seseorang tengah mengamati nya, tubuhnya membeku. Orang yang paling ia rindukan, yang selalu ada untuk nya sejak kecil kini berdiri dihadapannya. Dengan satu satu tongkat elbow, membantu tubuh sepuhnya agar bisa berdiri tegak.


"Na...na..." Lirih pria itu, tanpa kata Aza langsung berlari memeluk pria itu sampai pria itu hampir kehilangan keseimbangan nya. Aza menangis kencang hingga tenggorokan nya sakit.


"Yang oko....! Kemana saja?..." Lirihnya ditengah isak tangisnya.


Dilain tempat Dikta kalang kabut saat terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan Aza dimanapun. Sebenarnya yang semakin membuat nya panik adalah pesan yang gadis itu sampaikan pada sticky note yang ditinggalkan.


Aku pergi. Nikmati sarapannya, segera pulih.

__ADS_1


Khanza


Kemana gadis itu pergi? Selama mengenalnya gadis itu hanya keluar untuk ke toko buku dan warung makan saja setahunya. Tidak mungkin juga ia pergi ke kampus. Ia masih belum diijinkan ke kampus selama masa ospek berlangsung.


Menghubungi sahabat-sahabat nya untuk membantu mencari Aza, ia tidak ingin mengatakan nya pada Kusuma. Masalah akan bertambah jika ia melakukan hal itu.


"Kamu dimana Aza?" Gumamnya panik, sambil mengendarai motor bebeknya menuju tempat berkumpul bersama temannya.


"Lo yang tenang dulu, biar bisa jernih pikiran nya." Ujar Tedjo.


"Gimana bisa tenang Jo." Balas Dikta pasrah.


"Gue gak tau si Aza biasanya kemana." Tambahnya.


"Sebentar," ucap Esa.


"Aza anaknya ansos dan gak suka keramaian kan?" Tanya Esa yang diangguki oleh Dikta.


"Lo udah cek ke toko buku langganan dia?" Tanya Esa, Dikta kembali mengangguk.


"Hmmm, ada satu tempat lagi sih, kemungkinannya." Gumam Esa, Dikta langsung sigap.


"Tante gue pernah kerja jadi pembantu di kediaman Kusuma, dan dari cerita beliau," ucapannya dipotong Nanang yang mengejek gaya bicaranya.


"Widih!! Beliau," Langsung ketiganya menatap Nanang kesal.


"Kalau nyonya pertama Kusuma sudah tiada," Dikta langsung tersadar.


"Ahh!!! Iya, makam nyonya Nadira!" Dikta langsung berlari menuju parkiran, yang lainnya pun kalang kabut menyusul Dikta. Saat sampai di parkiran, Dikta berhenti.


"Gue gak tau tempatnya," ucapnya, yang disambut decakan kesal temannya.


"Lo hubungi keluarga Aza gih, tanya alamat nya." Ucap Nanang.


"Jadi runyam yang ada." Balas Dikta,


"Bentar, gue cari info dari tante gue." Ucap Esa sambil memegang telepon nya mencoba menghubungi seseorang.


Setelah 5 menit, Esa kembali dengan sumringah. Pertanda mendapatkan kabar yang dibutuhkan.

__ADS_1


"Motor lo tinggal disini aja, bareng mobil Tedjo aja biar gak pisah-pisah." Ucap Esa yang disetujui semuanya.


__ADS_2