
Aza kini sudah lebih rileks menempatkan dirinya di suasana apapun, dan ya... Tetap menjadi dirinya yang seperti itu. Tapi kini perasaan benci dan marah pada keluarga nya sudah memudar, meski mungkin masih ada, tapi tidak seperti dulu. Dan perasaan itu juga akan memudar dengan waktu yang disertai kenangan-kenangan indahnya bersama keluarga.
"Are you ok sweety?" Tanya Vino yang bertanya dari balik kemudi, karena melihat adiknya melamun dari kaca tengah mobil.
"Dek..?" Panggilnya lagi, atensi Gavin yang sedari tadi sibuk melihat ponsel nya pun beralih.
Aza tidak bergeming, kali ini ia masih terhanyut dalam pikirannya. Lu'lu yang duduk disebelah nya pun mengguncang tubuhnya pelan, hingga ia tersadar.
"Kak? Kakak mikirin apa sih? Asik bener?" Tanya nya, karena tak biasanya ia melihat Aza melamun seperti itu. Aza hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Tidak ada." Balasnya.
"Kita mau kemana dulu nih?" Tanya Lu'lu, mereka hari ini mengantar Aza konsultasi dengan psikolog nya. Hari ini hanya membutuhkan waktu sebentar, karena kondisi Aza yang semakin membaik. Mereka memutuskan untuk berkeliling menghabiskan waktu bersama.
Tentang Lu'lu yang tanpa sungkan bertanya kemana mereka akan pergi, karena Lu'lu memang gadis yang supel dan periang. Hingga mudah baginya untuk mendapatkan teman dan semua orang menyayangi nya.
Begitu juga dengan keluarga Aza, mereka menyukai Lu'lu. Karena sejauh ini hanya Lu'lu, teman yang pernah Aza kenalkan pada mereka. Dan mungkin juga karena faktor usia Lu'lu yang memang sedang pada masanya untuk bersinar sebagai gadis remaja.
"Emang kamu maunya kemana?" Tanya Gavin.
"Terserah sih, aku mah ikut aja." Balasnya santai.
"Yaudah ke mall?" Tanya nya lagi.
"Nggak ah, rame. Kak Aza pasti gak suka." Padahal dia juga kurang menyukai tempat ramai.
"Kafe?" Tanyanya lagi.
"Gak suka ngopi,... Eh kak Aza suka ngopi ya?" Tanya nya, Aza hanya mengangguk tak peduli karena sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
"Di Kafe ada es krim gak bang?" Tanya nya.
"Ada kali." Balas Gavin.
"Ntar mampir indom*** aja bang, beli es krim disana. Makan nya nanti bareng di Kafe, kalian ngopi aku makan es krim, gimana?" Balas Lu'lu yang membuat Gavin tercengang, Vino pun terkekeh dibuatnya.
__ADS_1
"Ada-ada aja anak satu ini." Ucap Vino sambil mengemudi.
"Dek kamu kok bisa sih punya temen kaya gini?" Tanya Gavin frustasi, Aza melirik sedíkit lalu mengendikkan bahunya.
"Tidak tahu, dia memang seperti lumba-lumba." Balasnya.
"Ah... Kakak..." Rengek nya.
"Aku ingin bertemu ayah saja. Aku ingin bersama ayah hari ini." Vino terperanjat, begitu pun Gavin. Mereka semua masih merahasiakan keadaan Hendri, Hendri sendiri masih melanjutkan pengobatannya. Meskipun operasi nya berjalan sukses, tentu saja masih membutuhkan waktu untuk pemulihan.
"Ha..ah, mau sampai kapan kalian akan merahasiakan nya dari ku?" Tanya Aza kecewa.
"Sampai ayah meninggal?" Lanjutnya.
"Aza!!" Beruntung mereka sedang berada di lampu merah, kalau tidak Vino mungkin akan menghentikan mobilnya secara mendadak karena terkejut.
"Kakak!!" Teriak semuanya, kemudian keheningan terjadi beberapa saat. Hingga klakson dari kendaraan lain bergema, karena lampu sudah hijau.
"Aku ingin sendiri dulu, kalian antar Lu'lu saja. Maaf mood ku tiba-tiba jelek hari ini." Kemudian Aza keluar dari mobil begitu saja.
Gavin menatap Vino, kemudian menyeringai tipis.
"Kakak antar kamu dulu ya?" Tanya Vino.
"Iya kak... Eh bang." Lu'lu menjadi kikuk karena hanya mereka berdua yang berada di dalam mobil.
Perjalanan masih lumayan jauh, ditambah lagi dengan kemacetan ibu kota. Telapak tangan Lu'lu berkeringat dingin, karena debar jantung nya yang tidak aman. Karena selues-lues nya ia berinteraksi dengan kakak-kakak Aza, disana masih ada Aza atau tidak hanya berbicara berdua saja. Dan ya... Situasinya menjadi canggung sekarang.
"Gimana lu, hari ini? Baik kan kabar nya?" Tanya Vino.
"Seperti yang abang lihat aku selalu baik, Alhamdulillah." Balas gadis itu.
"Masih dapat teror?" Tanya Vino lagi.
"Alhamdulillah, gak pernah ada hal aneh lagi bang. Mungkin mereka udah bosen kali, atau lagi nyiapin bom waktu." Balasnya enteng.
__ADS_1
"Terus setelah ini mau gimana?" Tanya Vino.
"Gak tahu bang, kuliah gak ada biayanya. Cari beasiswa pasti keluarga gak bakal diem aja ngebiarin aku hidup lega. Nikah kali." Balasnya pelan di bagian akhir.
"Kamu masih kecil Lu', ada-ada aja kamu ini." Balas Vino.
"Ya cari suami yang mau nyekolahin aku dong bang, dan sabar nungguin dedek gemes ini tumbuh besar dan sehat dulu dong bang." Tambahnya, yang sudah terdengar santai berbicara.
"Emang ada yang mau? Hmm? Kamu bawel kaya gini." Ejek Vino.
"Eh... Bang Vino ngeledek nih... Pasti banyak yang mau dong. Soalnya aku ini investasi masa depan yang menjanjikan. Cantik iya, pinter iya, baik banget kan?, ramah apalagi, penyayang, gak manja walau kelihatan nya manja and salihah insyaallah, aku ini tahan banting loh bang. Aku yakin bisa jadi bussiness women, istri, dan ibu yang sukses nanti nya. Gimana tertarik?" Tanya Lu'lu, Vino sampai hampir tersedak karena ke konyolan gadis belia itu.
"Sayangnya... Abang gak masuk kualifikasi imam yang baik, abang kan gak bisa jadi imam. Lupain aja deh, aku cari yang lain aja." Ucapnya sambil mengibaskan tangannya, dengan gerakan mengusir dan mata nya terpejam.
"Oh ya... Satu lagi, biasanya yang bawel itu ngangenin." Tambahnya.
Vino hanya bisa menggeleng kan kepala menghadapi teman Aza yang aneh bin ajaib itu.
Dilain tempat, Aza terduduk di bawah pohon pinggir jalan. Karena kelelahan menghadapi cuaca yang cukup panas, belum lagi polusi udara yang ada.
"Capek kan?" Suara Gavin terdengar, sebuah topi pun terpasang di kepala Aza.
"Lihat tuh mukanya sampe merah gini." Ucapnya sambil mencubit pipi adiknya.
"Kakak ngapain sih...! Malu." Ucapnya risih.
"Kamu kenapa hmm?" Tanyanya sambil mengusap pundak adiknya itu.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa dengan semuanya?" Tanyanya balik.
"Aku tidak selemah itu kak untuk mendengar kabar buruk hingga membuat ku mental break down, aku bisa menerimanya. Jadi tolong jangan lagi menyembunyikan fakta tentang Ayah. Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya, ayah kenapa?" Gavin mengeraskan pelipisnya karena berpikir keras, semua jawaban yang ada untuk pertanyaan Aza, tetap akan membuat gadis itu merasa marah.
"Sudah sejak lama aku ingin tahu apa yang sedang terjadi, aku pikir semuanya hanya butuh waktu untuk memberi tahu. Tapi nyatanya, kalian memang berniat untuk tidak memberi tahu ku. Apa aku bukan bagian dari kalian? Sampai kalian bermain kucing-kucingan seperti ini." Ucap Aza ironi.
"Kami tidak bermak...."
__ADS_1
"Aku tidak mau peduli, pada intinya kalian mengabaikanku. Sudah, aku tidak butuh psikolog lagi, aku tidak ingin bertemu kalian untuk beberapa waktu." Aza menghela nafasnya.
"Tolong beri aku waktu, atau beri tahu aku apa yang terjadi." Ucap Aza.