Warna

Warna
Chapter 9. Welcome To Our Game


__ADS_3

"Apa maksudnya tadi itu?!" Dikta tidak bisa menahannya lagi, sedari tadi ia menahan diri karena keberadaan Hendri.


"Otak mu cukup lambat memahami rupanya." Balas Aza, kemudian gadis itu merebahkan diri nya. Kepalanya pening, ia butuh memejamkan mata.


"Kenapa kalian orang kaya sangat egois?!" Ucap Dikta dengan intonasi tinggi, tapi Aza mengabaikan nya. Gadis itu malah memejamkan matanya, membuat Dikta merasa sangat kesal.


"Beri saya waktu untuk beristirahat, nanti saya akan mendengar kan protes yang ingin kamu katakan." Ucap Aza dengan mata terpejam.


"Tetap lah disisi saya kalau kamu ingin terhindar dari masalah." tambahnya lagi.


"Justru kamu sumber masalah ku." Batin Dikta seraya mendudukkan dirinya di kursi samping Aza.


***


Keributan tengah terjadi dalam kediaman keluarga Kusuma, mereka semua tidak bisa menerima hal yang disampaikan sang kepala keluarga. Terutama para putra kebanggaan keluarga itu.


"Kenapa Ayah menyetujui nya?" Tanya Davin, pria itu tidak habis pikir dengan keputusan Ayahnya.


"Ayah hanya merasa jika dengan begitu Aza bisa bahagia, ayah menyetujui nya." Ucap Hendri.


"Tapi pria itu tidak sebanding dengan kita yah, bagaimana ia bisa membahagiakan Aza?" Tanya Anton.


"Kamu lupa kalau kita ini Kusuma?" Tanya Hendri balik, ia tidak suka cara berpikir putra nya itu. Karena ia pernah merasakan beratnya ditentang keluarga hanya karena status sosial dan ekonomi.


"Ayah harap kalian tidak berpikiran sempit, ayah tidak membesarkan kalian agar memandang rendah orang lain." Balas Hendri.


"Bukankah Vino sudah mengenal siapa pria itu?" Tanya Hendri, Vino yang sedari tadi hanya diam pun mengangguk kaku.


"Kita hanya perlu memberinya sedikit dukungan saja, aku yakin bocah itu bisa diandalkan." Ucapan itu tidak hanya untuk meyakinkan keluarga nya, melainkan juga untuk dirinya sendiri.


Ia bisa mempercayai Dikta kan?


"Baiklah, ayah tidak meminta persetujuan kalian. Ayah hanya menyampaikan apa keinginan Aza. Ayah harap kalian bisa menerima nya, dan membantu untuk mewujudkan nya." Ucap pria itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan keluarganya.

__ADS_1


Disisi lain tembok rumah keluarga Kusuma sepasang ibu dan anak perempuan nya sedang mendiskusikan cara untuk menyingkirkan Aza dari keluarga Kusuma. Ya... Siapa lagi, Vienna dan Kirana.


"Kenapa gadis itu selalu bernasib baik sih Ma?" Gumam Kirana, sambil mengenang awal kedatangannya di keluarga Kusuma.


Saat itu ia diperlakukan bak seorang putri, kakak-kakaknya sangat menyayangi nya. Hingga ia merasa besar kepala sebagai satu-satunya nona keluarga Kusuma. Ia selalu dipuji cantik dan pintar, serta berperangai bagus oleh orang-orang.


Ya, wajah nya manis khas wanita jawa. Sedari kecil ia juga sudah sangat terawat penampilan nya. Pakaian yang ia pakai juga selalu merek ternama, ia yakin banyak yang iri padanya saat itu.


Sampai pada ia menemukan Aza, gadis kurus yang memiliki kulit bening khas gadis sunda, wajah oriental nya juga sangat membuat nya iri. Meski banyak memar dan bekas luka yang belum kering pada tubuh gadis itu, ia merasakan kecemburuan yang sangat menusuk. Karena pada keadaan terburuk pun Aza tetap terlihat bersinar.


Oleh karena itu ia berusaha keras untuk membuat Aza selalu dalam masalah, dan berujung disiksa. Ya, mulai dari menuduhnya, merusak pekerjaan gadis itu, melaporkan jika Aza membaca buku dan belajar... Ia tidak rela gadis itu menjadi pintar dan bersinar. Ia merasa hanya dirinya yang pantas menjadi Nona Kusuma.


Ia benci dengan keberuntungan Aza, ia membenci Aza. Apalagi saat gadis itu membebaskan diri dalam sangkar keluarga Kusuma, ia semakin benci karena kakak-kakaknya mulai menjauh darinya dan selalu mempedulikan Aza.


"Mental gadis itu masih belum stabil ma,kita bisa menyerangnya dari situ." Ucap Kirana seraya tersenyum tipis.


***


"Memanfaatkan mu." Aza menjawab santai sambil membalik halaman bukunya.


Setelah bangun dari tidurnya, Aza masih terus menghindari Dikta dengan menyuruh pria itu melakukan hal-hal yang tidak berarti. Dikta tidak mengerti, kenapa gadis ini sungguh menyebalkan.


"Hei Dikta," ucap gadis itu datar.


"Saya hanya sedikit membalas padamu, kamu sudah memanfaatkan saya untuk kepentingan pribadi mu. Saya hanya sedang menciptakan permainan kecil." Kesan dingin dan pendiam Aza kini bertambah satu dimata Dikta, tidak punya perasaan... Berhati dingin.


"Tapi pernikahan bukanlah untuk main-main Aza, kau masih muda... Hidupmu masih panjang, kenapa kau ingin menghancurkan hidupmu dengan menikah di usia ini?" Dikta berusaha memancing ego anak muda milik Aza, namun...


"Saya menghancurkan hidup saya?" Tanyanya dengan nada geli, "Jangan konyol, hidupmu yang akan jungkir balik jika mengenal saya. Jika bersama mu saya bisa hancur lebih cepat, kenapa tidak? Lagipula pasti orang-orang akan senang saat saya hancur." Dikta menghembuskan nafas lelah, rasanya ingin sekali mencekik gadis dihadapannya. Tapi ia masih takut mati juga karena tau didepan pintu sana ada bodyguard yang senantiasa stand by.


"Dan... Apa tadi? Pernikahan itu bukan main-main? Untuk saya pernikahan itu tidak ada artinya, tapi saya tidak akan melepaskan mu seumur hidup saya. Hmm atau ingin pernikahan yang serius dengan saya?" Tanya Aza lembut, khas seorang psikopat.


"Jangan bermimpi!" Sergah Dikta.

__ADS_1


"Maka dari itu, terima saja. Kamu tidak ada pilihan lain, toh kamu juga yang untung. Hidupmu akan terjamin, serta mendapatkan istri seperti saya. Saya tidak akan menuntut banyak padamu, cukup menikah dengan saya, setelah itu hiduplah seperti biasanya. Jangan bersedih anak pintar." Gadis itu menepuk pelan kepala Dikta, meski sedikit menaikkan tubuhnya agar bisa meraih kepala pria itu. Kemudian kembali fokus menatap bukunya, mencari baris mana yang terakhir ia baca.


"Kau egois," ucap Dikta datar.


"Memang." Balas Aza santai.


"Kau bodoh." Imbuh Dikta lagi.


"Kamu juga." Aza membalik halaman bukunya.


"..." Aza menarik lengan Dikta agar mendekat, kemudian membisikkan sesuatu.


"Seseorang pernah bilang pada saya, saya adalah orang yang mudah dicintai. Mendekatlah pada saya, kenali saya, saya yakin kamu akan segera menyayangi saya." Kemudian mengecup pipi pria itu singkat, Dikta sendiri terpaku dengan keadaan. Menatap wajah Aza dengan tatapan melotot, gadis ini sungguh diam-diam menghanyutkan. Ia harus lebih mendominasi dari gadis itu, atau ia akan kalah.


Dikta dengan cepat menarik dagu gadis itu, mengusapkan jarinya pada bibir ranum gadis itu. Dapat ia rasakan tubuh gadis itu juga menegang, ia tutup bibir gadis itu dengan tiga jari nya. Dan mendekatkan wajahnya kemudian mencium nya. Hanya ada tiga jarinya sebagai pembatas antara bibirnya dan Aza, Aza berkali-kali mencoba mundur, tapi ia tahan dengan menekan tengkuknya.


Kemudian ia beralih ke leher putih gadis itu, menjilati nya hingga gadis itu merasa resah dengan mendorong tubuh nya. Tatapan Dikta semakin ditutupi kabut, ia lupa kalau niat awalnya hanya untuk menggertak Aza. Tapi sepertinya berhasil. Tanpa sadar ia menggigit kulit leher Aza yang seputih salju itu.


Hingga..


Bugh... Plak...


Aza meninju perut pria itu, membuat pria itu bangkit dan meringis. Tak lama setelah itu ia menampar pipi yang tadi dikecupnya, dengan kencang. Suaranya pun sangat nyaring.


Tubuh gadis itu gemetar, menatap Dikta dengan amarah dan ketakutan.


"Get out of here!!!" Mata gadis itu memerah, air matanya sudah di pelupuk mata.


"You are such a bastard!!" Gadis itu melempar bantal miliknya, kemudian barang-barang yang ada di atas nakas.


Dikta yang merasa harus bertanggung jawab dengan kemarahan Aza tidak memilih pergi, malah mendekati Aza dengan cepat. Kening nya berdarah karena terkena gelas yang dilempar Aza. Ia dekap tubuh Aza yang gemetar, gadis itu lantas berontak. Namun, sekuat apapun tenaganya tetap akan kalah dengan Dikta yang kemampuan nya lebih tinggi.


"You can't hide in anywhere now, little girl. Welcome to our game. We will get married." Bisik Dikta, membuat Aza terdiam.

__ADS_1


__ADS_2