Warna

Warna
Chap 30. Mail ~Dikta


__ADS_3

____________________________________________


From : Azalazne@mail.com


To : Didilanairi@mail.com


Apa kabar? Kuliah pasti melelahkan ya? Semangat ya? Cepatlah lulus! Lama juga tidak masalah. Oh ya hari ini pertama terapis, rasa nya menenangkan, aku seperti bisa bertemu dengan diriku di masa kecil yang penuh luka. Meski melelahkan, tapi sebanding dengan yang dirasakan.


Hari ini juga ada yang mengganggu pikiran ku, sudah hampir 2 minggu ayah melakukan perjalan bisnis. Dia berjanji akan menjemput ku hari ini, nyatanya ia tidak datang.


Hubungan ku dengan kakak-kakak sedikit membaik, meski masih ada perasaan was-was dan waspada saat berhadapan dengan mereka, tapi tidak seperti dulu lagi. Semua nya sudah mulai sedikit membaik. Aku harap semua berjalan dengan baik-baik saja, begitu juga untuk mu.


____________________________________________


____________________________________________


From : Azalazne@mail.com


To : Didilanairi@mail.com


Hari ini aku akan kencan dengan kak Davin, dokter bilang ini bagus untuk dilakukan, agar aku semakin nyaman bersama Kusuma. Selanjutnya mereka akan menghabiskan waktu bersama ku bergantian.


By the way, kita belum pernah kan? Kamu bisa mencobanya dengan teman wanita mu disana. Kabarnya gadis-gadis bule cantik-cantik, kau pasti menyukai nya.


Bahagia selalu, Dikta.


____________________________________________


Aku hanya bisa tersenyum geli membaca pemikiran gadis itu, selama setahun ini cukup banyak perubahan pada dirinya. Atau hanya perasaanku saja, dia lebih banyak kata ketika menulis? Aku lanjut membaca mail selanjutnya, karena kesibukan aku belum sempat membacanya. Lagipula Aza hanya sekedar berbagi cerita saja, tidak menuntut bahkan melarangku membalas mail nya. Entah apa tujuannya...


____________________________________________


From : Azalazne@mail.com


To : Didilanairi@mail.com

__ADS_1


Terapi ke dua, dan ini kali pertama aku bertemu ayah lagi setelah hampir dua bulan. Sepertinya is sedang tidak baik-baik saja, tulsng di pipinya nampak jelas sekali. Yang artinya dia sudah kehilangan banyak berat badan.


Disamping itu, ada hal yang membuat ku senang. Ayah mengizinkan ku untuk mengikuti pesantren. Teringat yang kamu katakan dulu saat kita shalat bersama pertama kali di Jepang, aku butuh untuk belajar mengaji dan mengkaji ilmu islam juga. Agar agama ku tidak hanya sekedar status saja.


Sehat selalu, Dikta!! Semangat nugasnya!!


____________________________________________


____________________________________________


From : Azalazne@mail.com


To : Didilanairi@mail.com


Besok aku pergi ke pesantren, semuanya sudah sepakat akan bergantian mengantarkan ku kontrol ke psikiater. Hari ini ada hal konyol yang aku dengar, tapi hal ini tidak mungkin ku ceritakan padamu. Aku hanya ingin memberi tahumu agar kamu penasaran.


Pembicaraan orang dewasa usia 21++, kau tidak akan sanggup mendengarnya. Kak Gavin dan Kak Vino saja berkali-kali menegurku untuk tidak berpikiran aneh-aneh.


Oh ya, ini sepertinya akan menjadi mail terakhir. Masih ada kemungkinan aku akan mengirimkan mail lagi di masa depan. Tapi tidak dalam waktu dekat, dan itupun tidak serutin biasanya.


____________________________________________


Aku mengernyit bingung, apa yang sedang ia bicarakan? Tidak mungkin kan Gavin dan Vino mengajarkan Aza menonton video porno. Duh... Aku jadi berburuk sangka seperti ini karena tulisan Aza yang ambigu.


Saat ini aku sudah tinggal sendiri, Kusuma berbaik hati dengan membelikan ku rumah disini. Karena waktu awal-awal semuanya terasa serba salah. Aku sudah punya pengalaman buruk disini.


Pertama kali sampai disini semua fasilitas yang aku dapat kan, sama seperti mahasiswa lain yang mendapat beasiswa. Sebuah rumah dan berbagi tempat tinggal dengan satu atau dua orang. Sialnya teman serumah ku memiliki kelainan seksual. Mereka pengidap biseksual, mereka bahkan tidak sungkan secelup dua celup di hadapan ku.


Dan yang terburuk mereka sering mengajak ku bergabung, sampai di akhir mereka terkesan memaksa dan hampir diperkosa. Beruntung ternyata aku juga diberi penjagaan oleh Kusuma, hingga aku tidak perlu mengalami hal yang menjijikkan seperti itu.


Meski begitu aku tidak mau begitu saja menikmati segala fasilitas yang diberikan. Sebisa mungkin aku tidak menggunakan uang bulanan yang dikirimkan pada ku. Aku memilih mencari kerja part time, dan aku mendapatkan nya. Menjadi seorang waitress, juga cukup membantu kehidupan sehari-hari ku.


Mengerikan... Tapi aku harus bertahan, menjadi orang besar tanpa ujian hanya omong kosong. Ini saja aku sudah ada privileged dari Kusuma malah membuat ku merasa tidak nyaman. Tapi... Ys sudahlah nikmati saja dan syukuri. Toh kita juga harus hidup dengan realistis bukan?


Setahun lagi, kuliahku akan selesai. Tapi gadisku bahkan malah menunda kuliahnya sampai tahun depan. Tidak apa, selama ia kuliah, aku akan berusaha sekeras mungkin mencapai karir yang cemerlang.

__ADS_1


Aku teringat pembicaraan kami di Jepang, meski kami sudah terikat pernikahan, Aza menekankan padaku untuk bebas menemui pasangan lain. Ya, memang sebagai manusia normal hatiku pasti akan oleng sana sini... Ku elus cincin pernikahan kami,...


"Walau kata orang cinta datang karena terbiasa, tapi nggak dengan kita kan? Kenapa semakin jauh kita, semakin banyak godaan yang datang, aku malah merasa semakin rindu dan cinta padamu? Aku harus bagaimana?" Ucapku menatap foto terakhir Aza, sepertinya itu diabadikan saat ia merayakan ulangtahun bersama keluarganya. Saat ia kehilangan ingatan, disana ia terlihat seperti gadis seusianya, terlihat nakal dan seksi.


Seksi...


Tidak salahkan berpikir seperti ini tentang istri sendiri? Karena jujur aku sendiri juga buta akan hubungan. Dulu pernah menyukai seorang gadis, satu SMA dengan ku. Tapi dia gadis dengan status sosial tinggi, dan seleranya pun tinggi. Jadi membuat ku lebih baik mundur perlahan sebelum menyukai lebih jauh.


Dia pintar, cantik, dan ambisius, dia bahkan menyelesaikan sekolah menengah atas nya dalam kurun waktu 2 tahun saja. Aku yang modal beasiswa ini pun kalah, aku hanya sebatas dapat nilai yang stabil dan berkelakuan baik ini bisa apa dengan orang superior sepertinya. Sama seperti Aza dan keluarga nya.


Kalau Aza hidup normal sejak kecil, aku yakin saat ini bukan gelar sarjana lagi yang ia kejar. Bahkan kedua kakaknya saat ini sedang membuat tesis dibalik keseharian nya yang terlihat santai.


Tidak tahan, ku buka aplikasi Mail, ku ingin menulis ini walau tidak tahu kapan Aza akan membacanya. Seperti yang ia katakan di surat sebelum nya, ia akan sulit mengakses internet, kira-kira seperti itu.


____________________________________________


From : Didilanairi@mail.com


To : Azalazne@mail.com


Hi cantik!! Aku rasa tanya apa kabar gak pantes ya? Kamu akan selalu baik-baik saja bersama para malaikat penjaga mu. Semangat ya!! Cepat sehat! Ayo susul aku disini... Mendengar kabarmu yang baik-baik saja membuatku tenang sekaligus membuat jiwa ku memberontak ingin bertemu dan menyapa langsung.


Kamu tahu, seperti aku sudah meninggal kan sesuatu padamu. Hingga membuat hati ku selalu landai seperti ini. Kamu bilang pada ku untuk menikmati waktu ku mencari wanita lain, tapi kamu malah mengambil kunci hati ku. Bagaimana aku membukanya? Kuncinya ada padamu.


Semangat belajarnya, semoga bermanfaat dan bisa menjadi istri yang solehah... Istri♥️ aku akan selalu menunggu kabarmu sampai kapanpun.


Salam penuh cinta, your hubby 💗


____________________________________________


Ku kirimkan juga video random milik ku, terserah dia akan beranggapan seperti apa, aku tidak peduli. Aku tidak tahu, apa saat ini aku sedang dalam fase BuCin? Pasalnya aku tidak bisa berhenti memikirkan wajah datar gadis itu. Aku hanya penasaran, kata Vino gadis itu sudah mulai banyak tertawa.


Tapi aku tidak tahu sama sekali, karena aku belum pernah melihat nya langsung. Di tambah lagi Vino cukup pelit berbagi kabar adiknya. Aku hanya minta foto terbaru Aza padahal hanya satu saja, tidak pernah ia berikan.


"Kau kuliah saja dulu yang benar, jadi orang kaya, baru aku pikirkan akan membagi kabar adik ku atau tidak." Itu pesan suara yang ia sampaikan, pesan nya pun masih ada di ponselku. Sengaja aku jadikan alarm agar selalu semangat saat aku merasa jenuh bekerja atau belajar.

__ADS_1


__ADS_2