Warna

Warna
Chapter 34. Aku Hak Ku


__ADS_3

Datang tanpa memberi kabar memang sengaja Aza lakukan, ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Dikta saat melihatnya nanti.


Berjalan menyusuri lorong gedung apartemen, dimana tempat tinggal Dikta ada didalamnya.


"I'll give you all of me, please let me enter your heart. I know men like having my body, aren't you interested to try me? I'm free for you, only you..." Tidak Aza sangka yang pertama kali ia lihat saat akan bertemu suaminya adalah hal seperti ini.


"Carol, how many times i have told you? It has been someone here." Balasnya sambil menyentuh dadanya.


"I'm married." Tambahnya.


"No!!! You're lie!! How could you have been married in your age, I don't trust you. I'll never give up until your wife stands front of me." Dikta hanya menghela nafas, tapi tubuhnya merasa ada yang mengamatinya.


Mengedarkan pandangannya, dan disanalah tatapan nya jatuh. Pada gadis yang memakai gamis berwarna pastel dan kerudung hitam. Mengusap matanya beberapa kali, memastikan matanya tidak salah lihat. Atau sedang berhalusinasi lagi.


Aza tersenyum miring bersedekap dada dengan tubuh yang sedikit miring karena bersandar di dinding.


Mengabaikan Carol yang tengah menggila, Dikta berlari menghampirinya istrinya itu. Menumpahkan segala rasa rindu dan kagum pada istrinya itu.


"Gue gak lagi mimpi kan?" Tanya Dikta pada dirinya sendiri, Aza mendengus kesal mendengar nya.


Aza mendorong Dikta, merenggangkan pelukannya. Berjalan maju meninggalkan Dikta.


"Do you his girlfriend?" Tanya Aza, Dikta gelagapan berlari mendekati Aza.


"Kamu ngapain?" Aza mengabaikan nya.


"Don't you know that he can't turn on?" Tanya Aza lagi, Dikta malu bukan main. Bisa-bisanya istri nya berkata seperti itu pada wanita lain. Dapat dilihat tatapan mencemooh dari Carol untuknya.


"Almost 3 years we have gotten married, but... Can you imagine... I'm still virgin..." Bisiknya pada Carol.


"He's crazy!! How could it be!!? You're so beautiful!! He's a jerk!" Carol berjalan ke arah Dikta.


Plak...


Dikta bingung, sangat bingung. Apa yang Aza katakan pada Carol?


"I pay it for you, you have to leave this rubbish!" Ucapnya, Aza hanya memasang ekspresi sedih.


"But i can't, i do love him... It's no matter if he doesn't give me his attention. Only beside him, it's enough for me... Thank you Carol." Ucapnya dengan nada lirih. Carol pun pergi setelah nya.

__ADS_1


"Pintar sandiwara ya kamu..." Ucap Dikta melangkah mendekati Aza seraya mengelus kulit wajah yang terkena pukulan tadi.


"Buka pintu nya." Ucapnya masih mengabaikan Dikta, Koper milik Aza pun mengirimgi langkah mereka.


Setelah pintu tertutup, Dikta tidak bisa menahan lagi. Menyudutkan Aza pada dinding lorong rumah yang menghubungkan ke ruang tamu.


Kedua mata mereka saling beradu, Aza dengan sorot menantang, sedang kan Dikta menatap bak singa yang siap memangsa targetnya.


"Sepertinya keluarga Kusuma sangat suka membuat ku senam jantung." Aza hanya tersenyum miring mendengar nya.


"Bagaimana bisa kau datang begitu saja tanpa memberi tahu ku sama sekali." Aza menyipitkan matanya disertai smirk khas miliknya.


"It was a surprise, sepertinya berhasil." Aza mengambil salah satu tangan Dikta yang berada di pundak nya. Tapi,


"Mmhhh... Hmmm!!" Teriaknya teredam, karena mulutnya terkunci.


Dikta menyerang nya tanpa aba-aba, mata mereka saling bertaut. Tatapan naif Dikta sudah tidak ada lagi, sepertinya pria itu dewasa dengan cepat disini. Kaki Aza terasa lemas, tidak bisa mengimbangi kemampuan Dikta.


Mengalungkan tangannya pada leher Dikta, dan dengan mudah Dikta menggendong Aza dan membawanya ke ruang tamu. Membaringkan Aza pada sofa ruang tamu, tatapan nya masih lurus pada Aza. Hendak menyerang nya lagi, Aza hanya diam mengalihkan pandangannya ke segala penjuru asal tidak menatap mata coklat kekuningan Dikta. Wajahnya pun bersemu merah.


Kemudian Dikta mengecup kening Aza. Bertahan lama dalam posisi itu, aza pun memejamkan mata nya. Hatinya menghangat, merasa berharga diperlakukan selembut itu oleh pria nya.


Tatapan mereka bertemu lagi, Dikta mengusap wajah Aza dengan lembut. Mata Dikta berkaca menatap gadis di hadapannya.


"Terimakasih sudah kuat bertahan, dan melalui semuanya. Terimakasih sudah membawaku ke dalam cerita hidup mu... Belum ada yang bisa aku berikan, untuk saat ini."


Bisiknya pelan, Aza pun hanya membalas dengan tersenyum lembut.


Ponsel Dikta berdering, tapi Dikta seakan menulikan pendengaran nya. Ia masih nyaman berada dalam pelukan Aza. Pelukan yang baru kali ini ia bisa rasakan. Hingga Aza yang meraih ponsel pria itu, yang berada di meja samping sofa tampatnya berbaring. Atau di atas kepalanya.


"Kak Vino?" Ucap Aza heran, sambil menunjukkan layar pada Dikta, Dikta hanya mengembuskan napasnya.


"Mereka pasti mengkhawatirkan mu, meminta ku untuk tidak berbuat aneh-aneh pada mu." Balas Dikta lesu.


"Hei Dikta, biarkan Aza istirahat terlebih dahulu. Jangan macam-macam dengan nya, kami belum mau ponakan baru. Dia masih terlalu muda." Aza hanya tersenyum geli menatap wajah pasrah Dikta yang hidupnya selalu di atur oleh kakak-kakak nya.


"Kau kan sebentar lagi wisuda, berkarir saja di Indonesia. Dan bawa Aza pulang ke sini, aku rasa kuliah disini juga baik untuknya."


"Kau mendengar ku? Hei... Dikta!!" Aza mengelus kepala Dikta yang berbaring di atas perutnya.

__ADS_1


"Baik lah kak, kau terlalu banyak bicara. Aku tidak akan cepat-cepat memberimu ponakan baru, kami akan hati-hati." Dikta tercengang, mungkin juga Vino yang malah memutuskan sambungan.


"Apa mereka selalu kekanakan seperti ini padamu?" Tanya Aza, Dikta hanya memasang wajah sedih. Seakan mengadukan semuanya pada ibunya.


"Kau juga bodoh, menuruti semua keinginan mereka." Balasnya.


"Luar biasa, hampir dua tahun tidak bertemu. Dengan perubahan penampilan mu yang sekarang, rupanya... Mulut pedas mu masih tidak berubah." Ucap Dikta.


"Penampilan berubah, bukan berarti kepribadian harus berubah kan?" Balasnya sengit.


"Melawan lah, kau harus menunjukkan batasan mu. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh mereka lampaui." Lanjutnya setelah hening beberapa saat.


"Yes, ma'am." Balasnya manja, menirukan suara anak-anak.


Dikta menopang tubuhnya di atas Aza, sudah cukup lama berbaring di atas tubuh mungil sang istri. Takut Aza merasa sesak, sebenarnya tidak juga ia hanya setengah berbaring pada istrinya. Sebagian tubuhnya masih bertopang pada lantai rumah.


Di pandang nya wajah ayu sang istri, yang tengah melepas hijabnya. Dikta tertegun saat melihat kilauan hitam rambut Aza. Dikta membantu melepaskan jepitan rambut Aza, kini rambutnya sudah lebih panjang dari terakhir bertemu. Atau memang Aza menggantikan gaya rambutnya.


"Rambutku tidak bisa di kuncir jika sependek dulu." Ucapnya seakan mengerti pertanyaan Dikta.


"Kenapa kau dewasa secepat ini?" Ucap Dikta frustasi dengan kecantikan yang memancar dari istrinya.


"Kenapa? Justru bukan nya baik? Agar orang tidak salah mengira aku adikmu lagi." Ucap Aza sambil meraih rambut Dikta yang berada diatasnya.


Menggodanya dengan mengecup pangkal leher pria itu, sampai pria itu melenguh.


"Aza jangan main-main, kau masih kecil. Belum waktunya kamu seperti ini." Ucap Dikta bertahan dengan kewarasan nya.


"Ulang tahun ku yang ke dua puluh, tidak akan lama lagi." Ucap Aza.


"Ayah mu memintaku untuk tidak berbuat aneh-aneh padamu sampai usia 23 tahun." Balas Dikta.


"Payah..." Ucap Aza masih terus menghujani ciuman pada Dikta.


"Aza.... Cukup!!" Sentak Dikta, wajahnya sudah merah. Tapi Aza masih dengan santainya malah menarik rambut Dikta hingga wajah Dikta lebih dekat dengan nya.


"Aku benar-benar akan memanggil kan Carol untuk terus mengejarmu, kalau kau masih terus-menerus memikirkan perintah keluarga ku saat kau bersama ku. Abaikan mereka!!! Lihat aku!!! Apapun yang berhubungan dengan keinginan ku adalah hak ku, tidak ada siapapun yang bisa mempengaruhi nya meskipun itu keluarga ku ataupun itu kamu!..." Ucapnya dengan intonasi tingggi. Kemudian mendorong Dikta, dan beranjak dari sofa menuju ruangan yang Aza kira itu adalah kamar.


Dan setelah beberapa detik, Aza kekuar lagi.

__ADS_1


"Dimana kamarnya?" Dikta menatap pintu di sebrang ruangan yang tadi Aza masuki.


"Bawakan koper ku!" Ucap nya, masih dengan nada ketus.


__ADS_2