What Is Your Name?

What Is Your Name?
Awalan


__ADS_3

Tahukah kalian hari apa yang paling menakutkan? Bukan hari malam Jum’at Kliwon, dimana konon katanya itu adalah hari weekendnya para hantu. Namun, menurut seorang Alisha Corinna Haifa adalah hari saat masa ospek peserta didik baru.


Sebenarnya dia tidak merasa khawatir dengan hari tersebut, tapi saat Kakaknya bercerita tentang masa sekolahnya dahulu, Alisha menjadi merasa tidak tenang. Dan kebetulan dirinya akan masuk ke Sekolah Menengah Atas sebagai peserta didik baru, tentu saja dia akan menjalani ritual sebagai siswi baru, yaitu ospek. Jadilah, semalaman Alisha terus memikirkan apa saja yang akan dilakukan para senior terhadap dirinya.


Hingga pagi pun datang menyambut, Alisha bertambah cemas. Tetapi, didepan Kakaknya dia berusaha terlihat seperti biasa. Alisha menuju meja makan dengan dandanan yang super nyeleneh, padahal sekolah- sekolah lain sudah tidak mewajibkan siswanya memakai attribute seperti ini.


“Hahahaha, pakai apaan tuh?” Tanya Kakak Alisha yang bernama Avaro Tristan Anindito, seorang Mahasiswa disebuah perguruan tinggi.


Dia tertawa melihat Adiknya yang berdandan aneh dengan memakai kalung yang terbuat dari petai dan jengkol. Lalu rambut yang dikucir tiga, sudah dikucir dikepang pula. Tidak lupa Alisha menenteng tas sementara yang terbuat dari kantung plastik hitam. Alisha memanyunkan bibirnya melihat Varo menertawakannya sampai tersedak sarapan.


“Varo, nggak baik menertawakan Adik sendiri.” Kata Bu Fira, Mama Alisha dan Varo.


“Iya tuh, pokoknya sekarang Alisha berangkat diantar Kakak.” Ucap Alisha.


“Hhh, iya- iya. Tapi, hati- hati biasanya ospek itu…”


“Kak Varo!” pekik Alisha kesal.


Bu Fira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua anaknya.


Turun dari motor Kakaknya, Alisha langsung terpukau oleh pemandangan didepannya. Terlihat sebuah bangunan yang besar, walau Alisha masih didepan gerbang, dia sudah dapat membayangkan betapa besar sekolah yang akan dia tuntut ilmunya.


Disekelilingnya banyak siswa- siswi masuk ke area sekolah, ada yang sudah memakai seragam putih abu- abu dan juga banyak yang masih memakai seragam putih biru seperti yang dikenakannya.


“Alisha! Woy, Alisha!” panggil Kakaknya.


“Ada apa sih? Sekolahnya ternyata gede ya?” kagum Alisha.


“Dari tadi dipanggil juga, biasa aja dong. Yang alumni sini aja tingkahnya biasa.”


“Iya tau, udah sana! Nanti telat lagi, udah tua masih suka telat.”

__ADS_1


“Belajar yang bener! Jangan nakal! Ikuti perintah senior kalau mau selamat.” Pesan Kakaknya.


“Kak Varo!” pekik Alisha kesal.


“Pak Oman! Apa kabar?” Tanya Varo pada satpam yang sedang bertugas membantu para siswa menyeberang.


Yang dipanggil Pak Oman itu hanya mengacungkan jempolnya. Varo langsung menancap gas menjauh dari sekolah, yang dulu juga menjadi sekolahnya.


Alisha ikut berkumpul dengan anak- anak yang lain dilapangan untuk mendengarkan pengarahan dari para senior. Semua mendengarkan dengan hikmat, sebenarnya karena lapangan dijaga ketat oleh para senior yang seperti ingin melahap para juniornya. Alisha makin menciut, apalagi setelah mendengar instruksi dari seorang senior, bahwa junior harus meminta tanda tangan dari seniornya.


Setelah barisan dibubarkan, para junior langsung bermain kejar- kejaran bersama senior- senior. Sedangkan Alisha masih terpaku dengan adegan kejar- kejaran antara junior dan senior.


“Hei, kamu! Kenapa malah bengong? Tidak dengar perintah tadi?” hardik seorang senior pada Alisha.


“Dengar kok, kalau begitu saya boleh minta tanda tangannya?” Tanya Alisha sangat berharap dengan mimik wajah yang memelas.


“Saya ketua Osis. Minta tanda tangan Osis, kecuali ketua Osis dan Wakilnya. Jadi kamu cari senior Osis yang lain.”


Alisha pun mencari- cari senior yang mau memberikan tanda tangan secara sukarela. Setelah lama mencari, Alisha menemukan seorang senior yang tengah duduk di pojok kantin. Dia segera menghampiri orang tersebut dengan wajah berseri- seri.


Apalagi Alisha melihat pita berwarna kuning yang melingkar di lengan kanan orang tersebut yang menandakan bahwa dia anak Osis.


“Ehm, Kak. Boleh saya meminta tanda tangan?” Tanya Alisha sopan dan berusaha ramah.


Orang tersebut menoleh dan memperhatikan penampilan Alisha dari atas sampai bawah.


“Siapa nama lo?” Tanya anak tersebut.


‘Kayaknya pernah lihat nih orang, dimana ya?’ batin Alisha.


“Heh, nama lo siapa?”

__ADS_1


“Alisha Corinna Haifa.” Jawab Alisha latah.


“Mana buku lo?”


Alisha memberikan buku tulisnya pada anak tersebut, anak itu menerimanya dan mencoret- coret kecil buku tersebut. Buku tersebut diserahkan kembali pada Alisha, Alisha membaca tulisan yang tertulis disitu.


“Alvian Akbar. A? Sekretaris Osis?” gumam Alisha bertanya- tanya pada dirinya sendiri.


Badan Alisha terasa pegal- pegal, ini masih hari pertama ospek dan masih ada dua hari lagi. Jika tadi Alisha berhasil mengumpulkan banyak tanda tangan dan nama- nama senior, pasti dia tidak akan dihukum lari mengelilingi lapangan. Alisha menunggu bus di halte dekat sekolahnya, Alisha mngenakan jaket dan dia sudah melepas attribute- attribute anehnya.


Tidak lama ada bus yang berhenti di halte tersebut, Alisha segera masuk bus tersebut dan mencari tempat duduk yang kosong. Alisha duduk seorang diri, suasana bus sedikit lengang. Seperti kebiasaan sebelumnya, sepulang sekolah Alisha tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan membantu Mamanya yang mempunyai toko bunga yang tidak begitu jauh dari sekolahnya.


Saat bus berhenti di Terminal, barulah Alisha turun dan berjalan menuju toko bunga Mamanya. Sudah terlihat papan nama “Toko Bunga Gladior” yang sangat jelas. Alisha langsung masuk ke toko tersebut, meletakkan tas sementaranya, tidak lupa mengganti baju terlebih dahulu dan segera membantu Mamanya yang sedang melayani pembeli.


Jika sudah seperti ini, Alisha pasti akan sangat sibuk. Dia baru bisa istirahat ketika sore hari tiba, Alisha duduk di sebuah kursi dan mengibaskan tangannya ke wajah. Tetapi, kegiatannya terhenti saat melihat seseorang masuk toko bunga Mamanya. Seorang lelaki sedang berdiri di depan deretan bunga- bunga mawar, Mamanya berjalan mendekati lelaki tersebut.


“Ma, biar Alisha aja.” Cegah Alisha. Bu Fira pun menurut dan kembali ke tempatnya. Alisha berjalan kearah lelaki tersebut.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Alisha.


Lelaki tersebut menoleh dan tersenyum kearah Alisha, seketika Alisha terpaku melihat senyuman tersebut.


“Ehm, saya lagi nyari mawar putih. Ada ?” Tanya lelaki tersebut, suaranya membuat Alisha linglung.


“Yang putih habis, adanya merah.”


“Ya udah, nggak apa- apa. Beli satu ya?”


Alisha hanya mengangguk dan mengambil setangkai bunga mawar merah yang sudah dibungkus dengan rapi. Setelah membayar, lelaki tersebut berjalan meninggalkan toko.


Alisha masih memperhatikan lelaki tersebut. Walau pun lelaki tersebut memakai jaket, tapi jika dilihat dari celana yang dipakai, dia pasti anak SMA. Menjadikan Alisha bertanya- tanya, siapakah namanya? Kira- kira sekolah dimana? Kelas berapa? Dan masih banyak lagi pertanyaan- pertanyaan yang menghinggapi kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2