
Alisha sedang duduk di taman seorang diri dengan sebuah headphone terpasang dikedua telinganya. Alisha menikmati suasana di taman yang sepi pengunjung ini, biasanya ada beberapa orang yang lalu lalang disini. Sesekali Alisha bersenandung kecil. Namun, pandangannya seketika terhenti saat melihat ada seseorang yang berdiri tidak jauh dengan dirinya. Alisha terfokus pada orang tersebut, orang itu berdiri membelakanginya dan tubuhnya sedikit tertutup oleh pohon di depan Alisha. Alisha mengalungkan headphonenya dan berjalan mengendap- endap, lalu berdiri tepat di balik pohon. Alisha mengenal orang itu dan dia sedang bersama dengan seorang perempuan. Alisha sedikit mendengar pembicaraan mereka.
“Ngapain lo ngajak gue kesini?” Tanya anak lelaki itu yang ternyata adalah NN.
“Udah lama ya kita nggak jalan bareng lagi.” Kata si anak perempuan.
Mereka berdua masih mengenakan seragam sekolah dan seperti biasa NN memakai jaket.
“Iya, semenjak kita putus.” Gumam NN dengan pandangan menerawang.
“Dan gue berharap, kita bisa kayak dulu lagi. Sekarang gue udah sadar, betapa bodohnya gue ninggalin cowok sebaik lo.” Aku perempuan itu dan menunduk.
Tiba- tiba saja Alisha merasa dadanya sesak mendengar pengakuan perempuan itu. Alisha memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut, dengan tergesa- gesa dia segera pergi menjauh. Alisha kembali memasang headphone dikedua telinganya.
Alisha berusaha menahan rasa sesak didadanya yang terus menjadi, matanya memanas. Alisha terduduk di bangku taman dan menunduk. Dibiarkannya air mata jatuh dipipinya, Alisha berusaha menumpaskan rasa sesak didalam dada. Memang Alisha tidak tahu menahu apa itu cinta, tapi mengapa rasanya sesakit ini? Alisha hanya ingin dekat dengan lelaki itu, tapi mengapa selalu ada halangan? Walau sepertinya sekarang Alisha berharap lebih padanya.
Apa ini adil bagi Alisha? Alisha tidak berniat untuk pulang tepat waktu. Dia sengaja pulang agak malam, ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu. Tiba- tiba saja kenangan- kenangan manis antara dirinya dan lelaki tersebut berputar diotaknya tanpa permisi. Semakin deraslah air mata Alisha membanjiri pipinya.
Setelah merasa lebih baik, Alisha memutuskan untuk pulang ke rumah. Hari sudah sore, matahari pun sedang pulang keperaduannnya. Langit berwarna jingga, terlihat sangat indah. Alisha pulang dengan berjalan kaki, jarak taman ini dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Alisha masih mengenakan headphonenya, dia menundukkan kepala. Wajahnya sendu dan matanya masih ada sisa- sisa air mata. Alisha berjalan masih melamun, pikirannya melayang entah kemana.
__ADS_1
Tiba- tiba lamunannya buyar oleh suara klakson motor yang berada tepat dibelakangnya. Karena terkejut, Alisha langsung berjalan ke pinggir jalan. Motor itu kini berhenti tepat di sebelah Alisha. Orang yang mengendarai motor itu membuka helmnya.
“Alisha? Ngapain lo disini?” Tanya Akbar melepas helmnya. Alisha hanya diam dan menundukkan kepala. “Lo kenapa?” Tanya Akbar lagi, merasa heran. Alisha masih bungkam.
“Naik!” perintah Akbar dan sedikit menarik Alisha agar naik kemotornya.
Akbar dan Alisha duduk di atas pasir putih pantai, menikmati semilirnya angin laut yang berhembus sore ini. Langit sudah semakin gelap, matahari sudah benar- benar terbenam digantikan oleh sang dewi malam. Mereka berdua masih bungkam suara, Alisha menundukkan kepala. Sedangkan Akbar memandang jauh ke tengah laut.
“Gue sering ke sini kalau lagi ada masalah.” Kata Akbar memulai pembicaraan.
“Tapi, entah kenapa gue sempet ngelupain tempat ini. Dan saat ngeliat keadaan lo tadi, tiba- tiba aja gue ingat tempat ini.” Lanjutnya.
“Lo tau gue lagi ada masalah?” Tanya Alisha lirih dan mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
“Gue tau.” Jawab Akbar pendek.
‘Gue tau karena sering merhatiin lo, Al.’ batin Akbar.
“Gimana ya rasanya jika kita cinta dengan seseorang dan orang yang kita cintai nggak tau itu?” Tanya Alisha dengan senyum getir. Akbar menoleh Alisha sekilas, lalu kembali manatap ombak yang saling berkejaran.
__ADS_1
“Maka dari itu, lebih baik dicintai dari pada mencintai.” Jawab Akbar.
“Tapi, kalo kita nggak cinta sama dia?”
“Belajarlah mencintai dia.”
Alisha terdiam, mencerna kata- kata Akbar barusan.
Sedetik kemudian Alisha mengembangkan senyum samar. Walau begitu, Akbar tetap bisa melihat seulas senyum Alisha itu.
“Buat apa lo suka sama seseorang kalau orang itu belum tentu suka lo. Cuma bisa sakit ati, makan ati, dan lainnya yang berhubungan dengan ati.” Kata Akbar.
“Bisa aja lo. Eh, lihat! Bintangnya banyak banget.” Ucap Alisha mendongakkan kepalanya dan matanya berbinar melihat jutaan bintang menghiasi langit malam dengan ditemani rembulan.
“Jangan- jangan lo nggak pernah lihat bintang.” Tebak Akbar.
“Jarang banget, kalau di belakang rumah gue langitnya gelap. Bintangnya nggak terlalu telihat, tapi ini banyak banget.”
Senyum Alisha mengembang menatap langit penuh bintang. Akbar tidak dapat mencegah bibirnya untuk ikut tersenyum.
__ADS_1