
Alisha baru saja pulang dari sekolah, dia sedang duduk di toko bunga Bu Fira. Alisha duduk di kursi dekat kaca besar yang mengarah keluar toko. Jarinya mengetuk- ngetuk meja, pikirannya melayang entah kemana. Alisha hanya berdua dengan Bu Fira, sedangkan Varo langsung pulang ke rumah. Akbar juga sedang tidak bisa mengajari matematika sekarang, itu membuat Alisha sedikit bernafas lega. Tiba- tiba ponselnya berdering membuat lamunan Alisha buyar. Cepat- cepat Alisha menjawab telepon itu.
“Halo?”
“Al, gue pesen bunga mawar.” Ucap seseorang langsung, mendengar suara tersebut Alisha segera tahu siapa orang itu.
“Iya, gue antar kemana?”
“Ke makam yang waktu itu, gue udah disana. Gue tunggu.”
“Tapi…” ucapan Alisha terputus karena sambungan sudah terputus. Lelaki itu langsung memutuskan teleponnya.
Alisha pun melangkah menuju kumpulan bunga mawar putih dan membuat sebucket bunga seperti biasa. Bu Fira mengahmpiri Alisha dan duduk di sebelahnya.
“Cowok itu pesan bunga ya?” Tanya Bu Fira.
“Iya, Alisha suruh ngantar ke alamat yang waktu itu. Masalahnya tempat itu agak jauh, nggak ada angkutan masuk.” Jelas Alisha masih dengan kegiatannya.
“Mau telpon Kak Varo? Biar dia yang ngantar?”
“Yang pesan udah ada di tempat itu, takut nggak keburu kalau sama Kak Varo.”
“Terus?”
“Terpaksa Alisha yang antar sendiri.”
“Nanti Mama telpon Kak Varo biar jemput kamu.”
“Kalau gitu Alisha berangkat sekarang ya?”
“Hati- hati di jalan.” Pesan Bu Fira. Alisha hanya mengangguk sebagai jawaban.
Alisha baru turun dari angkot, Alisha berjalan masuk ke sebuah jalan yang waktu itu dia lewati bersama Varo. Alisha berjalan agak cepat agar cepat sampai, selain itu juga agar bunganya tidak layu sampai tujuan.
__ADS_1
Ponselnya kembali berdering, Alisha merogoh saku roknya dan mengambil benda kotak itu. Alisha menekan tombol hijau di layar dan mendekatkan ponsel pada telinganya. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk menyapa si penelepon, kini mulutnya kembali terkatup.
“Al, lo udah dimana?” Tanya langsung si penelepon, suaranya agak keras.
“Udah jalan, tapi masih agak jauh. Disini nggak ada ojek ya?”
“Emang nggak ada. Cepet ya gue tunggu.”
Kembali telepon tersebut diputus secara sepihak. Alisha menatap layar ponselnya dengan alis berkerut, tidak biasanya lelaki itu bicara seperti ini. Teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu di taman, entah mengapa sempat ada pikiran terbesit diotak Alisha untuk mundur teratur menjauh dari laki- laki itu. Alisha tersadar jika lelaki itu sedang menunggunya, dia menggelengkan kepalanya pelan. Alisha memutuskan untuk berlari menuju makam tersebut.
Alisha baru memasuki area makam dan mencari keberadaan lelaki itu. Dia melihat lelaki itu duduk di depan sebuah makam dan termenung. Di lihat dari penampilannya lelaki itu benar- benar sedang kacau, rambutnya yang acak- acakan juga wajahnya yang keruh membuat Alisha ragu untuk mengusiknya. Masih dengan nafas terengah- engah dan keringat yang membanjiri keningnya, Alisha mendekati lelaki itu.
“Ehm, sorry lama. Ini bunganya.” Ucap Alisha memberikan sebucket mawar putih itu. Lelaki itu menoleh, dari sorot matanya yang tidak seperti biasanya Alisha menjadi merinding.
“Gue udah hampir kutuan disini.” Jawab lelaki itu masih dengan sorot mata yang sama, seketika Alisha menundukkan kepalanya. Lelaki itu memperhatikan bunga yang berada ditangannya.
“Maaf, bunganya sedikit layu. Soalnya tadi gue nyari ojek atau tumpangan nggak ketemu.” Jelas Alisha masih dengan wajah tertunduk, dia tidak mengerti kenapa lelaki itu marah kepadanya.
“Kok lo marah ke gue sih? Kan gue udah minta maaf. Lo bener- bener nggak ngehargain banget.” Kata Alisha yang tidak tahan dengan sikap lelaki itu, emosinya akan meledak jika dia dibentak tanpa alasan.
“Lo tau? Gue bela- belain lari dari jalan raya sampai tempat ini dan ternyata yang gue dapet cuma ini? Gue berasa kayak nggak ada harganya.” Lanjut Alisha berapi- api, matanya sudah berkaca- kaca.
Lelaki itu mendenguskan nafas kesal, emosinya masih belum stabil. Kedua tangan lelaki itu mengepal kuat, dia berusaha mengatur nafasnya.
“Sorry, gue lagi ada masalah yang menyangkut Nyokap.” Ungkap lelaki itu masih dengan nada bicara kesal.
“Terus lo marah- marah ke gue gitu? Gue kesini cuma ngantar pesanan lo, bukan buat jadi pelampiasan amarah lo.” Balas Alisha masih dengan nada tidak terima.
“Oke- oke, gue minta maaf. Gue tadi kalap, gue emang jadi sensitif kalau menyangkut soal Nyokap. Gue juga nggak bermaksud ngelampiasin emosi gue ke elo.” Kata lelaki itu mulai melunak.
Alisha masih menampakkan wajah kesalnya, dia sudah lelah hari ini gara- gara kejadian tadi. Lelaki itu meletakkan mawar putih itu diatas makam Mamanya, wajahnya seketika sendu. Alisha yang melihat hal tersebut menjadi lunak, perasaan emosi mulai perlahan memudar. Alisha ikut berjongkok, tapi dia menjaga jarak dengan lelaki itu. Sesaat mereka berdua diam, larut dalam pikiran masing- masing.
Angin sore yang berhembus disini menggugurkan daun dan bunga kamboja yang banyak tumbuh.
__ADS_1
“Gue masih terus terbayang- bayang sosok Nyokap, gue nggak tau harus gimana lagi.” Gumam lelaki itu, tatapannya kosong.
“Gue siap dengerin semua cerita lo.” Kata Alisha lirih.
“Gue kecewa sama Bokap yang udah nggak peduli lagi, sikapnya selalu buat gue naik darah. Gue bener- bener benci orang itu. Itu sebab mengapa gue jarang kelihatan di rumah, rumah yang seharusnya nyaman jadi berasa neraka.” Cerita lelaki itu, kini sorot matanya sarat kemarahan.
“Gue tau apa yang lo rasain.” Gumam Alisha, pandangannya menerawang ke angkasa.
“Lo nggak tau apa yang gue rasain sekarang, karena nggak ada yang tau persaaan gue. Dan nggak ada yang bisa paham.” Ucap lelaki itu lagi dengan nada tinggi.
Namun, kali ini Alisha tidak membalas. Dia sibuk dengan pikiran yang tiba- tiba saja berkecamuk di dalam pikirannya. Dadanya terasa sesak, Alisha mendongakkan kepalanya agar air mata yang menggenang tidak meluncur membasahi pipinya. Menyadari Alisha hanya diam saja, lelaki itu menoleh dan mendapati Alisha hanya diam. Sejenak suasana kembali hening.
Tiba- tiba ada sebuah pesan masuk di ponsel Alisha, Alisha membaca pesan singkat itu. Dari Bu Fira yang mengatakan bahwa Varo sudah menjemput dirinya. Alisha menggigit bibir bawahnya dan merasa bersalah pada Varo.
“Gue balik dulu.” Kata Alisha sesaat setelah membaca pesan itu.
Alisha dan lelaki itu berdiri di depan pintu masuk makam, sudah berkali- kali lelaki itu menawarkan untuk mengantar Alisha pulang. Sebenarnya Alisha tidak keberatan mengingat yang akan menjemputnya Varo, tetapi Alisha tetap menghargai Varo yang akan menjemputnya. Lelaki itu menunggu sampai Alisha dijemput.
“Beneran nggak mau gue antar?” tawar lelaki itu untuk kesekian kalinya.
“Nggak, kasihan Kak Varo udah jauh- jauh jemput.” Jawab Alisha.
Tidak lama ada sebuah motor berwarna merah menyala berhenti tepat di depan Alisha dan lelaki itu. Orang itu membuka kaca helmnya, Alisha mengerutkan keningnya.
“Loh katanya Kak Varo yang jemput, kok elo?” Tanya Alisha.
“Tadinya, tapi kebetulan gue lagi ada di rumah lo. Terus dia ngoper ke gue, sebagai junior gue nggak mau bantah yang lebih tua.” Jelas Akbar, ternyata yang menjemput Alisha adalah Akbar.
Alisha sedikit bernafas lega, karena tadi dia sudah terbayang- bayang kejadian beberapa tahun silam.
“Kalau gitu gue balik dulu ya?” pamit Alisha pada lelaki itu yang dari tadi hanya menatap dua orang didepannya.
Lelaki itu mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumnya. Alisha naik ke motor Akbar. Akbar membunyikan klakson sebelum menggas motornya. Lelaki itu hanya melambaikan tangannya. Lelaki itu masih berdiri ditempat dan memandangi kepergian Alisha. Seketika lelaki itu teringat akan ekspresi Alisha saat dia berkata jika dirinya sangat membenci Papanya.
__ADS_1