What Is Your Name?

What Is Your Name?
Akbar


__ADS_3

Sejak kejadian di sekolah beberapa waktu yang lalu, Alisha semakin sering bertemu dengan lelaki itu. Alisha tidak akan pernah bisa lupa saat dimana lelaki itu melindunginya, tapi Alisha belum bisa tersenyum senang mengingat kejadian saat lelaki itu memutuskan hubungan dengan wanita yang waktu itu. Dari sorot matanya Alisha bisa menebak bagaimana perasaan lelaki itu pada saat itu. Benar, dari sorot mata lelaki itu menunjukkan bahwa dia masih sangat berharap dapat kembali dengan wanita itu.


“Melamun mulu lo, mikirin apa?” Tanya Akbar yang tiba- tiba saja datang entah dari mana, membuat Alisha terbangun dari lamunannya.


“Hah?  Lagi mikir, eh enggak. Nggak mikir apa- apa.” Jawab Alisha gelagapan.


“Sepulang sekolah lo mau langsung ke toko?”


“Iya, kenapa?”


“Lo mau temenin gue beli sesuatu nggak?”


“Beli apa?”


“Maka dari itu, gue masih bingung mau beli apa. Jadi gue ajak lo.”


“Gue pikir- pikir dulu.”


“Entar gue traktir es krim deh.”


“Oke, pulang sekolah kan?” Tanya Alisha semangat begitu mendengar Akbar akan mentraktirnya es krim.


Akbar hanya mendengus, lalu tersenyum samar kearah Alisha.


Sesuai janjinya tadi, sepulang sekolah Alisha menunggu Akbar di pintu gerbang sekolah. Wajahnya terlihat berseri- seri, karena sebentar lagi dia akan mendapat es krim gratis. Tidak lama kemudian Akbar muncul bersama beberapa temannya. Alisha pun segera menghampiri Akbar yang menuju tempat parkir. Alisha sudah berdiri di belakang Akbar, tapi Akbar tidak menyadari kehadiran Alisha. Teman- teman Akbar sudah mengambil motornya masing- masing. Alisha menepuk bahu Akbar keras, membuat Akbar terlonjak kaget.


“Untung aja gue nggak kena serangan jantung. Lo bisa lebih lembut sedikit nggak sih?” dengus Akbar kesal dengan perilaku Alisha.


“Ayo, cepet! Katanya mau traktir es krim.” Ucap Alisha menghiraukan perkataan Akbar.


“Enak aja, traktiran es krim itu cuma imbalan setelah lo bantu gue beli kado.” Ingat Akbar.


“Iya, iya. Gue nggak lupa kok.”


Mereka berdua pun menuju salah satu Mall yang tidak terlalu jauh letaknya dari sekolah. Selama perjalanan Alisha menikmati hembusan angin sore yang menerpa wajahnya. Akbar mengendarai motor tidak terlalu kencang, karena memang suasana jalanan yang sedikit ramai.


Sesampainya mereka di Mall itu, Akbar langsung mengajak Alisha ke salah satu toko yang menjual berbagai pernak- pernik menarik. Alisha hanya berjalan mengikuti Akbar. Mereka berdua memasuki toko tersebut, toko itu sedang sepi pembeli. Akbar sedang mencari- cari barang yang cocok untuk diberikan kepada seseorang, sedangkan Alisha tertarik pada rak yang berisi topi. Dia sibuk memperhatikan topi- topi yang dipajang di rak tersebut. Ada sebuah topi yang menarik perhatiannya, berwarna biru muda dengan corak putih. Alisha mengambil topi itu untuk melihat harganya.


“Sayangnya gue nggak bawa uang lebih.” Gumam Alisha pada dirinya sendiri dan mencoba memakai topi itu, dia melihat dirinya dipantulan cermin yang berada tidak jauh dari situ.


“Ngapain lo disitu? Seharusnya lo kan bantu gue.” Tanya Akbar membuat Alisha spontan melepas topi itu, Akbar melirik topi yang dipegang Alisha.


“Bagus tuh topi, cocok buat lo. Lo beli aja!” komentar Akbar.

__ADS_1


Alisha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya membuat Akbar menautkan alisnya. Alisha mengembalikan topi itu pada tempat semula.


“Ngomong- ngomong lo beli kado buat siapa?” Tanya Alisha. Akbar diam sejenak.


“Sepupu gue.”


“Cewek atau cowok?”


“Ehm, cewek.”


Alisha berpikir sejenak mengetuk- ngetukkan jarinya di dagu seperti orang yang tengah serius memikirkan suatu hal yang amat sulit dipilih. Akbar menunggu jawaban Alisha dengan sabar.


“Aha! Gue tau, ayo ikut gue!” pekik Alisha tiba- tiba dan langsung menarik tangan Akbar menuju sebuah rak yang memajang berbagai hiasan.


Semenjak dari toko tersebut Akbar telihat agak pendiam. Memang benar Akbar tidak melanggar janjinya untuk mentraktir Alisha es krim, buktinya sekarang mereka berdua sedang duduk di sebuah kedai es krim. Akbar juga sangat puas dengan pilihan kado yang akan diberikan kepada sepupunya itu, tapi dia masih memikirkan sesuatu.


Akbar melirik kearah Alisha yang sedang menikmati es krim coklatnya. Tiba- tiba saja Alisha mendongakkan wajahnya dan melihat kearah Akbar, membuat Akbar terkejut dan langsung memandang es krimnya.


“Kok nggak dimakan? Sayang tuh es krimnya mencair.” Kata Alisha masih menyendok es krimnya dan memasukkannya ke dalam mulut.


“Ehm, Al. gue ke toilet dulu ya? Lo tunggu disini!” ucap Akbar dan pergi sebelum Alisha menjawab ucapan Akbar tadi, Alisha hanya mengangkat bahu dan kembali menikmati es krimnya.


***


Mungkinkah sudah ada yang membeli topi tersebut? Akbar pun menghampiri seorang pramuniaga toko tersebut.


“Maaf, Mbak. Topi yang berwarna biru muda dengan corak putih yang ada disitu udah ada yang beli ya?” Tanya Akbar.


Pramuniaga itu terdiam mencoba mengingat- ingat tentang topi yang ditanyakan Akbar itu. Akbar menunggu sampai ingatan pramuniaga itu kembali, dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari topi itu.


“Seingat saya, tadi ada yang membeli topi dengan ciri- ciri yang disebutkan tadi. Ya, saya ingat seorang laki- laki seusia Mas ini.” Jelas pramuniaga itu.


“Ada topi yang sama kayak gitu lagi nggak, Mbak?”


“Maaf, tapi topi itu hanya tinggal satu. Kalau mau masih ada warna lain dengan model yang sama.”


“Ehm, nggak apa- apa. Kalau begitu saya permisi.” Pamit Akbar. Pramuniaga itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Akbar masih memikirkan topi itu, dia berjalan gontai menuju kedai tempat Alisha menunggu. Sebenarnya dia ingin membeli topi itu untuk diberikan kepada Alisha. Namun, sepertinya keinginan itu pupus, karena nyatanya topi itu sudah tidak berada di toko lagi.


***


Akbar kembali duduk di depan Alisha yang sedari tadi dilihatnya sedang mengetuk- ketukkan jarinya di meja. Es krimnnya sudah habis, bahkan mangkuk es krimnya juga sudah bersih. Hanya ada semangkuk es krim kepunyaan Akbar yang telah meleleh. Menyadari Akbar sudah datang, Alisha mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


“Dari mana aja? Lama banget.” Tanya Alisha.


“Bukannya tadi gue udah bilang sama lo ya?”


“Iya sih, tapi…”


“Lo udah selesai makan kan? Kalau gitu pulang sekarang yuk.” Ajak Akbar memotong perkataan Alisha. Alisha hanya mengangguk.


“Es krim lo nggak dihabisin dulu?”


“Nggak, udah kenyang gue.” Jawab Akbar yang sudah berjalan terlebih dulu. Alisha pun bangkit dari duduknya dan berlari kecil menghampiri Akbar.


Sepanjang jalan menuju pintu keluar Mall, banyak yang memperhatikan Akbar dan Alisha. Kebanyakan yang memperhatikan mereka adalah anak- anak remaja, sepertinya mereka tidak memperhatikan Alisha, melainkan hanya Akbar.


Sebelumnya Akbar dan Alisha menarik perhatian, karena masih mengenakan seragam sekolah dan keluyuran ke Mall. Ternyata pikiran Alisha salah.


“Beruntung banget ya cewek itu, cowoknya ganteng.” Celetuk salah seorang remaja yang berjalan di belakang Alisha dan Akbar.


“Iya, cowoknya kayak artis Jepang.” Balas temannya.


Anak- anak remaja itu berjalan mendahului mereka dan saat berada tepat disamping Akbar mereka sedikit melirik Akbar. Setelah anak- anak itu menjauh, Alisha melirik Akbar untuk melihat ekpresinya sekarang. Ternyata ekspresi Akbar biasa saja, dia terus jalan seperti tidak peduli dengan apa yang diucapkan orang- orang tadi.


‘Emang dia ganteng ya?’ Tanya Alisha dalam hatinya. Alisha hanya mengangkat bahu.


Alisha langsung diantar pulang ke rumah oleh Akbar. Tadinya Alisha meminta untuk mengantarnya ke toko saja, tapi Akbar menolaknya. Akhirnya Alisha tidak berkomentar lagi setelah mendengar alasan Akbar.


“Lagian ini juga udah malam. Paling sebentar lagi juga toko tutup, lo masih punya banyak PR.” Katanya. Namun, memang benar Alisha memiliki sangat banyak PR.


Alisha turun dari motor Akbar, memberikan helm, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat Akbar memanggilnya, dengan terpaksa Alisha menoleh. Alisha terdiam saat melihat wajah Akbar yang terkena sinar lampu, helm Akbar sengaja dilepas karena ingin mengatakan sesuatu pada Alisha.


“Thank’s udah temenin gue jalan- jalan.” Ucap Akbar disertai senyum. Membuat Alisha baru menyadari akan satu hal.


“Kalau gitu gue balik dulu ya? Lo cepet- cepet masuk, diluar dingin.” Pamit Akbar kembali mengenakan helmnya, karena Alisha hanya diam saja Akbar memutuskan tidak menunggu Alisha sampai masuk ke rumah.


Alisha masih terpaku di tempat, walaupun Akbar sudah menghilang di pertigaan. Namun, tidak lama Alisha tersadar dan menggelengkan kepalanya. Tetapi, bayangan wajah Akbar yang terakhir dilihatnya tadi tidak mau hilang dari kepalanya.


“Bener kata orang- orang tadi, kalau lo ganteng.” Gumam Alisha.


“Siapa yang ganteng?” Tanya seseorang mengagetkan Alisha, membuat Alisha langsung membulatkan matanya.


“Kak Varo ganteng ya?” tanyanya.


Alisha bergidik ngeri dan segera masuk ke dalam rumah. Varo hanya tersenyum memandangi Adiknya dan mengikuti Alisha memasuki rumah.

__ADS_1


__ADS_2