What Is Your Name?

What Is Your Name?
Memories of Alisha


__ADS_3

Dalam diam Alisha teringat kejadian beberapa tahun silam, kejadian yang membuatnya merasa sangat bersalah hingga saat ini. Dipandangnya jalan raya yang berada di depan yang terhalang oleh jendela kaca bening toko.


Kedaan toko saat ini sedang sepi, Alisha hanya duduk- duduk sementara Bu Fira memeriksa persediaan bunga dan Varo yang sedang serius dengan laptopnya. Alisha memandangi wajah Kakaknya itu, terbesit kembali perasaan bersalah itu lagi. Kini Alisha tidak lagi memandang jalan raya, dia terpaku pada Varo.


🌹🌹🌹


*Alisha baru kelas lima SD dan Varo kelas tiga SMP. Setiap pagi keluarga kecil ini selalu sarapan bersama, tetapi ini yang membuat Alisha selalu merasa kesal. Ada perasaan benci dan iri pada setiap mereka berkumpul di meja makan. Jika perasaan itu mulai muncul, Alisha hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.


"Pagi!" sapa Varo ceria.


Alisha, Bu Fira, dan Pak Dzaky - Papa Varo dan Alisha - menoleh kearah suara. Mereka menjawab sapaan Varo kecuali Alisha, dia tetap melanjutkan makannnya.


"Bagaimana hasil ulangan kamu kemarin? Ulangan matematika, kan?" Tanya Pak Dzaky langsung begitu Varo duduk di sebelah Alisha.


'Papa mulai lagi deh.' Batin Alisha memutar bola matanya.


Tidak sengaja Varo melihat gerak- gerik adiknya itu, dia tahu bahwa Alisha tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Varo hanya tersenyum kikuk untuk menjawab pertanyaan Pak Dzaky.


"Papa udah bisa nebak, pasti kamu dapat nilai sempurna seperti biasa." Ucap Pak Dzaky bangga. "Setelah kamu lulus, kamu ingin melanjutkan kemana?" Tanya Pak Dzaky sambil menyuap nasi gorengnya.


Varo menyebutkan salah satu dari sekian banyak SMA yang berada di kota ini. Pak Dzaky tersenyum simpul, kini pandangannya beralih pada Alisha yang sedari tadi hanya diam.


"Alisha, Papa harap setelah lulus kamu melanjutkan ke SMP Varo." Kata Pak Dzaky pada Alisha.


Alisha yang sedari menundukkan kepala seketika mendongak. Dari sorot matanya Varo dapat menebak kalau adiknya itu merasa sangat keberatan, dan sorot matanya menyatakan protes.


"Iya, Pa." tapi, hanya itu yang dapat Alisha jawab.


Alisha memang mengakui jika Varo adalah sosok laki- laki yang sempurna. Bagaimana tidak? Dari fisiknya Varo tinggi, kulitnya bersih, gaya rambut yang bisa dibilang keren, juga memiliki senyum yang khas. Dari prestasi yang didapatkannya Varo termasuk kategori siswa berprestasi di sekolah, Varo juga hampir menguasai semua mata pelajaran.


Namun, pada pelajaran matematika Varo sedikit kurang, walau begitu Varo sering mendapat nilai delapan atau Sembilan pada pelajaran tersebut. Dari SD pun Varo selalu terpilih menjadi ketua kelas, selalu di peringkat pertama. Berlanjut pada saat SMP, dia terpilih menjadi ketua OSIS dan menjadi ketua pada bebrapa ekskul di sekolah. Varo juga pernah satu kali melompat langsung ke kelas tiga.


Inilah yang membuat Alisha benci dan iri pada saudaranya, juga membenci Pak Dzaky karena selalu membanggakan Varo. Alisha di paksa untuk masuk sekolah yang sama dengan Varo, dan dia tidak bisa menolak semua titah Pak Dzaky. Walaupun jika Pak Dzaky menanyakan hasil ulangan kepada Varo. Varo tidak pernah memberikan hasil ulangan tersebut pada Pak Dzaky, karena Varo memahami perasaan Alisha.

__ADS_1


Setiap terima rapor Pak Dzaky tidak pernah absen untuk mengambil rapor Varo, tetapi sebaliknya Pak Dzaky tidak pernah mau mengambil rapor Alisha. Selalu Bu Fira yang datang ke sekolah untuk mengambil rapor Alisha, dan yang bertugas untuk memarahi Alisha jika nilai rapornya banyak yang merah adalah Pak Dzaky.


Pernah suatu hari Pak Dzaky menemukan hasil ulangan Alisha yang tidak sengaja beliau temukan di tumpukkan koran ruang tamu. Melihat nilai Alisha yang merah, Pak Dzaky segera menghampiri Alisha yang berada di ruang keluarga bersama Varo. Wajah Pak Dzaky terlihat sangat marah dan kecewa pada Alisha.


"Sha, ini apa?!"


Seketika Alisha menoleh dan mendapati Pak Dzaky menunjukkan selembar kertas itu, tidak hanya Alisha yang menoleh Varo juga ikut menoleh. Mata Alisha kontan melebar melihat kertas itu yang beberapa hari lalu sedang dicarinya.


"Itu..." Alisha tidak tahu harus menjawab apa.


"Sampai kapan kamu mau terus kecewain Papa sama Mama? Papa nggak pernah tau nilai kamu bagus, selalu aja merah. Mau jadi apa kamu nanti?" Pak Dzaky meluapkan semua emosinya.


Alisha hanya bisa menundukkan kepalanya dan menahan sesak di dada.


"Kenapa kamu nggak contoh Kakak kamu yang selalu bisa buat bangga orang tua? Kenapa kamu nggak..."


"Karena Alisha bukan Kak Varo yang semuanya selalu sempurna di mata Papa." Potong Alisha tidak tahan menahan sesak didadanya.


"Di sini ada Alisha, Pa. Sampai kapan Papa nganggap Alisha nggak ada? Semua selalu Kak Varo, Papa selalu merasa bangga sama Kak Varo..."


"Kalau saja kamu perbaiki nilai- nilai kamu, Papa juga akan bangga..."


"Nggak, Papa nggak akan bisa bangga sama Alisha sampai kapan pun. Sikap Papa ke Alisha tidak akan berubah, iya kan?"


Alisha mulai menangis, dia sudah tak mampu memendam semua rasa bencinya. "Makasih, Pa. Papa udah berhasil buat Alisha benci sama Papa." Alisha langsung berlari ke kamarnya dan mengunci rapat pintu kamar.


"Varo kecewa sama Papa." Ucap Varo lirih dan masuk ke kamar.


Pak Dzaky menghembuskan nafas pasrah, Bu Fira hanya mengelus pelan punggung suaminya untuk menenangkannya.


🌹🌹🌹


Alisha berjalan mondar- mandir di depan kelas menunggu kedatangan Bu Fira, hari ini ada rapat orang tua siswa. Rapat sudah hampir dimulai, tetapi Bu Fira belum datang. Alisha makin resah, karena sebelumnya Bu Fira tidak pernah datang terlambat. Hubungan Pak Dzaky dengan Alisha juga belum membaik, dan juga dengan Varo. Karena masalah ini juga menyangkut Varo didalamnya.

__ADS_1


"Mama kemana sih?" gumam Alisha masih berjalan mondar- mandir.


Karena lelah berjalan mondar- mandir, Alisha memutuskan untuk duduk di depan kelasnya sambil sesekali melihat ke gerbang sekolah. Tiba- tiba ada sebuah taksi berhenti di depan gerbang sekolah, tidak lama Varo turun dari taksi disusul Bu Fira. Seketika senyum Alisha mengembang melihat Bu Fira sudah datang. Tidak lama ada seorang guru menghampiri Alisha yang hendak menemui Bu Fira.


"Alisha, kamu dipanggil Mama kamu." Kata guru itu.


Alis Alisha berkerut, tapi dia berjalan mengikuti guru tersebut. Sesampainya di tempat Bu Fira dan Varo berada, Alisha dan guru itu menghentikan langkahnya begitu juga percakapan antara Bu Fira dan kepala sekolah.


"Sha, kamu ikut Mama ya?"


Alisha kembali mengerutkan dahi, diliriknya Varo yang sedari tadi hanya diam padahal biasanya dia akan banyak menceritakan kenangan saat bersekolah disini - Varo juga alumni sekolah Alisha -.


"Kemana, Ma?"


Bu Fira tidak menjawab, dia pamit pada kepala sekolah dan guru yang tadi mengantar Alisha. Mereka bertiga kembali masuk taksi dan menuju ke sebuah tempat. Alisha masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dia juga baru menyadari kalau Varo sepertinya juga bolos sekolah.


Mereka bertiga sampai di sebuah rumah sakit besar di kota ini. Alisha masih heran, mengapa Bu Fira mengajaknya ke rumah sakit. Bu Fira dan Varo berjalan tergesa menuju sebuah ruang, mau tidak mau akhirnya Alisha ikut berjalan cepat mengikuti langkah keduanya.


Mereka bertiga sampai pada sebuah ruangan yang sudah banyak orang disana, Alisha mengenal orang- orang tersebut. Mereka adalah kerabat Alisha, semua wajah terlihat mendung. Bu Fira, Varo, dan Alisha masuk ke ruang itu, bau menyengatlah yang menyambut kedatangan mereka. Disebuah ranjang rumah sakit terdapat sosok ditutup kain putih dari kaki hingga kepala.


Bu Fira segera mendekat dan membuka kain yang menutup wajah hingga depan dada. Melihat wajah yang pucat itu, seketika Alisha mematung di tempat.


Sosok didepannya adalah Pak Dzaky, wajahnya sudah memucat tak ada tanda kehidupan, sekujur tubuhnya dingin dan kaku. Bu Fira sudah tidak bisa lagi menahan air mata yang sedari tadi hendak meluncur. Varo masih berdiri mematung di belakang Alisha, kedua kakak- beradik ini sama- sama diam mematung dengan wajah pucat.


Alisha hampir kehilangan keseimbangan, beruntung Varo segera sadar dan dirangkulnya Alisha agar tidak limbung. Seketika mulut Alisha bergetar, satu tetes air mata jatuh membasahi kedua pipinya semakin lama semakin deras, pandangannya masih terkunci pada sosok terbujur kaku didepannya. Varo juga masih terkunci pada pandangan didepannya.


🌹🌹🌹


Pak Dzaky merasa sangat bersalah karena kejadian beberapa hari yang lalu. Dia tahu bahwa hari ini sekolah Alisha akan mengadakan rapat orang tua siswa. Pak Dzaky memutuskan datang ke sekolah Alisha sebagai permintaan maafnya. Namun, ternyata di jalan Pak Dzaky terjebak dalam padatnya kendaraan yang sedang berjajar di jalan raya.


Pak Dzaky khawatir tidak akan tepat waktu sampai sekolah Alisha. Begitu lampu berubah warna, dengan menginjak gas kuat Pak Dzaky melajukan kendaraannya dengan secepat angin menuju sekolah Alisha. Namun, saat berbelok di sebuah simpangan jalan Pak Dzaky tak mampu mengendalikan laju mobilnya.


Akhirnya, mobil tersebut kehilangan kendali dan menabrak pohon besar. Saat itu juga mobil terbakar, beruntung ada beberapa orang berhasil mengeluarkan Pak Dzaky dari dalam mobil sebelum api membakar habis mobil tersebut. Namun sayang, nyawa Pak Dzaky tidak dapat diselamatkan. Pak Dzaky langsung meninggal di tempat kejadian*.

__ADS_1


__ADS_2