What Is Your Name?

What Is Your Name?
Siapa?


__ADS_3

Hari ini juga seperti hari- hari sebelumnya, setelah pulang sekolah Alisha menuju toko bunga Mamanya. Sekarang Alisha berada di dalam bus, pandangannya mengarah ke luar jendela bus. Saat Alisha mengalihkan pandangannya ke samping, matanya langsung membulat.


Lelaki yang kemarin datang membeli bunga di toko Mamanya sedang duduk seorang diri di samping bangku Alisha. Lelaki tersebut memakai jaket seperti kemarin dan dia memakai celana warna abu- abu.


‘Berarti dia sekolah disekitar sini, kenapa tadi aku nggak perhatiin sih? Kenapa baru sadar sekarang?’ rutuk Alisha dalam hati dan menerka- nerka.


Tanpa sadar, Alisha terus memandang wajah lelaki tersebut. Rasanya dia tidak mau berpaling dari wajah manisnya yang jika tersenyum terdapat dua lesung pipi. Tidak terasa, bus yang ditumpangi Alisha dan lelaki tersebut berhenti di Terminal.


Alisha pun bergegas turun dari bus, saat dia kembali menoleh kearah pintu masuk bus, Alisha sudah kehilangan jejak lelaki tersebut. Namun, dia begitu bahagia hari ini, rasa lelah yang bergelayut pada tubuhnya seketika hilang sudah.


“Mama, hari ini banyak pelanggan ya?” Tanya Alisha begitu sampai toko bunga Mamanya. Bu Fira menoleh dan tersenyum melihat Alisha sudah pulang.


“Alisha ganti baju dulu ya? Nanti Alisha bantu.”


Alisha pun bergegas menuju ruangan Bu Fira dan mengganti bajunya.


Selesai mengganti bajunya, Alisha kembali menemui Bu Fira dan siap membantu melayani pelanggan yang hendak membeli bunga. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat dua orang sedang duduk di salah satu kursi di tempat ini.


“Baru pulang, Sha?” Tanya Varo, orang yang duduk di sebelah Varo ikut menoleh.


“Iya, Kakak tau sendiri kan? Gimana perjuangan Alisha buat sampai di toko Mama.” Jawab Alisha mendramatisir suasana.


“Capek? Ospeknya enak nggak?” Tanya Varo lagi menaik- turunkan alisnya.


“Nggak capek kok.” Jawab Alisha dengan wajah berseri- seri, apalagi dia melihat lelaki yang tadi di bus memasuki toko.

__ADS_1


“Interview-nya nanti lagi ya?” kata Alisha dan berjalan menuju lelaki tersebut.


Varo pun melanjutkan perbincangannya bersama orang yang sedari tadi ditinggalkannya. Tanpa memperdulikan Alisha yang sedari tadi bertingkah tidak sewajarnya.


Alisha menghampiri lelaki tersebut, terlihat lelaki tersebut sedang melihat- lihat bunga mawar. Seperti kemarin, Alisha kini menjadi penasaran, untuk siapakah lelaki tersebut membeli bunga?


“Ada yang bisa saya bantu?” sapa Alisha.


Lelaki tersebut menoleh dan tersenyum kearah Alisha, yang membuat dunia Alisha seakan berhenti sejenak.


“Pasti cari mawar putih.” Ceplos Alisha dan dia langsung menutup mulutnya.


Lelaki tersebut tambah melebarkan senyumnya.


“Iya, hari ini ada kan?”


‘Sa?’ batin Alisha.


Karena hanya huruf itu yang bisa dibacanya. Lelaki tersebut meninggalkan toko bunga Mamanya, Alisha kembali bergabung dengan Kakaknya dan masih memikirkan dua huruf misterius tersebut.


“Sa? Siapa ya? Sapri? Sapi? Atau Saparudin?” gumam Alisha sambil duduk di depan Varo.


Sedangkan Varo dan orang yang duduk disebelahnya hanya mengernyitkan dahinya.


“Ngabsen siapa, Sha?” Tanya Varo.

__ADS_1


“Hah? Bukan siapa- siapa, eh tunggu- tunggu! Kayaknya ada yang familiar dari wajah di samping Kakak.” Kata Alisha memperhatikan orang tersebut.


“Iyalah, dia kan senior kamu. Akbar, sekretaris Osis.” Jelas Varo.


“Kok bisa kenal Kakak?”


“Akbar ini junior Kakak dulu.”


Alisha hanya mengangguk- anggukkan kepalanya, Bu Fira datang ke meja mereka bertiga. Dan menjelaskan sesuatu yang membuat Alisha membulatkan matanya juga syok berat.


Kurang lebih begini penjelasan Bu Fira:


“Karena nilai matematika kamu saat Ujian sangat jelek, jadi Mama memutuskan untuk mencarikan guru les matematika. Dan kebetulan Kakak kamu tau guru yang tepat untuk kamu, ternyata dia juga senior kamu sendiri. Mulai besok sepulang sekolah, kamu dan Akbar sudah bisa mulai pembelajaran. Jadi besok kamu nggak perlu ke toko, kamu fokus ke matematika kamu saja.”


Alisha yang mendengarkan wejangan dari Bu Fira hanya melongo, sejelek itukah nilai Ujian matematikanya? Tapi, kenapa harus Akbar yang akan menjadi guru lesnya. Bukannya tidak mau, tetapi Alisha meragukan Akbar dalam hal ini.


“Ma, memangnya nggak ada guru lain ya?”


“Dia juara satu Olimpiade Matematika tingkat Nasional, nggak usah diraguin lagi.” Celetuk Varo.


Alisha hanya mendengus mendengar celetukkan Kakaknya.


“Tuh, dengar sendiri kan? Pokoknya besok, kamu langsung pulang ke rumah.” Kata Bu Fira.


“Nggak mau, besok Alisha tetap ke sini.”

__ADS_1


Sebenarnya Alisha ingin melihat lelaki tersebut datang lagi ke toko bunga Mamanya besok. Dia tidak mau melewatkan satu hari pun, karena Alisha ingin kenal lelaki tersebut.


__ADS_2