What Is Your Name?

What Is Your Name?
Matematika Huh?!


__ADS_3

Lagi- lagi Alisha mendapatkan nilai di bawah rata- rata untuk mapel matematika. Dan kini dia dipanggil untuk menemui guru matematikanya. Saat semua anak sudah pulang ke rumah masing- masing, Alisha malah masih harus berurusan dengan seorang guru. Beruntung hari ini Akbar memang memberikan waktu untuk Alisha mengerjakan soal yang diberikannya kemarin, jadi dia tidak akan datang. Alisha sudah berada di depan meja guru matematikanya. Masih ada beberapa guru yang belum pulang dan terheran- heran melihat ada Alisha di situ.


“Alisha, apa kamu tidak bosan mendapatkan nilai jelek?” Tanya Bu Kia, entah mengapa hari ini dia terlihat baik.


‘Gue malah berharap nggak pernah ada pelajaran matematika.’ Batin Alisha.


“Baik, kalau begitu untuk memperbaiki nilai kamu Ibu beri soal lagi dan kamu kerjakan di rumah. Besok pagi dikumpulkan di meja Ibu, mengerti?”


“Ngerti, Bu. Kalau begitu sekarang saya boleh pulang?”


“Silahkan!”


Alisha pun keluar dari ruang guru dan dia berpapasan dengan seorang guru yang hendak masuk, guru tersebut menyapa Alisha karena memang mengenalnya.


“Belum pulang, Alisha?” Tanya guru itu, setahu Alisha guru yang sekarang berdiri didepannya adalah guru bahasa Indonesia dan bagian kesiswaan.


“Belum, Pak.”


“Ada keperluan apa ke ruang guru? Ada masalah?”


Alisha menampakkan wajah kesal dan menunjukkan kertas yang berisi sepuluh soal matematika, yang menurut Alisha adalah soal paling sulit di dunia.


“Dapat nilai jelek lagi ya?” tebak guru tersebut, Alisha hanya tersenyum malas.


“Padahal dulu Varo jarang dapat nilai jelek, dia memang anak yang multitalenta. Segalanya bisa, Bapak jadi merasa kehilangan saat dia sudah lulus.” Cerita guru tersebut penuh penghayatan. Alisha memaksakan seulas senyum untuk guru itu.


“Kalau begitu saya permisi, Pak.” Pamit Alisha.


“Titip salam untuk Kakak kamu ya?”


Alisha menyunggingkan senyum dan segera pergi dari tempat itu, setelah jauh ekspresi wajahnya berubah kesal.


Alisha duduk di halte bus dan memandangi kertas yang berisi angka- angka. Dia masih bingung harus bagaimana, sedangkan soal itu harus diberikan pada Bu Kia esok hari. Kalau dia meminta bantuan Varo, pasti Varo akan mengadu pada Bu Fira. Alisha mendengus kesal, wajahnya benar- benar kusut. Alisha benar- benar membenci pelajaran matematika, diremas kertas yang sedang dipegangnya dengan luapan emosi. Namun, seketika ada sebuah nama terbesit dipikirannya.


“Apa gue minta bantuan Kak Akbar aja ya?” Tanya Alisha pada dirinya sendiri.


Dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, belum terlalu sore. Seketika senyum Alisha mengembang.


Dia segera naik ke bus begitu ada sebuah bus berhenti di depan halte. Alisha memutuskan untuk ke rumah Akbar, siapa tahu Akbar akan membantunya. Alisha memasukkan kertas yang sudah lusuh itu ke dalam tas dan dia mengeluarkan sebuah headphone untuk menemani perjalannya. Beruntung Alisha sudah pernah ke rumah Akbar walau sekali, itu pun bersama Varo untuk mengantarkan bunga pesanan Mama Akbar. Alisha juga masih hapal jalan menuju rumah Akbar, jadi dia tidak merasa kesulitan.


Alisha turun di sebuah halte yang tidak jauh dari perumahan dan perumahan itu merupakan dimana Akbar tinggal. Alisha mengalungkan headphonenya di leher dan berjalan menuju sebuah jalan setapak yang lumayan sepi. Alisha terus berjalan, kanan kiri jalan hanya ada tanah kosong yang belum ada bangunannya. Semakin lama mulai ada beberapa rumah, walau masih jarang. Di depan Alisha ada sebuah pos ronda yang disitu banyak anak- anak remaja seumuran Varo sedang duduk- duduk dan mengobrol. Suara tawa mereka terdengar kemana- mana.


Alisha mengenakan headphone dan berjalan lebih cepat saat melewati pos ronda tersebut. Rumah Akbar juga sudah dekat, dia hanya perlu masuk sebuah gang yang sudah terlihat dan semakin dekat. Orang- orang yang berada di pos ronda tersebut sempat melirik Alisha, tapi Alisha hanya menundukkan kepalanya.


Setelah melewati pos ronda tadi, Alisha kembali berjalan seperti biasa. Dia kembali melepas headphonenya dan mengalungkan ke leher. Alisha sudah memasuki gang kompleks rumah Akbar, tadi dia juga sudah mengirim pesan pada Akbar. Alisha bernafas lega saat sudah melihat rumah Akbar dari kejauhan.


“Mau kemana, Neng?” Tanya seseorang.


Membuat Alisha terlonjak kaget, dia langsung menoleh. Alisha menelan ludah, orang- orang yang tadi berada di pos ronda sudah berada dibelakangnya.


‘Sejak kapan mereka mbuntutin gue?’ batin Alisha.


“Sendirian aja, Neng. Kesasar ya?”


Alisha tidak menjawab dan sudah bersiap- siap untuk kabur. Kira- kira ada lima orang dihadapan Alisha kini. Alisha pun langsung berlari menuju rumah Akbar yang sudah dekat. Ternyata orang- orang tadi juga mengejar Alisha.


‘Sial, ini perumahan apa kuburan sih? Sepi amat.’ Batin Alisha sambil terus berlari dan sesekali menengok ke belakang.


Orang- orang itu semakin dekat, Alisha mempercepat larinya. Melihat pintu gerbang rumah Akbar tidak di tutup, Alisha makin mempercepat larinya. Namun, dia tetap memastikan jaraknya dengan orang- orang itu aman.


BRUKK!!


Alisha menubruk sesuatu saat membelokkan kakinya menuju dalam halaman rumah Akbar. Alisha mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang ditabraknya. Matanya membulat saat mendapati Akbar tengah memandang Alisha aneh dan tangannya setengah memeluk Alisha.


“Neng, jangan lari- lari capek.” Ucap salah seorang yang mengejar Alisha dengan nafas ngos- ngosan.


Melihat ternyata orang- orang itu sudah sampai tepat didepannya, Alisha langsung berlindung dbalik tubuh Akbar. Akbar yang tidak mengerti tentang kejadian ini hanya diam, sedangkan orang- orang tersebut sedang mengatur nafas mereka.


“Ini ada apaan sih?” Tanya Akbar kebingungan.


“Itu, tadi minta diantar tapi malah kabur.” Jelas seorang diantara mereka. Mendengar hal itu Alisha langsung melotot.

__ADS_1


“Sembarangan lo ngomong, kapan gue minta dianter lo pada?” Tanya Alisha galak. “Yang ada elo ngejar gue, mau lo apa? Ngajak ribut, iya?”


“Ternyata cantik- cantik galak.”


Alisha kembali mundur ke belakang tubuh Akbar.


“Mending lo pada bubar sebelum gue telpon satpam kompleks depan.” Ancam Akbar dan sudah membawa sebuah ponsel, dia mulai memencet- mencet tombol ponsel itu.


Melihat itu orang- orang tadi langsung lari pontang- panting meninggalkan rumah Akbar. Akbar tersenyum geli melihat orang- orang itu. Kini Akbar beralih pada Alisha yang masih berlindung di balik tubuh Akbar.


“Itu tadi lo beneran mau telpon satpam?” Tanya Alisha.


“Kagak lah, ini juga HP mainan punya adek gue. Tadi gue nemu di deket pohon.”


“Oh.”


Alisha duduk di sofa ruang tamu rumah Akbar, sedangkan Akbar masuk ke dalam entah sedang melakukan apa. Alisha melihat sekeliling, rumah Akbar sangat nyaman dengan halaman banyak terdapat tanaman dan juga terasa sejuk. Akbar kembali menemui Alisha tanpa membawa apapun, Alisha mengerutkan dahinya.


“Gue minta minum dong, haus tadi baru lari- lari” ceplos Alisha.


“Gue belum nawari kali.”


“Nunggu lo tawari keburu dehidrasi gue.”


Akbar mendengus dan kembali masuk, tidak lama dia datang membawa dua gelas berisi air berwarna merah. Tanpa ragu Alisha langsung meminum minuman itu, kini tinggal setengahnya.


“Tumben lo ke rumah gue, ada apa?” Tanya Akbar duduk tidak jauh dari Alisha.


Alisha mengeluarkan kertas yang sudah benar- benar tak berbentuk, korban keganasan Alisha. Alisha memberikan kertas tersebut pada Akbar.


“Gue nggak ngerti, bantuin gue dong. Dikumpulinnya besok lagi.”


Akbar melihat kertas tersebut dan menggelengkan kepala melihat bentuk kertas itu.


“Rumah lo sepi amat, pada kemana?” Tanya Alisha menggoyang- goyangkan gelas yang kini hanya berisi bongkahan es.


“Bokap masih di kantor, Nyokap sama adek gue lagi ada di rumah nenek. Jadi gue disini sendiri.” Jelas Akbar tanpa menoleh, masih berusaha memahami angka- angka yang sulit di baca.


“Lo nggak ada pembantu?”


“Berarti disini cuma ada…”


“Iya, kenapa emang?” Tanya Akbar dan kini menatap Alisha.


Melihat Akbar yang menatapnya, Alisha spontan menundukkan kepala. Tangannya masih memegang gelas yang es-nya pun sudah mencair. Tiba- tiba suasana menjadi canggung, entah mulai kapan saat bertemu Akbar, Alisha menjadi canggung apalagi jika mereka berdua bertemu pandang. Akbar masih menatap Alisha dengan wajah heran, alisnya terangkat.


“Ehm, gue boleh minta minum lagi nggak? Masih haus.” Ucap Alisha berusaha mencairkan suasana.


Akbar tidak menjawab, hanya menunjuk ke gelas yang masih terisi penuh dengan dagunya. Alisha langsung mengambil gelas itu dan meminum sedikit.


“Lo beneran nggak tau cara ngerjain soal- soal ini?”


“Kalau gue tau, gue nggak bakal kesini.”


“Iya sih, ya udah mulai. Cepet keluarin buku lo, mana yang nggak lo paham?”


“Semuanya.” Jawab Alisha menghembuskan nafas kesal.


“Bukannya udah pernah gue ajarin semua?”


“Tapi, gue belum paham.”


“Coba lo buat dulu!”


Akhirnya Alisha hanya bisa menurut, dia mencoba menjawab beberapa soal dengan mencocokkan rumus yang ada di buku catatannya.  Alisha mencoret- coret kertas buram, tetapi tetap tidak menemukan jawabannya. Akbar hanya memperhatikan Alisha yang sedang mencoba mengerjakan soal- soal yang menurutnya tentu bukan apa- apa. Alisha sudah menghabiskan minuman di gelas yang seharusnya milik Akbar.


Beberapa kali Akbar mendengar Alisha mendengus kesal, Akbar hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Alisha kini. Tidak lama Alisha menyandarkan punggungnya pada sofa dan mengacak- acak rambutnya.


“Gue nyerah, cuma ini yang bisa gue buat dan gue yakin itu pun juga salah semua.” Kata Alisha frustasi.


Akbar mengambil kertas diatas meja yang berisi jawaban Alisha, dia melihat untuk memeriksanya. Alisha hanya menjawab tiga soal dari sepuluh soal yang diberi, dan yang jawabannya benar hanya satu soal itu pun hanya menggunakan rumus sederhana. Akbar menghembuskan nafas pelan.

__ADS_1


“Gue kasih rumus yang lebih gampang, lo tinggal cocokin angkanya aja.” Ucap Akbar dan mencoret- coret sesuatu di kertas, Alisha hanya memperhatikan tangan Akbar yang sangat lincah menari- nari diatas kertas.


“Nih! Kalau masih nggak bisa, tau deh harus gimana lagi.”


Alisha menerima kertas itu, melihatnya, dan mencoba membuatnya. Kali ini Akbar tidak ingin mengganggu konsentrasi Alisha, dia memutuskan masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu. Alisha terus berusaha mengerjakan soal tersebut, otaknya benar- benar bekerja keras kali ini.


“Akhirnya selesai.” Pekik Alisha senang.


Akbar yang tengah berada di dapur berlari menuju ruang tamu, karena mendengar Alisha berteriak tadi. Saat sampai di ruang tamu, Akbar melihat Alisha sedang tersenyum lebar dan menunjukkan hasil kerjanya pada Akbar. Akbar menerimanya dan memeriksa jawaban Alisha, kali ini Alisha menjawab semua soal yang diberikan Bu Kia. Akbar menyunggingkan senyumnya, karena Alisha berhasil menjawab soal tersebut dan tidak ada yang salah.


“Bener semua. Dari tadi gini, kek. Kan gue nggak perlu ikutan pusing.” Kata Akbar.


Alisha hanya cengar- cengir memamerkan giginya. Tiba- tiba ada bau yang tidak enak masuk ke dalam penciuman Alisha.


“Bau apaan nih? Tadi lo ngapain?” Tanya Alisha.


Akbar teringat sesuatu dan langsung berlari menuju dapur. Alisha berjalan mengikuti dari belakang menuju dapur.


“Lo masak?” Tanya Alisha.


“Tadinya sih, karena gue laper. Gosong deh.” Jawab Akbar mengangkat panci dari kompor dan menaruhnya di washtaffel.


“Gue juga laper sih, masak lagi dong. Gue belum makan nih.”


“Enak aja, berhubung ada lo. Jadi lo yang masak.”


“Oke, lo tunggu aja di meja makan. Gue masakin lo masakan paling enak.”


Alisha mendorong Akbar menuju meja makan dan mendudukkannya di kursi. Akbar hanya menurut dan tersenyum samar.


Alisha mulai memasak, dia merebus air. Akbar yang melihat gerak- gerik Alisha dari meja makan terus menyunggingkan senyumnya. Entah mengapa saat ini dia merasa bahagia, mungkinkah karena ada Alisha disini. Padahal sepulang sekolah tadi, Akbar terus merutuk karena dia di rumah seorang diri. Dan saat ini Akbar menarik kembali rutukkannya. Melihat Alisha berjalan mendekatinya, Akbar langsung merubah ekspresi wajahnya seperti biasa. Alisha membawa dua mangkuk yang entah apa isinya. Salah satu mangkuk itu diletakkan di depan Akbar.


“Nih, hasil masakan gue.” Ucap Alisha bangga. Akbar pun menundukkan kepala untuk melihat apa yang dimasak Alisha.


“Mie rebus?” Tanya Akbar tidak percaya.


“Iya, karena gue cuma bisa masak itu.” Jawab Alisha polos. “Yang penting makan.”


Alisha langsung melahap makanannya, sesekali dia meniupnya karena masih panas. Akbar pun ikut makan, sesekali dia memperhatikan Alisha makan.


“Eh, iya. Lo kenal sama anak laki- laki yang waktu itu pernah jadi salah satu panitia acara pensi? Lo tau namanya?” Tanya Alisha di tengah- tengah kegiatan makannya. Akbar menghentikan kegiatannya sejenak, lalu dia mencoba bersikap seperti biasa.


“Anak cowok yang mana? Bukannya sebagian panitia acara kemarin cowok?” Tanya Akbar, tapi nadanya terdengar tidak biasa.


“Ehm, yang waktu itu pernah ke toko bunga. Lo tau namanya?”


Akbar terdiam, selera makannya seketika menghilang. Akbar tidak menjawab pertanyaan Alisha, lebih tepatnya tidak mau menjawab. Karena jika Alisha dekat dengan laki- laki itu, maka Akbar akan kehilangan kesempatan untuk bersama Alisha.


“Kok diem?” Tanya Alisha kembali menyendok mie- nya. Akbar bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dapur. “Mau kemana?”


“Ambil minum.” Jawab Akbar cuek.


Cukup lama Akbar di dapur, entah apa yang dilakukannya. Alisha sudah menghabiskan mie- nya dan menunggu Akbar. Akbar kembali dengan dua gelas air putih ditangannya, satu gelas ia sodorkan pada Alisha tanpa mengucapkan apapun. Akbar kembali duduk di depan Alisha, meminum air putih dan mendorong mangkuk mie- nya ke tengah meja.


“Lo nggak makan?” Tanya Alisha heran. “Atau jangan- jangan nggak enak ya?”


Akbar mendongakkan kepalanya melihat ekspresi Alisha yang keheranan. Lalu Akbar kembali menundukkan kepala menatap gelasnya.


“Enak kok, gue cuma…”


“Kalau gitu buat gue aja ya? Sayang kan kalau nggak dimakan.” Potong Alisha dan langsung mengambil mangkuk Akbar.


“Lo belum kenyang?” Tanya Akbar tidak percaya melihat Alisha yang memakan mie- nya. Alisha hanya menggeleng dan terus makan.


Akbar mengantar Alisha pulang, cukup lama Alisha berada di rumah Akbar. Entah mengapa dia merasa sangat nyaman berada di rumah Akbar. Mungkin karena suasananya yang nyaman dan sepi tidak ada suara bising. Akbar langsung mengantar ke rumah Alisha, tapi rumah tersebut masih terlihat sepi.


“Thank’s, udah antar gue. Juga udah bantuin gue.” Ucap Alisha setelah turun dari motor Akbar.


“Hmm, rumah lo sepi? Masih pada di toko ya?”


“Mungkin, lo mau mampir dulu?”

__ADS_1


“Lain kali, rumah gue juga nggak ada orang.”


Alisha hanya mengangguk dan tersenyum. Akbar pun menggas motornya dan berjalan menjauhi rumah Alisha.


__ADS_2