
Sekarang Alisha sudah duduk berhadapan dengan Akbar, dimeja juga sudah banyak tumpukan buku- buku dengan sampul bertuliskan matematika. Alisha hanya membuka- buka bukunya malas dan sama sekali tidak dibacanya. Melihat tingkah Alisha, Akbar pun langsung memberi lima soal pada Alisha.
"Nih, kerjain! Daripada bengong." Kata Akbar dan memberikan kertas yang berisi soal- soal.
Alisha membaca satu demi satu soal yang diberikan Akbar. Dan seterusnya yang membuat Alisha membulatkan matanya.
"Susah- susah banget." Keluh Alisha.
"Jangan banyak komentar, cepet kerjain!" perintah Akbar dan dirinya membaca buku pelajarannya sendiri.
Alisha hanya bisa pasrah, dia mencoba menjawab soal dari satu- persatu. Tapi, Alisha terlihat sangat kesulitan dalam mengerjakannya, diam- diam Akbar melirik Alisha yang tengah sibuk dengan soal- soal tersebut. Alisha mencorat- coret rumus di sebuah kertas, tapi tetap saja dia tidak menemukan jawabannya.
"Nyerah?" Tanya Akbar yang sedari tadi memperhatikan Alisha hanya mencorat- coret kertas.
Alisha hanya mengangguk pasrah. Alhasil, Akbar dengan sabar menjelaskan berbagai rumus untuk menjawab soal yang diberikannya tadi.
Tiba- tiba pandangan Alisha tertuju pada pintu masuk toko Mamanya, terlihat seorang laki- laki dan juga perempuan memasuki toko. Melihat dua orang tersebut masuk toko, Alisha hendak berdiri untuk menghampiri mereka.
"Mau kemana? Ini belum selesai." Tahan Akbar.
"Sebentar, ada yang mau beli bunga." Jawab Alisha, tapi pandangannya masih terfokus pada kedua orang yang sedang melihat- lihat bunga.
Akbar pun ikut menoleh untuk melihat pembeli yang dimaksud oleh Alisha.
"Duduk! Tuh udah ada Tante Fira." Kata Akbar.
Dan benar, Bu Fira sudah menghampiri kedua orang tersebut. Alisha pun kembali duduk, tapi pandangannya tidak dapat lepas dari sosok lelaki yang berada di sebelah perempuan tersebut.
Mereka berdua terlihat sangat akrab, sepertinya ada sebuah hubungan spesial diantara mereka berdua. Impian Alisha seketika pupus saat melihat mereka berdua, baru saja dia ingin berkenalan dengan lelaki tersebut.
Namun, nyatanya lelaki tersebut sudah bersama dengan perempuan yang Alisha yakini adalah teman satu sekolahnya.
'Belum juga tau namanya. Mungkin memang bukan jodoh.' Batin Alisha dan menghembuskan nafasnya.
Alisha masih menatap lelaki tersebut hingga mereka sudah keluar dari toko, Alisha sempat melihat kalau lelaki tersebut memberikan setangkai bunga mawar putih yang baru dibelinya kepada perempuan tersebut.
Sudah musnah harapan Alisha untuk mengenal lelaki tersebut, tidak akan ada lagi senyumnya yang manis, suaranya yang merdu, dan juga Alisha tidak akan bisa melihat lesung pipi lelaki tersebut.
"Al... Alisha." Panggil Akbar, karena sedari tadi dia merasakan kalau berbicara sendiri.
"Hah? Apa?" Tanya Alisha gelagapan.
"Udah ngerti belum?"
Alisha hanya menggelengkan kepalanya dan nyengir kuda. Membuat Akbar menepuk dahinya dan sedikit kesal dengan Alisha.
***
Hari ini Bu Fira berencana untuk mengadakan bakti sosial bersama dengan beberapa orang yang berada di sekitar rumahnya, kebetulan diadakan hari Minggu. Jadi, Alisha dapat membantu Mamanya, begitu juga dengan Varo. Namun, ternyata Akbar juga mengikuti kegiatan ini.
Yang tadinya Alisha semangat, kini wajahnya malah lesu. Namun tidak berlangsung lama, karena begitu sampai tempat tujuan, Alisha langsung mengembangkan senyumnya. Banyak anak- anak kecil berseliweran didepannya, para rombongan sudah sampai di sebuah panti asuhan yang akan menjadi tempat acara baksos ini. Alisha segera menghambur ke tempat anak- anak yang sedang asyik bermain.
"Halo, adik- adik." Sapa Alisha ceria.
Anak- anak tersebut menoleh dan sedikit terkejut. Mereka langsung berlari berpencaran dan segera masuk ke dalam panti. Melihat hal itu, Alisha terdiam, mengedip- ngedipkan matanya bingung.
"Eh, kok pada lari semua? Dikira gue mau nyulik mereka kali ya?" gumam Alisha.
Dia pun masuk ke dalam bersama dengan yang lain dan ikut membantu membagikan baju- baju layak pakai, juga membagikan makanan.
"Terima kasih, Kak." Ucap seorang anak laki- laki yang kurang lebih berumur empat tahun.
"Iya, sama- sama. Nama Adik siapa?" jawab dan Tanya Alisha.
__ADS_1
"Dito."
"Dito, main yuk?" ajak Alisha.
Dito mengangguk dan mengikuti Alisha berjalan kearah Varo yang berada di taman belakang bersama beberapa anak.
"Kakak bawa gitar kan? Ayo, mainin lagu. Kita nyanyi bareng- bareng." Ajak Alisha.
"Iya, ayo kumpul semua! Kita nyanyi sama- sama." Ajak Varo.
Anak- anak berkumpul dan duduk di depan Varo. Mereka menyanyikan beberapa buah lagu, terkadang hanya Varo dan Alisha yang menyanyi.
"Prook! Prook!"
Suara tepuk tangan menggema di seluruh taman saat Varo dan Alisha selesai berduet. Menyanyikan sebuah lagu dan diiringi petikkan gitar oleh Varo. Memang Varo dan Alisha memiliki hobi menyanyi, sering mereka mengadakan duet maut di rumah.
Dari kejauhan Akbar memperhatikan Varo dan Alisha, samar- samar dia juga mendengar suara merdu Alisha dan juga Varo. Ternyata dibalik kelemahan Alisha terdapat kelebihan yang tak terduga. Mengingat beberapa hari yang lalu, saat Akbar dan Alisha beradu mulut karena masalah soal matematika, Akbar menyunggingkan senyum tipisnya.
Akbar memang tidak terlalu akrab dengan Varo, mereka hanya kebetulan bertemu saat mengikuti ekstrakulikuler sepakbola di sekolah dulu. Dan juga bertemu saat di ruang Osis, saat itu Varo menjabat sebagai waketos - wakil ketua Osis -. Memang dulu Varo adalah sosok senior yang berwibawa dan juga sempurna dimata para juniornya. Namun, sekarang melihat ke Adiknya yang sangat berbeda dengan sang Kakak.
"Bengong mulu lo, Kak!" kaget Alisha pada Akbar.
"Eh, elo. Ngagetin aja, bukannya tadi lo disana ya? Kenapa tiba- tiba udah ada disini aja?"
"Suka- suka gue lah. Bentar- bentar, bukannya hari ini lesnya libur ya? Kok lo disini?"
"Yee, gue emang dari tadi ikut kali."
Alisha hanya membulatkan mulutnya. "Ayo ikut gabung!"
Tanpa persetujuan dari Akbar, Alisha langsung menarik tangan Akbar untuk berkumpul bersama Varo dan anak-anak. Akbar hanya pasrah tangannya ditarik-tarik.
Sepulang dari panti, Alisha tidak sengaja melihat lelaki yang sering datang ke toko bunga Mamanya. Laki- laki tersebut menuju kearah taman seorang diri, dia mengenakan kemeja panjang dengan lengan di tekuk sampai siku dan memakai celana jeans panjang hitam. Telihat begitu keren menurut Alisha, saking terpesonanya Alisha sampai menubruk orang didepannya.
"Maaf, kan nggak sengaja. Gitu aja ngambek." Jawab Alisha.
"Kak, Alisha pulang sendiri aja ya? Alisha ada urusan sebentar." Pamit Alisha pada Varo.
"Mau kemana?" Tanya Varo.
"Cuma sebentar, bilang ke Mama ya? Bye."
Alisha segera membuntuti lelaki tersebut dari belakang sebelum Alisha kembali kehilangan jejak seperti kemarin- kemarin. Melihat keanehan Alisha, Varo hanya menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya sedikit heran, karena gerak- gerik Alisha seperti sedang menguntit seseorang. Namun, Varo tidak ingin mengetahui privasi Adiknya.
Sekarang Alisha bersembunyi di balik pohon tidak jauh dengan tempat lelaki tersebut. Alisha duduk di bawah pohon dan sesekali memantau lelaki tersebut, sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, ada seorang perempuan datang menghampiri lelaki tersebut. Seketika senyum lelaki tersebut mengembang, perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan yang waktu itu datang ke toko bunga Mamanya.
Melihat hal itu, Alisha menjadi tidak semangat dan memutuskan untuk pergi dari tempat persembunyiannya. Namun, langkahnya terhenti saat sang perempuan mengucapkan perkataan yang membuat Alisha membulatkan matanya.
"Kita putus ya?" kata perempuan tersebut.
Alisha segera stand by pada tempatnya untuk mengetahui lebih jelas apa yang dibicarakan selanjutnya. Sebenarnya Alisha sadar kalau yang dia lakukan sekarang adalah hal yang tidak baik.
"Kenapa?"
"Lo udah tau alasannya kenapa gue kayak gini. Lo terlalu sibuk. Gue tau itu udah tanggung jawab Lo sebagai pengurus OSIS, tapi Lo benar-benar nggak peduliin gue lagi. Dan setelah gue pikir-pikir lagi, ini pilihan yang terbaik."
Setelah mengucapkan hal tersebut, perempuan itu langsung pergi. Lelaki tersebut tidak mau kehilangan perempuan tersebut, dia pun mengejar perempuan itu. Merasa sudah aman, Alisha keluar dari persembunyiannya.
Air matanya mengalir deras, tak dia sangka cinta lelaki itu pada perempuannya sangat besar. Mungkin Alisha hanya sekedar sebatas mengagumi, ya... dia hanya kagum. Kagum pada wajahnya, pada senyumannya, pada suara merdunya. Tapi, apakah salah jika Alisha sekedar ingin tahu namanya dan sedikit dekat dengannya?
Tiba- tiba saja lelaki tersebut kembali lagi, karena kaget Alisha pun berniat untuk kembali bersembunyi di balik pohon. Namun, ternyata nasib Alisha sedang tidak beruntung, bukannya berada di balik pohon, dia malah berada di balik tong sampah karena tersandung batu tadi. Beruntung lelaki tersebut tidak menyadari keberadaan Alisha sekarang dan juga tidak menyadari keadaan Alisha sekarang.
"Darah! Hah, berdarah!" pekik Alisha setelah melihat darah yang keluar dari lutut dan juga pergelangan kakinya.
__ADS_1
"Ngapain mbak di tempat sampah?" Tanya seseorang yang membuat Alisha terkejut.
"Eh, itu... tadi lagi nyari... ehm, nyari bunga. Iya tadi lagi nyari bunga, udah dulu ya? Hehehe." Jawab Alisha yang terkesan seperti orang gila yang biasa mengkorek- korek tempat sampah.
"Itu kakinya nggak apa- apa?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah si lelaki yang tadi duduk di bangku panjang.
"Enggak, ini udah sembuh. Hehehe."
Alisha langsung berlari kencang menuju rumahnya, beruntung letak taman tersebut tidak terlalu jauh dari rumahnya. Lelaki tersebut hanya menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah Alisha yang dirasa ajaib.
Alisha terengah- engah saat sampai di depan pintu rumahnya. Dia langsung mendudukkan dirinya di depan pintu, luka yang tadinya tidak terasa kini mulai terasa perih. Tiba- tiba ada yang membuka pintu rumah, karena Alisha bersandar pada pintu alhasil dia terjatuh ke belakang, membuat orang yang membuka pintu terkejut.
"Maaf, mbak. Nggak punya uang receh, kalau mau minta- minta jangan jam segini! Ini udah sore." Kata orang tersebut dengan cepat.
"Kak Varo, ini Alisha. Jahat banget, Alisha bukan orang yang minta- minta." Teriak Alisha kesal dan mencoba duduk.
"Lah lagian kucel banget, habis dari mana sih? Cepet masuk, Kakak kunciin baru tau rasa."
"Iya- iya. Gendong!" rengek Alisha.
"Woy, inget umur. Udah tua masih minta di gendong."
"Kalau gitu bantuin, sakit nih." Kata Alisha menunjukkan lukanya.
"Kenapa tuh kaki?"
"Nanti Alisha certain, bantuin dulu!"
Akhirnya Varo membantu Alisha berjalan masuk ke rumah. Dan mendudukan Alisha di sofa ruang tengah, sedangkan Bu Fira masih sibuk di dapur. Alisha pun menceritakan kejadian tadi, tapi tentu saja ada bagian yang di sabotase.
Varo pun tertawa terpingkal- pingkal mendengar cerita Adiknya tersebut, kelakuan Adiknya ini memang ajaib. Dari dulu hingga sekarang selalu membuat perasaan stress dan mood buruk jadi sembuh.
"Berarti tadi nyuruk di tong sampah?" Tanya Varo di sela tawanya.
"Ya nggak gitu juga sih. Kan, tadi Alisah ceritanya cuma jatuh di pinggir tong sampah. Bukan nyuruk di tong sampahnya."
Keesokkan hari Alisha berangkat ke sekolah diantar oleh Varo. Alisha berangkat agak pagi, sebenarnya Varo tidak mau mengantar Alisha. Tapi kali ini Bu Fira juga ikut campur tangan, jadi mau tidak mau dia pun menyanggupi untuk mengantar Alisha. Sampailah di depan pintu gerbang sekolah Alisha.
"Turun! Udah sampai." Kata Varo dibalik helmnya.
"Masuk ke dalam dong, susah nih jalannya."
"Eh, di pikir Kakak tukang ojek?"
"Udah deh, cepet."
"Pak Oman! Kesini sebentar!" panggil Varo.
Pak Oman pun menghampiri Varo dan Alisha, Varo membuka kaca helmnya. Pak Oman berdiri di samping motor Varo.
"Pak, tolong antarin Alisha sampai ke kelasnya. Dia nggak bisa jalan katanya, kalau perlu gendong sekalian." Pinta Varo.
"Siap, Den!" jawab Pak Oman patuh.
Alisha yang mendengar permintaan Varo langsung menyerang Varo tanpa ampun. Walaupun Alisha sudah turun dari motor Kakaknya, dia tetap melancarkan aksinya tersebut.
"Ampun, nanti Kakak jemput deh! Pulang jam berapa?"
"Nggak mau, udah sana pergi!"
"Kalau jalan hati- hati, jangan nyuruk di tong sampah lagi." Pesan Varo kalem dan langsung menggas motornya menjauhi area sekolah.
"Kak Varo..." teriak Alisha, membuat Pak Oman menutup telinganya. Dan juga orang- orang di sekitar langsung memperhatikan Alisha.
__ADS_1