
"Mikirin apa, Sha?"
Seketika Alisha terkesiap kaget, matanya yang telah berkabut dengan mendung diwajahnya langsung hilang begitu mendengar sebuah sapaan dari seseorang. Varo menaruh dua gelas teh hangat di meja dan duduk di depan Alisha. Varo mendorong pelan satu gelas ke depan Alisha.
"Lagi sibuk ya?" Tanya Alisha pada Varo yang sedang menyesap tehnya.
"Nggak terlalu, kenapa?"
Alisha hanya menggelengkan kepalanya dan ikut menyesap tehnya. Tiba- tiba pintu toko terbuka, masuklah seorang laki- laki yang sudah dikenal Alisha. Alisha segera menghampiri lelaki itu.
"Mawar putih?" Tanya Alisha langsung tanpa menyapa terlebih dulu. Lelaki itu menoleh kaget.
"Iya, kayak biasa." jawab lelaki itu mengerling dengan senyuman. Membuat Alisha terkikik geli.
Dengan sigap Alisha mengambil beberapa tangkai mawar putih dan merangkainya. Lelaki itu hanya memperhatikan gerakan Alisha, dia sedikit terenyuh begitu mendengar cerita kelam Alisha dari Akbar.
Setelah lelaki itu meninggalkan toko, Alisha kembali ke kursinya. Namun, seketika mulutnya ternganga melihat Varo sudah menghilang dan sekarang digantikan Akbar yang duduk dengan menopang dagu dan memandang Alisha tajam. Alisha duduk di depan Akbar dan memandang heran Akbar.
__ADS_1
"Sejak kapan kakak disini? Kok aku nggak tau?" Tanya Alisha kembali meminum tehnya yang ditinggalkan Varo.
"Iyalah kamu nggak tau, kamu malah asyik sama orang tadi." Jawab Akbar sedikit sewot. "Pengen gue colok matanya." gumam Akbar lirih.
"Ya elah, kakak kenapa sih? Cemburu ya?"
"Enggak tuh. Al, kok kamu nggak pernah ngasih aku bunga sih? Tapi, kamu selalu ngasih dia bunga, suka pilih- pilih kamu."
Alisha ternganga mendengar penuturan Akbar. Beberapa hari setelah mereka jadian memang sepertinya Akbar semakin aneh.
"Kok aku yang ngasih kakak? Seharusnya cowok dong yang ngasih bunga ke cewek. Lah dia kan beli."
"Emang kakak suka bunga?"
"Enggak."
Hening sejenak,
__ADS_1
"Kak Akbar beneran nggak tau nama tuh orang?" Tanya Alisha lagi membahas lelaki yang baru datang ke toko ini.
"Nggak." Jawab Akbar sewot, Alisha hanya tersenyum geli.
🌹🌹🌹
Sebenarnya Alisha sudah tau siapa nama lelaki yang kini menjadi pelanggan favoritnya itu. Lelaki mawar putih yang dulu sempat membuat Alisha kagum terhadapnya. Beberapa hari yang lalu mereka sempat bertemu.
"Jadi nama lo Sakti?!" pekik Alisha heboh.
Sakti hanya tersenyum mendengar pekikan Alisha yang terlampau semangat. Bahkan beberapa pengunjung sempat menoleh ingin tahu apa yang terjadi.
"Segitu pengen tau nama gue ya?"
"Hehehe. Iya, gue kepo banget soalnya. Susah banget buat cari tau nama Kak Sakti. Bahkan Kak Akbar juga nggak mau kasih tau."
Alisha menggembungkan pipinya sebal mengingat bagaimana saat ia bertanya nama Sakti dan malah ia dijahili cowok itu. Tapi senyum Alisha terbit saat Sakti menawarinya sebuah cerita tentang Akbar, tentu gadis itu tak akan menolak. Dan mengalirlah cerita dari mulut Sakti. Sesekali Alisha tertawa ngakak mendengar aib Akbar.
__ADS_1
Gadis itu benar- benar tidak menyangka jika Akbar pernah nekat mencegat Sakti di tengah jalan. Alisha menggeleng dramatis membayangkan bagaimana wajah konyol Akbar saat itu.
Namun kini Alisha sudah bisa tidur dengan nyenyak, juga kerutan- kerutan didahinya bisa sedikit berkurang karena sudah tidak perlu mencari tahu siapa nama lelaki mawar putih ini.