
Hari ini Alisha pulang agak terlambat, karena harus menyelesaikan PR matematikanya yang harus dikumpulkan esok hari. Terpaksa Alisha masih tertahan di kelas dengan beberapa buku di meja dan Akbar yang duduk didepannya. Kali ini Alisha lebih cepat mengerjakan lima soal yang diberikan gurunya tersebut, karena sebelumnya Akbar sudah memberikan rumus- rumus yang lebih mudah. Sedari tadi Akbar memperhatikan gerak- gerik Alisha, semuanya tidak luput dari perhatian Akbar.
“Akhirnya selesai. Coba lo periksa, gue yakin bener semua.” Ucap Alisha PD.
“PD banget lo.” Balas Akbar dengan sedikit cibiran, dia mengoreksi jawaban Alisha.
“Udah ada peningkatan rupanya.” Puji Akbar setelah dia mengoreksi semua jawaban Alisha.
“Kan berkat rumus- rumus yang lo kasih, mungkin kalo lo nggak ada bisa aja gue udah mati duduk karena stress.”
“Bisa aja lo.”
Alisha hanya tertawa. Dia membereskan buku- bukunya yang berserakan diatas meja. Alisha tidak sadar jika Akbar memandangnya dengan tatapan serius.
“Al, gue mau tanya sesuatu sama lo.” Kata Akbar, nadanya amat serius.
Alisha menghentikan kegiatannya dan menoleh kearah Akbar yang tengah memandangnya.
“Apa?”
“Kalo ada seseorang yang lo cintai dan ada seorang lagi yang mencintai lo. Diantara mereka, lo pilih yang mana?”
Alisha terdiam sebentar, memikirkan perkataan Akbar barusan. Sebenarnya Alisha sedikit bingung, karena tiba- tiba saja Akbar menanyakan hal aneh seperti itu.
“Gue pilih seseorang yang mencintai gue.” Jawab Alisha mantap. Seketika senyum lebar tercetak dibibir Akbar. “Kok lo tanya gitu, Emang kenapa?” Tanya Alisha heran.
“Kalo ternyata orang yang mencintai elo itu gue gimana?” Tanya Akbar santai masih dengan senyum lebarnya.
“Lo nembak gue?” ceplos Alisha kaget.
__ADS_1
“Iya.” Jawab Akbar kalem.
Alisha masih bengong mendengar pengakuan Akbar yang secara tiba- tiba itu. Alisha tidak pernah memperkirakan ternyata Akbar suka padannya. Sekarang Alisha tidak tahu harus berkata apa, dia benar- benar syok saat ini. Sedangkan Akbar memasang wajah yang biasa- biasa saja, tapi dari sorot matanya dia menunggu jawaban dari Alisha.
“Jadi, apa jawaban lo?” Tanya Akbar kemudian.
Alisha masih terdiam, ini harus dipikirkan masak- masak. Keputusan yang sulit bagi dirinya. Tiba- tiba terbesit perkataan Akbar beberapa waktu lalu. Lebih menyakitkan jika kita mencintai seseorang dan orang yang kita cintai tidak tahu jika kita mencintainya. Lebih baik dicintai daripada mencintai.
“Al, kok lo bengong?” Tanya Akbar mengibaskan tangannya didepan wajah Alisha. Alisha terkesiap.
“Ehm, waktu itu ada seseorang yang ngomong ke gue gini lebih baik dicintai daripada mencintai.” Kata Alisha dengan menirukan gaya Akbar saat mengatakan hal itu, Akbar yang mendengarkan hanya tertawa kecil.
“Dia juga ngomong: belajarlah mencintai dia. Terus dia juga ngomong: buat apa lo suka sama seseorang kalau orang itu belum tentu suka lo.”
“Dan dari omongan yang sok puitis itu, tapi setelah gue pikir- pikir emang bener. Gue dapet pelajaran, bahwa gue harus belajar mencintai seseorang yang cinta sama gue. Bukan hanya untuk pelarian semata, karena orang yang gue suka nggak bisa diraih. Tapi belajar mencintai dia dengan tulus. Lo paham kan?”
Akbar mengangguk- angguk dan menggaruk- garuk kepalanya. Melihat hal itu Alisha merasa kesal, karena kata- kata yang sudah ia rangkai sedemikian rupa hanya membuat bingung orang didepannya.
“Enak aja lo. Gue paham kok.” Jawab Akbar dengan senyum lebar. “Berarti sekarang kita…”
“Iya, kagak usah dijelasin juga. Kan gue malu.” Gumam Alisha, sementara Akbar tertawa pelan dan mengacak rambut Alisha.
Mereka berdua saling diam dengan pikiran masing- masing. Entah mengapa Alisha merasa bahwa dia memang mengambil keputusan yang benar. Sedangkan Akbar merasa lega, dipandanginya Alisha yang masih terdiam dengan kepala menunduk. Tidak lama kemudian, tiba- tiba Alisha mendongakkan kepala dan menatap Akbar.
“Gue masih penasaran sama satu hal.” Kata Alisha.
“Apa?” Tanya Akbar menaikkan alisnya.
“Gue masih penasaran sama nama cowok SMA 25, lo tau namanya?”
__ADS_1
Seketika wajah Akbar berubah ekspresi. Melihat perubahan raut wajah orang didepannya ini, Alisha buru- buru meralat perkataannya.
“Gue cuma mau tau namanya. Lo pasti tau namanya kan?” walau sudah mengganti beberapa suku kata, tetap Alisha terus mendesak Akbar.
“Kamu mau tau nama dia?”
"Ih, aku- kamu sekarang."
"Sama pacar sendiri ini." goda Akbar menaik- turunkan alisnya.
“Ish. Jadi siapa nama cowok itu?”
“Cium dulu.” ucap Akbar mendekatkan pipinya.
“Ogah!” Alisha langsung berteriak keras.
“Ya nggak usah teriak juga kali.”
“Salah siapa ngomong nggak pake dipikir dulu.”
“Bener kamu mau tau namanya?” Tanya Akbar dengan berbisik.
Alisha mencondongkan tubuhnya ke depan agar mendengar perkataan Akbar.
“Iyalah, udah berapa kali gue tanya.” Jawab Alisha juga dengan suara pelan.
"Aku." peringat Akbar, membuat Alisha memutar bola matanya malas. “Beneran kamu mau tau?”
“Iya, cepet siapa namanya?” desak Alisha gemas.
__ADS_1
“Peluk dulu!”
“Ogah!” Alisha kembali berteriak. “Udah ah, aku mau pulang.” Kata Alisha kesal dan berjalan keluar kelas. Dibelakangnya Akbar hanya tertawa senang, karena berhasil membuat Alisha kesal.