What Is Your Name?

What Is Your Name?
Sebuah Topi...


__ADS_3

Alisha segera terbangun begitu mendengar ponselnya berbunyi nyaring, dia mencari- cari ponselnya itu diatas meja kecil di samping tempat tidurnya. Namun, benda itu belum juga ketemu, sebenarnya Alisha lupa dimana ia menaruh ponselnya terakhir kali. Akhirnya Alisha menemukan ponselnya yang tergeletak di bawah tempat tidur. Alisha kembali membaringkan tubuhnya dan mengangkat telepon tanpa melihat ke layar.


“Halo?” sapa Alisha dengan suara serak khas orang bangun tidur.


“Suara lo kenapa? Lo sakit?” Tanya seseorang diujung sana.


Begitu Alisha mengenali suara itu, dia langsung terlonjak kaget dan terduduk di atas tempat tidur.


“Eh, enggak kok. Kenapa telepon, pesen bunga? Tapi kalau hari Minggu toko tutup.” Cerocos Alisha, karena tadi dia terkejut Alisha merasakan kepalanya pusing.


“Bukan, gue nggak telepon lo buat pesen bunga. Ehm, gue mau ajak lo jalan- jalan. Lo… mau?”


Alisha membulatkan matanya, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kepalanya yang terasa pusing tiba- tiba saja sudah tidak terasa lagi. Alisha menahan dirinya untuk tidak berteriak.


“Kok diam? Lo mau atau…"


“Iya, gue mau. Jam berapa?”


“Kita nanti ketemu di taman yang waktu itu gue ketemu lo. Lo masih ingat kan?”


Alisha kembali terdiam, dia mengingat- ingat kejadian saat itu. Lalu matanya kembali membulat, ternyata lelaki itu masih mengingat kejadian dimana Alisha terjatuh di dekat tong sampah. Kejadian yang sangat memalukan bagi Alisha.


“Ah, ya. Gue… ingat kok.” Katanya menahan malu, beruntung lelaki itu tidak melihat wajahnya sekarang.


Alisha berteriak kegirangan begitu telepon sudah terputus. Saking gembiranya Alisha sampai terjatuh dari tempat tidurnya, karena tersandung selimut yang sedari tadi melilit tubuhnya. Bunyi suara benda yang jatuh mengundang Bu Fira untuk melihat ke kamar Alisha.


“Sha, apa tadi yang jatuh?” Tanya Bu Fira tanpa masuk ke kamar Alisha.


“Ehm, itu tadi ada yang jatuh. Tapi, nggak apa- apa kok. Nggak ada yang rusak, Mama tenang aja.”


Setelah mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Alisha kembali meloncat- loncat kegirangan. Dia tidak dapat membayangkan baru pertama kali lelaki itu mengajaknya jalan- jalan. Dan, oh darimana lelaki itu mendapatkan nomornya? Alisha menepuk kening saat teringat beberapa hari yang lalu, lelaki itu meminta nomor Alisha dengan alasan kalau sewaktu- waktu lelaki itu akan memesan bunga agar Alisha dapat segera mengetahuinya.


“Gue pakai baju apa?” Tanya Alisha pada dirinya sendiri.


Dia membuka lemari pakaiannya dan memilih- milih baju yang cocok untuk dipakainya.


Setelah menemukan pakaian yang akan dikenakan, Alisha bergegas turun ke bawah untuk mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Alisha kembali turun ke bawah dan mencari Bu Fira. Dan ia menemukannya di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk Alisha dan Varo. Alisha mengambil segelas air dan duduk di meja makan. Tidak lama Varo turun dan menuju meja makan, lalu dia duduk di depan Alisha dan menatap Adiknya dengan pandangan kesal.


“Tumben pagi- pagi udah bangun, ini hari Minggu kan?” Tanya Alisha heran melihat Varo sudah bangun padahal biasannya Kakaknya itu akan seharian tidur jika hari libur.


“Gimana bisa tidur, kalau dari tadi ada yang teriak- teriak nggak jelas di kamar sebelah.” Jawab Varo dan pergi mengambil segelas air. Alisha hanya meringis mendengar ucapan Kakaknya.


Bu Fira melongokkan kepalanya dari dapur melihat Varo sudah bangun, dia juga merasa bingung tumben- tumbenan anak sulungnya itu bangun pagi saat hari libur. Apalagi Bu Fira juga tahu kalau semalam Varo membuat tugas kuliah hingga larut malam, atau mungkin hingga dini hari.


“Ma, kenapa tadi Alisha teriak- teriak? Ganggu orang tidur aja.” Gerutu Varo.


“Mama juga nggak tau, mungkin lagi seneng. Coba lihat deh, dia juga tumben- tumbennya bangun pagi sekarang sudah rapi pula. Padahal tadi malam Alisha berpesan kalau hari ini dia nggak mau dibangunkan pagi- pagi.” Jelas Bu Fira disertai senyumnya.


Varo pun menoleh kearah Alisha dan memang benar, Alisha sudah terlihat rapi. Varo kembali menemui Alisha untuk menjawab rasa penasarannya juga Mamanya.


“Mau kemana, Sha?” Tanya Varo dan kembali duduk di depan Alisha, Varo mengernyit heran saat mendapati Alisha memandangi gelas kosong dengan tersenyum.


“Sha? Sehat?” Tanya Varo lagi.


“Maksud Kak Varo?” Tanya Alisha bingung.


“Tadi senyum- senyum sama gelas.” Kata Varo, Alisha belum mengerti apa maksud Kakaknya. Namun, sedetik kemudian dia menyadarinya.


“Maksudnya Alisha… Alisha sehat kok.” Jawab Alisha yang tadinya nadanya kesal berubah menjadi ceria. Varo mengernyitkan dahinya, sepertinya memang ada yang aneh dengan Alisha.


Selesai sarapan, Alisha segera menuju ke taman yang dimaksud oleh lelaki itu. Sampai sekarang pun Alisha belum mengetahui namanya, hanya sekedar untuk bertanya nama lelaki itu butuh keberanian bagi Alisha. Alisha mencari keberadaan lelaki itu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mata Alisha menyipit saat melihat seseorang sedang duduk memunggunginya dengan sebuah gitar ada di tangan orang itu. Setelah yakin bahwa Alisha mengenal orang tersebut, dia berjalan mendekat.


“Udah nunggu lama?” Tanya Alisha. Orang tersebut spontan menoleh kearah suara yang menyapanya tadi.

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum ramah kearah Alisha, lesung pipi lelaki itu terlihat di kedua pipinya. Alisha berdiri di depan lelaki itu dan menatapnya tanpa berkedip, Alisha menahan nafasnya. Jantungnnya berdetak dua kali lebih cepat, lelaki itu masih tersenyum malah terlihat makin lebar.


“Lo nggak capek berdiri terus?” pertanyaan itu yang berhasil menyadarkan Alisha, dia langsung duduk di sebelah lelaki itu. Alisha masih berusaha mengatur nafasnya dan detak jantungnya.


“Ehm, kenapa nyuruh gue datang kesini?” Tanya Alisha setelah mengatasi kecanggungannnya.


“Gue mau kasih ini.” Jawab lelaki itu dan memberikan sebuah kotak berwarna biru muda dengan sebuah pita diatasnya. Alisha mengernyitkan dahinya tidak mengerti, tapi dia menerima uluran kotak itu.


“Apa ini?”


“Buka aja, gue harap lo suka.”


Alisha membuka kotak itu perlahan. Setelah terbuka, seketika nafas Alisha tercekat. Di dalam kotak itu berisi topi biru yang kemarin sempat Alisha coba, dia memang sangat menyukai topi itu, tapi sayang saat itu dia tidak membawa uang lebih. Alisha tidak percaya, ternyata sekarang lelaki itu memberikan topi itu padanya.


“Gue tau lo suka topi itu.” Gumam lelaki itu.


“Kok lo…”


“Kemarin waktu gue ke Mall, gue lihat ada cewek lagi pegang- pegang itu topi. Jadi sebelum keduluan cewek itu, gue langsung beli tuh topi.” Jelas lelaki itu, tapi pandangannya menerawang ke angkasa.


Sebenarnya Alisha sedikit tidak mengerti mengapa lelaki itu memberikan topi itu padanya. Namun, akhirnya senyum Alisha mengembang dan memandangi topi yang kini berada ditangannya. Alisha melirik kearah lelaki itu, dia masih menerawang angkasa. Lalu pandangan Alisha mengarah ke gitar yang sedari tadi berada dipangkuan lelaki itu.


“Lo bisa main gitar?” Tanya Alisha.


“Eh? Sedikit, tadi gue emang baru dari sekolah. Belum sempet pulang.”


“Iringin gue dong!” pinta Alisha semangat.


“Lagu apa?”


“Terserah lo.”


Lelaki itu terdiam untuk berpikir. Tidak lama kemudian dia mulai memetik senar gitarnya, terciptalah sebuah intro lagu yang sudah tidak asing ditelinga Alisha. Alisha tersenyum mendengar intro lagu tersebut, setelah intro selesai Alisha mulai menyanyi. Mendengar suara Alisha, lelaki itu sedikit terkejut karena ternyata suara Alisha sangat merdu. Tanpa sadar lelaki itu sesekali memperhatikan wajah Alisha saat bernyanyi. Lagu pun berakhir, lelaki tersebut bertepuk tangan untuk penampilan Alisha.


“Suara lo bagus.” Puji lelaki itu tetap dengan senyumnya yang menawan.


Ini merupakan hari Minggu yang indah bagi Alisha, senyum Alisha tidak pernah lepas dari wajahnya sejak dia berpisah dengan lelaki itu. Alisha membuka tasnya dan mengeluarkan topi yang tadi diberikan lelaki itu, menyentuhnya dan kembali tersenyum.


***


Pagi ini Alisha terlihat sangat riang, senyumnya selalu mengembang menghiasi wajahnya. Bu Fira dan Varo sampai dibuat heran, karena dari kemarin saat baru pulang senyum Alisha tidak pernah lepas. Bu Fira mulai khawatir dan berniat membawa Alisha ke psikiater untuk membuktikan bahwa asumsinya tidak benar. Begitu juga saat di sekolah, walaupun Alisha di hukum membersihkan toilet, dia tetap mengerjakannya dengan semangat.


“Lo kok disini?” Tanya Akbar yang tiba- tiba masuk ke toilet.


Alisha yang daritadi sedang memikirkan kejadian kemarin, tersentak kaget.


“Lah, elo juga ngapain disini?”


“Lo masih tanya? Lo pikir kalau ada orang ke toilet itu ngapain?”


“Tapi, kan ini toilet ce…” Alisha menghentikan perkataannya dan seketika membulatkan matanya.


“Jangan- jangan lo mau ngintip ya?” tuduh Alisha.


“Enak aja lo, lo kali yang mau ngintip. Udah ah, minggir gue udah nggak tahan!” jawab Akbar dan langsung masuk ke kamar mandi.


Alisha masih terdiam mencerna apa yang dikatakan Akbar barusan, lalu tidak lama ada seorang anak laki- laki masuk ke toilet dan terkejut mendapati ada Alisha di situ.


“Lo ngapain disini?” Tanya laki- laki tersebut.


“Gue di hukum suruh bersihin toilet cewek.” Jawab Alisha polos.


“Ini bukannya toilet cowok ya?”


Hening sejenak.

__ADS_1


“APA?! Bilang dong dari tadi, salah kan gue.” Kata Alisha baru sadar dan langsung keluar dari toilet dengan membawa berbagai perlengkapan kebersihan.


Alisha memutuskan untuk tidak membersihkan toilet perempuan, karena tadi dia sudah membersihkan toilet laki- laki – sebelum ada yang mengingatkannya –. Setelah mengembalikan perlengkapan pada tempatnya, Alisha keluar dari toilet bersamaan dengan Akbar. Alisha hanya menunduk malu dengan kejadian barusan, tanpa sadar Alisha menghembuskan nafas pelan.


“Lo kenapa?” Tanya Akbar bingung melihat Alisha yang berjalan dengan kepala menunduk.


Alisha mendongakkan wajahnya perlahan dan dia kembali menatap wajah Akbar. Namun, seketika bayangan kejadian saat Alisha mengakui bahwa Akbar mempunyai wajah yang tampan kembali berkelebat di dalam kepalanya. Alisha segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran tersebut.


“Lo nggak pusing geleng- geleng gitu?”


“Eh, nggak. Ehm, gue ke kelas dulu.” Ucap Alisha dan langsung berjalan sedikit lebih cepat menuju kelas.


“Biasanya lo ke kantin? Ini udah jam istirahat.” Kata Akbar dan melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


Alisha menghentikan langkahnya dan berbalik. Alisha tetap mengutamakan perutnya. Melihat kelakuan Alisha membuat Akbar tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum.


“Ke kantin dulu baru ke kelas.” Gumam Alisha yang masih bisa di dengar dengan jelas oleh Akbar.


Semenjak kejadian beberapa menit yang lalu membuat Alisha agak pendiam. Akbar menjadi merasa aneh melihat Alisha yang tidak seperti biasanya. Biasanya Alisha selalu grasak- grusuk saat makan, tapi kini dia terlihat lebih tenang dan tidak berceloteh seperti biasanya. Akbar berdehem sebelum bertanya kepada Alisha tentang perubahan sikapnya.


“Lo udah tobat?” Tanya Akbar dan memakan makanannya.


“Heh? Maksud lo?”


“Tumben anteng, biasanya kan…” Akbar tidak melanjutkan perkataannya dan kembali berdehem.


“Tapi gue ngerasa kayak biasanya. Nggak ada yang aneh, lo- nya aja kali.”


“Iya kali ya, gue- nya aja yang berlebihan. Tapi, kalo lo makan kayak siput gitu kapan kelarnya? Lima menit lagi masuk nih!”


Mendengar perkataan Akbar, Alisha langsung menoleh kearah jam besar yang berada di salah satu sudut kantin. Mata Alisha langsung membulat. Dengan gerakan cepat Alisha melahap bakso beserta kuahnya dan tidak lupa menyeruput es tehnya hingga habis. Dalam waktu empat menit, semuanya sudah ludes masuk ke perut Alisha.


“Gue duluan ya? Ada ulangan.” Kata Alisha dan berlari meninggalkan kantin.


“Kirain udah tobat.” Gumam Akbar tersenyum geli.


“Eh, dia kan belon bayar. Tekor deh gue.” Seketika senyum geli Akbar berubah menjadi senyum masam.


Sepulang sekolah, Alisha berjalan cepat menuju halte bus. Alisha mengeluarkan topi yang diberi NN – panggilan yang diberikan Alisha kepada lelaki itu, karena belum tahu namanya – dan segera memakainya, karena hari ini memang cuaca sedang panas. Dari jauh terlihat Akbar tengah berlari kearah Alisha dengan kecepatan seperti pelari marathon. Sesampainya di depan Alisha, Akbar malah membungkuk dan mengangkat tangan menandakan agar Alisha memberi waktu untuk bernafas.


“Ada apa?” Tanya Alisha.


“Lo hari ini ada les matematika.”


“Bukannya lo ada latihan buat olimpiade?”


“Nggak jadi, gue digantiin sama anak kelas dua.”


“Iyalah, udah tua juga.” Gumam Alisha.


“Apa lo bilang?”


“Eh, enggak. Ya udah kalau gitu gue duluan, lo langsung ke toko aja.”


“Lo nggak bareng gue?”


Alisha hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya dia menolak tawaran Akbar, karena Alisha yakin kalau hari ini pasti NN naik bus yang sama dengan dirinya. Akbar memperhatikan penampilan Alisha yang sedikit berbeda, lalu setelah menyadari apa yang membuat Alisha berbeda, Akbar mengernyit bingung.


“Topi itu, lo beli?” Tanya Akbar setelah melihat topi yang dipakai Alisha sama persis saat di Mall.


“Nggak, kan waktu itu gue nggak bawa uang lebih. Jadi nggak kebeli deh ini topi.”


“Terus?” Tanya Akbar bertambah penasaran.


“Ada lah pokoknya. Ya udah gue duluan, bye.”

__ADS_1


Alisha segera berjalan pergi sebelum Akbar terus menanyainya. Sementara Akbar hanya memandang kepergian Alisha hingga sudah tak nampak lagi.


__ADS_2