
Alisha duduk di depan toko sambil mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajah, dari tadi siang hingga petang Alisha baru istirahat sekarang. Banyak pelanggan Bu Fira yang harus dilayaninya. Dari sekian banyak pelanggan Alisha selalu menunggu kehadiran lelaki tersebut, tetapi lelaki tersebut sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Sampai saat toko hendak tutup pun lelaki tersebut juga tidak datang.
“Hari ini Alisha capek! Pengen cepet sampai rumah.” Keluh Alisha sambil merentangkan kedua tangannya, Bu Fira hanya tersenyum mendengar keluhan anaknya tersebut. Kini mereka berjalan menuju terminal untuk pulang ke rumah.
“Ya ampun, Alisha kelupaan sesuatu. Ma, kunci tokonya mana? Alisha harus ambil sekarang.” Ucap Alisha menepuk dahinya.
“Makanya pikun jangan dipelihara!” ledek Bu Fira sambil memberikan kunci toko pada Alisha, Alisha menerimanya dengan wajah masam.
“Mama duluan aja, nanti Alisha nyusul!”
“Jangan lama- lama tapi, kalau lama Mama tinggal.”
“Iya, Mama.”
Alisha pun segera berlari menuju toko bunga yang kini jaraknya lumayan agak jauh.
Alisha semakin dekat dengan toko yang sudah gelap. Pada remang- remang cahaya Alisha melihat seseorang berdiri memandangi pintu toko bunga Bu Fira, Alisha mengernyitkan dahinya. Tiba- tiba saja pikiran buruk menghinggapi kepalanya, dia berjalan mengendap- endap.
“Jangan- jangan maling lagi!” gumam Alisha.
Beruntung di dekatnya ada sebuah kayu yang berukuran lumayan untuk memukul orang sampai pingsan.
Sekarang Alisha sudah berdiri tepat di belakang orang misterius itu, Alisha sudah bersiap untuk memukul orang itu. Tapi, ternyata tiba- tiba orang itu berbalik dan tentu saja menubruk Alisha, juga kaget melihat gaya Alisha yang mengangkat kedua tangannya yang memegang balok kayu.
Melihat siapa yang di depannya, Alisha langsung membulatkan matanya. Di turunkan tangannya perlahan dan dengan gerakan cepat dia langsung membuang kayu tersebut. Orang itu masih memandang Alisha, membuat Alisha salah tingkah.
“Tokonya udah tutup ya?” Tanya lelaki itu.
“Iya.”
“Terus lo ngapain disini?”
“Mau ambil barang yang ketinggalan, permisi! Buru- buru soalnya.”
Dengan cekatan Alisha langsung membuka toko kembali dan segera masuk ke toko, tidak lupa dia nyalakan terlebih dahulu lampu- lampunya agar lebih mudah mencari sebuah barang yang tertinggal. Lelaki tersebut ikut masuk ke dalam toko tanpa sepengetahuan Alisha dan dia berdiri di depan kumpulan mawar putih.
Saat Alisha kembali, dia terkejut melihat lelaki itu berdiri terbengong- bengong di depan rak mawar putih. Alisha menghampiri lelaki tersebut, sejenak dia melupakan Bu Fira yang sudah sangat lama menunggu di terminal bus. Lelaki tersebut menyadari kedatangan Alisha.
“Boleh nggak kalau gue beli satu bucket bunga mawar putih?” Tanya lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya pada rak di depannya.
“Tapi…”
“Gue mohon! Lain kali gue nggak akan datang telat lagi, kali ini aja.” Mohon lelaki tersebut.
Mendengar permohonan lelaki tersebut Alisha menjadi terenyuh, Alisha pun mengangguk samar dan segera mengambil beberapa tangkai mawar putih. Dibawanya mawar- mawar itu di sebuah meja, lelaki tersebut mengikuti Alisha dan duduk di depan Alisha.
Sesekali lelaki tersebut memperhatikan Alisha saat memotong tangkai bunga untuk menyamakan panjang bunga- bunga tersebut.
“Oh iya, gue belum tau nama lo. Siapa nama lo?” Tanya lelaki tersebut, Alisha mendongakkan wajahnya tak percaya.
Inilah saat- saat yang paling dinantikannya, dalam waktu beberapa detik dia akan tahu nama lelaki di depannya ini.
“Hei, lo dengerin gue nggak sih?” Tanya lelaki tersebut mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajah Alisha.
“Eh, ehm, nama gue Alisha.” Jawab Alisha gelagapan, spontan dia langsung memberikan bucket bunga yang sudah dirangkainya.
Lelaki tersebut menerimanya dengan senyum mengembang, lesung pipinya seketika muncul di kedua pipinya. Sejenak Alisha terpesona melihat makhluk di depannya ini.
“Berapa?”
“Ehm, aduh gimana ya? Lain kali aja nggak apa- apa, soalnya gue nggak bisa buka mesin kasirnya.”
“Thank’s ya? Lo udah bantu gue, lain kali gue bakal datang lebih awal lagi.”
“Iya, kalau gitu gue mau tutup lagi tokonya.”
Setelah menutup toko kembali, Alisha dan lelaki tersebut pun berpisah karena jalan pulang mereka berbeda arah. Alisha langsung menepuk dahinya saat teringat sesuatu, Alisha langsung berlari menuju terminal dimana Bu Fira menunggunya kurang lebih satu jam.
Alisha berlari dengan seluruh kekuatan yang tersisa, sesampainya di terminal dia mencari keberadaan Bu Fira. Pada akhirnya Alisha menemukan Bu Fira tengah duduk di sebuah warung kopi dan di depannya ada secangkir teh hangat beserta beberapa potong gorengan.
“Alisha, kamu kemana saja? Lama sekali! Kenapa wajah kamu seperti itu?” cerca Bu Fira saat melihat Alisha datang dengan nafas senin kamis.
Alisha langsung duduk di samping Mamanya dan menyeruput teh juga melahap beberapa gorengan.
“Alisha capek, tadi ada pembeli. Terpaksa Alisha layanin, kasihan soalnya.” Jelas Alisha tanpa diminta, kini dengan wajah berseri- seri.
“Kalau begitu, ayo kita pulang! Sudah malam, kasihan Kak Varo di rumah sendiri.”
“Mama, Kak Varo udah tua masa’ takut di rumah sendiri?”
Sesampainya di rumah mereka berdua disambut oleh Varo yang terlihat sangat kelaparan. Wajahnya seperti siap memakan apa saja yang dilihatnya. Dia berdiri di depan pintu dengan tangan berada di pinggang, membuat Alisha bergidik ngeri.
__ADS_1
“Mama nggak bawa apa- apa?” Tanya Varo langsung saat Bu Fira dan Alisha memasuki halaman rumah.
“Nggak, Mama nggak sempat beli makanan. Di rumah nggak ada makanan sama sekali?”
“Cuma ada telur.”
“Ya udah makan itu dulu aja.” Kata Bu Fira dan langsung masuk ke dalam.
Kini pandangan Varo mengarah pada Adiknya yang sedang mengubek- ubek tasnya. Merasa ada yang tidak beres Alisha mendongakkan kepalanya.
“Kenapa, Kak? Kak Varo nggak ada niatan makan Alisha kan?” Tanya Alisha takut- takut.
“Ide bagus tuh, Alisha goreng enak kayaknya.”
“Kak Varo!!” teriak Alisha, tapi tiba- tiba saja teriakan Alisha melemah.
Alisha kembali fokus pada tasnya dan kembali mengacak- acak isinya. Mereka masih berdiri di depan pintu rumah tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam.
“Ya ampun, aduh gimana nih? Tadi padahal udah dibawa, yah alamat di hukum besok.”
“Kenapa?”
“Buku PR Alisha ketinggalan di toko, padahal tadi udah di bawa. Eh, ketinggalan lagi. Ya udah deh, sekali- kali dihukum enak kayaknya.” Kata Alisha dan masuk ke dalam rumah dengan menenteng tasnya.
“Adik gue sehat atau karena pengaruh lapar sih?” gumam Varo dan ikut masuk ke dalam dengan wajah bingungnya.
***
Seperti yang dikatakan kemarin, Alisha sudah siap untuk menerima hukuman hari ini karena tidak membawa buku PR- nya. Sebenarnya tadi pagi Alisha sudah merayu Varo untuk mengantarnya ke toko terlebih dulu, tetapi Varo tidak mempan dengan semua rayuan Alisha. Dengan wajah masam, Alisha memasuki gerbang sekolah.
Tidak sedikit anak- anak yang berpapasan dengannya memperhatikan ekspresi Alisha pagi ini, tadinya ingin menyapa untuk sekedar menanyakan kabar sang Kakak, tapi melihat ekspresi Alisha menjadikan niat anak- anak pudar.
“Asem banget tuh muka, sorry kemarin gue nggak bisa beri materi ke lo. Soalnya gue ada latihan buat olimpiade terakhir gue.” Sapa Akbar yang tiba- tiba muncul di depan Alisha, kemunculan Akbar tetap tidak merubah ekspresi masam Alisha.
“Iya, lagian percuma lo datang. Hari ini aja gue nggak bawa buku PR- nya.” Jawab Alisha.
“Alamat dihukum berarti, gue duluan!”
Akbar pun segera berjalan menuju ke kelasnya yang berada di lantai tiga. Alisha melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya yang berada di lantai satu.
Bel berbunyi tiga kali menandakan pelajaran akan segera dimulai. Alisha sudah bersiap- siap untuk hukuman dari gurunya. Pelajaran pertama adalah matematika dan akan dilanjutkan dengan sejarah, lalu seni budaya dan terakhir adalah bahasa inggris. Dari keempat mata pelajaran tersebut yang memiliki tugas rumah adalah pelajaran matematika, seni budaya dan bahasa inggris.
Jadi, Alisha akan dihukum tiga kali sehari, karena semua PR- nya berada dalam satu buku yang tertinggal tersebut.
“Pagi, Bu.” Koor anak- anak serempak.
“Kumpulkan PR- nya. Yang tidak mengerjakan, silahkan berdiri di depan koridor kelas.” Kata Bu Kia.
“Bu, bagaimana kalau sudah mengerjakan, tetapi tertinggal?” Tanya Alisha.
“Intinya hari ini kamu tidak membawa PR tersebut, berdiri di depan koridor!” perintah Bu Kia galak.
Alisha langsung menciut dan segera keluar menuju koridor depan kelasnya. Baru saja Alisha sampai, Bu Kia membuntutinya dan berkata:
“Jangan lupa angkat salah satu kaki dan kedua tangan memegang telinga!” perintah Bu Kia, setelah berbicara seperti itu dia kembali melanjutkan pelajarannya.
Alisha hanya bisa cemberut, tak jarang dia menjadi bahan tertawaan anak- anak yang terkadang lewat di depan kelasnya. Namun, yang namanya Alisha hanya cuek saja jika ada anak yang menertawakan dirinya.
Selang beberapa menit kemudian ada seorang anak yang ikut keluar kelas dan berdiri di samping Alisha. Alisha mengernyitkan dahinya melihat anak tersebut melakukan hal yang sama dengan dirinya.
“Ngapain lo disini?” Tanya Alisha yang masih dengan gayanya.
“Biasa yang nggak bisa jawab, keluar!” jawab anak itu dengan meniru gaya Bu Kia.
Alisha menganggukkan kepalanya paham, dia lalu berjalan menuju pintu kelas, mengetuknya dan berjalan masuk.
“Maaf, Bu. Kapan saya masuk ya? Kan diluar sudah ada Minto, berarti saya boleh masuk kan?” Tanya Alisha.
“Enak saja, kamu tetap di luar. Kamu di luar sampai pelajaran saya selesai. Sekarang kamu keluar!”jawab Bu Kia sedikit membentak.
Spontan Alisha langsung berlari keluar, seketika seisi kelas menertawakan dirinya.
“Tapi, Bu. Saya capek, masa’ saya berdiri dengan satu kaki?” protes Alisha kembali masuk.
“Kalau begitu ganti kaki dong! Cepat keluar! Kalau kamu masih protes, lari keliling lapangan empat kali!”
“Iya, Bu. Saya ganti kaki.” Jawab Alisha langsung keluar takut Bu Kia bertambah marah.
Alisha kembali berdiri di sebelah Minto – nama teman sekelasnya –, kini kaki kiri yang menjadi tumpuan, karena tadi Alisha menggunakan kaki yang kanan. Minto memperhatikan Alisha dengan dahi berlipat- lipat.
“Ngapain tadi lo masuk?” Tanya Minto.
__ADS_1
“Kirain gue digantiin sama lo.” Jawab Alisha sekenanya.
Bunyi bel pergantian pelajaran terasa menyejukkan pendengaran Alisha, setelah Bu Kia keluar kelas, Alisha langsung melesat masuk ke dalam kelas. Alisha langsung menyalakan kipas angin dan duduk di bawahnya. Kakinya di selonjorkan dan dia mengambil sebuah buku yang entah milik siapa untuk mengipas- ngipas rambutnya yang terurai.
Pelajaran kedua adalah sejarah, jadi Alisha bisa beristirahat dan menyiapkan fisiknya untuk dua hukuman lagi. Tidak lama guru sejarah datang dan langsung menghadap papan tulis dengan lima soal pamungkasnya.
Alisha yang baru saja menampakkan senyum leganya kembali dibuat kesal, seketika senyumnya memudar. Dari kelima soal tersebut, Alisha hanya mampu menjawab tiga. Ketiga soal itu selesai dibarengi dengan bunyi bel istirahat, setelah mengumpulkan jawaban, Alisha segera melesat menuju kantin.
“Bu, bakso satu sama es jeruk!” pesan Alisha begitu sampai kantin yang ramainya melimpah ruah.
Alisha menunggu pesanannya di depan warung salah satu penjual kantin. Sambil menunggu tak sengaja Alisha mendengar berita- berita yang anak- anak bicarakan.
“Beberapa hari lagi, sekolah kita ngadain Pensi gitu ya?”
“Iya, katanya sih bakal ada anak band dari sekolah tetangga yang tampil.”
“Oh, SMA 25? Bukannya sekarang pengurus OSIS mereka lagi ada disini ya?”
“Iya? Nggak sabar gue, mau lihat anak- anak 25 nge- band.”
Alisha membawa senampan yang berisi semangkuk bakso dan segelas es jeruk menuju salah satu meja yang tidak dipenuhi anak- anak. Alisha menikmati baksonya dengan lahap, seperti orang yang dua hari tidak makan. Sebenarnya hanya semalam Alisha tidak makan, karena memang jatah makannya dimakan oleh Varo yang menderita kelaparan akut. Tiba- tiba saja Akbar mengambil sendok di depan Alisha dan segera memasukkan satu bakso ke dalam mulutnya. Melihat hal itu, Alisha langsung memasang wajah sangarnya.
“Sorry, gue kelaperan. Dari jam kedua sampai istirahat gue ada meeting.” Jelas Akbar langsung dan lalu meminum es jeruk Alisha.
“Mau minta dimakan lo?” Tanya Alisha galak.
“Lo pikir gue nggak laper? Jatah makan gue dimakan Kak Varo dan sekarang lo ganggu makan gue.”
“Kan, gue udah ijin ke elo. Gue lagi puyeng ngurus buat Pensi dan olimpiade, jadi jangan lo tambah lagi masalah.”
Mereka berdua pun malah asyik dengan curhatan masing- masing. Hampir saja Alisha menceritakan kejadian kemarin pada Akbar jika mulutnya tidak segera ia rem. Alisha memang tidak pernah menceritakan masalahnya pada orang lain, cukup dia pendam sendiri. Dengan secepat kilat, Alisha mengalihkan topik yang tadi sedang dibicarakan bersama Akbar.
“Eh iya, emang pensinya kapan?” Tanya Alisha sambil menyendok baksonya yang kini tinggal kuahnya.
“Sabtu besok, sebenarnya nggak masalah sih. Gue juga udah sering ngurusin kayak beginian, yang jadi masalah itu sekarang kita ada juga pihak luar yang bakal ikutan event ini.”
‘Yah, dia curhat lagi.’ Batin Alisha.
“Gue denger- denger yang bakal ikutan itu SMA 25? Kok gue nggak pernah denger nama SMA itu ya?”
“Iya, dia bakal jadi bintang tamu. Elo juga palingan cuma tau jalan ke toko bunga Nyokap lo doang.” Ledek Akbar. Karena tidak terima, Alisha segera menendang kaki Akbar.
“Gue duluan ya? Gue masih ada banyak kerjaan, thank’s baksonya.” Kata Akbar dan meninggalkan Alisha yang masih asyik dengan es jeruknya. Tidak lama kemudian Alisha baru ingat akan suatu hal.
“Mampus, habis ini kan seni budaya. Yah, berdiri di depan koridor lagi gue.” Gumam Alisha dengan ekspresi kesalnya.
Benar saja, Alisha kembali berdiri di depan koridor kelasnya. Namun, kali ini guru tidak menyuruh untuk berdiri dengan satu kaki. Selagi di hukum, Alisha malah mondar- mandir untuk mengurangi rasa bosannya. Tidak lama ada banyak gerombolan anak- anak berjalan mendekat hendak pergi ke ruang OSIS, mungkin.
Disana terlihat ada Akbar, Alisha malah bertambah cemas, karena pasti dia akan diejek habis- habisan. Ternyata mereka adalah gerombolan anak- anak OSIS, ada beberapa yang tidak mengenakan seragam yang sama dengan Alisha. Mereka semakin dekat, membuat Alisha bertambah cemas. Sesampainya mereka di depan Alisha, Akbar- lah yang pertama kali melihat ada Alisha. Alisha langsung memasang tampang polosnya.
“Katanya lo dihukum karena nggak buat matematika? Kok sekarang lo diluar juga?” Tanya Akbar bingung, yang lain juga sempat menghentikan langkahnya.
“Gue kan murid kesayangan.” Jawab Alisha sekenanya.
“Tingkah lo beda banget sama Kakak lo.” Celetuk salah seorang pengurus OSIS.
“Iyalah beda, gue bukan dia!” jawab Alisha kesal, karena dia paling tidak suka jika dibanding- bandingkan walaupun itu Kakaknya.
Karena tidak mau Alisha semakin ganas, mereka pun segera meninggalkan Alisha. Kini Alisha kembali seorang diri di depan koridor dan masih mondar- mandir.
“Maaf, ruang OSIS dimana ya?” Tanya seseorang pada Alisha.
“Disana…” ucapan Alisha menggantung diudara saat melihat siapa yang tadi bertanya padanya.
“Ternyata lo sekolah disini?” Tanya lelaki tersebut.
Alisha hanya mengangguk tanpa berkedip masih terkejut dengan lelaki di depannya.
“Eh iya, yang kemarin itu. Nanti gue ke Gladior, tenang aja gue bayar. Lo nggak usah melotot gitu juga.”
Mendengar perkataan lelaki tersebut, Alisha langsung mengedip- ngedipkan matanya yang semakin lama terasa perih.
“Ehm, tadi ruang OSIS dimana?”
“Disana!” jawab Alisha sembari menunjuk sebuah ruangan yang terdapat banyak anak- anak pengurus OSIS.
“Gue duluan ya!”
Tanpa sadar Alisha hanya menganggukkan kepalanya, pandangannya tidak lepas dari lelaki tersebut.
Senyum Alisha tidak pernah pudar sejak tadi dia bertemu dengan lelaki tersebut, teman- temannya di kelas pun memandang heran. Dalam sehari Alisha di hukum sebanyak tiga kali, tapi dilihat dari wajahnya malah terlihat senang. Alisha berada di halte bus untuk menunggu bus yang lewat dan membawanya menuju toko Bu Fira. Tiba- tiba senyum Alisha luntur saat mengetahui ada yang tidak beres sedari tadi.
__ADS_1
“Kok gue belum tau nama cowok itu ya? Padahal tadi kan bisa baca di nametagnya.” gumamnya pada diri sendiri, Alisha menepuk- nepuk dahinya sehingga mengundang perhatian orang- orang yang berada di halte tersebut.
Tidak lama kemudian ada sebuah bus mendekat ke halte, tanpa pikir panjang Alisha segera naik bus tersebut. Bus tersebut cukup ramai, membuat Alisha tidak mendapatkan tempat duduk. Beruntung tidak lama ada orang yang turun dari bus, Alisha tidak menyia- nyiakan kesempatan tersebut, dia langsung menduduki kursi yang kosong itu. Namun, sampai terminal, Alisha tidak bertemu dengan lelaki yang tadi bertemu di sekolah. Sedikit kecewa memang, raut wajah Alisha langsung berubah.