
Sesampainya di toko bunga Bu Fira, tanpa berkata sepatah kata pun Alisha segera membantu Bu Fira melayani para pembeli yang akan membeli bunga- bunga dari toko tersebut. Entah mengapa hari ini Alisha merasa sangat lelah, padahal tadi saat dia bertemu lelaki tersebut, Alisha terlihat sangat bersemangat.
“Sha, tadi Mama menemukan buku kamu di meja. Mama letakkan di dekat kasir.” Kata Bu Fira kepada Alisha yang sedang merangkai sebuah bucket bunga. Alisha hanya menangguk sebagai jawabannya.
“Kok akhir- akhir ini, Akbar nggak kesini? Kamu masih les sama dia kan?” Tanya Bu Fira heran, Alisha memberikan bucket bunga yang sudah jadi untuk ditaksir harganya.
“Kak Akbar masih sibuk, ada persiapan untuk olimpiade matematika. Jadi belum bisa ngajar Alisha.”
“Bukannya kelas tiga udah nggak ikut lomba ya? Harus fokus ke ujian.”
“Ini olimpiade terakhir dia katanya, setelah ini udah nggak ikut lagi.” Jelas Alisha.
Tiba- tiba ada seseorang yang masuk toko membuat Alisha dan Bu Fira menoleh. Alisha sedikit kecewa melihat siapa yang datang, dia pikir lelaki yang akhir- akhir ini mengisi kepalanya, ternyata bukan.
“Tumben kesini, ada apa?” Tanya Bu Fira.
“Bosan di rumah sendiri, lagian ini masih siang. Varo udah nggak punya kerjaan lagi.”
Varo mengalihkan pandangannya pada sang Adik yang tengah duduk menopang dagu, Varo pun menghampiri Alisha yang sedang duduk tidak jauh dari situ. Sementara Bu Fira sedang menerima telepon.
Alisha menatap keluar jendela, dia sedang merenung. Hari yang sangat melelahkan bagi Alisha, sebenarnya Alisha tidak akan merasakan lelah jika lelaki tersebut datang ke toko. Padahal tadi saat di sekolah, lelaki tersebut sudah berjanji akan datang. Lamunan Alisha buyar saat Varo tiba- tiba menjentikkan jarinya, membuat Alisha terlonjak kaget.
“Melamun terus, mikirin apa?” Tanya Varo dan duduk di depan Alisha.
Alisha masih diam tidak menjawab pertanyaan Varo, dia malah menidurkan kepalanya di meja.
“Sha, marah?” Tanya Varo sambil mengusap kepala Alisha. Alisha masih pada posisinya.
“Cerita dong! Biasanya juga cerita.” Bujuk Varo.
“Nggak.” Jawab Alisha pendek.
“Tadi, gimana? Dihukum?”
__ADS_1
“Iyalah, gara- gara Kak Varo. Alisha dihukum tiga kali.” Jawab Alisha masih dengan kepala tiduran di meja.
“Maaf deh.”
Alisha tidak menjawab lagi, Varo hanya menghembuskan nafasnya pelan. Bu Fira berjalan menghampiri kedua anaknya dengan membawa sebucket bunga mawar putih.
“Sha, tolong antar bunga ini!” perintah Bu Fira, Alisha spontan langsung menegakkan kepalanya.
“Kemana?”
“Ini alamatnya. Kamu antar bersama Kak Varo ya?”
Alisha membaca alamat yang dituliskan pada secarik kertas, lalu Varo meminta kertas tersebut agar dia juga dapat membaca alamat itu.
Agak lama Alisha dan Varo berputar- putar di daerah yang sama. Wajah Alisha sudah sangat lelah, keringatnya mengucur deras pada dahinya. Sedangkan Varo menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang dapat ditanyai. Motor Varo berhenti di pinggir sebuah warung makan. Alisha segera turun dari motor Varo dan duduk di emperan warung tersebut. Varo membuka helm, rambutnya basah oleh keringat, dia menghampiri Alisha yang sudah menselonjorkan kakinya.
“Permisi, mau numpang tanya. Alamat ini dimana ya?” Tanya Varo pada penjual di warung tersebut.
Penjual tersebut membaca tulisan di kertas yang dibawa Varo, terdiam sebentar dan menjawab:
Varo mendengarkan dengan seksama dan mengangguk- angguk paham.
“Kalau begitu terima kasih, kami permisi!” pamit Varo sopan.
“Ayo, Sha! Sebentar lagi sampai, kalo nggak cepat-cepat bunganya bisa layu.” Ajak Varo.
Alisha langsung bangkit dari duduknya dan kembali naik ke motor Varo.
Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu masuk dengan tulisan yang terpampang di depan, tulisannya adalah “Tempat Pemakaman Umum Karimata”. Alisha turun dari motor Varo dan berdiri di samping Varo yang masih berada diatas motornya.
“Kak, yakin ini tempatnya?” Tanya Alisha ragu setelah membaca tulisan tersebut.
“Kayaknya sih, alamat yang dikasih Mama sama.” Jawab Varo juga sedikit ragu.
__ADS_1
“Ya udah, ayo masuk!” ajak Varo setelah turun dari motornya.
Hari sudah sore, angin bertiup sepoi- sepoi. Banyak pohon kamboja berbunga putih tumbuh disini. Tempat ini sangat sunyi dan sepi, tidak ada orang selain Alisha dan Varo. Tempat ini cukup luas, dengan banyak batu nisan yang tertata rapi. Setelah berputar mengelilingi makam yang cukup luas, akhirnya Alisha melihat ada seseorang yang tengah bersimpuh di depan sebuah makam.
“Kak, itu kayaknya ada orang deh.” Tunjuk Alisha.
“Kesana yuk, siapa tau dia yang pesan bunga ini.”
Mereka berdua pun berjalan menghampiri orang tersebut. Sekarang Alisha dan Varo benar- benar sudah berada di belakang orang tersebut, tapi orang itu belum menyadari kedatangan mereka berdua.
“Permisi!” sapa Varo hati- hati, takut mengusik orang itu.
Orang itu menoleh dan seketika membuat Alisha yang berdiri di belakang Varo membulatkan matanya.
“Lo ngantar bunga ya? Udah gue tunggu.” Kata orang tersebut, seorang anak laki- laki mengenakan seragam sekolah dengan jaket yang menutupi tubuh bagian atasnya.
“Sorry, kita agak susah nyari alamatnya. Itu bunganya!” jelas Varo dan menunjuk bunga yang dibawa Alisha, lelaki tersebut tersenyum samar.
Walau samar, lesung pipinya tetap bisa terlihat jelas. Alisha memberikan bunga tersebut pada lelaki itu, entah mengapa tangannya gemetar saat memberikan bunga itu.
Lelaki itu meletakkan mawar putih itu diatas pusara seseorang, Alisha sempat membaca nama di batu nisan tersebut. Tertulis nama “Monika Dewi Gita”, lelaki itu mengelus batu nisan sebentar, lalu kembali bangkit. Alisha, Varo, dan lelaki tersebut berjalan keluar area makam bersama.
Mereka bertiga saling bungkam, karena tidak tahu harus membicarakan apa. Varo sengaja tidak memulai pembicaraan, karena dia berpikir mungkin saja lelaki itu sedang berkabung. Sedangkan Alisha daritadi hanya menundukkan kepala, tidak seperti biasanya.
“Ini, juga yang kemarin.” Kata lelaki itu memberikan beberpa lembar uang puluhan ribu, Varo menerima uang itu.
“Kalau gitu gue duluan ya?” pamit lelaki tersebut dan melirik kearah Alisha yang masih menunduk sebelum berlalu.
Varo hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum, lalu pandangannya beralih pada Alisha yang sedari tadi diam.
“Kenapa, Sha?” Tanya Varo.
“Nggak apa- apa.” Jawab Alisha lirih, seperti sebuah bisikan. Entah mengapa tiba- tiba saja kepalanya sakit.
__ADS_1
Varo memutuskan untuk segera pulang, karena hari sudah mulai gelap. Angin juga berhembus makin kencang, membuat bulu kuduk berdiri tegak.