
Alisha sedang merangkai beberapa tangkai bunga, Bu Fira mendapat pesanan beberapa rangkaian bunga dan sepulang sekolah Alisha langsung membantu Mamanya tersebut. Sebenarnya disitu juga ada Varo, tetapi Varo tidak terlalu pandai dalam hal merangkai bunga. Jadi, daripada Varo mengacau lebih baik Bu Fira meminta bantuan Alisha.
Varo hanya diberi tugas untuk menghitung jumlah bunga yang sudah berbentuk rangkaian. Tiba- tiba pintu toko terbuka, tanda ada pelanggan yang hendak membeli bunga. Pandangan Bu Fira, Alisha, dan Varo segera tertuju pada pintu masuk. Terlihat seorang lelaki mengenakan jaket merah dengan tas dipunggungnya memasuki toko.
“Biar Alisha aja.” Kata Alisha spontan dan langsung bangkit dari duduknya.
“Mawar putih?” Tanya Alisha langsung begitu berdiri di belakang lelaki itu.
Lelaki itu menoleh dan tersenyum mendapati Alisha yang berdiri dibelakangnya, tentu saja lesung pipi lelaki tersebut terlihat di kedua pipi.
“Iya, ada kan?”
“Tentu aja, sebentar."
Alisha dengan cekatan mengambil beberapa tangkai mawar putih dan siap dirangkainya. Mereka berdua duduk di sebuah kursi. Dari kejauhan Bu Fira dan Varo hanya memperhatikan gerak- gerik Alisha dan lelaki itu.
“Thank’s ya kemarin udah mau ngantar bunga ke makam.” Kata lelaki itu mengucapkan terima kasih.
“Sama- sama, tadinya gue heran. Karena, baru kali ini ada orang pesan bunga dan minta diantar ke makam.” Jawab Alisha dengan menyunggingkan seulas senyum riangnya.
“Ini udah jadi!” lanjutnya sambil memberikan bucket bunga yang sudah jadi.
Lelaki itu menerima bucket bunga itu dan berjalan menuju tempat Bu Fira berada, Alisha mengikuti langkahnya dari belakang.
Setelah lelaki tersebut keluar dari toko, Alisha kembali bergabung dengan Mama dan Kakaknya. Bu Fira dan Varo saling melirikkan mata, yang tengah dilirik tidak menyadari gerak- gerik mata kedua orang itu. Terkadang Bu Fira senyum- senyum sendiri, sedangkan Varo menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring pada Alisha. Lama- kelamaan karena Alisha merasa ada yang aneh, dia mendonggakkan kepalanya dan mendapati Bu Fira juga Varo tengah memandangnya.
“Tadi, teman kamu?” Tanya Bu Fira masih dengan pekerjaannya.
“Hah? Yang tadi? Bukan, iya… eh nggak tau baru kenal juga.” Jawab Alisha bingung.
“Kelihatannya deket banget.” Goda Bu Fira.
Varo hanya tersenyum samar melihat Adiknya salah tingkah setelah di goda Bu Fira. Tidak lama kemudian mereka pun telah selesai merangkai beberapa bunga. Sekarang tugas Alisha dan Varo adalah mengantarkannya kepada pemesan. Mereka berdua tidak keberatan, malah Alisha terlihat bersemangat.
Hari ini toko tutup agak larut malam, karena memang besok Alisha tidak ada pelajaran dan Varo juga tidak ada jadwal kuliah. Besok di sekolah Alisha merayakan hari ulang tahun dan akan mengadakan pentas seni. Alisha tidak sabar ingin cepat- cepat hari ini berakhir, bukan tidak sabar untuk acara pentas seninya, melainkan Alisha tidak sabar besok dia bisa menghabiskan waktu seharian di kantin.
Dia senang membayangkan, pasti besok kantin akan lebih lengang tidak seperti hari biasanya selalu penuh dengan anak- anak saat istirahat.
“Wah, Kakak dapat undangan buat datang ke acara pensi besok di sekolah.” Kata Varo bersemangat saat mereka sudah sampai di rumah. Alisha langsung menoleh kearah Varo.
“Kok bisa?”
“Bisa dong, yang dapat undangan itu alumni sekolah yang dulunya menjadi pengurus OSIS. Dulu Kakak kan termasuk pengurus OSIS, berarti besok kamu bisa datang bareng Kakak.”
Tiba- tiba saja Alisha merasa tidak semangat, bukan karena mengetahui bahwa Varo di undang ke acara tersebut. Dia sudah dapat membayangkan bagaimana besok saat seluruh penghuni sekolah melihat sang idola sekolah datang. Alisha memang terkadang merasa iri pada Kakaknya saat ada orang yang membanding- bandingkan dirinya dengan Varo.
Keesokkan paginya Alisha sudah bersiap- siap untuk berangkat ke sekolah. Dia mengenakan celana jeans panjang hitam dan kaos lengan pendek dilengkapi rompi jeans biru, rambutnya di kucir ekor kuda dan dipadukan sepatu kets berwarna biru muda. Hari ini memang semua siswa- siswi dibebaskan memakai baju apa saja, asalkan masih tergolong pakaian yang sopan. Alisha menuju meja makan yang sudah ada Bu Fira dan Varo di situ, mereka berdua tadi sedang membincangkan sesuatu.
Varo sepertinya juga sudah siap untuk menjadi tamu undangan di sekolah Alisha. Varo mengenakan celana jeans hitam sama seperti Alisha dan kemeja lengan pendek berwarna biru muda dengan sepatu berwarna hitam bercorak biru. Mereka berdua terkesan seperti serasi, dengan baju yang hampir senada. Setelah sarapan, Varo dan Alisha langsung melesat menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, suasana sekolah sudah cukup ramai. Panggung yang cukup besar berdiri tegak di tengah lapangan. Tenyata pengurus- pengurus OSIS terdahulu sudah banyak yang datang. Alisha sedikit mengenal beberapa teman- teman Varo. Varo memarkirkan motornya tidak jauh dari gerbang masuk. Disana sudah ada Pak Oman yang mengatur kendaraan yang terparkir di tempat itu. Alisha turun dari motor dan membenarkan letak tas punggungnya.
“Hei, sob. Datang juga akhirnya, lama nggak ketemu.” Sapa seseorang membuat Varo yang baru melepas helmnya menoleh, begitu juga Alisha.
“Oh elo, Van. Apa kabar? Dimana lo sekarang?” Tanya Varo bertubi- tubi sambil berjabat tangan temannya tersebut.
Alisha masih diam di tempat, pandangannya menyapu sekitar. Lalu pandangannya terhenti pada sosok laki- laki yang mengenakan jaket hitam dengan celana coklat dan sepatu hitam.
“Sha, Alisha!” panggil Varo.
“Eh, iya apa?” Tanya Alisha dan spontan menoleh ke samping.
“Kakak kesana dulu, nanti kalau mau pulang sms.” Pesan Varo.
“Sip.” Balas Alisha mengacungkan jempolnya, dia kembali memandang kearah tempat laki- laki itu berdiri tadi.
Namun, ternyata lelaki itu sudah tidak berada di situ. Akhirnya Alisha berjalan menuju taman sekolah, karena memang acara belum di mulai.
__ADS_1
Alisha berjalan seorang diri menuju taman. Sebenarnya tadi dia hendak ke kantin, tapi karena sudah sarapan dan Alisha masih kenyang, jadi dia memutuskan untuk menunda keinginannya tersebut. Tiba- tiba saja banyak anak- anak perempuan menghampirinya, Alisha hanya bisa mengerutkan dahinya karena bingung.
“Al, lo berangkat bareng Abang lo kan? Dia dimana sekarang?” Tanya salah satu dari anak tersebut.
Alisha mendengus kesal, dia pikir ada apa ternyata hanya menanyakan Varo.
“Tau, tadi sama temennya. Mungkin kumpul sama anak- anak OSIS yang lain.” Jawab Alisha sekenanya.
“Thank’s ya, baju lo bagus.” Puji anak itu sebelum pergi dengan yang lainnya.
Alisha kembali mendengus dan berjalan menuju taman yang sudah tidak jauh lagi. Alisha berapapasan dengan Akbar saat melewati koridor.
“Mau kemana?” Tanya Akbar yang tengah membawa berlembar- lembar kertas.
“Taman.”
“Awas kalau nanti lo nggak nongol di lapangan!”
Akbar kembali melanjutkan jalannnya, karena Alisha yakin pasti dia masih banyak yang harus dikerjakan. Alisha hanya meringis mendengar perkataan Akbar yang terakhir. Sepertinya Akbar sudah mengetahui jika selama acara berlangsung Alisha akan berada di kantin.
Alisha mengeluarkan headsetnya dan segera disambungkan dengan ponselnya. Alisha duduk di bawah sebuah pohon, kepalanya dia senderkan pada pohon tersebut. Menikmati suasana sunyi di taman ini, seorang diri. Alisha memang lebih suka seperti ini, dari pada suasana yang ramai.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, Alisha yang tadi memejamkan mata spontan membuka matanya. Walaupun telinga Alisha tersumpal headset, dia tetap dapat mendengar sesuatu karena volume lagu yang didengarnya tidak terlalu besar.
“Ngapain disini?” sapa seseorang, dari suaranya Alisha sudah tidak asing lagi.
Alisha menoleh dan mendapati lelaki tersebut berdiri dibelakangnya.
“Nggak ngapa- ngapain, cuma emang lebih suka suasana yang sepi.” Jawab Alisha melepas headsetnya, lelaki itu duduk disebelahnya. Jantung Alisha tiba- tiba saja berdetak dua kali lebih cepat.
“Ternyata lo sama kayak gue, gue juga nggak begitu suka keramaian.”
Alisha mengernyitkan dahinya bingung, jika lelaki ini tidak suka keramaian. Lalu kenapa lelaki ini malah menjadi pengurus OSIS yang tentu saja akan selalu bersosialisasi.
“Sebenarnya gue ikut OSIS nggak berharap jadi pengurus. Eh, sekarang gue malah jadi waketos. Mau nggak mau gue harus berkecimpung di berbagai kegiatan.” Jelas lelaki itu, Alisha mendengarkan dengan sangat antusias.
“Enggak ikut apa- apa, tau deh nggak ada minat buat ikut ekskul di sekolah.” Jawab Alisha pandangannya menerawang ke angkasa.
“Emang di sini nggak ada ekskul merangkai bunga ya?” Tanya lelaki itu bergurau.
Alisha hanya tersenyum mendengar gurauan lelaki itu – yang sampai sekarang belum tahu namanya –, ternyata lelaki itu sangat ramah.
“Acaranya udah mulai tuh, kesana yuk?” ajak laki- laki itu.
“Ehm, iya.”
Alisha tidak percaya, lelaki itu mengajaknya untuk ke lapangan bersama. Kini mereka berdua berjalan beriringan, sesekali lelaki itu mengajaknya mengobrol. Sesekali pula Alisha mencuri pandang untuk memperhatikan wajah lelaki itu, tidak jarang juga dia tertangkap basah sedang memperhatikan lelaki itu. Namun, saat mengetahui dirinya sedang diperhatikan, lelaki itu hanya tersenyum membuat Alisha menjadi kikuk.
“Alisha!” panggil Akbar dari sebuah stand. Alisha dan lelaki itu menoleh bersamaan.
“Gue kumpul sama temen- temen gue dulu ya?”
Alisha hanya menangguk, lelaki itu pergi menuju kearah sebuah stand yang berisi beberapa anak yang sedang berbincang- bincang. Alisha pun menghampiri Akbar yang sudah melambai- lambai kearahnya.
“Kirain lo bakal ngadem di kantin.” Kata Akbar begitu Alisha sampai.
“Tadinya sih.” Gumam Alisha.
Alisha duduk di stand itu bersama Akbar dan beberapa pengurus OSIS yang lain. Acara sudah sampai pada inti, band dari sekolah lelaki itu pun sudah naik keatas panggung. Akbar mengajak Alisha untuk maju ke depan bersama anak- anak yang lain, sebenarnya Alisha tidak mau. Namun, saat melihat lelaki itu juga maju ke depan, Alisha langsung bersemangat dan mendahului Akbar.
Di depan panggung sangat ramai, Alisha melihat sekilas Varo sedang duduk bersama teman- temannya di pinggir lapangan. Sebuah lagu mengalun membahana di seluruh sekolah, Alisha sama sekali tidak mengetahui lagu apa yang dimainkan.
“Ini lagu apaan?” Tanya Alisha sedikit berteriak pada Akbar, karena suara musik sedang menguasai saat ini.
“Gue juga nggak tau, agak minggir yuk!” ajak Akbar.
Alisha hanya mengangguk dan mengikuti langkah Akbar menuju agak ke belakang.
__ADS_1
Mereka berdua hanya berdiri menonton band tersebut. Padahal Akbar dan Alisha sama sekali tidak tahu lagu yang sedang dimainkan. Tidak lama lagu itu berakhir, lagu kedua mulai dinyanyikan. Kali ini Alisha sedikit menikmati musiknya, karena tidak seperti tadi.
Tiba- tiba entah bagaimana mulainya, anak- anak yang berada di depan panggung saling dorong. Tidak lama kemudian mereka sudah ricuh, penonton memang bukan hanya dari sekolah Alisha, tetapi juga dari sekolah band tersebut. Dalam sekejap lapangan berubah menjadi arena tawuran. Band yang tadi berada di atas panggung cepat- cepat turun, karena takut terkena lemparan batu. Akbar yang berada di samping Alisha berlari menuju panggung bersama pengurus OSIS yang lain juga pengurus OSIS dari SMA 25 untuk meredakan tawuran.
Alisha yang ditinggal seorang diri merasa takut, kalau- kalau ada sebuah benda nyasar. Para pengurus OSIS tidak berhasil meredam amarah para penonton itu. Tawuran pun merembet hingga keluar lapangan sekolah. Alisha yang masih berada di tempat itu tidak tahu harus berbuat apa. Dia mencari- cari keberadaan Varo yang tadi berada dalam jangkauan pandangannya, tapi sekarang sudah tidak ada. Suasana bertambah ricuh, para guru pun sedang berusaha menelepon polisi.
Tiba- tiba saja, entah datang dari mana. Alisha merasa ada sesuatu mendarat di kepalanya, Alisha yakin itu benda keras. Spontan Alisha memegang kepalanya dan meringis kesakitan.
Alisha masih memegangi kepalanya yang tadi terkena sebuah benda keras, sepertinya batu yang lumayan besar. Kini sedang terjadi perang batu, anak- anak saling melempar batu. Alisha berusaha berjalan menjauhi kerumunan yang sudah berada di mana- mana itu. Kembali Alisha terkena lemparan batu, kini tepat di kaki kirinya. Tiba- tiba ada yang menarik tangannya dan menutupi kepalanya, Alisha mendongakkan kepala. Dia terkejut melihat lelaki – yang entah siapa namanya – itu merentangkan jaketnya untuk menutupi kepala Alisha dan menarik dirinya untuk menjauh dari tempat itu.
“Lo tau ruang UKS kan?” Tanya lelaki itu setelah berhasil membawa Alisha keluar dari kerumunan massa.
Alisha hanya mengangguk pelan, kepalanya terasa pening setelah tadi dilempar batu. Begitu juga kakinya yang terkena lemparan batu rasanya ngilu. Sekarang Alisha sudah berada di ruang UKS, ada beberapa anak yang juga terluka disini. Lelaki itu membawa kompresan dan mengajak Alisha untuk duduk di depan sebuah kelas yang cukup sepi.
Lelaki itu memberikan kompresan kepada Alisha. Alisha segera menerimanya dan meletakkan kompresan itu di belakang kepalanya yang terasa sakit. Dia sedikit meringis saat kantung yang berisi air dingin itu menyentuh kepala bagian belakangnya.
“Sakit? Ada lagi yang luka?” Tanya lelaki itu.
“Kaki kiri tadi kayaknya kena lemparan batu.” Jawab Alisha sambil melipat celananya, terlihat sebuah luka yang tidak terlalu besar dan kaki kiri Alisha membiru.
“Sebentar!”
Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, Alisha juga tidak menyadari sejak kapan lelaki itu membawa tas punggung. Sebuah perban, dengan telaten lelaki itu menututp luka Alisha. Alisha hanya memperhatikan apa yang dilakukan lelaki itu dengan pandangan kagum.
Lelaki tersebut masih menemani Alisha yang masih terlihat lemas dan syok. Alisha menyandarkan kepalanya pada tembok dibelakangnya, kepalanya masih pusing. Tidak lama kemudian Alisha merogoh saku celananya untuk mencari sesuatu. Lelaki itu hanya memperhatikan gerak- gerik yang dilakukan Alisha. Alisha mengeluarkan sebuah ponsel, matanya membulat begitu melihat banyak sekali panggilan dari Varo. Alisha segera kembali menelepon Varo.
“Sha, kamu dimana? Kenapa tadi nggak diangkat teleponnya? Nggak ada yang luka kan?” Tanya Varo bertubi- tubi begitu Varo mengangkat teleponnya.
“Alisha ada di depan kelas sepuluh IPS satu.”
“Kakak kesana.”
Alisha kembali memasukkan ponselnya di dalam saku. Tidak lama Varo datang bersama dengan Akbar dan beberapa orang temannya. Lelaki itu langsung bangkit dari duduknya membiarkan Varo yang duduk disamping Alisha.
“Ada yang luka?” Tanya Varo memperhatikan Alisha dari kepala hingga kaki.
Lalu pandangan Varo berhenti pada kaki kiri Alisha yang terbalut perban.
“Itu kenapa?”
“Tadi kena lemparan batu.”
“Sorry, tadi gue langsung ninggalin lo.” Ucap Akbar merasa bersalah.
“Nggak apa- apa.”
“Ehm, tadi gue sempet lihat kepalanya kena lemparan batu.” Sela lelaki itu memberitahu, karena Alisha sengaja tidak memberitahu mereka. Semua orang akhirnya menoleh pada Alisha.
“Sakit nggak? Berdarah? Ke rumah sakit ya? Nanti Kakak telepon Mama.” Kata Varo panik, seperti itulah Varo jika sedang mengkhawatirkan sesuatu. Dia akan terlihat seperti seorang wanita.
“Nggak usah, ini juga nggak apa- apa cuma sedikit pusing. Sebentar lagi juga hilang pusingnya.” Jawab Alisha menenangkan Varo.
Akhirnya Varo memutuskan membawa pulang Alisha, acara pensi juga dibubarkan. Banyak polisi yang mengamankan kawasan sekolah Alisha, terlihat ada Pak Oman juga yang berjaga- jaga membantu para polisi. Sesampai di rumah, Varo segera melaporkan kejadian tadi pada Bu Fira. Tentu saja Bu Fira menutup tokonya lebih awal untuk melihat keadaan putrinya.
“Jadi, bagaimana dok? Apakah luka dikepalanya parah?” Tanya Bu Fira pada seorang dokter yang terlihat masih muda.
Bu Fira segera membawa Alisha ke dokter pada keesokkan harinya.
“Tidak parah, hanya ada luka kecil di kepala bagian belakang. Tapi, Ibu tenang saja itu tidak akan menjadi masalah.” Jawab dokter tersebut sambil tersenyum.
Bu Fira pun dapat bernafas lega, selanjutnya dia mohon diri untuk keluar dari ruang dokter itu. Bu Fira menemui Alisha, dia sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit ditemani Varo. Melihat Bu Fira berjalan mendekat membuat Varo langsung berdiri.
“Gimana, Ma? Apa kata dokter?” Tanya Varo langsung.
“Adik kamu nggak kenapa- kenapa, itu hanya luka kecil.” Jawab Bu Fira.
“Tuh kan? Lagian sekarang aja Alisha udah nggak ngerasa pusing. Alisha udah nggak apa- apa.” Celetuk Alisha.
__ADS_1
Varo hanya mencibir Alisha, sedangkan Bu Fira hanya tersenyum dan bernafas lega. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah.