
Di sekolah Alisha termasuk anak yang populer, sebenarnya bukan Alisha yang menjadi populer, melainkan Kakaknya. Semua penghuni di sekolah ini tahunya Alisha adalah Adik dari Avaro Tristan Anindito. Kalau saja Alisha bukanlah Adik dari Varo, tidak akan dia populer seperti sekarang.
Banyak anak yang selalu saja menanyakan ini itu kepada Alisha tentang Varo, karena dia tidak mau mengecewakan fans- fans Kakaknya tersebut, Alisha sering menjawab dengan semua kebiasaan buruk Varo.
Dan yang membuat Alisha cengo, jawaban dari mereka malah seperti ini:
“Wah, ternyata Kak Varo lucu juga ya? Pasti dia imut banget kalau tidur sambil nganga mulutnya.”
Mendengar jawaban dari mereka, membuat Alisha ternganga. Niatnya agar semua fans kakaknya itu ilfil, malah mereka terkagum- kagum.
Namun, para kaum adam malah tidak berani mendekati Alisha. Entah mengapa bisa terjadi fenomena seperti itu. Alisha pun memilih sendiri dan tidak terlalu berteman akrab dengan para kaum hawa, karena dia tahu kalau kaum hawa hanya mengincar sang Kakak bukan dirinya.
Sebaliknya jika Alisha mendekati dan ingin lebih akrab dengan kaum adam, dia malah dijauhi. Alasan- alasan yang sering di dengarnya dari para kaum adam seperti ini:
“Maaf, kita takut sama Abang lo.”
“Kok gitu? Kenapa takut? Dia jinak kok.”
“Beneran jinak? Kalau gitu berarti kita boleh main ke rumah lo dong?” celetuk para kaum hawa.
Hanya ada seorang lelaki di sekolah yang benar- benar berani mendekati Alisha, siapa lagi kalau bukan Akbar – guru les Alisha –. Sebenarnya dalam hati para kaum adam juga ingin bisa dekat dengan Alisha. Siapa yang tidak terpesona dengan wajah Alisha yang tidak kalah dengan Varo, maksudnya Varo ganteng berarti Adiknya juga pasti cantik.
Apalagi dengan kelakuan- kelakuan Alisha yang ajaib, membuat para kaum adam lebih terpesona pada Alisha - terpesona dalam diam –.
“Sendirian aja lo.” Sapa Akbar membawa semangkuk bakso.
“Emang biasanya sendiri kan?” jawab Alisha sambil melirik ke mangkuk bakso yang di bawa Akbar.
Akbar merasa ada yang tidak beres langsung mengamankan mangkuk baksonya tersebut.
__ADS_1
“Pelit, lo. Minta dikit dong! Gue belum makan.”
“Emang lo nggak di kasih uang jajan?”
Alisha hanya menggelengkan kepala dengan wajah polosnya. Akhirnya dengan terpaksa, Akbar memberikan semangkuk baksonya tersebut pada Alisha. Dengan nafsu yang menggebu- gebu, Alisha langsung merebut mangkuk tersebut dan dalam sekejap langsung ludes isinya.
“Kok bisa ya Kak Varo punya adek kayak lo?” gumam Akbar menelan ludahnya.
Alisha hanya melirik tajam kearah Akbar, tapi seketika lirikan tajam itu berubah menjadi lirikan berbinar dimana Alisha melihat segelas es teh yang juga milik Akbar. Belum sempat Akbar mengamankan es tehnya, segelas es teh itu sudah aman di tangan Alisha.
“Makasih Kak makanannya. Gue ke kelas dulu ya?” kata Alisha dan berjalan santai menuju ke kelasnya.
Kini Akbar hanya bisa memandang nanar mangkuk dan gelas yang sudah kosong tanpa sisa sedikit pun, sekarang dia memandang isi kantungnya dengan tatapan yang sama.
***
Hari ini Alisha sedang menunggu sebuah bus di halte dekat sekolah. Sebenarnya, banyak anak- anak yang baru pulang dari sekolah dan hampir semuanya mengenal sosok Alisha. Alisha segera memasang headset pada telinga kanan dan kiri agar tidak mendengar desas- desus orang di sekitarnya. Sebuah bus berhenti tepat di depan Alisha, tanpa pikir dua kali Alisha segera masuk bus tersebut.
“Permisi, boleh saya duduk disini?” Tanya lelaki tersebut pada Alisha. Spontan Alisha langsung menoleh.
“Silahkan!” jawabnya dan kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Rasanya jantung Alisha berdetak dua kali lebih cepat, saat sesekali dirinya melirik ke samping tempat lelaki tersebut kini duduk.
Suasana di dalam bus kali ini sangat hening. Alisha tidak tahu harus memulai percakapan darimana, seingatnya malah pertemuan dengan lelaki disebelahnya kini selalu saja pada moment yang tidak tepat. Terakhir kali mereka berdua bertemu di taman beberapa waktu yang lalu, dimana saat lelaki tersebut putus dengan pacarnya. Dan setelahnya, Alisha malah terjatuh tepat di samping tong sampah.
Tak terasa bus sudah memasuki terminal, ini waktunya Alisha turun dari bus. Bus sudah berhenti cukup lama, Alisha merasa canggung hendak lewat di depan lelaki tersebut.
“Turun dimana?” Tanya lelaki tersebut.
__ADS_1
“Ehm, ini mau turun.” Jawab Alisha ragu.
“Oh, silahkan!”
Lelaki tersebut mempersilahkan Alisha lewat, Alisha pun cepat- cepat keluar dari bus karena jika berlama- lama disini jantungnya pasti sudah bocor. Apalagi penumpang lainnya sudah turun dari bus tersebut.
Sebenarnya Alisha masih penasaran dengan lelaki tersebut, dia kira lelaki itu akan ikut turun dan pergi ke toko bunga Mamanya. Ternyata lelaki itu tidak turun dari bus, cukup lama Alisha menunggu lelaki itu turun dari bus. Namun, sampai bus tersebut meninggalkan terminal, lelaki itu belum juga turun dari bus.
Alisha berjalan menuju toko bunga Bu Fira dengan langkah malas. Langkahnya sengaja diseret, sehingga mengundang perhatian orang- orang yang berpapasan dengannya. Sampailah Alisha di toko bunga Bu Fira, terlihat Bu Fira sedang sibuk melayani para pelanggannya.
“Baru pulang, Sha?” Tanya Bu Fira sambil mengikat setangkai bunga mawar merah.
“Iya, Ma. Alisha ganti baju dulu.”
Alisha segera mengganti seragamnya dengan kaos untuk sehari- hari, lalu dia langsung menghampiri Bu Fira yang masih melayani beberapa pelanggan.
“Tolong Mama ya? Yang itu belum dilayani, tolong ya?” pinta Bu Fira.
Alisha hanya mengangguk dan menuju ke beberapa kerumunan orang yang sedang melihat- lihat bunga.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Alisha ramah.
“Satu bucket bunga tulip ya?” pinta seorang perempuan muda yang sepertinya lebih tua dari Alisha dengan senyum manisnya, disebelahnya berdiri seorang lelaki berperawakan gagah.
“Iya, tunggu sebentar.” Jawab Alisha dan mengambil beberapa tangkai bunga tulip, dengan cekatan Alisha merangkai bunga- bunga tersebut.
Setelah selesai dia berikan bucket bunga tersebut pada perempuan itu, perempuan itu memberikan beberapa lembar uang. Alisha menerimanya dan segera menuju ke kasir tempat Bu Fira berada. Alisha kembali dengan uang kembalian, dia memberikannya pada perempuan tersebut.
“Terima kasih.” Ucap Alisha saat perempuan dan lelaki itu keluar toko.
__ADS_1
Cukup lama Alisha memperhatikan perempuan tadi sampai menghilang di tikungan jalan, dia seperti pernah melihat perempuan tersebut. Namun, Alisha lupa pernah bertemu dimana.