What Is Your Name?

What Is Your Name?
No Name


__ADS_3

Alisha sudah duduk di dalam bus, pandangannya mengarah keluar jendela. Alisha sibuk melamun hingga tidak sadar ada seseorang yang menegurnya. Kebetulan bangku di samping Alisha kosong, orang itu langsung duduk di sebelahnya tanpa disadari Alisha.


“Topinya langsung lo pakai ya?” tegur orang itu dan membuat Alisha sontak menoleh kaget.


“Eh elo. Ehm, nggak boleh ya? Kalau gitu gue lepas aja.” Kata Alisha merasa salah tingkah dan hendak melepas topi tersebut. Namun, tangannya ditahan oleh NN.


“Jangan! Lo cocok pakai topi itu.” Ucap NN sambil tersenyum dan tentu saja membuat senyum Alisha juga mengembang.


Alisha segera mengalihkan pandangannya keluar jendela, karena dia sudah merasa bahwa pipinya pasti memerah. Alisha menggigit bibirnya untuk mengatasi kegugupannnya. Cukup lama mereka berdua tidak saling bicara, melihat Alisha yang diam membuat NN kebingungan untuk mencari topik pembicaraan yang sesuai.


“Ehm, lo mau ke toko kan?” Tanya NN pada akhirnya. Alisha kembali menoleh dan hanya mengangguk sebagai jawabannya. “Gue mau beli bunga.” Lanjut NN dengan senyum tipisnya.


“Ehm, apa… setiap hari lo selalu datang ke makam itu?” Tanya Alisha sedikit ragu.


Mendengar pertanyaan Alisha, NN mengalami perubahan ekspresi wajah. Alisha yang menyadari akan perubahan ekspresi NN menjadi khawatir.


“Nggak usah di jawab pertanyaan gue tadi, gue asal ngomong. Sorry.” Kata Alisha cepat.


NN hanya terdiam, Alisha kembali menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Setiap hari gue selalu kunjungin makam Nyokap. Sepuluh tahun lalu, Nyokap gue mengalami kecelakaan tragis dan nyawanya nggak dapat diselamatin. Saat itu Nyokap baru pulang dari luar kota, dia bawa mobil sendiri. Telfon gue, beritahu kalau hari itu Nyokap perjalanan pulang ke rumah. Entah kenapa…”


“Entah kenapa tiba- tiba sambungan telepon gue dengan Nyokap terputus, terakhir yang gue denger di telepon adalah jeritan Nyokap. Jeritan yang bener- bener buat gue pilu. Dan beberapa jam kemudian ada sebuah telepon masuk yang beritahu bahwa Nyokap udah… nggak ada.” Cerita NN dengan raut wajah yang teramat sedih.


Seperti kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun silam, bagaikan baru kemarin terjadi. Alisha sendiri juga dapat merasakan bagaimana terpukulnya NN saat mengetahui bahwa Mamanya sudah meninggal.


“Ehm, udah sampai. Ayo turun!” ajak Alisha, karena memang mereka sudah sampai di terminal dimana tempat Alisha biasa turun.

__ADS_1


Alisha dan NN berjalan bersama menuju toko. Suasana menjadi hening, karena mereka tidak saling bicara sejak turun dari bus. Alisha merutuki dirinya, karena pasti ini disebabkan Alisha. Suasana yang tadinya sudah baik- baik saja menjadi sedih. Alisha berjalan menunduk dan sesekali menghembuskan nafas. Alisha teringat kalau dia belum mengetahui nama lelaki tersebut, Alisha mencoba melirik nametag yang menempel di seragam lelaki itu. Namun, Alisha segera menggelengkan kepalanya.


‘Ini bukan waktu yang sesuai, dia lagi sedih. Lo kan bisa tau namanya lain hari lagi, jangan sekarang.’


BUKK!!


Karena asyik menggelengkan kepala, berjalan menunduk, dan melamun. Alisha tidak mendengarkan peringatan NN. Alhasil, Alisha menabrak tiang listrik yang berada tepat di depan toko bunga Bu Fira.


“Maaf, nggak sengaja.” Kata Alisha yang masih belum sadar.


NN tidak bisa menahan tawanya melihat kelakuan Alisha, tadinya dia ikut meringis saat dahi Alisha menyentuh tiang listrik itu.


“Coba lihat depan lo!” perintah NN.


Alisha langsung mendongak dan terkejut, karena ternyata yang ditabraknya bukanlah orang, melainkan tiang listrik. Alisha menoleh kearah NN yang sedang berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Tentu kini pipi Alisha sudah merona menahan malu atas kelakuan konyolnya. NN tidak jadi menertawakan Alisha karena melihat pipi Alisha yang merona. Baru kali ini dia melihat Alisha dengan pipi merona menahan malu.


Mereka berdua pun segera masuk ke dalam toko, ternyata yang berada di dalam toko hampir semuanya melihat kejadian Alisha tadi. Bu Fira tidak melihat kejadian itu sepenuhnya, karena sedang melayani seorang pembeli. Varo juga ada di dalam, dia menepuk dahinya melihat betapa konyol Adiknya itu. Sedangkan Akbar melihat kejadian itu tanpa berkedip, Akbar melihat dengan jelas tatapan Alisha pada NN. Akbar juga melihat jelas rona pipi Alisha saat dia mendongakkan kepala melihat NN. Akbar memang sudah sampai toko terlebih dulu, karena dia naik motor.


Akbar masih memperhatikan Bu Fira, Alisha, dan orang yang menjadi salah satu panitia pensi kemarin. Tiba- tiba ada yang menepuk bahunya, Akbar menoleh dan mendapati Varo sudah duduk disebelahnya. Varo juga memandang kearah yang sama dengan Akbar.


“Cemburu menguras bak sampah.” Celetuk Varo dan menopang dagu memperhatikan Alisha yang sedang mengobrol dengan Bu Fira.


“Siapa yang cemburu?”


“Menurut lo siapa? Eh, kata Alisha lo lagi ada persiapan olimpiade, kok disini?”


“Gue digantiin adek kelas. Lagian perjanjian buat nge- private adek lo juga belum jatuh tempo.”

__ADS_1


“Iya juga sih. Tapi, kayaknya percuma deh lo ajarin adek gue rumus- rumus matematika, orang tiap hari aja dia masih kena hukuman.”


Alisha berjalan menuju meja yang ditempati Varo dan Akbar, lalu duduk di depan mereka berdua dengan wajah kesal. Dia diusir oleh Bu Fira, karena Akbar sudah menunggunya cukup lama. Lagipula NN juga sudah keluar dari toko.


“Oke, selamat belajar.” Ucap Varo dan meninggalkan mereka berdua.


“Buka buku lo!” perintah Akbar.


Alisha hanya menurut dan membuka sebuah buku paket dan buku tulis. Akbar sedang mencari- cari soal yang tepat untuk Alisha, dia membolak- balik buku kumpulan soalnya.


“Nih, kerjain! Lima soal cukup kan?”


“Kebanyakan malah.” Celetuk Alisha dan menerima soal- soal yang diberikan Akbar. Seperti biasa, saat melihat soal yang diberikan Akbar mata Alisha selalu membulat ketika membaca soal tersebut.


“Ini susah, nggak ada yang lebih gampang ya?”


“Nggak usah bawel, kerjain!”


Setelah beberapa jam, Alisha hanya mampu menjawab sebanyak tiga soal. Namun, hanya satu soal yang benar, itu setelah diteliti oleh Akbar. Akbar mengembalikan buku Alisha dan menyuruhnya untuk memperbaiki dengan jawaban yang benar. Alisha kembali menerima dengan wajah kesal dan terlihat sangat lelah, dia memang tidak ahli dalam matematika. Namun, Bu Fira terus memaksanya agar Alisha paling tidak menguasai beberapa rumus matematika seperti Varo.


Varo cukup pandai dalam matematika, walaupun tidak sepandai Akbar tentunya. Lagi- lagi Varo, Alisha mendengus sebal saat mengingat tentang hal tersebut. Alisha mengetuk- ngetukkan pensil didahinya, dia benar- benar telah jenuh. Melihat ekspresi Alisha yang sudah terlihat seperti orang yang depresi, membuat Akbar tidak tega melanjutkan pembelajaran.


“Lo kerjain besok aja, tapi besok harus jadi semua.” Kata Akbar akhirnya.


“Hmm.” Gumam Alisha dan menidurkan kepalanya di meja, kepalanya terasa sangat berat dan pening.


“Kalau gitu gue langsung balik, inget tuh tugas lo.”

__ADS_1


“Iya… iya.”


Setelah berpamitan dengan Bu Fira dan juga Varo, Akbar pun segera pulang ke rumah. Hari sudah sore, langit juga sudah mulai gelap. Alisha masih berada diposisinya hingga tidak terasa dirinya tertidur.


__ADS_2