What Is Your Name?

What Is Your Name?
Antara Dua Pilihan


__ADS_3

Sepulang sekolah Akbar bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya. Setelah memakai helm, Akbar segera menstater motornya dan berjalan menuju gerbang sekolah. Tiba- tiba motornya terhenti saat ada sebuah motor berwarna hitam berhenti di depan motor Akbar. Akbar membuka kaca helm untuk melihat dengan jelas, siapa orang yang sekarang berada tepat berhenti didepannya. Orang itu melihat sekeliling, membuat Akbar melakukan hal yang sama. Masih banyak siswa- siswi yang akan pulang, tak ayal jika sekarang mereka menjadi objek pandangan.


Orang itu memberi kode agar Akbar mengikuti laju motor orang itu. Dengan wajah masih heran, akhirnya Akbar mengikuti orang tersebut.


Orang itu menghentikan laju motornya di pinggir jalan yang cukup sepi, Akbar ikut menghentikan motornya tepat di samping motor orang itu. Akbar membuka kaca helmnya, dia masih duduk diatas motor. Orang itu melepas helm yang dikenakannya, seketika Akbar merasa sedikit terkejut melihat wajah dibalik helm tersebut. Orang itu menoleh kearah Akbar.


"Masih inget gue?" Tanya orang tersebut.


"Lo... Sakti?" tebak Akbar ragu. Sakti menyunggingkan senyum samar.


"Gue kira lo udah lupa nama gue, sejak kejadian sebulan yang lalu."


Akbar kembali teringat kejadian di sekolah yang juga melibatkan sekolah Sakti. Namun, yang masih sangat segar diingatannya adalah, ketika ternyata Sakti yang berhasil melindungi Alisha dan bukan dirinya. Akbar hanya menyunggingkan senyum masamnya.


"Kenapa lo nyari gue?" Tanya Akbar.

__ADS_1


Sakti turun dari motornya dan berjalan menuju tepi jalan dan berdiri menghadap ke depan yang terpampang sebuah tanah kosong dengan rumput hijau.


"Ini tentang Alisha." Jawab Sakti tanpa menoleh. Mendengar itu, Akbar segera menghampiri Sakti dan berdiri disebelahnya.


"Apa yang mau lo ketahui tentang dia?"


"Gue cuma pengen tau sedikit tentang kehidupan dia. Gue tau lo orang yang deket sama dia dan dari tatapan lo ke dia, gue tau kalo lo itu..."


"Nggak banyak yang gue ketahui tentang dia, karena gue juga baru kenal Alisha semenjak gue jadi guru dia." Cepat- cepat Akbar memotong ucapan Sakti tadi. Sakti menaikkan alisnya mendengar penjelasan Akbar.


Hubungan Akbar dengan Varo memang bukan hanya sekedar antara senior dan junior, melainkan mereka sudah menjadi teman dekat sejak Akbar masuk dunia OSIS. Mereka menjadi semakin dekat dan akrab. Namun, yang belum Akbar ketahui adalah jika ternyata Varo memilki seorang adik. Akbar memang belum pernah sekali pun datang ke rumah Varo, jadi dia hanya tahu sebatas kehidupan Varo di sekolah. Sampai ada desas- desus bahwa adik sang mantan ketua OSIS itu akan bersekolah di sekolah ini, Akbar mulai mencari kebenarannya.


"Gue tau kalau Alisha hanya tinggal bertiga dengan Kakak dan Mamanya." Cerita Akbar, pandangannya lurus ke depan. Info ini baru didengarnya saat Varo langsung bercerita padanya.


"Emang Bokapnya kemana?" Tanya Sakti menaikkan salah satu alisnya.

__ADS_1


"Udah lama meninggal." Jawab Akbar dengan menghembuskan nafas pelan. Sakti langsung menoleh, binar matanya meminta penjelasan dari Akbar.


"Gue nggak tau pasti penyebabnya, karena Varo nggak cerita secara detail. Dia hanya cerita secara garis besarnya aja. Itu alasan mengapa Nyokap Alisha memutuskan pindah ke kota ini."


"Jadi, Alisha bukan orang sini?" Tanya Sakti tidak percaya. Akbar hanya menganggukkan kepala.


Mereka berdua terdiam cukup lama. Sakti menatap pemandangan didepannya dengan pikiran melayang, tidak berbeda jauh dengan Akbar. Akbar menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dada. Beberapa minggu lalu dia baru mendengar semua cerita tentang kehidupan Varo dan Alisha, walau hanya garis besar yang diceritakan oleh Varo tidak terlalu detail. Namun, mampu membuat Akbar bisa ikut merasakan apa yang selama ini Alisha alami.


"Gimana persaan lo terhadap Alisha?" tiba- tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Akbar.


Seketika Sakti menoleh dan menatap Akbar dengan tatapan bingung. "Lo nganggap Alisha hanya sebatas teman atau..."


"Gue nganggap dia sebagai orang yang gue sayang." Jawaban Sakti membuat nafas Akbar tercekat, pupus sudah kesempatannya untuk menyatakan perasaannya pada Alisha. "Rasa sayang dari kakak kepada adiknya." Lanjut Sakti dengan senyum tipis menghiasi bibirnya. Akbar langsung menoleh dengan ekspresi terkejut.


"Jadi, lo cuma anggap dia adik?" Tanya Akbar memastikan dia tidak salah dengar. Sakti hanya mengangguk dan mengulum senyum. Tanpa sadar Akbar menghela nafas lega.

__ADS_1


__ADS_2