
makan siang sudah siap. mungkin sebentar lagi chocho dan jean sudah pulang. karna semua sudah siap, aku naik ke atas untuk pergi ke ruang baca. ruang baca itu terletak di samping kanan kamar kakek george yang tidak begitu luas.
aku naik tangga, hans bilang dia mau bermain handpone barunya dulu. huhh udah ada handpone lupa sama aku wak. okee fine!
nah anehnya, saat berada di depan kamar kakek george aku mendengar ada dua orang yang sedang bercakap cakap.
hemmm. apa itu hanya dari telephone? atau memang ada orang lain di dalam. tapi suaranya aja keras wak. ngga kayak telpon telponan gitu. rasa rasa ingin mengupingku pun keluar. ku tempelkan telingaku ke pintu kamar kakek george dan mulai mendengarkan.
"dia sungguh bekerja keras. apa kau tetap mau bersembunyi?" suara berat khas kakek george terdengar.
"jika aku muncul, dia tidak akan pernah menjadi mandiri. mungkin saja dia tidak akan mau bertemu orang lain selain aku. dia dulu bahkan pernah hampir meninggal karna menyelamatkan orang di hutan." suara orang yang sedang berdialog dengan kakek george ini sepertinya berusia sekitar 70 tahun kurang lebih sih. karena mungkin jaraknya agak jauh dari pintu, aku tidak begitu mengenal suaranya.
"aku bahkan tidak tau dia hampir meninggal." sambung kakek george. aku bingung siapa sih yang hampir meninggal? apa hanya orang yang mereka kenal? atau siapa?
"saat di hutan dia menggunakan sihirnya untuk menyelamatkan seseorang yang terkena sihir jahat. dia hampir menggunakan seluruh kekuatannya dan hampir meninggal. untung saja aku cepat menemukannya." jawab si unknow. sihir? apa dia berasal dari dunia penyihir? puzzle ini semakin menarik.
"kau pergilah. atau akan ada yang mendengar percakapan kita." perintah kakek george kepada orang itu. kenapa harus sembunyi sembunyi coba.
"tolong jaga dia."
hah? jaga dia? siapaaa? sebelum selesai berpikir, kakek george sudah berjalan menuju pintu. aku langsung berpura pura sedang berjalan pulang setelah dari ruang baca. raut mukaku yang terlihat tegang aku rileks kan. takutnya kan ketawan nguping.
krekkk. suara pintu kamar dibuka. kakek george keluar dan langsung bertanya. "kamu dari mana?"
"dari ruang baca kek. memangnya kenapa?" jawabku berusaha tenang dan tidak gugup. kakek george hanya menatap dan menggangguk.
"apakah makan siangnya sudah disiapkan?" tanya kakek lagi. biasanya tidak pernah sekalipun kakek george bertanya padaku tentang masalah sepele seperti ini. apa karena orang tadi?
"sudah kok kek. aku bahkan membuatnya sendiri." kataku sambil tersenyum.
"baiklah. panggil aku saat jane dan chocho sudah pulang untuk makan bersama." ucapnya sambil mengelus kepalaku. omaygatt baru kali ini lho wak. betol.
aku turun ke bawah untuk menemui hans. dia masih saja asyik bermain instegremnya. katanya dia mau jadi selebgrem gitu wak. ih mana ganteng kali ya kan. cuman 2 bulan udah 100 ribu wakk. bayangkan sodara sodara.
padahal jantungku masih dagdigdug memikirkan kegiatan ngupingku tadi. salah siapa nguping? eh iya juga ya.
"haiii. sepertinya handpone mu bagus ya." kataku menyindir. hans langsungmenoleh dan tersenyum. ya cuma gitu. nanti lanjot lagi maen hape nya itu. ish geram kali ah.
"kemari lah." perintah hans. ya udah lah, langsung aku dekatin itu si hans. ternyata wak...
dia memperlihatkan fotoku yang sedang tertidur saat belajar bersama hans dikamarku. dih gilak ini orang. berani beraninya aib. dan makin gilak nya, di upload di instegrem wak. yaamponn.
"berikannn." tanganku mencoba merebut handpone dari tangan hans. tapi dia malah berdiri dan menganggakat tangannya. udah tingginya kayak pohon kelapa, mana sampai aku.
"lihatlah, likenya sudah 50 ribu. padahal baru 4 jam. lumayan kan kalau dapet endorse." dia tertawa dan tetap menjauhkan handpone nya dari ku yang pendhek ini. biasaaa, 160 cm nyimak.
author: "gua 150 cm doang nyimak."
karna perlawananku yang sia sia ini tak berguna, ku sudahi saja lah. buang buang tenaga aja. akhirnya hans juga mengantongi handpone nya di celana, tersenyum sebentar, dan langsung mengecup keningku. dia berlari menuju kamarnya dan langsung menutupnya.
emang minta disambit ini orang. tapi baper lagi wakk. duhh vani ga kuat iman.
baru selangkah ingin mengejar hans, pintu depan terbuka. aku pikir chocho pasti sudah pulang. langsung lah itu aku menuju pintu depan untuk menyambut.
__ADS_1
tapi wak, yang terlihat malah tiga orang tadi. yang kumpulan bedak kawannya jane itu lho.
"eh, bukannya ini orang yang tadi ya? yang bersama tunanganmu itu kan jane? kenapa dia di sini?" tanya si mona. tetap ngotot kalo si jane tunangan dia. ish ish muludmuu wahai anak muda.
"dia di sini menjadi pelayan keluargaku." jawab jane. ini pun sama, nggak pernah disambit muludnya sama malaikat maut. lihatin kau ya jane, ku balas nanti.
"silahkan masuk nona. hidangan makan siang sudah disiapkan di dalam." kataku sok jadi pelayan. biarkan ku permainkan klean ya. hem main main sama vani.
"memang cocok menjadi pelayan hahahaha. biar kuperingatkan ya, jangan menjadi perusak hubungan orang lain." timpal siska sambil mendorong bahu kananku. orang ini pun sama juga, tapi vani harus tetap kalm dan jaga image.
mereka bertiga masuk ke kamar jane dulu. mau bergibah lah disana palingan. tak lama kemudian, mobil yang membawa chocho tiba di depan rumah. chocho langsung keluar dan berlari memelukku.
"kak vaniii. aku tadi sudah bertemu teman yang sangat baikkk. aku senang sekali." kata chocho. aku memeluknya balik. sepertinya masa masa remajanya akan sangat menyenangkan.
"chocho, mau ku beri tau tidak?" tanyaku. niat hati ingin mengajak chocho bekerja sama.
"beri tau apa?" chocho melepas pelukannya dan raut wajahnya terlihat heran. karena tingkahku yang dari tadi celingak celinguk ke kamar jane.
aku mendekatkan mulutku ke telinga chocho.
"begini, jadi kak jane mengaku ke teman temannya bahwa kakakmu adalah tunangannya. karna aku mau bermain akting sebentar, tolong bantu aku ya. kamu hanya perlu bersikap seolah olah membenci aku yang berperan sebagai pelayan penggoda kakakmu." jelasku. muka chocho bertambah keheranan.
"memangnya kenapa aku harus melakukan itu? buaknnya kak vani akan dipermalukan?" tanya chocho lagi. bener bener polos anak ini ih betol.
"justru agar kakakmu sendiri yang mengakuiku sebagai tunangannya. dan jane yang akhirnya dipermalukan. apa kamu sudah paham?"
"ohhh. baiklah kakk. beres👌" chocho tersenyum dan langsung meninggalkanku. sebentar lagi makan siang dimulai, jadi dia harus berganti pakaian dulu.
tok tok tok "nona nona, waktunya makan siang." kataku sangat sopan. kapan lagi vani berkata seperti ini. biasanya pun ngegas. eh enggak juga sih.
siska, mona, dan jane keluar kamar dengan tatapan menghina yang jelas jelas terpampang di mukanya. ih sombong kali.jpg
setelah itu, aku ke kamar kakek george untuk memanggilnya juga. kan udah disuruh tadi. langsung ku ketok pintu, bla bla bla ngomong suruh turun, dan sekarang menuju kamar hans.
"hans! turun makan siang." perintahku singkat. ya kan masih marah aku gegara tadi. bisa bisanya membaperi terus ditinggalin. sungguh buaya.
"yaa." jawabnya dari dalam kamar. lagi apa sih dia tu? ah bodo amat lah.
sudah berkumpul lah itu semua di meja makan, ku siapkan semua makanan dari dapur. tapi makanan utamanya pelayan yang buat ya, bukan aku. ada lah ku bantu dikit. taoi gak semua.
hans turun tangga dan menyaksikan aku menata hidangan yang lumayan banyak di meja makan. entah apa yang dipikirkannya, dia masuk ke dapur juga, dan membawa makanan ke meja makan. bisa nih dijadiin bahan akting. nanti judulnya "pelayan pelakor". macam sinetron aja bah.
udah selesai semua makanan disajikan, duduk lah aku di sebelah hans. ku beri kode ke chocho dan dia pun tersenyum paham.
"ehem. bukannya disini juga ada kursi kosong? kak vani kemarilah." kata chocho. bisa akting juga dia ini. memang multitalenta.
"oh maaf." aku segera berpindah ke kursi sebelah chocho dengan raut muka ketakutan.
"hans mau ku ambilkan sesuatu?" tanya jean dengan sikapnya yang sok centil. memang betol bibit unggul pelakhor ini. fix.
"tidak perlu. aku punya tangan sendiri." jawab hans ketus. hahahaha dikacangin pulak si kakak jane ini. mau ngakak takut dosa.
"kakak seharusnya menghargai bantuan orang dong. kak jane sudah baik hati mau mengambilkan kakak makanan, tapi malah kamu tolak. sakit hati loh." sahut chocho. ih sayang lah aku sama chocho inii. pinter kali aktingnya.
__ADS_1
"tidak perlu. itu pasti merepotkan dia." jawab hans dengan ketus lagi.
"bukankah kamu tunangannya jane? kenapa ketus sekali." timpal si siska. mantap kak siska. biar kawanmu si jane malu sendiri nanti.
tapi hans sayangnya hans tidak menggubris pertanyaan si siska. malah diam aja dia kek manekin. kakek george juga hanya diam sedari tadi. apa mereka bisul ya?
dilanjutkan lah itu makan siang yang tanpa suara. macam watsapp author aja sepinya ga karuan.
"lanjutkan lah makan siang kalian. jika masih kurang dessert atau makanan penutupnya, minta lagi pada pelayan." kata kakek george yang sudah menghabiskan makan siangnya.
"ehem. kak vani bisakah kamu mengambilkan aku salad buah lagi?" perintah chocho. akting dimulai lagii.
"baik. tunggu sebentar." aku langsung berlari kecil ke arah dapur. mengambil salad buah dari kulkas, dan memberikannya pada chocho.
"kenapa kamu tidak mengambil sendiri? kakimu baik baik saja kan?" tanya hans galak. ish bisa ya dia marah.
"bukankah itu sudah menjadi tugasnya? bahkan kakek jane sendiri yang memberi perintah." cela si mona. tambah marah kan hans ini. bisa bisanya tunangan kesayangan aku di kira pelayan, mungkin batinnya kek gitu. mungkinn.
author: "gausah ngadi ngadi dah lu."
"siapa yang berkata vani adalah pelayan?" tanya hans lagi. ya mengepal lah tangannya nahan emosi. masih ditahan.. tidak boleh kasar.
"jane yang bilang tadi." jawab mona.
"jadi, tunanganku sekarang dianggap sebagai pelayan? hah lucu sekali. bukankah dia saudaramu jean?" hahahaha mampuslah kau jane. malu kan kau. malu tujuh turunan.
"tunangan? apa kamu tidak salah? cincin saja tidak punya. mau mengaku ngaku sudah ber tunangan." jawab jean masih dengan sikap angkuhnya.
sontak langsung ku lihat jari jemariku yang kosong. tidak ada cincin disini. pengakuan saat melamar pun mungkin bisa dibilang hanya bercanda. jadi, apa memang pantas disebut tunangan? jantungku sedikit berdebar ketika mengingatnya.
"bagaimana? apa kamu sudah sadar dengan statusmu yang menggantung. jangan sombong dengan apa yang belum sepenuhnya kamu miliki." jean langsung berdiri dan meninggalkan kami bertiga. kawan kawannya pun ikut juga balek ke kamarnya.
ya hatiku sesek lah wak. emang bener hubungan kami berdua tu nggantung kali gitu. ngga ada cincin, yang lihat aku dilamar pun gaada.
raut muka hans menunjukkan rasa bersalahnya. sebenarnya di dalam hatinya dia berniat mengumpulkan uang dari hasil kerjanya sendiri dan akan membelikan vani cincin paling mahal dan indah. tapi berbeda dengan perasaan vani. ia rela diberikan cincin apapun mau murah, mau mahal, yang penting ada pengakuan dari si kakak hans wak.
"aku sudah kenyang." aku meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar.
dengan rasa penuh kasihan kakek george ternyata sedari tadi mendengarkan percakapan anak muda yang berdebat di meja makan. chocho dengan muka murung juga kembali ke kamarnya.
sekarang tinggal hans yang sedang berfikir keras bagaimana cara mendapatkan pekerjaan sesegera mungkin dan melamar vani.
hayy wak!
terima kasih udah baca karyaku.
jangan lupa di like kalo bisa komen apa" aja ya wakk!
maafkan author yang hanya manusia biasa ini kalo ada salah ketik:(
-kalo typo itu murni kesalahan keyboard hahahaha-
♡ love nya ya wakk. tanks:)
__ADS_1