Witch Love Story

Witch Love Story
mimpi buruk


__ADS_3

pada episode kali ini author akan menyajikan cerita dari sudut pandang orang ketiga. apa itu sudut pandang orang ketiga?


-Sudut pandang lain yang sering dipakai dalam novel adalah sudut pandang orang ketiga(kita menceritakan dia atau ia). Keuntungan menggunakan sudut pandang ini adalah, kita bisa bercerita tentang semua tokoh yang memajukan cerita, seolah-olah narator berada di langit menyaksikan semua kejadian yang mengikuti para tokoh.-


lanjot ke cerita!


saat malam hari, dengan langkah bimbang hans mengetuk kamar vani.


tok tok tok. "vani, bolehkah aku masuk?" tanya hans. biasanya saja langsung masuk tanpa seizin vani. tapi karena kejadian tadi siang, hans merasa sedikit canggung.


"masuklah. tidak dikunci." jawab vani.


hans membuka pintu dan melihat vani sedang membaca novel. novel nya pun judulnya bucin kali wak.


"kau tidak belajar? bukankah besok sudah mulai kuliah." kata hans sembari duduk di kursi sebelah vani.


"sebentar saja. tinggal 2 lembar." vani masih saja sibuk membaca novel. hans masih menunggu dengan sabar sambil membaca buku pelajaran juga. udah ganteng, sabar, perhatian, pinter lagi. ih kurang apa ya kan si hans iniii.


"aku ingin bilang sesuatu." keduanya mengucapkan kalimat yang sama. eak soswiit.


"kau dulu saja." ucap hans mengalah. ya kan biasanya ladies first.


"aku mau minta maaf soal tadi siang. seharusnya aku tidak marah hanya gara gara omongan orang luar kan?" kata vani menatap hans dengan penuh rasa bersalah. siapa yang bilang ciwi ciwi ngga pernah mau minta maaf duluan? sini diajak baku hantam author:"


"bukankah aku yang harusnya minta maaf? aku tidak pernah memberimu sebuah status yang jelas. bahkan cincin pun tidak punya. aku memang belum bisa memberimu sebuah cincin, tapi tunggu aku mendapat pekerjaan yang mapan."


"hahahaha. akan aku tunggu sampai saat kamu sudah sukses. jika sudah sukses nanti jangan pernah ingkar janjimu oke?" vani berkata manis serasa tidak ada kemarahan di wajahnya wak. padahal sebenarnya di lubuk hatinya ada perasaan bersalah bercampur sedih karena seperti memaksa hans.


"terima kasih." hans mengecup kening vani cukup lama. kalo klean liat pasti baper beneran. author aja udah baper:) (maklum jomblo)


"sama sama." vani menempelkan bibirnya di pipi hans. seketika, pipinya berubah merah.


"sudahh. ayo kita belajarr!!" perintah vani sangat antusias. ia menyingkirkan buku novelnya dan mengambil buku materi materi perkuliahan miliknya.


selama beberapa jam mereka berdua belajar dengan semangat. karna mungkin terlalu semangat itu, hans dan vani sampai lupa waktu.


"astagaa. lihatlah sudah hampir tengah malam. kembalilah ke kamarmu dan tidur. aku juga sudah mengantuk." ucap vani panik melihat jam di handpone nya. dia juga sudah menguap dan matanya perlahan lahan terasa sangat lengket.


"baiklah. cepatlah ke tempat tidurmu, aku akan membereskan buku buku ini." kata hans sambil membereskan beberapa tumpuk buku tebal yang ada di meja belajar vani.


vani yang sudah sangat mengantuk menarik selimut dan pelan pelan memejamkan matanya. saat hans selesai membereskan meja belajar, dia tertawa melihat gaya tidur vani yang begitu imut.


"cepat sekali tidurnya. kalau begitu, selamat malam. mimpi indah." kata hans sambil menciun kening vani. ia menuju pintu dan mematikan lampu sebelum keluar kamar.


sampai di kamarnya, hans berbaring di ranjangnya dan kembali merenung. diam menutup kedua matanya menggunakan tangan. dia tau, walau vani telah berkata demikian tetapi hatinya tetap tidak tenang.


lama kelamaan ia mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. dalam mimpinya ia melihat seorang gadis amat cantik, menggunakan gaun pengantin dan sedang bersanding dengannya.


hans teramat heran dengan pemandangan yang dilihatnya itu. karena, wanita itu seperti tidak asing baginya.


"apakah pengantin pria bersedia hidup bersama dengan pengantin wanita dalam susah maupun senang, miskin maupun kaya, dan sehat maupun sakit?" tanya orang yang sepertinya menjadi penghulu.


"saya bersedia." kata kata itu tiba tiba saja terdengar lantang keluar dari mulutnya. padahal dia masih memikirkan siapa wanita di depannya.

__ADS_1


~disarankan memutar lagu ali gatie-it's you~


tak lama kemudian, seorang kakek tua bersama gadis berteriak lantang di depan semua orang. siapakah gadis itu? yak, dia adalah vani.


"jangan memberi harapan pada cucuku bila kau memang tak mau bersamanya! apakah kau tidak tau betapa menderitanya dia ketika kau menghianatinya demi wanita yang tidak pernah sama sekali berkorban demi mu?!" teriak kakek itu dengan lantang. badan hans terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. bahkan untuk berbicara saja sangat sulit.


vani menangis dengan keras. air matanya bercucuran deras membasahi red carpet di bawahnya. dada hans terasa sangat sesak, tetapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


sang pengantin wanita tadi mendekati vani, mengeluarkan sebilah benda tajam dan langsung menusuk nusuk kepala vani dengan amat kejamnya. penderitaan tidak berhenti disitu saja, bahkan wanita tadi juga menendangnya berkali kali seakan mengejek kematiannya.


deg. jantung hans terasa tertusuk tusuk. melihat darah yang bercucuran dari orang yang sangat disayanginya.


dalam dunia nyata, hans berteriak tidak karuan seperti orang sedang kesurupan, dan air matanya bercucuran. teriakannya membangunkan seisi rumah. vani yang kamarnya berada paling dekat, langsung mendatangi kamar hans.


betapa terkejutnya vani yang melihat kamar hans yang begitu acak acakan. chocho, jean, kakek george, dan beberapa pelayan juga melihat betapa tak karuan perilaku hans.


tidak ada yang berani mendekat, kecuali vani. dengan sigapnya ia berlari mendekat dan memeluk hans dari belakang. seketika itu juga, hans tersadar akan mimpi buruknya.


vani masih saja memeluk erat hans sambil menutup mata. hans yang sudah tersadar menyadari ada seseorang memeluknya dari belakang.


*(orang orang masih pada di pintu jadi penonton)


dia melihat seseorang itu, dalam kegelapan kamarnya, ia masih bisa melihat bahwa orang itu adalah vani. tidak perlu berlama lama, hans langsung memeluk vani.


"jangan pergi." kata hans dengan terisak isak. siapa bilang cowo ga bisa nangis? sini diajak baku hantam author.


"tenang lah. itu hanya mimpi buruk." ucap vani menenangkan hans. ia juga memberi kode kepada orang orang yang berada di depan pintu untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


semua orang mengangguk mengerti kecuali si jean. adiknya pun ngerti kakaknya butuh waktu sama vani, tapi si lemper satu ini nih, malah masuk dengan bangganya. bandal kali jadi orang. chocho yang tidak mau kakaknya terganggu, langsung menarik tangan jean dan menutup langsung pintu. uhhh sama anak kecil pun kalah.


"jangan ganggu kakakku dulu. kak jean bahkan sudah tau itu kan? kenapa masih terus menjadi penghalang?" kata chocho menegaskan. mungkin udah saking muaknya liat tingkah sama muka jean yang sok centil itu.


plak!


"anak kecil tau apa memangnya!?" jawab jean. omaygat, ditampar si chocho wak. ih author pun gemes sama jean cabe ini. gaada obat emang.


plak!


"aku tau banyak tentang mereka melebihi kakak. walaupun aku masih kecil, aku tidak akan membiarkan hubungan mereka diganggu oleh orang sepertimu!" chocho membalas tamparan jean. dah kan, terdiam si jean ini. tapi tetap nggak mau kalah wak.


"hah. lihat saja nanti." ucap jean sambil melipat tangan dan membahu chocho. ia meninggalkan chocho dengan tatapan menghina juga dengan senyum liciknya.


*di dalam kamar.


hans masih belum melepaskan pelukannya. pikiran author: hans modus anjim.


"hans? lepaskannn. aku sesak napass." rintih vani. ia jiga dari tadi mencoba melepaskan pelukannya, tatapi kekuatannya berbanding jauh dengan hans.


"berjanjilah jangan pernah meninggalkan ku." kata hans masih dengan tatapan sedih. tetapi sudah melonggarkan pelukannya.


"baiklah iyaa. aku berjanji. ceritakan mimpimu padaku agar kau merasa lebih tenang." sekarang pelukan hans sudah terlepas sepenuhnya.


tok tok tok. "kak vani, aku membawakan minum." kata chocho dari luar kamar. vani segera menghampiri pintu untuk menemui chocho. peka beut adek ini.

__ADS_1


"tolong bantu kakakku agar tenang. dulu dia sangat sulit ditenangkan jika seperti ini." ucap vani berbisik pelan. ia memberikan air minum yang dibawanya dan langsung turun menuju kamarnya sendiri.


vani segera menutup pintu dan menghampiri hans yang masih memegang kepalanya. dan ternyata, dulu hans juga sulit dikendalikan ketika mimpi buruk.


"minumlah dulu agar kau merasa sedikit baikan." vani duduk disamping hans, menyodorkan gelas berisi air putih.


dalam dua tiga kali teguk, air itu langsung habis wak. keturunan onta atau emang lagi depresi ya?


"sekarang sudah baikan?" tanya vani memastikan. tapi hans hanya mengangguk. seakan dia belum benar benar bisa berhenti memikirkan mimpi buruknya.


"aku bermimpi menikah dengan orang lain." hans mulai bercerita. kepalanya masih tertunduk lesu.


"teruskan saja, aku tidak akan marah." ucap vani lemah lembut. tetapi jantungnya dari tadi berdegup kencang. karena mimpi biasanya hanya sebuah respon otak, tapi juga terkadang sebuah pertanda.


"aku tiba tiba di sebuah gedung besar, mengenakan pakaian pengantin pria. tetapi mempelai yang ada di depanku bukan kamu. badanku tidak bisa digerakkan walaupun aku sudah mencoba. lalu kamu datang dengan seorang kakek kakek, dan kakek itu berkata bahwa jangan pernah memberi mu sebuah harapan yang akhirnya tak akan pernah terwujud." jelas hans. tetapi vani masih merasa bingung. kenapa jika hanya perkataan seperti itu bisa membuatnya berteriak histeris?


"tidak hanya itu, wanita yang menikah denganku itu bahkan menusukkan benda tajam ke kepalamu berkali kali. juga menendang mayatmu yang versimbah darah. yang paling membuatku sesak adalah kamu menangis di red carpet dengan begitu kerasnya. kamu tau? aku tidak sanggup walau hanya melihatmu meneteskan air mata karena aku." jelas hans lagi.


dia kembali menangis. mungkin bayang bayang kematian vani selalu memenuhi kepalanya saat ini. vani juga merasa sesak. ternyata perasaan hans begitu dalam padanya. ia kemudian memeluk hans, menenangkan perasaannya yang kacau.


hans bersandar di bahu vani sama seperti saat malam itu. bulan sabit dan bintang terlihat dari kaca jendela kamar hans yang polos tanpa kain gorden.


"siapapun itu, aku tidak akan membiarkannya menyakitimu. walau harus mengorbankan nyawaku sendiri." kata hans lirih.


"aku juga tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku. walau harus mengorbankan nyaku juga." jawab vani berbisik di telinga hans. mereka mengikat janji satu sama lain yang menyangkut nyawanya. entah mengapa tidak ada rasa ragu di perasaan kedua belah pihak, mereka langsung mengungkapkan nya langsung.


setelah memastikan hans benar benar tertidur dengan baik, vani membaringkan hans di ranjangnya. yaa, walau berat hans sangat berbeda dengan vani, ia tetap berusaha.


saat melihat jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. padahal besok ada jadwal kuliah pagi. nah loo vani.


vani langsung menyelimuti hans, mematikan lampu, dan menutup pintu dari luar. ia bergegas pergi ke kamarnya. masih ada waktu empat jam untuk tidur padahal.


sudah sampai di kamar, bersiap siap untuk tidur, tetapi sayang matanya tidak mau tertutup. ia masih mengingat kata kata hans saat bercerita tentang mimpinya tadi. kakek? siapa lagi jika bukan kakek george. tidak mungkin kakek george sih, karena hans tidak menyebut namanya sama sekali. lalu siapa kakek itu? apa mungkin kakek gren? vani bertambah bingung.


tiba tiba saat memikirkan cerita tadi, kepalanya terasa sakit. tetapi hanya di sebelah kanan kepalanya saja.


dan... vani melihat sebuah gedung pernikahan yang amat megah.


"ahhh. apa yang memasuki kepalaku!!" rintih vani kesakitan. tetapi ia memelankan suaranya agar tidak menimbulkan kepanikan lagi.


dia masuk bersama seseorang lelaki bertongkat yang wajahnya tidak jelas. sesampainya di dalam, vani melihat lagi seorang wanita bergaun pengantin berlari mengejarnya sambil membawa kapak yang terlihat sangat runcing.


deg.


pandangannya sangat kabur setelah merasakan ada orang yang menepuknya dari belakang. vani mencoba menoleh sedikit, tetapi penglihatannya bertambah kabur. karena tak tahan, vani pun pingsan.


hayy wak!


terima kasih udah baca karyaku.


jangan lupa di like kalo bisa komen apa" aja ya wakk!


maafkan author yang hanya manusia biasa ini kalo ada salah ketik:(

__ADS_1


-kalo typo itu murni kesalahan keyboard hahahaha-


♡ love nya ya wakk. tanks:)


__ADS_2