
pagi harinya vani bangun dari pingsannya. entah kenapa ia tidak tau apa yang terjadi semalam. semakin diingat semakin membuat kepalanya pusing.
"huh. daripada pusing lebih baik aku bersiap siap kuliah. semangatt!" kata vani menguatkan dirinya sendiri.
dia melihat jam dinding kamarnya, ternyata sudah jam 7 pagi. dari bawah sudah terdengar suara pelayan memasak. vani segera pergi ke kamar mandi. butuh kurang lebih 20 menit waktu untuk mandi, dan ia langsung memilih baju juga skincare.
udah kaya, perawatan teross.
selesai siap siap, seperti biasa ia turun ke bawah untuk sarapan. di meja makan sudah ada chocho, kakek george, dan hans. skip.
sampai di kampus, hans dan vani masih belum bertemu jean. vani merasa cukup lega karena mungkin saja hari ini gangguan atau beban hidupnya sedikit berkurang. hehe kebanyakan beban sih.
pelajaran di kelas akan dimulai. mereka berdua bergandengan menuju ruang kelas nya. dan guru pembimbing pun masuk.
"selamat pagi semuanya. ya, jadi hari ini kita kedatangan murid baru. silahkan yang merasa murid baru berdiri memperkenalkan diri." ucap dosen yang mungkin berumur 40 tahunan lah ya. tapi ia begitu tegas dan ketus.
vani berdiri terlebih dahulu. mengucapkan perkenalan diri, dan dilanjutkan dengan hans. semua murid di kelas itu terpana oleh ketampanan dan kecantikan keduanya. cieyah ada bahan halu yang baru nih.
tak terkecuali dengan anak konglomerat yang selalu duduk di pojok ruangan. saat melihat vani ia langsung terpaku. padahal selama ini, menyentuh perempuan pun tak pernah.
selesai pelajaran hari ini, vani dan hans menuju kantin favorit mereka. memesan menu makanan dan memakannya dengan santai. sampai...
brak!! jane menggebrak meja dengan keras.
"haii vani!!" jane berteriak seakan akan ia sangat akrab dengan vani. hah, padahal dia selalu mengganggu vani.
"ayo pergi." hans menarik tangan vani menuju pintu keluar. sayangnya tangan vani ditarik oleh jane dengan kuat sampai berbunyi.
"arghhh." rintih vani kesakitan. rasanya seperti keseleo dan itu sungguh sakit. jane memunculkan sedikit senyum kemenangan di balik wajahnya yang munafik.
"aduh maafkan aku vani. aku tidak sengaja. aku hanya ingin kita makan bersama hari ini. tolong maafkan keridak sengajaanku vani." ekspresinya berubah lebih cepat dari pada saat membalik buku. jane juga meraba raba tangan kanan vani yang ditariknya tadi. bukannya untuk mencoba menyembuhkan, tetapi menambah rasa sakit.
__ADS_1
"lepaskan tangannya!" hans menampar tangan jane yang terlihat memegang erat tangan vani. entah kenapa ia begitu licik dan kejam.
kalau saja itu bukan di restoran sekolah, vani pasti sudah menjambaknya dari tadi. agar rambut sambungannya yang renbow norak itu lepas dari kepalanya.
tanpa mereka sadari, seorang siswa yang selalu duduk di pojok itu memperhatikan pertengkaran mereka. ia melihat jane dengan pandangan jijik, bisa bisanya seorang perempuan tidak memiliki attitude yang baik. bahkan tidak punya sopan santun hanya karena memperebutkan pria.
"sudah lah hans. kita pindah ke tempat lain saja." suara vani yang begitu lembut meluluhkan hati hans. enggak sih, emang hans aja yang baperan orangnya.
funfac:
"jika kamu menyukai seseorang dan tidak dianggap atau dia tidak menyukaimu balik, sebaiknya ingat kata ayu ting ting pada akang gendang perintah ke dua^-^"
"baiklah, aku menurut saja." kata hans sembari menggandeng tangan vani. ulululu uwuuu.
author: "oi oi oi. banyak yang jomblo kesian tau."
vani: "****** kau jomblo"
vani: "habis nelen racun tikus apa oskaden sepabrik buk?"
author: "habis menelan kata kata doi yang penuh dengan harapan -fake-"
vani: "gini amat punya author jombloš"
dahlah sedih:( back to the story aje dah.
hendrick merasa aneh dengan dirinya sendiri. kenapa jantungnya selalu berdetak saat memperhatikan vani. entah itu dari caranya berjalan, menatap, tersenyum, dan lainnya. etdah betol betol bucinnn.
"apa jantungku mengidap penyakit? kenapa hari ini sering sekali berdetak kencang." tanya hendrick masih sambil melihat vani yang keluar restoran.
selama sembilan belas tahun, hendrick hanya tau tentang cara berbisnis, berbisnis dan berbisnis. sedari kecil seperti anak anak orang kaya pada umumnya, ia diajarkan hidup bergelimang harta dan ketat peraturan.
__ADS_1
"jika kamu ditindas lagi, besok tangannya akan langsung aku patahkan." kata hans emosi. ia terus terusan memegang dan memijat tangan vani yang tadi keseleo akibat jane. sebenarnya kalo author emosi panggilnya janecok.
"sudah kubilang tidak apa apa. kamu jangan terlalu lebay." vani menepuk nepuk punggung hans. tapi agak jinjit ya wak, tinggi betol si kakak hans ini. gak nyampe dia, soalnya pendek.
"oh iya, kemarin aku melamar pekerjaan di perusahaan vanesia. disana aku diterima sebagai wakil direktur. padahal hanya iseng iseng, dan saat diwawancarai aku dapat menjawab semua pertanyaannya." jelas hans yang sudah mendapat pekerjaan. udah bukan beban.jpg
"hahaha. selamat ya." vani mendekat dan langsung mencium pipi hans. troboss teross. dasar akhlak less.
vani: "ikan teri makan saos.
iri bilang buos"
author: "kamutos jangantos sombongtos. putustos mampustos. guatos sukurintos nantitos."
vani: "elu kalo ngajak tos bilang aja thor."
author: "*di dunia penyihir kaga ada ige apa ye?"
tanpa disadari, perusahaan yang akan dimasuki hans adalah perusahaan milik hendrick sendiri. entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
hayy wak!
terima kasih udah baca karyaku.
jangan lupa di like kalo bisa komen apa" aja ya wakk!
maafkan author yang hanya manusia biasa ini kalo ada salah ketik:(
-kalo typo itu murni kesalahan keyboard hahahaha-
ā” love nya ya wakk. tanks:)
__ADS_1