
sore hari di dekat pohon cranberry. dia sudah menungguku untuk latihan. ucapannya ternyata serius. baiklah, aku juga akan sangat serius. aku harus naik level.
"kau sedikit terlambat. lihatlah matahari sudah mau tenggelam sepenuhnya. padahal aku memintamu untuk datang saat matahari mau tenggelam." kata Hans galak. hanya terlambat sedikit saja sudah marah.
"maaf Hans. tadi aku baru saja bertemu rusa yang bagus. warna bulunya putih seperti salju dan tanduknya sangat indah. tapi anehnya dia tidak takut saat ku pegang." aku coba menjelaskan ketelatanku pada Hans. entah dia percaya atau tidak, aku memang bertemu rusa tadi.
"jangan berbohong. rusa salju tidak mungkin pernah mau disentuh manusia. kalau kamu menyentuhnya sedikit saja, dia akan memanggil kawanannya dan menyerangmu. sudahlah ayo kita latihan." Hans berpikir aku berbohong padanya. padahal tadi jelas jelas rusa itu sendiri yang mendekatiku.
"kalau kamu tidak percaya ya sudah." ucapku seraya mengangkat bahu. muka Hans telihat heran.
kami berdua berlatih cukup lama. aku mempelajari tehnik menghilang tanpa menimbulkan suara, penggunaan sapu terbang untuk jangka waktu yang lebih lama, perisai pertahanan yang tidak mudah retak dan mantra mantra lainnya. ternyata Hans sangat berbakat. aku sangat beruntung bisa bertemu dengannya.
"kira kira, berapa lama lagi agar aku bisa menjadi penyihir warna biru? dan latihan apa yang harus kulakukan?" tanyaku pada Hans di dekat api unggun yang sudah menyala nyala.
"oh, jadi kalian tadi meninggalkanku begitu lama karena latihan hanya berdua? teganya.." ejek Cho cho. dia sekarang menjadi lebih menyebalkan.
__ADS_1
"besok pasti kau sudah menaikkan levelmu. tapi kamu harus bertarung melawanku dulu. jika kamu menang aku akan memberi mu ramuan yang bisa meningkat kan levelmu." jelas Hans serius. mungkin dia tidak berbohong lagi.
"karena kamu sudah membantuku, malam ini aku masakkan sesuatu yang berbeda. Cho cho juga membantu memasaknya lohh. coba saja." sebenarnya itu pujian, tapimulut Cho cho malah maju maju tidak karuan. tingkahnya membuatku tertawa.
"aku hanya membantu memotong saja, seperti biasa." mulut Cho cho penuh dengan makanan tapi masih saja banyak bicara. Hans juga tertawa menanggapi adiknya yang begitu menggemaskan.
hari semakin gelap. bulan sabit sudah mulai berubah bentuk. tapi bintang yang disampingnya masih bersinar terang. aku terus melafalkan mantra mantra yang ada di buku. pengucapannya lumayan susah. oleh karna itu, tidak semua orang bisa mempelajarinya. menjadi penyihir warna silver saja katanya sangat sulit. diperlukan banyak usaha dan sedikit keberuntungan. kakekku hanya bisa sampai di level silver saja. ia lebih baik berhenti daripada kehilangan segalanya.
keberhasilanku menghafal empat-lima mantra cukup bagus. kalau begini terus menerus setiap hari, aku pasti cepat naik level. suara dengkuran Cho cho terdengar jelas. dia pasti kelelahan.
"belum. setiap malam aku selalu menyempatkan melihat bulan dan bintang. itu sudah kebiasaan dari kecil. saat aku masih bersama kakekku." kataku menjelaskan. tatapanku masih terpaku di langit bertabur bintang itu. sulit rasanya melepas pemandangan seindah ini.
"tidur larut malam tidak baik bagi kesehatan. jika kamu takut akan hewan aku bisa berjaga disini." Hans ternyata sunggu perhatian. ahh, hilangkan perasaan itu di otak mu.
"tidak perlu. aku hanya ingin melihat pemandangan ini. tidurlah terlebih dahulu."
__ADS_1
"baiklah, aku akan menemanimu sampai kamu mengantuk. aku juga ingin sesekali bercerita pada orang lain. kamu tau? Cho cho tidak pernah bisa diajak bercerita." Hans tersenyum tampan. perasaanku selalu campur aduk saat melihat wajahnya yang tampan.
"hahaha. baiklah kalau begitu. kau boleh bercerita apapun denganku. jangan lupa aku adalah tunangan mu. jangan malu-malu." aku balas senyum. dia lagi lagi tersenyum tampan.
"aku akan mulai bercerita duluan. jadi seingatku saat kecil, mungkin berumur tujuh atau delapan tahun, kampung halaman ku mengalami musibah. seluruh rumah saudara ataupun teman temanku, semuanya terbakar habis. hanya sedikit yang selamat dari kejadian itu. aku dan Cho cho adalah yang paling beruntung karna bisa selamat." kata Hans. cerita yang cukup kelam.
"lalu? apa yang selanjutnya terjadi padamu dan Cho cho?"
"aku belum mengerti keadaan waktu itu. aku masih sangat kecil saat menggendong Cho cho keluar rumah. orang tuaku tiba tiba hilang. lantas aku berusaha mencari keduanya. lama kelamaan tenagaku habis, aku lelah dan lapar. Cho cho juga tidak berhenti menangis. aku bingung waktu itu. tapi ada seorang laki laki yang menemukan kami. dia membawa kami pulang ke rumahnya. aku tertidur lumayan lama karena kelelahan. saat bangun, aku sudah tidak mengingat bagaimana rupa orang tuaku yang sebenarnya. sang istri dari lelaki itu tidak suka pada kami. untungnya ayahku selalu melindungi kami saat ibu memarahi kita berdua." jelas Hans. tampangnya mencerminkan seorang kakak yang sangat penyayang. pandanganku kini terus beralih padanya. raut mukanya memiliki pesona yang sama dengan langit itu.
aku tidak berkomentar apa-apa tentang kehidupan Hans. saat mulai lelah bercerita, Hans terdiam sejenak dan menatapku. aku juga semakin mengantuk. tiba tiba kepala Hans jatuh di bahuku. dia tertidur. kelihatannya sangat lelah setelah lama bercerita. karna aku tidak tega membangunkannya, aku bersandar di kepalanya dan tertidur. nyaman sekali rasanya saat memiliki sandaran seperti ini.
-jangan lupa likee yaa!!:)-
-tinggalkan jejak setelah membaca:"-
__ADS_1