Witch Love Story

Witch Love Story
rich forest


__ADS_3

aku mengambil sapu terbang ku untuk melanjutkan perjalanan. Cho cho juga sudah bersiap siap menaiki sapunya. ia juga membawa beberapa barang di tasnya. mungkin hanya sebuah buku mantra atau ramuan.


"baiklah, kita berangkat!" kataku semangat.


"siapp!!" whusss sapu terbang milik kita berdua melaju cepat.


aku teringat akan cerita kakak Cho cho yang diusir dari rumah karena mencelakai tunangannya sendiri. kira kira apakah yang terjadi dengan kakaknya Cho cho? bertanya mungkin akan lebih baik.


"oh ya, apa yang terjadi dengan kakakmu dan tunangannya? kenapa dia sampai diusir?" tanyaku terheran heran.


"kakakku tidak pernah suka dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. sebenarnya, dia melakukan itu dengan tidak sengaja." jelas Cho cho.


"apa yang dilakukan kakakmu?" tanyaku sekali lagi.

__ADS_1


"dia mematahkan tongkat kesayangan milik kak Risa, tunangan kakakku. katanya, tongkat itu adalah tongkat paling mahal yang pernah ada. kau tau? dia sangat licik. bahkan si Risa itu berkata pada ayahnya bahwa kak Hans mematahkan tongkatnya dengan sengaja. itu sebenarnya bukan mencelakai seperti menganiaya. lebih tepatnya, dia menyusahkan tunangannya. sampai kakakku marah dan mendorongnya sampai terjatuh. karena itu, orang tua kak Risa marah dan mengusir kakakku. orang tuaku malah setuju setuju saja. makanya aku sangat benci pada kedua orang tuaku. apa kami berdua tidak pernah dianggap sebagai anak?"


raut muka Cho cho berubah. seperti sedih bercampur marah.


"kenapa dia sampai sekejam itu? bukankah dia tunangan kakakmu? mungkin saja dia asal bicara. atau tidak bermaksud menyalahkan kakakmu." ucapku mencoba menghibur. perasaannya pasti sedang tidak enak.


"tidak mungkin. dia hanya memanfaatkan kak Hans. akalnya begitu licik dan jahat. sebelum menjebak kakakku, dia mencuri beberapa ramuan langka yang dikumpulkan kak Hans. aku saja muak melihat wajahnya yang sok polos itu."


jawab Cho cho tersenyum bengis. dendamnya yang tidak main-main sangat menakutkan.


aku menenangkan amarah Cho cho yang sebentar lagi memuncak. mukanya merah jika sedang marah.


"kakekmu pasti sangat baik padamu. aku jadi iri. ceritakan cerita menarik untukku, pasti aku sudah senang. maaf ya Vani, jika membuatmu takut. hehe." senyuman Cho cho terpampang jelas, membuat mukanya bertambah cantik.

__ADS_1


aku mulai bercerita tentang kakekku pada Cho cho. dia sangat antusias mendengarkan. dari cerita lucu, saat menyenangkan, ataupun saat sedih, yaitu saat kakek meninggalkanku untuk selama lamanya. sebenarnya, ketika bercerita tentang kematian kakek, aku menahan air mata yang ingin keluar dari mataku. tapi untungnya, aku bisa bercerita tanpa mengeluarkan air mata sedikitpun. Cho cho menangis tanpa henti, membuatku merasa sedih kembali.


Berjam jam aku bercerita, langit sudah berubah gelap. bulan sabit kemarin muncul kembali. satu bintang terang mendampingi si bulan. aku membayangkan itu kakek yang selalu menemaniku.


aku mendirikan tenda milikku, dan Cho cho mendirikan tenda miliknya. matanya terlihat bengkak karena terlalu lama menangis. ternyata dia orang yang perasa. senang sekali berada di dekatnya. aku juga menyalakan api unggun dengan ranting yang sudah aku dan Cho cho kumpulkan. kami juga membuat beberapa ikan bakar. sungai yang mengalir deras didekat kami memiliki banyak sekali ikan didalamnya.


malam itu, kami bercerita tentang kehidupan kami masing masing. Cho cho selalu bersama dengan kakaknya dari kecil hingga sekarang. kak Hans lah yang mengajarinya berjalan, berbicara, mengucap mantra, menaiki sapu terbang, dan mengurusnya. pantas saja dia sangat sangat sayang dengan kak Hans. orang tuanya sibuk dengan tugas yang ada di desanya. seperti mencari ramuan, menaikkan level, dan lain lain. Cho cho ternyata sama denganku. levelnya juga penyihir hijau, sama sepertiku.


malam semakin larut. Cho cho sedari tadi sudah menguap dan kelopak mataku juga sudah berat. kami memutuskan untuk tidur dan melanjutkan bercerita besok. sangat bahagia ternyata bila punya sahabat. aku semakin penasaran bagaimana rupa kak Hans, kakaknya Cho cho. aku juga tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan ke witch town. dimana aku akan mencapai penyihir level emas.


tapi mungkin, perjalanan kami tidaklah mudah. banyak rintangan yang harus dihadapi. semua membahayakan nyawa dan berbahaya. hanya sedikit orang yang bisa sampai ke sana. ada kemungkinan kakak Cho cho juga ada di sana.


aku membaringkan tubuh dan memejamkan mata didalam tenda. Cho cho juga sudah tidur dari tadi. rintangan selanjutnya adalah bear forest. dimana ada hutan yang memiliki banyak sekali beruang juga tanaman beracun di dalamnya. semoga aku bisa.

__ADS_1


doakan aku, kakek.


-jangan lupa like yaa-


__ADS_2