
Setelah melihat pesan-pesan dari akun tidak dikenal itu, Zelin berusaha mencari petunjuk lain.
Ia mulai mengotak Atik ponsel ibunya dan terkahir ia memasuki album di ponsel itu, pertama kali menekan dan memasuki album di mana ada banyak foto dan video dirinya bersama sang ibu.
Tapi bukan itu yang menarik di mata Zelin ada satu video singkat dengan durasi berapa detik saja yang berhasil menarik perhatiannya walaupun di gambar awal video itu gelap.
Tapi entah mengapa Zelin ingin melihat apa isi dari rekaman video singkat itu, ditambah video itu di rekam bertepatan dengan tanggal dimana kematian ibunya.
Tak
Bunyi jari tangan bersentuhan dengan layar ponsel
Video itu terputar, tidak ada yang menarik semuanya gelap zeline pun berniat mengehentikan video tersebut sebelum netran nya membulat melihat layar video yang terhenti.
Di sana wajah ibunya terpampang jelas, dengan penampilan acak-acakan, terdapat bercak darah di sudut bibirnya dengan wajah yang terlihat begitu ketakutan akan sesuatu.
Zeline pun dengan segera menekan layar ponsel itu berharap bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi tapi ternyata video itu sudah selesai, karena memang video itu hanya berdurasi beberapa detik saja tidak terlalu panjang.
Zeline merasa sangat kesal, rasa penasaran membuncah di hatinya ia ingat betul potongan terakhir video itu yang menunjukkan wajah ibunya, itu adalah hari terakhir ia melihat sang ibu saat akan keluar bermain dan saat kembali ia sudah mendapati rumahnya penuh dengan banyak orang.
Ternyata di hari itu sesuatu yang buruk telah menimpa ibunya, zeline yakin pasti ada orang lain di tempat itu mengingat ekspresi wajah ibunya yang ketakutan dan menangis histeris.
Zeline yang kalut dengan pikir-pikir negatif yang mulai muncul di otaknya bahwa ibunya mati bukan bunuh diri melainkan di bunuh semakin membuat hatinya sakit dan rasa marah membuncah.
Jika benar apa yang ia pikirkan makan zeline berjanji pada dirinya sendiri ia akan membunuh orang yang telah melakukan perbuatan kejam itu.
Tok tok tok
" Sayang, apa kamu tidak kuliah hari ini! Sekarang sudah jam 01: 00 siang kamu bisa telat"
Suara ketukan pintu dan ucapannya seseorang di baliknya
Menarik zeline kembali sadar dari ingatan masa lalu, ia mengusap wajahnya kasar! Rasanya ingin memukul orang yang telah menganggu nya itu.
" Aku tahu, anda tidak perlu repot-repot mengingatkan saya" balasnya ketus
Menatap tajam pada Sintia ibu angkatnya.
Brak
Dengan kasar ia menutup pintu kamarnya
Mengagetkan Sintia yang masih berdiri di depan pintunya.
Wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus dada dengan sabar, dan menghapus air matanya yang tiba-tiba sudah mengalir tanpa di kumandangkan.
__ADS_1
Sedih tidak dapat di sembunyikan dari kedua bola matanya, saat mendapati sikap kasar dari putri bungsunya.
" Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini sama mama zel" lirihnya
Yang tentu saja tidak akan di dengar oleh siapapun selain dirinya.
Sintia memutuskan berlalu dari sana, menuju lantai bawah ia tidak ingin membuat zeline semakin marah jika masih melihatnya di depan pintu kamar wanita cantik itu.
***
" Wow tuan putri dari negri anta Branta kita telah sampai beri tepuk tangan" ucap heboh Sera
Zeline memutar bola mata malas, tidak pagi tidak siang harinya pasti tidak pernah bisa tenang jika sudah bertemu dengan Sera.
Sih gadis paling cerewet dan biang masalah itu akan selalu merecokinya.
" Yuhu, kenapa wajah loh hari ini kelihatan kusut tidak seperti biasanya yang cerah secerah hatiku" ngawur nya
Sudah di bilang jika Sera ini begitu cerewet kan.
Tapi itu yang menjadikan persahabatan mereka sampai saat ini awet, selain cerewet Sera adalah tipe sahabat yang perhatian dan selalu menasehati zeline dan Karin saat melakukan kesalahan.
Baik Sera maupun Karin keduanya sudah menjadi bagian terpenting di hidup Zelin, semua masalah yang Zelin hadapi kedua temannya pun sudah tahu begitupun sebaliknya.
Persahabatan mereka bukan hanya tentang sekedar menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan shopping atau untuk pencitraan Saja.
Seperti halnya zeline kedua temannya juga punya masalah masing-masing tapi mereka tidak pernah putus asa dalam mengahadapi nya, bersama mereka yakin pasti bisa melalui semuanya.
" Udah ngocehnya" timpal Karin saat melihat Sera berhenti bicara
Tapi yang di tanya malah terlihat bengong dengan mata menatap lurus kedepan.
Karin dan zeline yang melihat itu jadi ikut melihat apa yang membuat sahabat mereka itu menjadi patung seketika.
"Daras mata keranjang nggak bisa liat yang bening! kalau udah liat yang tampan apapun tidak akan di ingat " ucap karin sambil merangkul pundak Sera kencang
Menggodanya
" Woi sakit Rin, lepasin gue nggak bisa nafas bego" kesalnya
Dirinya yang sedang fokus melihat cogan yang sedang main basket di lapangan kampus harus terhenti karena ulah Karin.
Sahabat laknatnya itu, apakah ia tidak bisa melihat orang senang sedikit.
Gerutunya tiada henti
__ADS_1
"Aduh kasian anak orang, masih marah ya! Udah dong nanti cantiknya ilang loh'" Godanya
Plak
Yang di hadiahi pukulan di lengannya oleh Sera yang masih kesal
" Sakit Ra " ucapnya pura-pura meringis padahal pukulan Sera tidak berarti apapun baginya.
" Nggak usah drama deh, gue tahu loh itu kuat pukulan kek gitu aja pura-pura meringis" timpalnya
" Udah kalian kayak anak kecil aja, berantem untuk hal yang nggak penting kayak gitu" selah zeline
" Nggak penting buat loh, tapi ini penting buat gue tahu zel, gue itu lagi menyeleksi calon masa depan gue"
Mulai lagi deh dramanya. Batin keduanya
Tanpa menunggu kelanjutan dari ucapan Sera, Karin dan zeline segera pergi dari sana sebelum Sera menyadarinya.
Ia terus mengoceh sendiri, dengan mengahadap hamparan bunga yang ada di teman sekolah, saya bertanya bukannya dijawab Sera justru mendengar suara beberapa orang yang Manahan tawa.
Ia pun membalik diri karena penasaran dan betapa terkejutnya ia saat mendapati banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menatapnya aneh.
" Zeline, Karin awas kalian" teriaknya dengan nyaring
Saat sadar bahwa dirinya telah di kerjain oleh kedua sahabatnya itu, malu ia sangat malu jangan sampai anak-anak lain menganggapnya gila karena berbicara sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung