
Suasana didepan ruang rawat zeline kembali hening
Suster yang tadi membawa Kanton darah sudah masuk keruangan itu untuk mengantarkan darah untuk zeline.
Sintia duduk di kursi dengan Jason sedangkan Safira wanita cantik itu sejak tadi mondar mandir tidak tenang, ia hanya akan tenang jika sudah mengetahui keadaan adiknya.
" Apa kalian yang menghubungi ku menggunakan ponsel zeline"
Suasana yang tadinya hening kembali mencekam saat Jason membuka suara
Pria paruh baya itu baru menyadari bahwa di tempat itu bukan hanya ada mereka bertiga saja tapi ada juga orang lain yang baru pertama kali ia lihat.
Sintia dan Safira ikut menatap kearah kedua gadis cantik yang terlihat diam duduk membeku di tempatnya.
Meraka sepertinya merasa tertekan dengan aura yang di keluarkan Jason.
" I..a om" jawab Sera gugup
Karin sebenarnya gadis tomboi yang satu itu tidak pernah takut pada siapapun, tapi kali ini ia tidak berani membuka suara karena merasa memang dirinya ikut bersalah dalam hal ini.
" Apa kalian teman zeline" tanya pria paruh baya itu lagi
Masih dengan tatapan tajamnya menghunus tubuh kedua gadis cantik yang usianya sepantaran dengan putri bungsu Meraka.
Karin dan sera hanya bisa mengangguk kepala kecil, membenarkan ucapan Jason
Jason pria paruh baya itu terlihat diam sejenak.
" Lalu mengapa zeline bisa kecelakaan! Bukankah dia bersama kalian?" Kembali ia membuka suara
Jason ingat sebelum keluar dari rumah anaknya itu mengatakan akan menemui teman-temannya, walaupun sempat ia larangan tapi zeline justru membantahnya dan lihatlah apa yang terjadi sekarang.
" Kami juga tidak tahu om, kam....."
" Bagaimana bisa kalian tidak tahu bukankah zeline bersama kalian saat itu" potongnya
Sera gadis cantik itu hanya bisa menunduk, tidak tahu harus menjawab apa selanjutnya! Takut bila dirinya salah bicara yang akan memperburuk keadaan.
" Memang benar malam ini kami bertiga janjian untuk pergi bersama, tapi zeline mengalami kecelakaan sebelum tiba di tempat kami janjian! Satu jam kami menunggu hingga seseorang menghubungi kami menggunakan ponsel Zelin dan mengatakan bahwa Zelin kecelakaan " jelas Karin panjang lebar
Sintia dan Safira mendengarkan dengan seksama, Jason pria itu masih tetap tidak bergeming meski Karin sudah menjelaskan semuanya.
" Jadi putri ku mengalami kecelakaan karena kalian" tuduhannya
Tanpa memikirkan dengan seksama penjelasan Karin dan Sera, baginya karena ingin menemui merekalah putrinya mengalami hal ini.
Jadi orang yang disalahkan karena kejadian ini adalah mereka berdua.
__ADS_1
Sera dan Karin menunduk saat mendengar tuduhan itu, tidak mencoba membela diri karena mereka sadar bahwa memang merekalah yang salah.
Tidak seharusnya mereka mengajak zeline keluar apalagi di malam hari.
" Mas..." Sintia berusaha menyela tapi Jason tidak mendengarkannya.
" Mulai hari ini, saya tidak ingin melihat kalian dekat dengan zeline lagi kalian hanya bisa membuat putriku celaka dan bergaul dengan kalian hanya bisa memberikan dampak buruk bagi zeline" ujarnya tanpa perasaan
" Om, tidak bisa berbuat seenaknya! Kami tahu kami salah tap....." Sera yang tidak terima mencoba menolak permintaan ayah zeline
Tapi Karin gadis itu lebih dulu menyela dan menariknya pergi.
Meminta maaf pada keluarga zeline dan berjalan menjauh untuk saat ini mengatakan apapun akan sia-sia saja apalagi keadaan zeline saat ini masih tidak baik-baik saja.
Jadi pastilah jason ayah zeline masih di liputi emosi, yang bisa mereka lakukan saat ini adalah memberikan waktu bagi keluarga zeline untuk menenangkan diri.
Yang penting mereka sudah mengetahui bagaimana keadaan zeline sekarang, itu sudah lebih dari cukup.
" Loh apa-apa sih, kenapa loh narik gue! Gue belum selesai bicara sama bokap Zelin! Gue tahu kita berdua salah karena mengajak zeline keluar tapi dia tidak bisa seenaknya gitu dong mutusin sesuatu." Ucap nya mengeluarkan semua unek-uneknya" lagian kita juga pengen ada di samping zeline saat nanti dia sadar" lanjutnya dengan sedih.
Karin membiarkan Sera mengeluarkan semua kekesalannya lebih dulu karena ia tahu Sera butuh itu, tapi setelah tenang ia akan menasehati sahabatnya itu agar bisa mengerti maksudnya.
" Gue tahu bagaimana perasaan loh Ra karena gue juga bisa ngerasain hal itu, tapi posisinya disini kita yang salah!"ucapnya" Dan yang bisa kita lakukan saat ini mengalah biarkan mereka tenang dulu karena saat ini keluarga zeline masih di kuasai emosi bagaimana pun keadaan zeline sempat kritis itulah yang mungkin membuat bokap Zelin khawatir sehingga melampiaskan emosinya kepada kita" lanjutnya memberikan pengertian pada sahabatnya itu
" Hm" Sera hanya bisa menghela nafasnya
Sera mengangguk paham, membenarkan ucapan Karin tidak seharusnya ia tadi kelepasan!
" Sorry Rin, gue kelepasan tadi untung ada loh" balasnya tersenyum tipis pada sahabatnya itu
" No problem, lain kali loh harus bisa menguasai diri " timpalnya
Sera mengangguk kepalanya
Keduanya pun memutuskan untuk pulang, percuma menunggu karena pasti ayah zeline tidak akan membiarkan mereka untuk melihat Zeline.
***
" Sayang kamu sudah pulang"
Briana tersenyum lembut menyambut kedatangan putra tercintanya itu.
" Hm"
Seperti biasa balasan khas Daniel singkat.
Briana menggeleng kepala melihat kelakuan putranya.
__ADS_1
" Bunga belum pulang" tanyanya
Mendudukkan diri di salah satu sofa diruangan itu, di susul Briana yang juga ikut duduk bersama putranya.
" Bunga ada di kamarnya, kamu seperti tidak mengenal adik mu itu, kamu tahu kan bunga kalau pulang kuliah pasti mengunci diri dikamar seharian hanya untuk menonton film Drakor, mama Sampai bosan melihatnya" celotehnya
Kesal dengan sikap bunga yang lebih mementingkan Drakor dari pada menemaninya keluar bertemu teman sosialita nya.
Daniel hanya tersenyum kecil mendengar keluhan sang ibu mengenai adiknya itu.
" Terus kenapa mama tidak menegurnya atau memarahinya mungkin" balasnya
" Tanpa kamu kasih tahu mama sudah lakuin, Bahkan mama pernah membakar semua album film Drakor nya itu" ucapnya " dan berkahir dengan adikmu itu mendiami mama selama satu bulan" lanjutnya dengan nada kesal
Bila mengingat kejadian itu dirinya benar-benar kesal, bagaimana tidak karena tidak tahan dengan didiamkan oleh sang putri Briana harus kembali membeli beberapa album film Drakor milik Bunga yang sudah ia bakar dan mendapatkan benda tidak berguna menurutnya itu ternyata tidaklah mudah.
Daniel tidak bisa lagi menahan tawanya mendengar cerita sang ibu.
Inilah sosoknya dirinya yang sebenarnya ia akan menjadi hangat bila dengan keluarga dan sahabatnya tapi tidak dengan orang lain.
" Berhentilah tertawa, kamu membuat mama tambah kesal Danil" gerutu Briana
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung