
Pagi hari
terlihat tiga orang gadis cantik tidur di atas sebuah kasur king size yang cukup besar untuk menampung tubuh mereka.
Salah satu di antaranya mulai mengerakkan matanya pertanda akan bangun, karena silau matahari yang mulai memasuki celah-celah jendela kamar yang menyilaukan mata.
" Hum" uapnya
Mengangkat kedua tangan keatas
" Udah pagi ternyata" gumamnya
Ia menatap kearah kedua temannya yang masih asik molor, beruntung mereka tidak ada mata kuliah pagi, hari ini mereka masuk siang sehingga bisa bermalas-malasan sejenak.
" Zel, Ra bangun udah pagi" menggoyang lengan keduanya
Ia yang tadinya ingin ikut kembali tidur teringat bahwa saat ini mereka bukan berada dirumahnya melainkan di kamar Kris.
Tidak enak rasanya, jangan sampai pria itu ingin masuk ke kamarnya tapi mereka masih berada disana.
" Apaan sih Rin, gue masih ngantuk"ucap Sera dengan mata terpejam
Sedangkan Zelin,gadis itu sama sekali tidak merasa terusik, ia terus tidur nyenyak mungkin efek dari minum semalam sehingga ia bukan lagi tidur tapi sudah seperti orang pingsan.
" Kalau kalian berdua tidak bangun jangan salain gue, terpaksa gue pake cara ini"
Dan Byur
" Banjir" teriak kaget Sera
Saat merasakan air dingin menguyur tubuhnya
Zelin yang juga terkejut pun langsung terduduk dari tidurnya, dengan kepala yang terasa begitu berat ia masih bisa mendengar umpatan-umpatan yang dilontarkan Sera.
" Anjir loh Rin, kira-kira dong kalau mau bangunin orang! Jangan pake air juga" umpatnya
" Loh kira gue kambing takut air hah, loh benar-benar kudu di kasih pelajaran ya" lanjutnya dengan beranjak dari tempat tidur
Mengejar Karin yang sedari tadi hanya tertawa meledek
" Sini loh" ucapnya mengejar Karin
Kamar Kris yang tadinya rapi kini berubah menjadi berantakan seperti kapal pecah akibat ulah Sera.
" Stop"
Kepalanya yang sudah pusing semakin sakit melihat kelakuan dua sahabat somplaknya.
Membuat Zelin terpaksa berteriak supaya keduanya berhenti, kepalanya bisa pecah mendengar benda-benda yang jatuh dan juga suara Sera yang terus berdengung di telinganya membuat Zelin kesal.
Kedua sahabatnya itu kompak menoleh kearah Zelin yang menatap tajam keduanya, Karin dan Sera pun melepaskan pegangan tangan masing -masing dari rambut mereka.
__ADS_1
Ya posisi keduanya saat itu sedang saling Jambak rambut.
Karin dan Sera pun menelan ludah kasar, sepertinya mereka telah membuat marah macam betina itu.
Dengan senyum yang dipaksakan keduanya menatap Zelin dengan mata polos berharap meredam emosi Zelin.
Menghela nafas, Zelin berusaha menahan kekesalannya saat ini kepalanya masih pusing jadi ia tidak ingin marah-marah saat ini.
" Ambilin gue obat pereda sakit kepala" perintahnya
Tanpa di kumandang dua kali Sera sudah berlari kearah laci di samping tempat tidur dan mengambil obat yang di minta Zelin.
Beruntung sepupunya itu menyediakan semua yang dibutuhkan jika sewaktu-waktu keadaan mendesak.
Sedangkan Karin berlari kemeja sebelah mengambilkan botol air mineral yang selalu tersedia di kamar Kris.
Walaupun jarak air itu dekat dengan zeline
Sera mengambil sebotol obat pereda mabuk di laci dan memberikan satu pil obat untuk zeline minum.
***
Setelah drama pagi tadi.
Saat ini mereka bertiga telah berada didalam mobil milik Sera untuk pulang.
Jangan tanya bagaimana keadaan kamar Kris karena jawabannya sudah jelas, ketiga gadis itu kabur begitu saja meninggalkan kekacauan yang telah mereka buat.
" Hahahaha" tawa ketiganya meledak saat membayang kan bagaimana kesalnya sepupu Sera itu.
" Gue nggak bisa bayangin bagaimana ekspresi sepupu loh saat masuk kekamar nya" ucap Karin memulai percakapan
" Udah pasti kayak kepiting 🦀 rebus, gue harap sih nggak kena serangan jantung" timpalnya terkekeh
" Kalian berdua memang cuman bisa bikin masalah" sahut Zelin
Yang membuat tawa kedua gadis cantik itu terhenti, keduanya kompak melihat kearah Zelin yang duduk di kursi belakang! Tidak sadar saja wanita itu apa yang ia lakukan semalam kalau ia ingat Sera dan Karin yakin pasti saat ini Zelin tidak akan bisa duduk sesanti itu.
" Kenapa kalian liatin gue kek gitu" tekannya
Yang langsung di jawab lengosan keduanya, mereka memilih menatap lurus kedepan dari pada mendapatkan tatapan tajam Zelin.
Sementara Zelin tidak memusingkan tingkah aneh kedua sahabatnya, karena saat ini pikirannya sedang tertuju pada suatu hal.
***
" Dari mana saja kamu, semalaman tidak pulang mau jadi apa kamu nanti hah"
Baru saja dirinya menginjakkan kaki di rumah ini ia sudah di sambut dengan bentakan keras sang ayah.
Kedua temannya langsung pergi setelah mengantarkannya, mereka akan bertemu lagi nanti di kampus.
__ADS_1
" Dari rumah teman" jawabnya singkat
Sambil menghadap sang ayah, di sana juga ada ibu tiri dan kakaknya yang sudah terlihat rapi sepertinya wanita cantik itu akan keluar.
" Alasan, semalam papa telpon kerumah teman kamu, kata orang tuanya kalian tidak ada disana kamu mulai bohong sama papa " kembali James melontarkan kata-kata dengan nada tinggi
" Mas/pa" kompak Sintia dan Safira kedua wanita beda usia itu berusaha menenangkan James.
Bagaimana pun zeline baru pulang Safira paham betul pasti adiknya itu lelah dan butuh istirahat.
Begitupun Sintia ia tidak ingin karena sikap keras yang selalu James tunjukkan membuat zeline tidak nyaman berada di rumah dan akan terus keluyuran diluar.
" Berhenti membelanya, jika kalian terus membelanya lama-lama dia bisa melunjak! Sudah cukup dia bertindak sesukanya selama ini" sarkas James
Sintia dan Safira menatap memohon pada James mereka tidak ingin pagi ini di mulai dengan keributan bagaimana pun ini hari pertama Safira ada di rumah.
Sedikit banyak Safira sudah mengetahui apa saja yang terjadi selama ia tidak berada di rumah, ia tahu dari mbok ina karena Safira tidak ingin bertanya pada orang tuanya melihat bagaimana guratan lelah di wajah keduanya malam itu.
Jujur Safira terkejut dan sedikit tidak percaya pada apa yang di katakan sang bibi, tapi melihat sikap yang di tunjukkan Zelin hari ini membuat ia percaya apa yang di katakan mbok ina mungkin benar.
" Mulai hari ini, kamu dilarang keluar rumah selain pergi kuliah" ucapnya
" Jika papa tahu kamu masih keluyuran tidak jelas lagi, papa akan mengirim kamu untuk tinggal dengan nenek mu di London " ancamannya
Zeline yang mendengar itu tidak mengindahkannya ia berlalu dari sana, siapapun tidak bisa mengaturnya! Ia akan melakukan apapun yang ia mau sesuka hatinya dan mereka tidak berhak ikut campur.
James terus meneriaki namanya tapi tidak ia dengar kan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung