
Satu bulan berlalu setelah acara makan malam bersama dengan keluarga Anderson.
Zeline kembali menjalani hidupnya seperti hari-hari biasanya, pergi kuliah dan jalan-jalan bersama teman-temannya.
Tidak perduli pada larangan sang ayah, yang selalu memarahinya karena keluyuran setiap harinya bahkan sampai tidak pulang.
Ia malas pulang kerumah yang di isi oleh orang-orang yang ia benci.
Di tambah sejak kedatangan sang kakak ayahnya semakin menjadi, yang biasanya hanya memarahinya karena tidak sopan pada ibu tirinya dan suka keluyuran tidak jelas, kini mulai membanding-bandingkan dirinya dengan sang kakak, dan zeline muak dengan itu semua.
apa lagi rencana perjodohan yang di atur oleh orang tuanya ternyata berhasil, membuat kebahagiaan dua keluarga itu semakin besar.
kakaknya yang awalnya menolak keras perjodohan itu kini justru ia yang paling tidak sabar untuk segera di nikahkan dengan pria yang telah di jodohkan dengannya.
Kalau Zelin tidak salah ingat Daniel nama pria itu.
Alasannya cukup klise menurut zeline karena sang kakak jatuh cinta pada pria itu.
Ya setelah pendekatan beberapa hari Safira jatuh hati pada Daniel di tambah ternyata mereka kerja di satu perusahaan di mana Daniel adalah CEO di perusahaan itu sementara Safira adalah sekertaris nya.
Karena setiap hari bertemu, dengan kurung waktu yang lama ternyata menumbuhkan rasa cinta di hati Safira wanita cantik itu akhirnya memberitahu orang tua mereka dan di sambut bahagia oleh keduanya.
Dan ternyata keluarga Anderson juga menyetujui perjodohan itu.
Pertunangan pun di laksanakan dua Minggu setelahnya, dan pernikahan sang kakak akan di gelar satu bulan lagi.
kakek dan nenek mereka yang tinggal di London pun datang ke tanah air, hanya untuk menyaksikan pernikahan kakaknya yang sebentar lagi akan tiba.
Semua orang menyambut bahagia akan hal itu tapi tidak dengan zeline wanita cantik itu justru semakin membenci keluarganya sendiri.
Kebahagiaan bagi mereka seperti bom waktu untuknya.
" Loh kenapa zel"
Suara Sera yang tiba-tiba memanggilnya mengembalikan Zeline dari lamunannya, ia tidak sadar ternyata kelas sudah kosong yang tersisa hanya dirinya saja.
Jika Sera tidak datang mungkin ia akan tetap di tempat itu Sampai malam, terlalu hanyut dengan lamunannya sendiri.
" Kelas udah selesai" tanyanya linglung
Sera mengehentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas ransel.
Menatap aneh kepada sahabatnya itu.
" Tidak panas" ucapnya mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Meletakkan punggung tangannya di kening zeline.
Yang di hadiahi pukulan kecil oleh wanita itu.
Kesal dengan tingkah Sera yang menggapnya sakit.
" Gue sehat wal- Afiat ya" ketusnya
" Hahaha, loh kenapa sih sensi amat! Gue bercanda kali" balasnya sambil tertawa" lagian loh pake nanya segala, lihat sekarang jam berapa sayang! Mana ada kelas jam segini" lanjutnya masih tertawa.
Zeline semakin mendengus kesal, salah emang bertanya pada sahabatnya yang satu ini bukannya menjawab wanita itu pasti mengolok-oloknya lebih dulu.
" Karin mana" memilih mengabaikan
Ejekan Sera, ia bertanya lagi
" Udah balik dari tadi! Katanya ada urusan penting" balasnya sudah berhenti tertawa" Loh lagi ada masalah ya" lanjutnya bertanya kali ini dengan ekspresi serius
" Hm" jawabnya
Yang sudah di mengerti Sera artinya.
" Kalau loh mau cerita, ingat ada gue yang akan selalu menjadi pendengar buat loh! Jadi jangan menyimpannya sendiri?" Ucapnya serius.
Zeline tersenyum mendengar hal itu, walaupun cerewet tapi Sera adalah tipe sahabat yang perhatian pada temannya.
" Thanks, tapi untuk saat ini gue belum siap buat cerita apapun" jawabnya tulus
Sera mengangguk paham, ia tidak akan memaksa zeline bercerita tentang masalahnya, karena ia tahu jika zeline sudah tidak sanggup menahannya sendiri maka wanita itu sendiri yang akan menceritakannya tanpa di paksa.
"Baiklah, tapi ingat loh nggak sendirian ada gue dan juga karin yang bakal Selalu ada buat loh" timpalnya
Mengingatkan
Zeline mengangguk ia memberikan senyum tipis pada sahabatnya itu.
***
Kediaman Pradipta
Zeline yang baru saja tiba segera keluar dari mobilnya, seperti biasa ia akan memberikan kunci mobilnya kepada mang Ujang satpam rumahnya untuk memarkirkan mobilnya di garasi mobil.
Dan ia bisa segera masuk kedalam rumah, tapi ada sesuatu yang berhasil menarik perhatiannya, yaitu adanya keberadaan mobil lain di halaman rumahnya.
" Apa di rumah sedang ada tamu" memilih bertanya pada mang Ujang
__ADS_1
Yang kebetulan masih berdiri di sampingnya.
" Ia non, keluarga pak Angga calon suaminya non Safira" jawabnya
Menjelaskan secara rinci, walaupun zeline tidak meminta hal itu.
" Hm" dehemnya
Tanpa mengatakan apapun lagi ia lebih memilih melanjutkan langkahnya menuju kearah pintu masuk rumahnya.
Baru saja dirinya melangkah masuk ke dalam ia sudah di sambut oleh gelak tawa semua orang.
Dapat ia lihat bagaimana bahagianya mereka mengobrol tanpa menyadari keberadaannya, mereka terlalu asik menggoda dua sejoli yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan itu.
Zeline bisa melihat Safira sang kakak yang malu karena terus di goda oleh para orang tua itu, kemudian tatapnya jatuh pada pria tampan dengan garis rahan tegas yang merupakan calon suami kakaknya, zeline tidak tahu apakah ini hanya perasaannya saja atau tidak tapi ia bisa merasakan bahwa Daniel pria itu seperti tidak ada ketertarikan sama sekali dengan apa yang di bahas oleh keluarga mereka.
Jika benar pria itu mencintai Safira seharunya Ia juga ikut bahagia dengan godaan keluarganya,tapi yang zeline lihat justru sebaliknya wajah Daniel begitu dingin sama seperti terkahir kali mereka bertemu, ia tidak tahu apakah pria itu juga bisa menunjukkan ekspresi lain diwajahnya selain dingin dan datar.
Sungguh susah di tebak itulah yang zeline pikirkan.
Tapi bodoh amatlah bukan urusannya juga.
Ia kemudian bergegas pergi dari tempat itu sebelum mereka menyadari keberadaannya.
" Huf" menghela nafas berat
Berjalan menuju kasur king size miliknya dan melemparkan diri di sana, tiba-tiba sebuah seringai terbit di bibir tipisnya.
Entah apa yang sedang di pikiran otak liciknya hanya dia dan tuhan yang tahu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung