Wrong Revenge

Wrong Revenge
Eps 4


__ADS_3

" jadi kamu akan tinggal bersama kami lagi" tanya Sintia tidak sabar


Setelah tadi melepas rindu dengan saling berpelukan, keduanya kini duduk di belakang mansion yang terdapat taman dengan hamparan bunga mawar dan melatih kesukaan Zelin dan Fira.


" Ya ma, Safira akan tinggal sama mama-papa dan Zelin lagi" timpalnya antuasias


Yang di sambut bahagia juga oleh Sintia


" Baguslah kalau begitu, mama tidak kuat jika terus berjauhan dengan kamu " ucapnya


Safira merangkul pundak sang ibu dan memeluknya, ia sangat merindukan wanita paruh baya itu yg telah melahirkan dirinya ke dunia ini.


" Maafin Fira, karena udah buat mama sedih" ucapnya tulus


Karena mimpinya ia menjadi egois dengan memutuskan untuk tinggal jauh dari orang tuanya, tapi kini ia bukan lagi gadis remaja yang pikirannya masih labil sekarang ia sudah dewasa dan Safira sadar selama ini ia telah menjadi anak keras kepala dan egois yang lebih memilih mengejar mimpinya dan meninggalkan orang tuanya.


Padahal ia bisa melanjutkan pendidikan nya di kota ini juga, tapi karena dirinya yang masih labil ia tidak berpikiran kesana.


" Sudahlah, kamu tidak salah! Mama hanya tidak ingin jika terus berjauhan dengan mu" ucapnya dengan nada lembut


Baginya apapun kesalahan yang di perbuat putrinya ia akan tetap memanfaatkan mereka, baik itu Zelin ataupun Safira dan lagi putrinya pergi bukan untuk bersenang-senang melainkan untuk mengejar mimpinya dan sebagai orang tua Sintia akan mendukung apapun yang dilakukan anak-anaknya.


Mendengar perkataan sang ibu Safira pun tersenyum lebar dan memeluk ibunya itu.


Di tengah kebersamaan ibu-anak itu terhenti setelah mendengar suara tegas pria paruh baya yang berdiri di belakang mereka.


" Kamu sudah kembali" ucap James


Ia yang baru tiba di rumah, dan mendapatkan kabar dari mbok nah bahwa putri pertamanya telah kembali bergegas menyusul keduanya ke belakang mansion disana ia bisa melihat kedua wanita yang ia cintai membelakangi dirinya.


" Papa" teriak Safira


Berlari kearah pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang tidak lagi mudah.


" Fira rindu banget sama papa" manjanya


" Kamu ini, sudah besar tapi kelakuan masih seperti anak kecil" ejeknya pada sih putri sulung


Tapi tidak seperti yang keluar dari mulutnya, James turut memeluk sang putri erat ia juga sangat merindukan putri pertamanya itu.


" Kenapa tidak memberitahu papa jika mau pulang! Papakan bisa menjemput mu" ucapnya protes


Karena bukan menjadi orang pertama yang mengetahui kepulangan Safira.

__ADS_1


" Hem! Kalau Fira kasih tahu kan nggak akan jadi kejutan lagi dong" balasnya


" Oh yah, Baiklah kejutan mu berhasil " timpal ayahnya


Keduanya pun terkekeh kecil


" Kebiasaan kalian, kalau udah bertemu mama di abaikan" Sintia pura-pura merajuk.


Membuat ayah-anak itu memutar bola mata malas, mulai lagi drama wanita paruh baya itu.


" Bagaimana kabar nenek dan kakek mu" tanya James saat ini mereka bertiga duduk di kursi yang tersedia di taman itu.


Menikmati momen keindahan bunga diterpa sinar matahari yang mulai kembali keperaduan nya.


" Mereka baik-baik saja, mereka menitikberatkan salam sama papa-mama dan Zelin katanya kapan-kapan mereka akan berkunjung"


James yang mendengar itu mengangguk paham.


" Tapi papa penasaran bagaimana bisa kamu terbebas dari dua orang tua itu"


James paham betul bagaimana watak mertuanya itu, dari dulu keduanya terus memonopoli putrinya sehingga tidak akan ada hari selain pertengkaran di antara ia dan kedua mertuanya hanya karena memperebutkan Safira kecil.


Sampai dengan kehadiran zeline, mereka juga memperebutkan gadis kecil itu bahkan tidak jarang kedua mertuanya terus membujuk zeline kecil untuk ikut tinggal bersama mereka di London.


" Siapa dulu, Safira Pradipta gitu" sombongnya" apa sih yang nggak bisa Fira lakuin? Termasuk membujuk kakek dan nenek" lanjutnya


Yang di hadiahi jitakan kecil di dahinya oleh sang ayah.


" Yah, cuma kamu yang bisa menaklukkan kedua orang tua itu " balasnya


Sintia hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku suami dan putrinya.


Ketiganya pun tertawa bahagia bersama, tanpa mereka sadari di balik pintu belakang mansion seorang gadis menatap tajam kearah mereka! Kebencian tidak dapat di tutupi dari kedua pancaran bola matanya, andaikan tatapan itu bisa menjadi pisau mungkin ketiganya sudah tercabik-cabik oleh tajamnya tatapan gadis cantik itu.


***


" Loh kenapa sih zel, ugal-ugalan dijalan emang loh pikir punya banyak stok nyawa kalau loh tadi kecelakaan atau nabrak pengendara lain bagaimana! Masih untung kalau cuma lecet gimana kalau langsung isdet" omel panjang lebar Sera sahabatnya.


" Loh do'in gue mati" ketusnya


" Ya ampun Zelin, gue itu lagi nasehatin loh! Bukannya do'in loh mati" gerutunya" kalau loh mati gue mau nyontek siapa coba " lanjutnya


Sahabat laknat memang

__ADS_1


Zelin yang tadinya memilih pulang ke rumah lebih awal tapi ternyata keputusannya itu salah, bagaimana tidak karena bukannya bisa beristirahat dengan tenang ia justru di sambut suara tawa bahagia yang terdengar dari belakang mansion! Karena penasaran ia pun memutar langkah kakinya yang ingin naik kelantai atas menuju pintu penghubung taman belakang.


Deg


Jantungnya bagai di remas kuat, melihat pemandangan keluarga bahagia di depannya itu! Ia sempat terkejut melihat keberadaan Safira kakaknya.


Tapi keterkejutan itu tidak bertahan lama, berganti menjadi tatapan tajam penuh kebencian yang ia lontarkan! Bagaimana bisa mereka bahagia di atas penderitaannya.


Ia tidak akan pernah terima, selama dirinya masih bernafas ia akan terus menuntut balas akan kematian ibunya.


Dendamnya harus di balaskan, dengan kebencian yang mendarah daging zeline pergi dari tempat itu berjalan keluar rumah ia memilih kembali pergi walaupun dirinya baru saja tiba.


Berada di tempat ini akan semakin membuat dirinya tidak tenang, melihat wajah orang-orang itu membuat dirinya benar-benar sangat muak.


" Tertawa lah sepuasnya, karena kalian tidak akan tahu sampai kapan tawa itu akan bertahan karena pembalasan dendam ku sudah di mulai dari hari ini" ucapnya menatap jalan di depannya.


Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan lain yang ia lewati suara teriakan dan protes dari pengendara lain tidak ia hiraukan karena ia sengaja melakukannya agar kekesalannya bisa sedikit berkurang.


Ia pun berhenti tepat di depan rumah Karin, Zelin memutuskan mampir ke rumah sahabatnya itu setidaknya di tempat ini ia bisa menenangkan diri karena ia butuh waktu sendiri untuk saat ini.


Tapi lagi dan lagi harapannya itu harus kandas di tengah jalan saat.


" ZELINE"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2