
" zeline"
Sera dan Karin menghampiri sahabatnya itu setelah melihat mobil sport mewah milik zeline terparkir cantik di tempat parkir kampus.
" Tumben banget loh datang cepat" ucapnya menggoda
" Hm" jawab zeline singkat
" Ya ampun zel, jawabannya bisa panjang dikit nggak sih! Hm meluluh jawaban loh" gerutu Sera kesal.
Yang tidak di dengar kan oleh zeline.
Wanita cantik itu malah berjalan menuju kelasnya.
" Zeline" teriak Sera kesal
Sedangkan Karin hanya bisa menutup telinga dari suara cempreng Sera.
Diantara ketiga sahabat itu memang Sera yang paling cerewet dan bersuara seperti to'a sedang Karin lebih pendiam berbicara pun seperlunya saja sebelas dua belas dengan zeline dan lagi Karin berbeda dengan kedua temannya.
Jika Zelin dan Sera lebih suka berpenampilan cantik dan feminin berbeda dengan Karin yang berpenampilan tomboi ia lebih suka memakai celana dari pada dress dengan potongan rambut sebatas bahu menambah kesan cool padanya.
Ia juga tidak suka memakai make-up
Ketiganya saat ini sudah berada di dalam kelas duduk di kursi belakang.
" Zel loh udah kerjain tugas dari pak botak nggak" tanya Sera asal ceplos saja
Pak botak yang ia maksud adalah dosen killer di kampus mereka ini namanya pak Harto tapi Sera lebih suka menyebut dosen mereka itu dengan pak botak karena memang pak Harto tidak memiliki rambut.
" Udah " singkatnya
" Pinjam dong" mintanya
Zeline dengan malas mengeluarkan buku miliknya dan memberikan kepada temannya itu.
Zeline selain terkenal sebagai siswi tercantik di kampusnya ia juga terkenal sebagai siswi tercerdas dengan nilai tertinggi di angkatannya.
" Loh bisa nggak sih, coba kerjain tugas sendiri jangan kebiasaan nyontek milik zelin" sembur Dion teman kelas mereka
" Ko loh yang sewot, yang nyontek gue juga bukan loh kali" sewotnya tidak terima
" Gue bukannya sewot, gue cuman nggak suka loh selalu mau gampangnya aja tanpa mau susah dulu" balasnya
" Ya loh mah ribet, ada yang gampang buat apa di buat susah " timpalnya bodoh amat
" Loh mau jadi apa kalau lulus nanti, jika kerjain tugas aja masih nyontek" ucapnya lagi tidak mau kalah
Karin dan zeline hanya menatap malas keduanya, hal ini bukan lah yang pertama keduanya memang suka ribut jika bertemu seperti tom and Jerry
__ADS_1
" Ya jadi dokter lah" sahutnya asal
" Dokter dari Hongkong, kerjain tugas aja malas! Sama darah juga takut" balasnya menohok
Sera menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyalin tugas milik zeline
Semua yang ada di kelas itu dengan sigap menutup telinga mereka karena sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya
" DINOSAURUS MAU KEMANA LOH, TUNGGU JANGAN SAMPAI LOH GUE TANGKAP KALAU TIDAK KELAR HIDUP LOH" teriaknya nyaring
Sambil mengejar Dion yang sudah lari seribu kaki keluar dari kelas
Membuat setiap orang yang mendengar teriakannya mengusap telinganya ngilu
Cantik sih tapi Suaranya itu loh
Berasa dengar sangkakala ditiup kencang bener woi
Itu segelintir ucapan siswa-siswi universitas Gunadarma setelah mendengar teriakan keras seorang Serania Simperler gadis dari fakultas kedokteran.
" Gue heran zel, perasaan nih kuping udah gue sumpel tapi suara Sera masih kedengaran aja" ucap Karin
" Loh kayak nggak tahu aja Rin, dia kan pemilik suara 5 Okta" timpalnya asal
Keduanya pun terkekeh geli, bisa di pastikan jika Sera mendengar ucapan mereka gadis cerewet itu pasti mengambek.
***
dengan menarik koper di tangan kirinya berjalan memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan.
" Walaikumsalam, eh non Fira " jawab mbok ina kepala pelayan rumahnya
"Ia bi" balasnya
" Ya ampun non Fira apa kabar, non makin cantik bibi hampir nggak ngeh kalau itu non Fira " ucapannya di selingi Fujian
" Hehe, bibi bisa aja! Alhamdulillah kabar Fira baik! Kalau bibi bagaimana kabarnya?" Timpalnya dengan terkekeh
" Bibi juga baik non" ucapannya sambil tersenyum
Mbok ina sangat bahagia karena akhirnya sang nona pertama kembali, ia berharap keadaaan di rumah ini bisa kembali seperti semula bagaimana pun Safira dan zeline begitu dekat jadi mbok nah berharap dengan kembalinya wanita cantik ini bisa membuat zeline juga kembali seperti dulu.
" Kalau papa-mama dan zeline bagaimana bi" tanyanya
Masih dengan terus tersenyum, saat ini ia sudah mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang ada di ruang tamu! Mengistirahatkan tubuh yang terasa melelahkan menempuh perjalanan jauh dan belum istirahat sama sekali.
Itu karena Safira memaksa tubuhnya mengerjakan pekerjaannya dengan cepat agar bisa kembali ke tanah air menemui keluarganya, sudah lama dirinya pergi dan Safira sangat merindukan mereka terutama adik kecilnya itu yang mungkin sudah beranjak dewasa.
Terkahir kali mereka bertemu saat zeline berusia 12 tahun sedangkan Safira 15 tahun, ia haru berpisah dengan sang adik karena ikut tinggal bernama nenek dan kakeknya di L.A
__ADS_1
Selain itu karena Safira juga ingin meraih cita-citanya menjadi seorang desainer dan tempat yang cocok menurutnya untuk mengasah kemampuannya menjadi lebih baik lagi adalah di London.
Awalnya Safira hanya ingin menyelesaikan pendidikannya di sana setelah itu kembali ketanah air, tapi ternyata setelah lulus ia justru mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah satu perusahaan terbesar di London dan kesempatan itu tidak ia sia-siakan.
Bagaimana pun setelah masuk ke perusahaan itu, nantinya di mana pun melamar pekerjaan pasti mudah karena pengalamannya yang sudah ada sebelumnya.
Dan hari ini ia bisa kembali ke tanah air setelah kontrak kerjanya selesai, ia akan melanjutkan pekerjaannya di kota kelahirannya Jakarta.
" Bi" kembali Safira memanggil wanita yang sudah berumur itu
Karena mbok ina terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan darinya.
" Anu non itu...."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Sintia terlebih dahulu memotong ucapannya.
' untung nyonya datang ' batin mbok ina lega
Bukan tidak ingin memberitahu keadaan rumah sejak kepergian Safira, tapi mbok ina merasa ada orang yang lebih penting yang akan memberitahu nona pertamanya itu.
" Safira "
Sintia yang baru tiba di rumah begitu terkejut mendapati keberadaan putri pertamanya, sudah 6 tahun tidak bertemu mereka hanya bisa berkomunikasi dengan ponsel untuk melepas rindu.
Sintia juga tidak dapat mengunjungi sang putri karena pekerjaan suaminya yang tidak bisa di tinggalkan dan juga zeline yang masih sekolah.
Mengharuskan dirinya menahan rindu pada putrinya itu.
Memeluk erat tubuh Safira dan menumpahkan air mata kerinduan pada putrinya itu yang juga di balas tidak kalah erat oleh Safira.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung